
*Tok,tok,tok,tok
Yuki mengetuk pintu berulang kali dengan keras
"Kiara-san cepat buka pintunya"
*Crekk, suara bukaan pintu
"selamat dat..." Kiara terdiam melihat aku yang pingsan di gendongan Yuki.
"Sepertinya dia kelelahan saat berlatih, Kiara-san tolong buatkan air hangat aku akan membasuh badannya." Yuki langsung bergegas masuk ke rumah dan meletakkanku di sofa.
"Baiklah, akan segera saya kerjakan." Kiara berlari masuk ke dapur
"Hmm? Kenapa Hikaru sampai pingsan begitu Yuki? Apa kau memukul kepalanya terlalu keras? Tidak boleh begitu lho dia masih anak kecil." Kakek keluar dari kamar dan memarahi Yuki dengan wajah marah.
"Maafkan aku Rondo-ji, *hiks hiks" Yuki menangis karena merasa bersalah.
"Aku melatihnya terlalu keras sampai dia pingsan seperti ini. maafkan aku. *Hiks hiks."
"Eh eh, aku hanya becanda yuki, aku tidak benar benar memarahimu. Sudahlah mari kita rawat Hikaru dia juga pernah pingsan seperti ini, Lily sudah memberi tahuku perawatan pertamanya." Kakek merasa bersalah karena menjahili Yuki.
"Aku harus kembali ke Padang rumput dulu, aku meninggalkan barang barangku. Rondo-ji, tolong bantu rawat Hikaru selagi aku pergi."
"Jangan terlalu terburu-buru Yuki, hati-hati hari sudah gelap." Kakek menasehatinya dari depan pintu.
Dengan begitu aku dibawa ke rumah dah dirawat oleh kakek dan nee-san, Yuki-san merasa sangat bersalah karena dia berpikir aku pingsan karena latihannya yang ketat.
Aku merasa bersalah kepada Yuki-san yang mengira aku pingsan karena proses latihan yang dia berikan. Dan sekarang sebagai anak yang baik, aku ingin minta maaf.
Tentu aku tak ingat bagaimana mereka merawatku saat aku pingsan, aku terbangun di dalam kamarku, yang kulihat ada banyak ramuan dan kepalaku dikompres dengan kain hangat. tidak ada siapa siapa, jadi aku langsung keluar. Seperti biasa, ruangan pertama yang kudatangi setelah bangun pastilah dapur. Kiara nee-san selalu ada disana.
Saat aku melihat nee-san aku ingin memanggilnya, tapi saat kulihat lagi Yuki-san juga ada disana berdua dengan nee-san menggiling dan membersihkan tumbuh-tumbuhan herbal. Aku berdiri disela-sela ruangan supaya mereka tidak menyadariku.
"Yuki-san, apa kau sudah selesai membersihkan tumbuhannya?" Sambil memasukkan beberapa rempah kedalam panci.
"Sebentar lagi, masih ada beberapa yang tersisa." Yuki mempercepat gerakannya.
"Obat ini sangat ampuh untuk mengembalikan tenaga, Hikaru pasti sudah sembuh saat kita berikan semalam. Yang ini hanya sebagai tambahan."
"Tapi Kiara-san, apa menurutmu Hikaru akan takut kepadaku? Apa mungkin dia berpikir aku seorang guru yang kejam? Aku apa dia akan membenciku?, Aku tidak tau kalau latihanku seberat itu sampai membuatnya pingsan." Yuki berbicara dengan nada khawatir.
"Tenang saja, Hikaru itu anak yang baik. Dia selalu memanggilku dengan sebutan kakak dan aku sudah menganggapnya sebagai adik, dia sering membantuku dan selalu membuat hatiku tenang. Dia tidak akan membencimu hanya karena hal seperti ini." Suara lembut Kiara menenangkan Yuki.
Saat mendengar itu, aku merasa senang berada di keluarga ini. Terutama karena sifat nee-san yang sangat lembut. Aku ingin segera memeluknya namun aku masih ingin mendengar cerita mereka lebih banyak.
"Tapi, tapi, apa yang kulakukan sudah berlebihan." Yuki masih terus berbicara dengan gugup.
"Tenang saja, Hikaru mungkin pingsan karena itu kali pertama dia latihan. Tubuhnya belum terbiasa. Setelah ini aku yakin dia akan baik baik saja." Kiara terus menenangkan Yuki.
"Aku harap begitu... Aku benar benar berharap dia tidak membenciku."
"Sudahlah jangan bersedih, setelah ramuan ini siap mari kita langsung berikan ini ke Hikaru."
"Baik kiara-san." Mereka mulai menuangkan ramuan itu kedalam mangkuk dan segera bersiap ke kamarku.
Aku mengendap-endap kembali ke kamarku berpura pura tidur sampai mereka datang. Dan saat mereka masuk, aku berpura pura bangun.
"Oh,Hikaru kamu bangun. Apa kami mengganggu tidurmu?" Kiara dan Yuki masuk ke kamarku.
"Tidak, aku tidur dengan nyenyak."
Aku duduk datas kasurku, disamping Kiara aku melihat Yuki-sna yang masih merasa bersalah dan enggan untuk melihatku. Dia berdiri didekat pintu dan seakan membuang wajahnya.
"Kenapa kau berdiri disitu Yuki-san? Masuklah." Aku memanggilnya.
"Umm, baiklah" Yuki masuk kedalam dengan ragu.
"Apa kau merasa pusing Hikaru?" Yuki bertanya padaku.
"Tidak, sekarang sudah tak apa apa."
"Hikaru, aku minta maaf karena kejadian semalam, aku tidak tau kalau latihanku itu cukup berat dan memyulitkanmu. Aku berpikir kenapa kau tidak memberitahukan nya saja kepadaku, apa memang kau takut denganku?"
"Tidak Yuki-san sebelum itu, aku juga ingin minta maaf kepada yuki-san dan Kiara nee-san. Aku sudah membuat kalian khawatir. Semalam itu aku tidak tau apa yang terjadi, pandanganku langsung gelap dan aku langsung tertidur. Yaa,mungkin karena kelelahan tapi itu bukan salahmu Yuki-san."
"Benarkah?" Dia memasang wajah sedikit lega.
"Iya benar, mungkin karena itu baru pertama kalinya, setelah ini aku yakin aku akan baik baik saja. Tolong latih aku seperti biasanya Yuki-san."
"Baiklah kalau kamu berpikir begitu, tapi hari ini kita libur dulu ya. Kamu harus istirahat yang cukup sebelum latihan."
"Kita latihan saja hari ini, aku benar benar sudah sembuh kok. Lagian kalau aku tidak latihan aku akan membuang satu hari latihan berhargaku. Yuki-san kan hanya mengajariku sebulan saja.
"Tapi apa kamu yakin? Kamu tak perlu memaksakan diri."
"Aku benar benar baik baik saja." Aku meyakinkannya dengan semangat.
"Baiklah, setelah kamu makan dan sarapan mari kita pergi berlatih ke Padang rumput itu lagi. Tapi kali ini jangan pingsan ya. Kalau kamu lelah langsung beritahu padaku, aku tidak terima kalau kamu pingsan lagi." Yuki-san memperingatiku.
"Baiklah Yuki-san. Baiklah, mari kita sarapan." Aku berdiri dari kasurku.
"Sebelum itu minumlah ramuan ini, saya akan siapkan sarapannya." Kiara memberikan mangkuk berisi ramuan itu dan menyuruh ku meminumnya.
...
Oh ya, sebagai tambahan, beberapa hari yang lalu aku dengar dari kakek bahwa sekitar satu bulan lagi akan ada festival panen. Itu seperti pesta menghabiskan lumbung makanan yang dilakukan berhari hari. Kakek bilang panen sedang bagus dan dia yakin festival tahun ini akan meriah. Festival ini tidak diadakan beberapa tahun terakhir karena panen sedang buruk. Itulah sebabnya aku juga sangat menantikan festival ini.
....
Setelah semuanya beres kami berangkat ke Padang rumput dan juga bersama makan siang yang sudah disiapkan Kiara nee-san.
"Baiklah hari ini kita akan memulai mempelajari teknik kamaitachi atau tebasan angin. Dasar dari skill ini adalah tebasan yang kuat dan terarah. Hari ini kita akan latih kekuatan tebasan dan posisi tebasan yang benar. Setelah itu mungkin kita akan mencoba mengetes kemajuan tebasan anginmu dengan selembar kertas yang kubawa ini untuk kau tebas dari jarak dekat."
"Baik!"
Progress awal menguasai tebasan angin, aku terus berlatih dengan semangat.