Starting My New Life As An Adventurer

Starting My New Life As An Adventurer
Samurai training begin!



"Lakukan seperti ini." Yuki san membuat posisi kuda kuda baru dan melakukan gerakan tebasan berulang kali sambil menunjukkannya padaku.


Aku mulai mengikuti gerakannya, menyelaraskan tempoku dengannya dan semakin fokus


"Lakukan sebanyak 50 kali ya." Yuki mengamati tiap gerak tubuh ku.


"Baik! 1..2..3..4..5.. , ..49, 50" aku terus menghitung tiap set gerakanku dan tiap tebasannya.


"Tebasan awalmu tempo sudah bagus, namun tebasan akhirannya temponya berantakan dan tidak seimbang, lakukan lagi."


Akupun melakukan 50 tebasan beruntun lagi.


"Jangan terlalu goyang saat melakukan tebasan ya, jaga keseimbangan mu, lakukan lagi." Yuki-san menasehatiku.


"Baik Yuki-san." Aku kembali melakukan set tebasan.


(Lagi...)


"Beberapa gerakanku masih kurang konsisten, perbaiki lagi."


"Laksanakan!"


(Lagi..)


"Tebasan mu kurang semangat, lakukan lagi."


(Aku melakukan banyak pengulangan sampai-sampai aku lupa sudah berapa kali)


49..50.... "fyuhh bagaimana Yuki-san?" Aku menghela nafasku dan bertanya bagaimana gerakanku menurutnya.


"Hmm, baiklah kita istirahat dulu."


....


Kami duduk di samping pohon dan membuka kotak bekal makan siang kami menunya hari ini adalah onigiri, nasi kepal yang  sebagian bagiannya dibungkus dengan lembaran rumput laut.


'Yuki-san apa ada sesuatu yang salah dengan teknik ku? Aku merasa aku berkembang sangat lambat." Aku berkata begitu karena dari tadi aku seperti melakukan gerakan yang sama namun sepertinya belum memuaskan.


" Jangan khawatir, lagian ini kan masih hari kedua. Tidak mungkin kau langsung bisa di hari pertama. Tapi aku mengerti kesusahan membuat gerakan yang tepat saat masih pemula. Yang perlu kau lakukan hanya terus berlatih, mengerti?" Yuki menenangkan kecemasanku.


"Baiklah aku mengerti Yuki-san."


"Tenang saja, selama satu bulan ini aku sudah merencanakan beberapa pembelajaran dan aku yakin perkembangannya dapat kau rasakan saat latihan kita selesai di akhir bulan."


....


"Hei Iris, apakah kau tidak merasa kalau cara mendapatkan skill ini agak tidak efisien? Yah, aku yakin memang seharusnya seperti ini normalnya sih, tapi Biasanya aku mendapatkan skill hanya dengan melakukan hal hal kecil." Aku mulai berbicara pada iris.


"Jawab, beberapa skill memang mudah dikuasai dan ada beberapa yang sulit dikuasi. Bahkan setelah menguasai sebuah skill anda masih perlu untuk meningkatkannya agar kekuatannya menjadi lebih kuat. Saya yakin anda menyadari bahwa beberapa skill yang pernah anda dapatkan memiliki efek yang tidak begitu signifikan."


"Untuk saat ini saya hanya bisa memberi petunjuk. Ingatlah selalu ada pemicu yang menyebabkan anda mendapatkan sebuah skill. Dan ingat juga skill yang ingin anda pelajari adalah skill tebasan angin, jangan hanya berfokus dengan cara yang diajarkan."


"Terimakasih informasinya iris." Aku menyudahi percakapanku dengannya.


....


"Istirahat nya selesai, mari kita lanjut latihannya." Kami berdua berdiri dan mengambil katana kami.


"Kali ini lakukan gerakan tebasan beruntunnya dengan lebih konsisten."


Aku masih tidak terlalu mengerti apa maksud dari kata konsisten, seimbang, bersemangat atau kata kata yang dibilang Yuki-san kurang dari gerakanku sebenarnya apa yang kurang?


"Kenapa diam saja Hikaru, biar kutunjukkan kembali gerakannya.


Pertama lakukan lebarkan kakimu selebar bahu, pandangan lurus kedepan dan ayunkan katanamu dari atas ke bawah sedikit miring."


Atas ke bawah dan sebagainya, apa memang seperti ini cara menciptakan angin yang dapat memotong benda.


"Yuki-san, boleh aku lihat kau melakukan tebasan angin itu?" Aku penasaran karena aku belum pernah melihatnya.


"Baiklah, akan kutunjukkan"


Dia mengambil sebatang kayu dan meletakkannya berdiri 10 meter didepannya.


Yuki-san mengayunkan pedangnya. Seketika tercipta satu ayunan gelombang angin yang menuju ke batang pohon itu dengan cepat. Mengenainya dan langsung terpotong.


"Wah, kau bisa menggunakannya dengan mudah." Aku terkejut melihatnya.


"Tapi bagaimana bisa ada angin kalau kau menebasnya pelan seperti itu?" Tebasan pelannya tadi dapat menciptakan gelombang angin yang dapat memotong kayu dalam jarak 10 meter.


Aku pikir konsep tebasan angin adalah dengan mengipaskan pedang kita sekuat mungkin sampai tercipta sebuah gelombang yang tajam. Awasnya kukira konsepnya mirip seperti kipas yang mendorong angin ke arah depan.


Lalu bagaimana bisa pedangnya diayunkan pelan namun masih dapat mengeluarkan angin yang kencang?


"Maaf Yuki-san bisa kau ulangi sekali lagi? Tapi kali ini lakukan lebih lambat aku ingin memperhatikan lebih rinci."


"Oke..." Yuki mengulangi gerakan tebasan anginnya lebih lambat lagi. Pada titik ini gerakannya bahkan seperti dia melakukan slow motion.


....


Yuki mengayunkan pedangnya dengan pelan, dari atas ke bawah. tiba-tiba saja katana yang sedang diayunkannya itu diselimuti oleh angin yang tebal, berputar mengelilingi bilangnya dan seperti tertembak kearah yang diarahkannya.


"Apa!!???.... Bagaimana yang tadi itu bisa terjadi. Kau menciptakan pusaran angin disekeliling bilahmu dan menembakkannya ke arah yang kau mau."


"Emm, iya memang begitulah cara kerjanya." Yuki menjawab santai.


"Kalau begitu namanya bukan lagi tebasan angin atau kipasan angin itu sudah menjadi menciptakan angin dan menembakkannya. Penyihir elemen angin!"


"Kenapa kau tak coba menggunakannya tanpa pedang yuki-san? Tebasan angin itu? Kalau kau sudah menguasai sejauh ini aku yakin kau tidak butuh pedang lagi. Kau bisa langsung menciptakan angin dan menembakkannya ke arah yang kau mau."


"Yahh... Meskipun kamu bilang begitu nyatanya tak segampang itu. 'Menciptakan' dan 'menembak' angin tanpa medium sangat sulit dilakukan. Jika aku mencoba untuk menciptakan tebasan angin ditengah tengah udara tanpa katanaku mungkin kekuatannya hanya cukup untuk mendorong sebuah apel."


"Ohh..." Yah sudah pasti tidak segampang itu ya. Padahal aku sudah berpikir untuk menjadi seorang pengendali angin yang dapat membuat angin topan.


"Terus bagaimana caranya menciptakan dan menembak angin? Aku tak yakin itu tercipta dengan gerakan yang kita pelajari saat ini. Buktinya saat melakukannya Yuki-sna menebasnya dengan gaya asal asalan dan angin itu masih tertembak." Aku semakin kebingungan.


"Jujur saja biasanya murid pemula tidak akan sadar dan tidak akan bertanya tentang ini."


"Kalau boleh jujur sebenarnya akupun tak tahu cara menciptakan angin ini." Yuki-sna juga memasang ekspresi bingun di wajahnya.


"Hahh?" Aku semakin bingung.


" Entahlah, saat pertama kali aku berlatih tiba tiba angin ini tertembak begitu saja. Semakin sering kugunakan tanpa sadar dia semakin kuat dan menggunakannya hanya seperti menghembuskan nafas."


"Maksudmu seperti hanya membayangkannya?" Aku bertanya padanya.


"Ya kira kira seperti itu." Yuki menjawab dengan ragu.


"Kita harus bayangin seperti apa?"


"Wuuushh mungkin?, Fyuuhhhh? Begitulah."


Sial jalan buntu. Skill ini aktif dengan pikiran bukan mantra ataupun gerakan khusus, ini jauh lebih sulit dipelajari. Aku harus bayangin seperti apa? Untuk mempelajari skill ini berarti setiap pemula harus memikirkan sendiri cara menciptakan angin dari pedangnya. meminta penjelasan harus bayangin apa juga percuma karena terlalu abstrak. Apa memang dia keluar secara tiba tiba begitu saja?


Untuk saat ini sepertinya hanya latihan yang bisa kulakukan.


"Baiklah ayo kita sambungkan latihannya." Yuki-sna menepuk bahuku.


"Oke, 1..2..3..4..,..." Kami melanjutkan runtutan set tebasan kami.


Sembari aku melakukan tebasanku aku terus melirik gerakan yang dilakukan Yuki-san disampingku. Disetiap tebasannya angin terus tertembak berbentuk tebasan kearah batang kayu itu dan menimbulkan bekas disetiap tebasan sedangkan tebasan milikku tidak mengeluarkan angin sama sekali dan gerakanku sangat berantakan.


Aku masih belum mengerti bagaimana caranya. Setidaknya kalau menyuruh untuk membuat sesuatu beritahu caranya. Itu sama saja seperti meminta seseorang untuk pergi ke sebuah tempat tanpa memberikan alamatnya. Mungkin saja dia akan sampai, tapi pastinya dia akan tersesat sangat lama sampai akhirnya dia menemukannya.


"...49..50! Fuhh ini melelahkan." Aku mengusap keringat yang ada di dahi ku.


"Gerakanmu sudah semakin halus. Kerja bagus Hikaru." Yuki-san memujiku.


"Ya, aku juga bisa merasakannya. Aku pikir aku sudah sedikit mengerti cara mengayunkan katana yang benar."


"Aku pikir itu cukup untuk hari ini. Hari sudah gelap dan aku kira kita berdua sudah kelelahan ya." Yuki-san tersenyum dan memasukkan kembali pedangnya ke sarung yang terikat di pinggangnya.


Hari kedua berakhir, pengenalan awal tentang skill kamaitachi. Skill ini lebih sulit dari yang kukira dan aku masih belum mengetahui cara 'menciptakan' angin. Tenang ini masih hari kedua! Kami mengemas barang barang kami dan kami berjalan pulang.