
Saat sampai di rumah sang tabib aku pingsan semalaman, dan saat aku bangun ada kakek, Kiara dan sang tabib Lily.
Kakek bilang dia tidak sengaja memperkirakan kekuatan serangannya. Skill serangannya itu adalah sebuah skill otomatis. Intinya skill ini bisa membuat tubuh bergerak sendiri. Tapi seharusnya dia tidak sesserius itu melawan anak umur 5 tahun sepertiku.
Tentu saja aku memberi hukuman padanya. Pertarungan kemarin dimenangkan olehku dan sebagai gantinya dia yang membersihkan kamarku sampai aku pulih.
Lily bilang aku aku tetap di tempat tidur beberapa hari dan rutin meminum ramuan yang dia buat. Luar biasa, anak umur 5 tahun ditendang sampai harus dibawa ke tabib desa. Saat kakek masuk ke kamarku untuk membersihkannya dia tidak banyak bicara padaku. Nampaknya dia menyesal dengan perbuatannya.
Oh ya, Saat sampai dirumah setelah aku dirawat di rumah Lily sang penyembuh ada beberapa hal yang terjadi.
(Malam itu)
"Ahh, rumahku istanaku" Kiara membantuku berbaring di kasurku.
"Segeralah tidur Hikaru, kau harus banyak istirahat untuk sembuh."
"Terima kasih nee-san."
"Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu. Panggil aku kalau ada apa apa ya" Kiara pergi meninggalkan kamar tidur ku.
" Sistem, notifikasi, beberapa skill baru telah didapatkan." Suara sistem muncul dikepalaku.
"Ha? Ada apa kali ini? Aku menjawabnya dalam pikiranku.
-Regeneration I : Meregenerasi 1 poin HP setiap 15 menit (*hanya dapat meregenerasi luka dengan kerusakan max 10HP).
-Ronin I : Damage yang dihasilkan oleh tebasan pedang meningkat 10%.
-Falcon I : meningkatkan poin insting sebanyak 3 saat keadaan terancam.
"Skill- skill sebelumnya juga berhasil ditingkatkan, berikut peningkatannya."
-Run II : sekarang energi yang digunakan untuk berlari 15% lebih sedikit memakan energi.
-System II : sekarang saya dapat menjawab pertanyaan yang lebih sulit.
"Anda memasuki fase pertumbuhan selanjutnya dan juga bonus pertarungan, berikut peningkatan stat anda."
-Hp: +10. -Stamina: +5
-Mp: +5. -Instinct: +3
-Damage : +5. -Aura: +5
-Speed: +5
"Dengan begitu total stat yang anda miliki adalah..."
"Ahhh, kalo yang itu skip. Nanti akan aku hitung sendiri." Aku rasa masih tidak perlu menghitung berapa banyak statku.
"Selanjutnya, anda mendapatkan 1 poin skill aktif, apakah anda ingin menggunakannya?"
"Skill aktif? Aku baru dengar apa itu? Dan apa maksudnya poin?"
"Skill aktif adalah skill yang penggunaannya aktif saat diaktifkan, seperti jurus ataupun mantra."
"Seperti yang saya katakan, anda mendapatkan 1 poin skill aktif dan dapat anda tukar dengan bermacam skill sesuai level dan berapa banyak poin yang anda miliki."
"skill shop ya, baiklah, coba kita lihat apa yang bisa aku dapatkan."
"Menampilkan 173 skill yang bisa anda pilih." List hologram daftar skill menumpuk didepan mataku.
"Stopppp, oy oy itu terlalu banyak, Saat ini aku lagi capek. Berikan saja rekomendasimu."
"Baik, menampilkan rekomendasi."
-Stab: jurus tusukan pedang sederhana.(biaya 1 poin)
-Dodge: •teknik menghindari serangan sederhana.(biaya 1 poin)
"Hey, apa-apaan rekomendasimu itu, aku tidak perlu skill untuk tau cara menusuk dan menghindar. Apa itu rekomendasi terbaik? Jadi sisanya lebih jelek dari itu?" Aku memarahi rekomendasinya.
"Skill yang saya rekomendasikan tadi biasanya digunakan untuk diberikan ke binatang perliharaan, boneka atau semacamnya supaya mereka dapat lebih bergerak bebas. Namun skill untuk memberikan skill ke orang atau benda baru terbuka di system level yang lebih tinggi."
"Terus kenapa kau rekomendasikan?" Aku masih tidak mengerti.
"Anda memerintahkan saya memilih yang terbaik dan sayang sekali itulah yang terbaik yang bisa anda dapat di level sistem dan dengan jumlah poin yang anda miliki."
" Namun untuk saat ini saya merekomendasikan Anda untuk menyimpan poin aktif skill anda dahulu. Dan mengumpulkan poin serta meningkatkan level sistem."
"Hmm berarti jawaban atas pertanyaanku belum tentu hasil yang terbaik. Baiklah sistem, kau kuberikan izin untuk memberikan pendapat tambahan atau rekomendasi yang menurutmu juga mungkin pilihan yang bagus." Aku berpikir ini akan lebih memberiku pandangan luas tentang peluang nantinya.
"Dimengerti." Sistem menjawab dan kedengarannya suaranya terasa lebih bebas.
"Pertanyaan lagi, bagaimana aku meningkatkan level sistem dan mendapatkan poin skill aktif?"
"Anda dapat meningkatkan level sistem dari mengumpulkan skill-skill, setiap 5 skill yang anda miliki akan meningkatkan 1 level system. saat ini anda memiliki 5 skill (Run,general,Regen,Ronin,Falcon)."
"Anda memiliki peluang untuk mendapatkan poin skill aktif dari pertarungan dan berbagai kegiatan lainnya." Sistem menambahkan.
"Apa itu sudah semua?" Aku bertanya jika saja ada hal penting yang lain.
"Laporan selesai." Sistem menutup laporannya.
"Oh ya, memanggilmu dengan nama 'sistem' terasa agak menjengkelkan dan sulit untuk diucapkan. Aku memikirkan sebuah nama. Mulai saat ini aku akan memanggil mu 'iris'. Kau tidak keberatan kan?"
"Baiklah, mulai saat ini saya akan mengenali diri saya dengan nama yang anda berikan 'Iris'."
"Mohon kerjasamanya ya Iris untuk sekarang dan seterusnya."
"Saya tercipta hanya untuk melayani anda, sekian." Notifikasi sistem selesai.
...
Aku mempelajari cara kerja didunia ini dan bagaimana aku bisa mendapatkan skill. Intinya semua hal terjadi karena sebuah alasan.
skill regeneration ku pasti bangkit setelah pengobatan yang aku alami, Ronin karena aku sering berlatih pedang dan falcon karena pertarungan kemarin.
"Yaa, cukup bagus untuk saat ini'
"Notifikasi baru, energi anda habis, fase tidur paksa diaktifkan."
"Astaga, memang sih aku sangat lelah. Oh iya iris sebelum itu ada yang ingin aku tanya..." Pandanganku menjadi gelap perlahan dan Akupun tertidur.
(Besoknya)
"Ahhh, pagi hari yang cerah. Tapi sayangnya kepalaku sangat berat dan aku sangat pusing."
*Crekk
(Suara pintu dibuka)
"Hikaru aku membawakan sup untukmu, minumlah." Ternyata itu Kiara nee-san yang masuk ke kamarku.
"Oh, terimakasih nee-san. Sampai repot mengantar makanan ke kasurku." Aku duduk diatas kasurku.
"Kamu bisa makan sendiri kan, kalau gitu nee-san tinggal dulu ya."
"Tunggu nee-san." Aku menahannya dengan menarik sedikit bajunya.
Ada apa Hikaru? Apa masih ada yang terasa sakit?"
"umm, sebenarnya tanganku masih sakit dan sulit digerakkan. Bisakah nee-san membantuku makan?" Aku memohon padanya dengan wajah memelas.
"Duh, kamu ini manja sekali ya.
Baiklah sini, biar kusuapi." Kiara duduk disampingku dan memegang mangkuk hangat sup untukku
"Apa kamu bisa berjalan?" nee-san bertanya padaku disela-sela suapannya.
"Tidak kepalaku masih pusing."
"Baiklah kalau begitu nee-san akan bantu kami mandi dan berpakaian juga."
"Ya, terima kasih nee-san."
Entahlah kawan, aku rasa menjadi sakit sesekali tidak buruk juga maksudku aku dirawat seperti ini.
Setelah beberapa hari, tubuhku pulih sepenuhnya walaupun menyisakan sedikit trauma untuk beradu pedang dengan orang dewasa.
Aku berjalan menuju ruang makan, Kiara nee-san sedang menyiapkan sarapan dan aku menyapanya.
"Kiara nee-san selamat pagi." Aku menyapanya saat aku menuju ke ruang makan.
"Oh, selamat pagi Hikaru, apa lukamu sudah sembuh?"
"Ya sudah sembuh total."
"Tunggulah sebentar, aku akan menyiapkan sarapanmu." Kiara nee-san segera menyiapkan sarapan untukku.
"Terima kasih nee-san."
Menu sarapan hari ini adalah mashed potato, sejenis bubur yang terbuat dari kentang dan didampingi potongan wortel tipis sebagai pelengkap.
(Setelah selesai makan)
"Terima kasih makanannya!, Ngomong-ngomong nee-san aku tidak melihat kakek, apa dia masih tidur?"
"Tidak, tuan Rondo sudah berangkat pagi tadi."
"Wah tumben sekali dia sudah pergi pagi pagi seperti ini."
*Crieekk
(Suara pintu dibuka)
"Aku pulang." Kakek masuk kedalam rumah.
"Selamat datang tuan Rondo apa tuan mau sarapan?"
"Wah boleh juga, tolong siapkan ya Kiara."
"Baik tuan, segera saya kerjakan."
Kakek duduk di sampingku yang masih duduk di meja makan, aku tetap duduk disitu sampai kakek selesai makan sambil meminum teh yang dibuatkan nee-san.
(Setelah kakek makan)
"Kiara nee-san aku pergi keluar dulu ya." Aku turun dari kursi sambil membawa pedang kayu kesayanganku.
"Tunggu Hikaru." Kakek memberhentikanku.
"Ada apa kek? Aku mau pergi bermain di luar."
"Begini Hikaru, sepertinya perasaanku saja tapi rasanya kamu masih marah. aku sangat menyesal karena telah melukaimu kemarin dan aku sungguh minta maaf.
"Tidak masalah, lagian itu karena kau tidak sengaja, tapi lain kali berhati hatilah apalagi dengan anak kecil." Tapi mungkin dia benar, aku sedikit memasang muka judes saat menatapnya.
"Ngomong-ngomong kalau kau ada waktu bisakah kau memgajariku teknik itu? Teknik menebas dan menendang dalam waktu singkat. Aku akan menerimanya sebagai permintaan maaf."
"Ya aku minta maaf, walaupun kau minta begitu belakangan ini aku agak sibuk di balai desa. Tapi, aku punya sesuatu yang lebih baik sebagai permintaan maafku."
"Ha, apa itu?" Aku memasang muka penasaran.
"Ayo ikut aku, kau pasti suka." Kakek berdiri dari kursinya dan berjalan keluar rumah.
....
Diluar rumah ada seseorang berdiri dengan jubah membelakangi pintu rumah kami, dia hanya diam berdiri disitu dan seperti menunggu seseorang. aku penasaran siapakah dia.
"Maaf telah menunggu lama ya, aku harus bicara dengan cucuku dulu." Kakek berbicara pada orang itu.
Diapun berbalik, rambut putihnya dan paras wajah indahnya langsung membuatku terpukau. Dia adalah seorang remaja wanita cantik seperti di mimpi semua pria.
"Tidak masalah Rondo-ji." Wanita itu menjawab.
"Kakek, siapa wanita cantik yang ada disana?" Aku bertanya padanya.
Wanita itu memasang wajah malu saat kukatakan dia cantik, betapa imutnya.
"Wah kau pandai menggoda ya, baiklah Hikaru biar kuperkenalkan dia. Wanita ini adalah cucu dari kakakku jadi bisa dibilang dia ini kerabatmu. Sekarang ini dia berusia 17 tahun. Dan saat ini dia sedang libur jadi aku panggil dia kemari."
"Untuk apa kek?"
"Bukannya sudah jelas? Hahahaha Mulai saat ini dia akan menjadi guru les berpedangmu."
"Kau kan ingin jadi pendekar pedang yang hebat kan. Meskipun masih 17 tahun tapi dia cukup berprestasi dalam seni berperang lho." Kakek tertawa sambil memegang bahunya.
"Apaaa!?" aku terjekut, yaa walaupun aku senang. Bagaimana bisa wanita secantik ini adalah kerabatku.
"Baiklah kalau begitu aku tinggal dulu, kalian mengobrol lah." Kakek masuk lagi kedalam rumah.
"Perkenalkan nama saya yukiharu touji, panggil saja Yuki.
sekarang saya bertugas sebagai anggota elit pasukan Walter dari kerajaan Hachisuka, senang berkenalan denganmu."
"Wahhh samurai wanita, Aku sampai terdiam terkagum."
"Dan kamu, siapa namamu?" Wanita itu bertanya padaku.
"Touji Hikaru, 9 tahun, aku cucu dari Rondo touji, mohon bantuannya!"
"Ya,mohon bantuannya juga ya..."
Kami berdua tersenyum saling menyapa, awal yang baik untuk hubungan guru dan murid. Rasanya hari hariku akan lebih menyenangkan.
Inilah perkenalan pertamaku, bimbingan seni berpedang dengan seorang samurai wanita, bagaimanakah nanti hasilnya?