
Pagi hari yang cerah dan menyenangkan, aku akan ikut dengan Kiara nee-san untuk berbelanja di pusat desa..., atau seperti itulah yang aku harapkan.
"Ayolah Kiara nee-san biarkan aku ikut menemani mu juga aku janji gak akan nakal lagi." Aku merengek memohon padanya.
"Tidak boleh, ini akan jadi hukumanmu karena tidak memberikan kabar padaku kalau kau pulang telat." Nee-san memasang muka ngambeknya padaku.
"Haahhh, lagian itukan gak separah itu. ayolah nee-san maafkan aku yaa" aku memohon dengan wajah memelas.
(menghela nafas) "huhhh, baiklah tapi kamu harus janji tidak boleh nakal lagi ya."
"aku janji."
Yeaayy akhirnya aku bisa pergi lagi ke pusat desa, aku bisa menyelinap dan pergi ke toko senjata, Minta maafnya akan kulakukan setelah pulang hehehe
*Wroughhhhh
suara Guntur disertai hujan dan angin ribut mendadak mengubah semua rencana kami.
"Yahh, sayang sekali Hikaru sepertinya kita tak bisa belanja hari ini." Nee-san menghela nafasnya lagi.
Sial, sepertinya dewa melarangku untuk menjahili Kiara nee-san.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang Hikaru?"
"Yaaa, sepertinya aku hanya akan bermain main dengan pedang baruku." Aku mengambil pedang kayu yang diberikan paman pemilik toko.
"Baiklah kalau begitu aku akan bersih bersih dibelakang ya." Nee-ena berjalan ke belakang.
"Hyaa hyaa hyaa para pasukan ku yang terhormat, ayo kita ratakan kerajaan silvania dan kuasai lozagon!" Aku berdiri diatas sofa dan mengangkat pedangku sambil berkhayal menjadi seorang jenderal.
"Ha ha ha ha ha!" Aku mengayunkan pedangku.
"Sistem, anda memasuki fase pertumbuhan berikutnya, berikut pertambahan atribut yang anda dapat."
Hp: +10
MP: +5
Stamina: +2
Damage: +5
Instinct: +3
speed: +2
Aura: +2
"Wah dapat lagi."
umurku sekarang sudah sekitar 6 tahun. Tak banyak yang terjadi dalam tahun tahun terakhirku itu. Yang kulakukan hanyalah bermain pedang pedangan, membantu Kiara nee-san dan berjalan jalan.
"Beberapa aktivitas yang anda lakukan telah memberikan anda sebuah skill"
General I: setiap prajurit, pelayan ataupun budak yang anda punya akan mendapatkan +1 poin atribut di diri mereka dan diletakkan secara acak.
Sekian..."
"Lagi lagi aku dapat skill yang payah,+1 atribut itu seakan seperti peningkatan yang tak ada artinya, mungkin aku mendapatkannya karena aku sering berkhayal menjadi seorang jenderal. Skill itu semakin tidak berguna karena aku tak memiliki seorang pelayan ataupun budak."
Aku menyadari ada yang aneh dari pertumbuhan tubuhku, seakan kecepatan pertumbuhan tubuhku lebih cepat daripada anak seusia ku. sekarang ini aku bahkan sudah sama tingginya dengan anak yang berumur 11 atau 12 tahun.
"Hey sistem, tidakkah kau mengetahui alasan mengapa pertumbuhan tubuhku unik?" Aku berpikir mungkin ini memang sebuah penyakit.
"Jawab, kecepatan pertumbuhan tubuh yang melewati batas normal memang benar adanya. namun tidak ditemukan keganjilan ataupun semacam penyakit didalam tubuh anda. saat ini kesimpulan yang bisa diambil hanyalah anda memiliki genetik yang luar biasa.
"Hmmm begitu ya jadi jawabannya karena genetik tubuhku luar biasa ya..." Aku membalas dengan nafas lega.
"Benar, namun latihan yang anda lakukan setiap hari juga berpengaruh besar pada pertumbuhan anda."
"Latihan? Aku tak pernah latihan bertarung atau semacamnya lho."
"Seluruh kegiatan menggerakkan tubuh ataupun berkomunikasi selalu tercatat dalam peningkatan pertumbuhan anda."
"Begitu ya, Jadi kegiatanku membantu nee-san,bermain pedang dan membaca buku berguna juga ya."
Kiara nee-san dan kakek tidak khawatir atau bahkan mereka seperti tidak peduli dengan kecepatan pertumbuhanku. mereka hanya sesekali berkata kalau aku cepat sekali besar dan tetap menyayangiku. Huft... Seharusnya mereka curiga sedikit, yaampun mereka ini.
(Tiba tiba aku mereka sangat lelah dan mengantuk)
"Eh apa ini, kenapa aku merasa sangat lelah?" Aku bertanya dengan suara lemas
"Jawab, pembuatan dan pemasangan skill memerlukan energi yang terkadang dapat mengakibatkan tidur paksa bagi sang penerima. Ditambah lagi aktivitas anda sebelumnya juga memakan banyak energi."
"Yaampun....." *Brukk, Seketika aku rebah dan tertidur di sofa.
Setelah beberapa saat aku kemudian terbangun dan menyadari diriku sudah berada di kamar dengan selimut yang hangat.
"Ahhh, tidurku nyenyak juga. Ngomong ngomong hari sudah sore, apa aku harus tidur lagi saja?"
*Hm,mmm,mmm
aku mendengar sesuatu seperti nyanyian yang sangat merdu terdengar dari ruang tamu rumahku, saat kulihat dari luar kamarku ternyata itu adalah Kiara yang sedang menjahit bagian bagian bajuku yang robek sambil bernyanyi. Aku berniat menghampiri Kiara nee-san sambil membawanya air minum.
(Saat aku menuju kearahnya Kiara melihatku dan memanggilku)
"Oh Hikaru, kamu sudah bangun."
"Iya, tapi aku masih sedikit mengantuk, aku membawakan air minum, boleh aku duduk?"
"Tentu, duduklah." Nee-san bergeser sedikit dari kursinya agar aku dapat duduk
Aku pun duduk disampingnya dan sambil melihatnya.
Ia kelihatan santai saat menjahit pakaianku sambil bernyanyi dengan suara yang halus, melihatnya dibawah cahaya sore sambil menjahit
benar-benar pemandangan yang indah.
"Wah, Kiara nee-san ternyata sangat hebat dalam bernyanyi."
"Ya! aku suka lagumu kak, lagunya merdu dan membuatku tenang."
"Itu lagu dari kampung halamanku, biasanya lagu ini dinyanyikan sebagai salam perpisahan atau untuk mengenang saudara yang telah meninggal."
"Apa kampung halamanmu jauh dari sini Kiara nee-san?"
(terdiam sebentar ). "begitulah, lebih tepatnya kampung halamanku sudah tidak ada lagi."
"Apa maksudnya kak? Aku tidak mengerti apa maksudnya.
"Desaku dulu adalah desa kumuh yang jauh dari desa ini, Penduduk desa kami hanya bertahan hidup hari demi hari. Tapi bagiku itu adalah tempat terbaik."
"Kalau kuingat dulu masa kecilku cukup menyenangkan. Aku dulu punya seorang kakak perempuan, ayah dan ibu yang baik. Kami sering bermain dan bercanda kami cukup bahagia meskipun keluarga kami tidak kaya. Kami sering mengikuti ayah kami menangkap ikan di sungai yang dangkal didekat desa kami.saat kami mengikutinya kami hanya bermain air disungai dan malah membuat ayah kesulitan untuk menangkap ikan."
"Kedengarannya menyenangkan, terus bagaimana desa seperti itu bisa hilang?".
"Bukan hilang, desaku sama seperti desa kumuh lainnya, (tersenyum setelah itu terdiam sejenak). Begitulah Sampai akhirnya desa kami diserang oleh segerombolan goblin."
"Goblin? Makhluk hijau yang rakus itu?" Aku tidak tau ada goblin di dunia ini.
"Mereka datang bagaikan sapuan air, mereka merusak desa kami dan membunuh banyak orang dalam semalam."
"Orang tua dan kakakku meninggal dalam peristiwa itu. pada saat itu aku benar benar sedih dan tak tau harus berbuat apa."
"Beberapa hari setelah itu, para bandit datang mengambil semua barang yang masih berharga dan menculik semua anak anak yang bisa dijual untuk dijadikan budak."
"ku selamat karena sepertinya aku pingsan di reruntuhan rumahku, Begitulah cerita yang kudengar."
" 'yang kudengar?', maksudnya cerita dari orang lain?"
"Itulah cerita yang kudengar dari seseorang yang menyelamatkanku, sebenarnya aku pingsan selama tiga hari direruntuhan rumahku dan aku tidak sengaja ditemukan seseorang." Kiara lanjut bercerita
"Pada saat itu aku tidak tau apa apa dan masih kebingungan dengan keadaan yang terjadi. Aku masih ingat pada saat pertama kali aku bertemu dia, orang yang menyelamatkanku. Dia orang yang ramah dan baik yang mau menjagaku."
...
(Pada masa Kiara masih kecil, didalam tenda bantuan para korban serangan goblin).
"Hey nak, apakah kau baik baik saja, apakah ada yang sakit?" Seorang pria masuk kedalam tenda perawatan tempat Kiara kecil dievakuasi.
"Tidak ada, permisi tuan yang baik, dimana aku sekarang? Dimana kedua orang tuaku?". Kiara kecil bertanya pada pria itu dengan lugunya.
"Maafkan aku, aku yakin semua keluargamu sudah meninggal. Kami terlambat menyadari serangan dari goblin itu. Itu sebabnya bantuan baru datang setelah tiga hari." Pria itu menunduk bersalah setelah mengatakan semuanya.
"Keluargaku meninggal?". Kiara kecil masih tidak mengerti apa yang terjadi dan tidak menangis.
( Pria itu menyejukkan satu lututnya didepan Kiara yang sedang di kasur sambil memegang tangannya).
"Tenang saja, mulai saat ini aku yang akan menjagamu. Kau boleh anggap aku sebagai ayah angkat ataupun tuan yang kau segani. Semua tergantung kamu."
"baik." Kiara kecil mengangguk polos.
...
"Pada masa itu aku masih belum tau bahwa kebaikan orang itu telah memberikanku kehidupan yang layak seperti sekarang. Aku hanya berkata iya dan mengikutinya dan melayaninya hingga sekarang. benar, orang itu adalah kepala desa ini Rondo touji, pada saat itu dia adalah kapten squad berkuda kerajaan yang disegani banyak orang."
"Ehh.. Kakek ternyata melakukan sesuatu yang hebat semasa mudanya."
Aku bergumam masih tak percaya
"Aku terus mengikutinya sampai saat ini. Mulai dari dia menjadi kapten squad berkuda sampai dia menjadi pemimpin desa ini dan membangun desa ini seperti sekarang."
"Hikaru, aku tau bagaimana pandanganmu terhadap tuan Rondo, dia memang kadang sedikit pemalas namun percayalah dia adalah orang yang dapat diandalkan pada waktunya." Dia berbicara sambil memegang tanganku.
"Sepertinya begitu ya, mungkin aku harus mulai menghormati kakek mulai sekarang."
*Tok tok tok
(Suara ketukan pintu dan ternyata itu adalah kakek yang baru pulang dari urusan jabatannya)
"Yo, aku pulang" kakek masuk sambil membawa keranjang yang besar.
"Selamat datang tuan Rondo, tuan pasti lelah. saya sudah menyiapkan air hangat untuk mandi tuan." Kiara berdiri dan berlagak sebagai pelayan.
"ah terimakasih, tapi sebelum itu aku rasa kita makan dulu."
"Maafkan saya tuan saya belum memasak apa-apa, saya berpikir akan memasak disaat tuan Rondo mandi agar makanannya tetap hangat." Kiara menunduk meminta maaf
"hahahaha, tak masalah kali ini kita akan makan enak" kakek mengeluarkan sesuatu dari keranjang yang dibawanya.
"Tadaaa!" Kakek menunjukkan potongan daging panggang yang besar.
"ku diundang untuk melihat peternakan desa dan aku diberikan potongan daging sapi panggang ini sebagai oleh oleh, mari kita makan waktu daging ini masih hangat."
"Wah, aku yakin kau datang kesana hanya untuk daging itu." Aku meledeknya.
"apa! Hey anak kecil, kau tidak tau gimana sibuknya pekerjaanku ya, tapi ya aku sedikit kecewa biasanya mereka memberikan potongan yang lebih besar."
"Sudah kuduga." Aku meledeknya lagi.
"Baiklah tuan Rondo saya akan mempersiapkan alat makannya." Kiara berjalan menuju dapur
"Kiara nee-san biarkan aku membantumu." Aku berlari mengejarnya
"Kalo gitu aku akan menunggu di meja makan..." Kakek dengan santainya duduk di kursi meja makan.
"Kakek juga bantuin!" Aku melemparnya dengan sendok nasi.
"Aww, baiklah...."
Persiapan telah selesai dan kami duduk di meja makan.
"Selamat makan!" Kami bertiga mengucapkannya secara serentak.
Makan malam bersama keluarga, suasana hangat di meja makan dan canda tawa mengisi setiap malamku dirumah ini.