
RAVEL MICHAEL MAXIME
Ravel turun dari mobilnya, membuka pintu masuk khusus satpam dan berjalan ke gerbang untuk membukanya. Satpam yang datang membantu menahan Ravel agar hanya ia saja membuka gerbang tetapi tetap saja Ravel menolaknya hingga akhirnya satpam itu membantu mendorong gerbang.
Ravel kembali ke mobilnya untuk masuk ke perkarangan rumah dan memberikan kunci pada satpam yang baru saja menutup gerbangnya kembali.
“Mama sama Papa udah pulang, Pak?” tanya Ravel yang menghentikan langkahnya untuk masuk ke rumah, dia membalikkan badan menghadap penjaga rumahnya.
“Kemarin udah pulang, Den. Tapi pergi lagi tadi Pagi.”
Ravel terdiam menghela nafas, “Kok nggak ada hubungi Ravel, Pak?” tanya Ravel bertanya dengan penjaga rumah yang sudah memandangnya tak enak hati, “Ah iya, mereka kan terlalu sibuk. Harta lebih penting daripada anaknya sendiri,” sambungnya menjawab pertanyaan sendiri.
Ravel membuka pintu dengan sebelah tangannya yang menggendong tas besar berisi kebutuhannya selama kemping kemarin. Ia meletakkan tasnya di sofa dan berjalan ke meja makan untuk minum.
“Aden, udah pulang? Bibi siapin sarapan ya.”
“Mbak Fanya mana ya, Bi?”
“Nona Fanya nggak pulang dari semalam, Den. Bibi udah telepon tapi nggak diangkat. Kayaknya karena Mama sama Papa pulang kemarin.” Bian menghela nafas gusar.
“Bi, aku makan di luar aja ya.” Ravel langsung keluar, meminta kunci mobil dengan penjaga rumah untuk mencari Fanya yang tidak ada habisnya untuk membuat ulah.
Ravel memasang headset bluetoothnya yang tersambung ke layar tv mobil dan menghubungi Fanya. Dia berulang kali mengeluarkan decakan kesal karena tidak mendapatkan jawaban.
Ravel membanting stir untuk memutar arah menuju kediaman dari temannya Fanya. Di saat seperti ini, ia masih saja dipusingkan dengan masalah kakaknya yang tak pulang tanpa memberi kabar.
Seharusnya, ia mengambil istirahat karena besok akan kembali ke sekolah. Tapi, cewek itu tidak pernah berhenti membuat ulah.
Mobil Ravel berhenti di depan kediaman temannya Fanya, lebih tepatnya apartemen. Ia turun dari mobil dan menaiki lift untuk ke lantai sepuluh. Untung saja, ia tahu letak apartemennya.
Ravel menekan bell berulang kali ketika sudah sampai di depan pintu yang sudah sangat dihafalnya, karena kedatangannya ke sini adalah kesekian kalinya. Pemilik apartemen keluar dengan baju kimononya, ia mengucek matanya berulang kali untuk melihat siapa tamunya.
Ravel dipersilakan masuk, dan dibawa ke kamar di mana kakaknya sedang tertidur dengan pakaian yang kacau. Ia sudah sangat hafal dengan yang terjadi, ia melepaskan jaketnya dan mengenakan pada Fanya yang masih tertidur.
Dari aroma mulut yang keluar dari Fanya, sudah tertebak bahwa perempuan itu semalaman meminum minuman keras. Ravel mengangkat Fanya dengan ala Bridal Style dan keluar tanpa mengatakan sepatah katapun pada pemilik ruangan.
“Lo itu yang ke mana? Lo tinggalin gue sendiri! Lo tahu gue paling benci ketemu dua orang itu.” Fanya melakukan protes, menarik kaus yang dikenakan oleh Ravel tanpa ampun.
“Lo udah dewasa, Fanya! Lo lebih dewasa daripada gue, tapi kenapa lo nggak bisa bagusin diri lo sendiri.”
“Gue cuma punya lo, Ravel. Nggak ada lagi yang peduli sama gue, kecuali lo. Sekali aja lo nggak pernah ngajak gue ke mana pun lo pergi. Apa gue memalukan buat lo? Lo malu punya kakak kayak gue?! Jawab, Ravel!”
Ravel melepaskan cengkraman Fanya dan menarik ke pelukannya, “Kalau gue nggak sayang sama lo, nggak akan gue mau memohon sama mereka buat bawa lo ke sini. Gue sayang sama lo, Fanya. Tapi lo selalu buat gue kecewa, lo nggak pernah dengar perkataan gue.”
Fanya memeluk Ravel erat. Ia menangis, meluapkan semua masalah yang menjadi beban untuknya. Hingga Fanya tertidur, Ravel memperbaiki posisinya dan kembali membawa mobil untuk pulang ke rumah.
Sesekali ia melemparkan pandangan pada Fanya yang masih sesunggukkan sehabis nangis. Berulang kali bibir Fanya mengucapkan kata maaf untuk Ravel karena sudah mengecewakannya.
Ravel sudah tak mampu berada di situasi merumitkan ini. Tak ada yang tahu dengan masalah yang terjadi di kehidupannya, salah satunya dengan Svoteens. Ia bukan seperti kebanyakan orang yang mampu menceritakan masalahnya meskipun ia sudah mempercayai orang tersebut. Sebab ia tahu, tak ada titik terang dari masalah keluarganya ini.
Ravel sudah terbiasa untuk bertahan di masa-masa sulit ini.
*****
Ravel terbangun ketika mendengar Fanya memanggilnya. Sejak siang tadi ia terjaga, duduk di sofa menunggu Fanya bangun dan tanpa sadar tertidur. Ravel membantu duduk dan memberikan segelas air meneral untuk diminum hingga habis.
Sama seperti biasanya, saat bangun Fanya akan memanggilnya, mengeluh dan menangis karena sakit kepala tetapi, tetap saja ia masuk melakukan perbuatan buruknya lagi.
“Gue udah hubungi Pak Joy untuk pesan tiket ke German.” Fanya langsung mengangkat kepalanya, memandang Ravel dengan memohon untuk tidak memulangkannya kembali ke tanah kelahirannya.
“Lo udah berjanji berulang kali, dan tetap aja lo ngebangkang perkataan gue. Gue capek, Fan. Gue punya batas kesabaran,” keluh Ravel menjauhkan pandangannya dari Fanya yang sudah menangis.
“Nggak ada lagi yang peduli sama gue, bahkan dulu lo janji...”
“Gimana bisa orang peduli sama lo sementara lo nggak peduli dengan diri lo sendiri,” ucap Ravel memotong pembicaraan Fanya, “Stop Fanya! Berhenti salahin orang lain. Seharusnya lo lihat diri lo sendiri, apa lo layak buat di sayangi?” sambung Ravel yang berhasil membuat tangisan Fanya semakin menjadi.
“Gue kasih lo waktu seminggu, kalau lo nggak berubah juga... Sorry, Fanya. Gue nggak bisa lagi.” Ravel bangkit dan keluar dari kamar Fanya tanpa lupa menutup pintunya. Dia tidak benar-benar pergi dari sana, ia tetap berdiri di balik pintu mendengarkan suara teriakan pilu dari Fanya.
Tak ada yang menginginkannya, tetapi Ravel harus tetap melakukannya. Karena, ia tahu setelah ini Fanya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dan hari ini berhasil membuat keduanya perang dingin, suasana rumah yang semula sudah sepi kini semakin terasa memuakkan.