
Cuaca cukup mendukung untuk siang ini, tidak panas dan tidak hujan sehingga dapat menjamin bahwa keberangkatan berakhir dengan baik. Beberapa barang yang berat sudah dipindahkan di bagasi bus, dan sisanya akan dibawa oleh Okta menggunakan VW campervan serta mobil dari Alfar yang mengangkut barang keperluan kegiatan.
“Mobil dan motor dipindahkan ke dalam, nanti di luar nggak ada yang jaga. Kuncinya titip ke satpam,” ucap Bian memerintah. Mereka memasukkan kendaraan ke halaman basecamp, kemudian memberikan kunci pada satpam sementara yang dipindahkan dari rumah Bian.
“Semuanya tolong berkumpul dulu ya, mau di absen.” Sonya mengintruksi, menyebutkan satu per satu nama anggota yang ikut kemping.
Izar mendekat, menepuk pundak Bian yang sedang memerhatikan anggota inti memindahkan barang, “Anak GEN 1 nggak jadi ikut?” tanyanya sekaligus mengingatkan.
Bian melirik jam di pergelangan tangan kirinya, “Tunggu saja sebentar lagi.” Izar mengangguk, lalu pergi membantu yang lainnya. Begitu juga dengan Bian menemui Rosla, Dastin dan Rosla sebagai seksi kosumsi serta perlengkapan,
“Gimana? Ada yang kurang?”
“Lapor! Semua perlengkapan sudah siap,” jawab Rosla menghentakkan kakinya seolah melapor kepada pemimpin. Tentu saja ia melakukannya karena ia adalah anggot paskibra.
“Lapor! Makanan untuk malam ini sudah di pesan.” Bian mencibir, meninggalkan Adelia yang mendumel kesal. Rosla dan Dastin hanya bisa tertawa melihatnya.
“Semua masuk ke mobil! Kita mau berangkat.” Sonya mengintruksi setelah selesai mendata semua anggota termasuk anggota inti lama yang juga sudah berkumpul di mobil Robert.
Di tengah kesibukan untuk masuk ke bis, Aldian mendekati Bian dan melempar kunci mobil di jarak yang tak terlalu jauh, “Gue gabung sama anak yang lain. Titip kakak gue, dia suka mabuk kendaraan,” ucapnya sebelum menyusul teman-temannya yang masuk ke mobil.
“Tjiee, ada kesempatan nih,” goda Raka.
“Kesempatan apanya. Rosla sama Dastin juga ada di sana kok,” celetuk Alfar yang berhasil mematahkan kebahagiaan Bian.
Semuanya menuju kendaraan masing-masing, hanya Raka, Zharif, Gibran, Izar, Ravel dan Raka yang tetap memilih berada di bis menemani anggota lainnya.
“Musik!” teriak Raka berdiri di bagian depan menunggu Zharif untuk memutar musiknya.
“Koe lungo pas aku sayang-sayange. Tanpo pamit koe ngadoh ngono wae. Aku ra ngerti salahku. Dan kau campakkan diriku. Bersanding dengan kekasih barumu.”
Raka dan Zharif menguasai tempat dengan jogetannya, sambil menyanyikan lagunya. Satu per satu mereka menarik anggota lain untuk ikut berdiri dan berjoget bersama di atas bis.
Musik berganti, lagu Konco Mesra – Nella Kharisma mengalun memenuhi ruangan yang semakin panas. Hanya tersisa beberapa orang saja yang tetap duduk di tempat, tertidur, memainkan hp atau hanya memerhatikan sambil ikut menyanyi.
“Yen tak sawang sorote mripatmu. Jane ku ngerti ono ati sliramu. Nanging anane mung sewates konco. Podo ra wanine ngungkapke tresno.”
Tak hanya mereka, bahkan supir bis ikut menanyikan lagu tersebut sambil menggerakkan kepala mengikuti alunan lagu.
“Yen ku pandang gemerlap nyang mripatmu. Terpampang gambar waru ning atimu. Nganti kapan abot iku ora mok dukung. Mung dadi konco mesra mergo kependem cinta.”
Satu bis melewati perjalanan dengan menghabiskan tenaga bahkan suara untuk menikmati kebersamaan, bergoyang dan bernyanyi.
*****
Setelah sampai di lokasi, semua disibukkan dengan membereskan barang masing-masing serta beberapa perlengkapan lainnya. Tenda sudah terpasang oleh petugas pemilik tempat, bahkan juga untuk kayu api unggun. Setengah jam diberikan waktu untuk mengurusi beberapa keperluan dan setelahnya akan ada banyak kegiatan sampai keesokan harinya.
“Kamera udah ada, Del?” tanya Alkar dengan kamera yang menggantung di lehernya.
“Gue udah bawa kok. Tapi batreinya nggak penuh.”
“Ada disiapkan stok kontak kok sekaligus colokan sambung,” jawab Sonya sambil berjalan mendekati Alfar yang sedang berbicara dengan anggota lama. Alkar juga ikut memisahkan diri, mengabadikan anggota lain yang sedang bercengkrama.
“Anggota lama cuma segitu aja?” tanya Adelia pada Bian yang sejak tadi asik mengemil cookies, ia terus membawa toples tersebut bahkan tidak mengizinkan orang lain untuk mencobanya.
“Lebih tepatnya cuma enam orang aja. Ceweknya cuma Fio, selebihnya itu pacar mereka aja.”
“Gue kira dia cewek di anggota inti aja bukan keseluruhan.”
“Tapi, yang gue lihat ketua dulu agak gimana gitu.”
“Preman maksud lo?” Bian mengangguk membenarkan, “Semua orang hampir tahu kalau lihat luarnya tapi lo nggak bakal nyangka kayak mana dia bisa dapetin pacarnya. Sadis luar biasa tantangannya,” sambung Bian dengan semangat bahkan sampai menyemburkan makanannya.
“Gue jadi penasaran jalan ceritanya,” celetuk Adelia yang tak menjauhkan pandangan dari dua seloji itu.
“Empat tahun deketin, baru jadian semester dua kelas sebelas. Lihat aja tuh sekarang, posesifnya minta ampun. Udah kayak perangko, nempel aja terus, nggak bisa pisah.”
Robert yang sejak tadi mengetahui diperhatikan akhirnya mendekat sambil mengajak pacarnya di sisinya. Bian dan Adelia yang sejak tadi menertawakan menjadi bungkam.
“Ngomongin orang nggak boleh di belakang.”
“Ya kalau di depan namanya bukan ngegosip dong,” jawab Bian menjabat salamnya Robert. Ah, cowok itu masih saja tidak malu menggedong toples di tanggannya.
“Apa tuh? Bagi dong!” Bian langsung menepis tangan Robert yang ingin mengambil cookiesnya, “Dasar! Pelit!” sambung Robert mencibir.
Robert mengalihkan pandangan pada Adelia yang masih berdiri di samping Bian, “Oh jadi ini Adelia? Sekian lama tahu juga orangnya,” ucap Robert menyapa dengan senyuman tipisnya.
“Satu sekolah juga pun, pacaran terus sih kerjaannya.”
“Bilang aja lu sirik. Dasar, Jomblo!” ledek Robert yang berhasil membuat kedua cewek itu tertawa, “Jangan mau sama dia. Dijamin bakal nyesel sampai ke planet pluto,” sambungnya tidak mau kalah.
“Ini nih, nampak kali kerjanya cuma pacaran. Pluto udah keluar dari tata surya sejak tahun 2006. Aduh, gitu aja nggak tahu.” Bian memutar balikkan keadaan, menggelengkan kepala sambil mengusap dahinya.
“Orang pintar sih bebas, apalah gue cuma remahan rengginang.”
“Widih, remahan rengginang. Yaudah, mau pembukaan nih. Balik ke lapangan.” Robert menepuk pundak Bian sebelum meninggalkannya dengan Adelia, “Gue titip nih, awas aja lo nyikok.” Adelia mencibir, ia meletakkan cookiesnya di atas meja karena ia mendapat tugas sebagai dokumentasi.
Pembukaan di mulai dengan sepatah kata dari Robert yang kemudian menyerahkan bendera komunitas pada Bian. Setelah itu, dilanjutkan oleh Fio yang menyampaikan perolehan penghargaan dan biaya lainnya.
Setelah selesai menyebutkannya, Sonya mengambil alih membaca laporan yang sudah disepakati termasuk dengan aturan baru di mana masa jabatan anggota inti akan berlangsung selama dua tahun yang berguna untuk menstabilkan anggota lainnya.
Semua berlangsung selama setengah jam, setelah mengucapkan sumpah janji anggota baru, barisan dibubarkan. Beberapa orang berkumpul untuk mengabadikan momen dengan bantuan Adelia dan Alkar.
“Semua anggota berkumpul. Kita mau foto nih,” ucap Raka mengumpulkan anggota dan mengatur barisannya.
“Naik meja aja, Del,” saran Ravel mengambil meja yang lebih tinggi untuk dinaiki oleh Adelia, “Pinjak aja kaki gue buat naiknya.” Ravel duduk, meyakinkan Adelia untuk meminjakkan kakinya untuk membantu naik ke meja tersebut.
Setelah semua sudah memasang posisi masing-masing, Adelia mengambil foto dalam beberapa gaya menggunakan kameranya. Tidak sampai di sana, semua anggota perempuan dan laki-laki di pisah kemudian mengambil foto kembali.
“Kak, bisa minta tolong fotoin kami juga, nggak?” ketiga perempuan mendekat ke arah Adelia yang baru saja turun dari meja dengan bantuan Aldian. Adelia mengangguk menyetujui, kemudian mengikuti ketiganya yang mendekat ke Robert dan Bian.
“Bang, kami mau foto dong.” Bian dan Robert menghentikan pembicaraan keduanya dan menyetujui untuk berfoto bergiliran. Tetapi, keduanya salah perkiraan, dipikir ketiga cewek itu akan berfoto bersama tetapi tidak.
Robert menyerah, meninggalkan Bian yang menjadi korban perebutan bahkan hingga membuat yang lainnya ikutan berfoto dengannya. Sementara, lainnya hanya bisa tertawa mengejek dengan penderitaan yang dialami oleh Bian.
“Udah-udah minggir, cewek gue ngambek nanti,” ucap Bian meninggalkan kerumunan sambil merangkul Adelia untuk menyelamatkannya, “Sesekali bantu gue,” sambungnya berbisik. Saat sudah menjauh, Aldian hadir di tengah keduanya memisahkan.
Aldian memang selalu berhasil merusak suasana.