
(Hari ke-9)
Hari yang baru pengalaman yang baru. Saat ini kami baru saja berangkat dari rumah menuju tempat latihan kami. Seperti biasa, kami membawa bekal,air, katana dan juga handuk. Aku terpikir soal kontrakku dengan roh angin itu dan aku yakin sebaiknya kukatakan padanya secepat mungkin.
"Yuki-san, sepertinya aku sudah bisa memanggil angin." Aku memulai percakapan sambil berjalan.
"Benarkah, apa kamu sudah dengar bisikan peri latihan itu?" Dia memastikan.
'bisikan peri latihan' aku yakin itu adalah metode yang digunakan untuk membuat kontrak dengan roh pada manusia normal. Beruntungnya aku tidak perlu melewati semua itu karena ada Iris sebagai perantara. Tapi sebaiknya kukatakan saja sudah untuk mempermudah.
"Sudah, tadi malam tepatnya."
"Oh, jadi itu sebabnya kamarmu berantakan..." Yuki menatapku.
"Hehe, jangan kasih tau kak Kiara ya."
Aku menyatukan telapak tangankuš.
"Tapi aku belum bisa mengendalikannya ditambah lagi aku tidak cuma bisa melakukannya 5 kali sehari."
"Oh itu memang seperti itu. Kurasa setelah kamu telah berhasil memanggil angin ini saatnya untuk belajar mengendalikannya. Kalau cakra mu habis kita bisa berganti ke latihan fisik."
"Apa itu Cakra Yuki-san?" Aku penasaran karena baru mendengarnya.
"Cakra adalah energi yang kau perlukan untuk melakukan jurus. Seperti contohnya tebasan angin ini." Dia menjawab.
Energi yang diperlukan untuk melakukan jurus, dengan kata lain sama saja dengan MP. Jadi para samurai menyebutnya dengan Cakra. Aku tidak heran sih, mereka tidak bisa melihat apa itu saat mereka merasakannya jadi mereka menamainya sendiri. Tidak sepertiku aku sudah tau nama aslinya dan berapa poin yang kumiliki.
Kami sampai di lahan rumput tempat biasanya. Meletakkan barang dan Yuki langsung mengajakku untuk pemanasan beberapa menit.
Setelah kami selesai Yuki langsung mengambil katananya dan langsung memberitahukan kegiatan latihan hari ini.
"Baiklah, karena kau bilang kau sudah bisa menciptakan angin. Kita tidak akan melakukan set tebasan seperti yang biasa kita lakukan lagi. Kita akan fokus ke pengendalian angin yang telah dipanggil."
"Coba lakukan proses pemanggilan angin sekarang dan tahan selama mungkin sebelum itu jadi tak terkendali. Aku ingin tahu seberapa lama kamu bisa menahannya."
"Baiklah!" Aku menggunakan kekuatan dari roh angin tersebut, seketika MP ku berkurang 4 dan gelombang angin mengelilingi pedangku.
"Ya, terus tahan seperti itu." Yuki menyemangati ku.
"Hnngghhhhhh" aku kesulitan menahan putaran angin yang semakin cepat ini.
.....
*Boom!Ā Pusaran angin itu terlepas dan meledak ke segala arah. Aku tersungkur kelelahan.
" 10 detik, kau bisa menahannya kira kira 10 detik. Cukup bagus untuk permulaan, sisa empat kali lagi hari ini kan? Lakukan lagi, tapi kali ini usahakan lebih lama."
"Baiklah...."
Aku memulai melakukan percobaan kedua. Yuki juga memintaku untuk melanjutkannya sampai percobaan terakhir. Aku berakhir kelelahan dengan perkembangan yang dapat dilihat, Waktu terlama aku menahannya dari lima percobaan pertama adalah 17 detik.
"Baiklah, karena untuk hari ini kamu gabisa melakukan pemanggilan lagi makan kita akan kembali melatih kekuatan fisik dan keseimbangan mu."
Latihan baru jenis pertama adalah mengikat katana yang kupegang dengan sebatang kayu yang sangat berat. Aku diminta untuk mengayunkan pedang itu sambil mengangkat sebatang kayu ini. Seperti biasa 50 kali pengulangan per set.
Latihan jenis kedua adalah Yuki menaruh buku di bagian tengah bilah pedang yang kupegang dia bilang tahan selama mungkin agar tidak jatuh. Aku melakukannya dengan serius berkali kali dan pada akhirnya aku bisa mengendalikan agar buku itu tidak jatuh dari bilah pedangku dalam waktu yang jauh lebih lama dari semula.
(Hari ke-10)
Metode latihan ini berjalan dengan lancar, sekarang aku bisa menahan pusaran anginnya sekitar 30 detik dan aku sudah bisa sedikit mengatur kecepatannya.
Di percobaan terakhir aku melakukan nya dengan lebih stabil dan tanpa kesulitan. Sebelum kami masuk ke latihan fisik dan keseimbangan kami memutuskan untuk istirahat.
"Kerja bagus Hikaru, ayo kita istirahat." Yuki duduk dibawah pohon.
"Aku segera menyusul." Aku merapihkan alat alat dan segera beristirahat.
Saat aku duduk sambil menikmati makan siangku iris muncul dengan notifikasi barunya.
-Hp: +20
-MP: +12
-Stamina: +10
-Speed: +10
-Damage: +5
-Aura: +5
-Instinct: +5
"Bahkan HP ku bertambah 20 poin, dan yang lainnya juga termasuk banyak."
"Anda juga berhasil mendapatkan skill baru. Berikut rinciannya."
Elementalist I: membuat anda 5% lebih mudah dalam mengendalikan elemen.
Windblade: Menciptakan pusaran angin yang tajam disekeliling bilah.
"Sebagai penutup anda juga mendapatkan +1 skill poin."
"Terimakasih informasinya iris, aku akan coba nanti."
"Baiklah laporan selesai."
....
Baiklah analisa, berurusan dengan roh membuatku mendapat skill elementalist walaupun persenan nya masih sangat kecil dan hampir tidak berasa namun buff kecil seperti ini cukup membantu dalam perkembangan latihan pengendalian ku.
Dan juga windblade ini sama seperti yang sedang kupelajari dengan Yuki. Membuat pusaran angin disekitar katana. Tapi semenjak ini sudah didaftarkan sebagai skill berarti aku bisa langsung menggunakannya tanpa harus mengendalikan anginnya agar berputar secara manual.
Tapi kalau kulihat lagi skill windblade ini beda dengan skill ku yang lain. Tidak ada angka disampingnya. Apa artinya itu tidak bisa ditingkatkan?
"Jawab, jika sebuah skill tidak memiliki angka disampingnya maka itu berarti cara peningkatannya adalah berdasarkan pemiliknya. Semakin kuat pemiliknya semakin kuat pula skillnya." Iris tiba tiba menjawab."
"Jadi aku hanya perlu fokus meningkatkan kekuatanku maka skill ini akan ikut semakin kuat, baiklah itu mudah."
"Sebagai tambahan informa..." Iris berhenti berbicara.
"Oyy, Hikaru." Yuki menepuk nepuk bahuku.
"Ohh, maaf maaf Yuki-san aku melamun."
"Aku memang sudah sering melihatnya tapi kamu ini suka sekali melamun ya."Ā Yuki menghela nafasnya.
Huhh aku terkejut tadi, ya terkadang saat aku berbicara dengan iris aku sampai lupa dengan sekitarku dan aku terlihat seperti melamun.
"Maaf Yuki-san." Aku memegang bagian belakang kepalaku.
"Tidak apa-apa, tapi usahakan jangan melamun saat latihan. Aku takut kamu bisa terluka."
"Aku mengerti." Dengan sigap aku menganggukkan kepalaku.
"Baiklah ayo kita lanjutkan latihan kita."
Kami melanjutkan latihan kami. Latihan mengangkat katana yang diikat dengan kayu dan latihan menjaga keseimbangan buku yang berada ditengah bilah katana. Kekuatan dan keseimbangan. Seperti yang Yuki bilang ini adalah kunci utama dari menguasai skill yang saat ini kupelajari Kamaitachi.
1..2..3..4.. saat ini aku bisa mengayunkan pedang yang sedang diikat dengan kayu itu seperti mengayunkan pedang biasa. Berkat staminaku dan tubuhku yang sudah terbiasa dengan ini semua aku menyelesaikannya dengan baik
Latihan jenis kedua ini yang menurutku sendiri lebih sulit. Terkadang Yuki mengganti buku dengan barang barang aneh yang lebih sulit untuk diseimbangkan seperti pensil, sendok dan benda lain. Semakin aku baik dalam menyeimbangkannya dia saat ini juga memintaku melakukannya sambil berlari dan mempertahankan posisi.
Setelah semuanya selesai kami pulang kerumah. Mulai saat ini latihan kami mulai memasuki tahap pertengahan.
------------------BERSAMBUNG------------------