Svoteens

Svoteens
Episode 21



Semua siswa dan siswi sudah berkumpul di sekitar lapangan, menunggu pertandingan basket yang sebentar lagi akan di mulai. Semua pemain sudah mengenakan baju tim masing-masing, hanya saja yang akan melakukan pertandingan paling awal saja sudah menggunakan sepatunya.


Setiap pemain memilih perwakilan yang akan dikumpulkan untuk pengambilan undian kemudian kembali ke tempatnya, menunggu perlombaan dimulai.


“Bi, gue pinjam sepatu,” ucap Raka kembali ke lapangan, menghampiri Bian yang baru saja duduk.


“Sepatu lo ke mana?” tanya Bian sambil memberikan sepatunya pada Raka.


“Di rumah.” Raka mengikat sepatunya kemudian berdiri dan melompat-lompat untuk mengatur kesesuaian sepatu. Ia menggerakkan kakinya dengan cepat, kemudian berlari menghampiri Zharif yang sudah mengambil posisi di tengah lapangan.


“Mereka main duluan?” tanya Sonya yang baru datang bersama ketiga cewek lainnya, ikut bergabung menanti pertandingan pertama yang sudah mulai.


Permainan berlangsung selama beberapa menit, kedua tim saling menyerang satu sama lain berusaha untuk mencetak poin, “Alkar mana sih? Mereka bakal dibantai kalau gini,” tanya Bian mengangkat kepalanya untuk mencari keberadaan Alkar.


“Dia cadangan, soalnya masih harus menghadap pembina.”


“Udah pertandingan gini apalagi yang mau dilapor,” komentar Bian yang memfokuskan pandangannya pada permainan Zharif. Meski memiliki kemajuan, tetapi Zharif tidak akan bisa jika posisi Forward tidak membantu.


Bian menggerakkan tangannya, menyuruh Zharif bertukar posisi menjadi forward dan Raka sebagai playmarker, “Zharif itu nggak bisa di forward, lemparan dia kurang pas,” komentar Alfar memberi saran.


Di menit ketiga puluh terakhir, Alkar datang dan menggantikan Okta. Zharif kembali ke posisi playmarker sementara Alkar yang akan menggantikan posisinya sebelumnya. Untung saja di menit terakhir mereka dapat mengejar poin lawan dan masuk ke pertandingan selanjutnya.


“Lo ke mana sih,  Kar? Udah tanding juga masih aja sibuk.”


“Urusan kelas, Bi. Anggota gue banyak yang cabut habis acara pembuka.” Alkar meneguk minumannya hingga habis dan membuangnya ke tong sampah.


“Pantesan pada nggak benar semua yang main.”


“Kalian berdua ikut gue ke belakang sekolah. Sekalian, Rak. Lo ketemu sama Vino, dia juga cabut.” Raka menyetujui dan pergi setelah menjemur sepatu Bian yang dipinjamnya agar tidak lembab.


“Pertandingan siapa lagi selanjutnya?”


“Saingan paling berat kita, kelas family Kev. Tapi, gue udah siapin rencana dari awal.” Bian menunggingkan senyum ketika melihat teman-temannya yang penasaran dengan rencananya.


“Woah, bahaya! Main licik ya,”


“Itu tuh, namanya taktik. Anak kecil mana tahu,” sindir Alfar mengejek Adelia. Dia tidak bisa bermacam-macam karena berada di daerah lawan, sementara teman sekelasnya sudah pada menghilang.


“Oh iya, Ravel mana? Gue nggak ada lihat dia dari tadi?” tanya Bian yang baru menyadari anggotanya yang kurang. Alfar, Izar, Okta dan Gibran mengangkat kedua bahu, tidak tahu.


“Rooftop,” jawab Adelia singkat.


Mereka memandang Adelia bingung, sebab hanya dia yang tahu keberadaan Ravel, “Tadi waktu mau ke kelas gue ketemu dia. Gue tanyalah dia mau ke mana soalnya nggak ke arah lapangan. Terus dia bilang Rooftop, katanya kalau mau tanding hubungi dia,” jawab Adelia tidak menjauhkan pandangannya dari handphone.


“Dia ada masalah, ya?”


Adelia mengangkat kedua bahunya tidak tahu, “Kalian tahu Fanya? Kakak kandungnya Ravel?”


“Pernah dengar namanya aja, tapi nggak tahu orangnya. Ravel nggak pernah ngungkit masalah keluarganya,” jawab Gibran mewakili yang lainnya berbicara.


“Gue sama Aldian udah pernah ketemu, sekitar seminggu yang lalu. Kira-kira tiga hari setelah kemping. Kami kan berpapasan, terus gue tanya yang sama dia siapa, nah si Fanya langsung kenalan kalau dia kakaknya Ravel.”


Adelia terdiam, tak melanjutkannya padahal yang lain sudah menunggu kelanjutan ceritanya, “Terus? Udah gitu aja?” tanya Sonya kesal karena informasi yang tidak memuaskan.


“Ya gitu aja, kami jadinya makan bareng. Tapi, dia sama kakaknya itu perang dingin bukan kayak saudara.”


Adelia menghela nafas, bersandar pada bahu Dastin yang ikut mendengarkan, “Gue sempat nanya masalah dia, eh dianya malah marah-marah. Bilang gue terlalu ikut campur urusan dia, tadinya juga gue nggak mau cerita ke kalian.”


Tak ada yang bersimpati, melainkan mengejek Adelia, mendapatkan pemegang mendali pertama sebagai orang yang berhasil membuat Ravel marah. Sebab cowok itu lebih sering terdiam saat marah dibandingkan mengeluarkan amarahnya.


“Kalian yakin nggak mau baju ganti dulu?” tanya Rosla pada Bian, Raka, Zharif, dan Alfar yang masih mengenakan baju timnya. Bian dan Alfar mengenakan baju basket berwarna putih dengan paduan hitam serta merah. Sementara, Zharif dan Raka memakai warna hitam dipadukan dengan merah.


“Di rumah aja langsung mandi.” Alfar mewakilkan untuk menjawab pertanyaannya. Cowok itu langsung mengenakan helmnya, berbeda dengan Bian dan Zharif yang sudah mengenakan jaket.


Masing-masing yang membawa kendaraan mulai stater motornya, Sonya menunda untuk naik bersama Alfar karena panggilan masuk dari Rosla, “Okta nggak bawa campervan, Say.”


Alfar membuka kaca helmnya, memandang Sonya untuk mengetahui siapa pemanggilnya. Ia terlalu parno jika Sonya berhubungan dengan lawan jenis dan memanggil sebutan khusus sementara ia tidak pernah mendapatkannya. Hubungan mereka lebih pantas disebut sebagai sahabat, bukan kekasih.


“Motor si Dastin mogok, katanya. Kawasan sana nggak ada bengkel.”


Bian mengenakan helmnya, “Bilang tunggu di sana, biar gue aja yang ke sana,” ucap Bian.


“Gue ikut, Bi. Yang lain kalau ada urusan nggak apa pulang aja.”


Ravel, Gibran, Izar, dan Okta berpamitan karena adanya urusan. Sementara, yang lainnya mengikuti Alfar untuk menunjukkan jalan dari petunjuk Sonya.


Berbeda dari yang lainnya, Ravel menghentikan motornya dan mengampiri Adelia, duduk sendirian dengan beberapa laki-laki di sekitarnya. Jika saja tidak melihatnya dalam posisi yang mengkhawatirkan, Ravel mungkin tidak akan sebegitu niatnya untuk menemuinya.


Ia duduk, membuat cowok dengan seragam STM di samping Adelia sebelumnya menggeser lalu mengobrol dengan temannya, “Aldian belum jemput?”


Adelia mengangkat kepalanya, menghembuskan nafas lega. Sejak tadi ia hanya memandang handphone menunggu kabar dari Aldian yang tak juga kunjung hadir. Ia berusaha mungkin untuk tidak terpengaruh dengan keadaan sekitarnya yang terus menggodanya.


“Hubungi Aldian, bilang lo pulang sama gue,” kata Ravel memerintah.


“Gue nggak masalah kalau memang lo mau tetap nunggu,” sambungnya bangkit. Adelia langsung menarik baju seragam Ravel untuk menunggunya. Ia segera mengambil tasnya dan mengikuti Ravel menuju motornya.


“Thanks, Rav.” Adelia bergumam, dan Ravel mengangguk menjawabnya. Keduanya membelah keramaian sore dengan keadaan hening. Ravel menghentikan motornya di sebuah rumah makan, ia melepaskan helmnya dan menyusul Adelia yang sudah turun dari motor.


Adelia hanya bisa mengikuti Ravel dari belakang dengan rasa penasaran dan ragu. Penasaran dengan tujuan mereka ke sini dan ragu apakah diizinkan untuk masuk bersamanya.


Rasa penasaran Adelia terjawab ketika ia bertemu kembali dengan cewek yang memiliki kemiripan dengan Ravel, Fanya. Ravel langsung mengambil duduk, Fanya yang ingin protes karena keterlambatan merubah ekspresinya ketika bertemu Adelia.


Adelia dibawa untuk duduk di samping Fanya, ia disambut begitu antusias dengan senyuman merekah dari Fanya, “Gue kira dia nggak bakal mau lagi buat temui gue dengan temannya,” celetuk Fanya memandang Ravel yang memandang keduanya malas.


Adelia terlalu sibuk berbagi cerita dengan Fanya, bahkan ia lupa untuk mengabari Aldian yang saat sudah berkacak pinggang di depan gerbang memandangnya dan Ravel bergantian.


“Lo belum hubungi tadi?” Adelia menggeleng khawatir. Aldian sudah terlihat begitu marah, dan yang lebih mengejutkan Bian datang tiba-tiba dari dalam rumah.


“Lo ke mana, hah? Gue udah cari dari ujung ke ujung, hubungi lo berkali-kali. Lo mikir nggak sih?”


“Gue yang akan jelasin,” ucap Ravel mendapatkan tatapan protes dari Aldian yang memotong pembicaraannya.


“Lo juga, seharusnya kalau lo mau bawa anak orang kabari suruh dulu ke keluarganya.” Adelia menahan Aldian, ia membawa Aldian masuk ke rumah dan menyuruh Ravel untuk mengikutinya juga.


Kali ini, Bian bagaikan tak terlihat oleh ketiganya. Ia lebih memilih untuk memantau dari jauh tentang penjelasan dari kedua belah pihak.


“Gue yang salah, tadi Ravel udah suruh gue buat hubungi lo. Tapi, karena gue lupa ngabari. Lagi pula, dia yang bantuin gue dari gangguan anak STM.”


Ravel menganggukinya, “Yang dia bilang benar. Gue lihat dia sendirian sementara banyak anak STM di sana, karena gue nggak bisa lama-lama di halte jadi gue ajak pergi sama.”


“Jadi, setelah itu lo kencan sama kakak gue?” tanya Aldian yang berhasil membuat Adelia jengah dan kedua cowok lainnya melotot kaget.


Ravel sontak menggeleng membantahnya, ia langsung meluruskan tentang apa yang terjadi sebab jika tidak, ada saja masalah yang akan terjadi dan salah satunya dari orang yang sudah menghunusnya dengan tatapan tajam sejak keduanya bertemu di gerbang rumah Adelia.