Starting My New Life As An Adventurer

Starting My New Life As An Adventurer
Pelarian



"Uuurghh...nghhh..." Ooki yang terkapar disamping kakek terbangun.


"Tuan... Rondo..." Dengan sekuat tenaga ooki merangkak mendekati kakek.


"Ahh... Kau masih hidup ya..." Kakek berbicara dengan darah diseluruh tubuhnya.


Ooki kaget melihat segalanya. Dia mendapati dirinya tertusuk dan kakek yang sudah diambang kematiannya.


"Apa yang terjadi... Ada apa dengan seluruh tubuh anda tuan Rondo."


"Goblin goblin itu membunuhku... Tapi sepertinya mereka tidak membiarkanku mati dengan mudah... Uhuk..uhuk... Syukurlah kau selamat ooki.." ucap kakek.


"Ayo kita pergi tuan, tidak aman disini." Ucap ooki sambil menarik tangan kakek.


"Tidak perlu...." Ucap kakek dengan nafas pendek.


"Ooki, tolong beritahu Hikaru dan Kiara kalau aku sayang mereka."


"Uhukk..uhukkk... Beritahu pada mereka kalau aku minta maaf karena tidak bisa menemani mereka lagi..."


"Tuan Rondo Apa yang tuan katakan. Kita berdua akan selamat!" Ucap ooki meyakinkan kakek.


"Ah... Mungkin ini terlalu cepat tapi sampaikan pada Hikaru selamat ulang tahunnya yang ke-10. Ambil ini, itu hadiah ulang tahunnya." Kakek menyerahkan kalung berbentuk matahari yang selalu dipakainya.


"Tuan Rondo...." Ooki melihat kakek dan mulai mengerti.


"Pergilah,tinggalkan aku disini." Kakek melepaskan genggaman tangan Ooki padanya.


Dia menangis meratapi apa yang terjadi pada kakek. Tak bisa diselamatkan. Para goblin itu menyiksa kakek cukup parah namun tidak membunuhnya. Mereka hanya membiarkannya mati secara sendirinya.


Ooki berjalan langkah demi langkah meninggalkan kakek sambil menutup perutnya yang terluka dengan berjalan pincang dan pandangannya mulai kabur. Setelah terus berjalan ditengah malamnya desa ia kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan ditengah jalanan.


....


Berlari, sudah lebih satu hari kami berlari. Bahkan saat sudah sejauh ini para goblin masih mengejar. Rasa lapar yang kami rasakan dan kecemasan yang menghantui kami.


Saat ini kami sedang berlari menuju kota terdekat dari desa. Dipimpin oleh Kenzo kami berjalan melewati hutan. Awalnya ada sekitar 400 orang yang kabur bersama dengan kami.


Puluhan orang tertangkap goblin dan beberapa lainnya tersesat. Saat ini hanya tersisa sekitar tiga ratus orang yang bersama sama dengan kami.


Kami tidak sempat mengumpulkan makanan. Hanya sempat mengambil buah yang terlihat selama pelarian kami dan minum dari sungai yang terlihat.


"Kenzo, berapa lama lagi kita sampai?" Ucap seorang bapak yang ikut bersama kami.


"Beberapa jam lagi, bertahanlah semuanya!" Jawab Kenzo.


Jarak dari desa ke kota yang akan kami tempuh sebenarnya hanya satu hari berjalan kaki


Namun itu kalau kami menggunakan jalan biasa. Saat ini kami mengambil jalur hutan yang jauh lebih lama dan lebih berbahaya. Hanya satu alasan kami atau sebenarnya alasan Kenzo memilih rute ini. Karena goblin sedang mengejar kami.


Alasan kami masih bisa berlari dari para goblin itu sampai sekarang karena kami mengambil jalur hutan. Kalau kami mengambil jalur biasa kami akan mudah terlihat dan lebih mudah dikejar. Selama ini kami berlari sambil bersembunyi dari kejaran goblin yang mengejar kami.


Meskipun banyak dari kami yang tertangkap dan berakhir disana.


"Kenzo! Pasukan goblin disebelah kiri kita!!! Dan jumlahnya sangat banyak!" Teriak salah seorang pemuda dari sisi kiri barisan kami.


Kami tertangkap! Gerombolan besar goblin saya ini tepat berada disamping kami. Bersiap untuk menangkap kami.


"Semua yang bisa bertarung pindah ke barisan kiri! Anak anak, orang tua dan wanita terus berlari. Biar kami yang mengalihkan perhatian mereka." Ucap kenzo sambil langsung berpindah ke barisan kiri.


Para pemuda dan pria yang berlari bersama kami berpindah ke barisan paling kiri. Mengeluarkan senjata yang ada pada mereka atau bagi mereka yang tidak membawa senjata hanya mengambil kayu sebagai senjata.


"Aku juga ikut!" Ucapku sambil memegang katana-ku.


"Hikaru, jangan lakukan hal yang berbahaya! Kamu masih anak anak." Ucap Kiara menahanku.


"Percayalah padaku kak Kiara, aku berjanji aku akan kembali dengan selamat." Aku langsung pergi meninggalkan Kiara tanpa membiarkannya membalas perkataanku.


Aku berpindah ke barisan kiri, Mereka kesulitan menahan para goblin itu. Mereka berkata akan menjadi pengalih perhatian. Tapi yang kulihat dari wajah mereka mereka seperti siap untuk menjadi umpan hidup.


Tentu aku tidak ingin mati, dan aku ingin menyelamatkan mereka semua.


Aku melesat ke tengah pertempuran dan seketika mengaktifkan skillku.


Aku mempelajari ini dari saat Yuki pergi. Gabungan dari tebasan angin yang kupelajari dan juga skill api hitam ouroboros milikku. Sebuah tebasan api hitam yang dapat mengenai musuh dari jauh.


"Unique skill ouroboros, Hell Slash!


Tebasan api hitam ku mengenai banyak goblin yang menyerang kami. Semua orang yang bertarung terkejut melihat apa yang kulakukan dan mereka terdiam sejenak.


"Jangan hanya diam saja! Bantu anak itu!" Ucap kenzo menyadarkan mereka.


"Mereka sudah tidak bisa mengejar kita lagi! Ayo kita pergi." Ucapku pada mereka semua.


"Ayo kita pergi" Kenzo mengarahkan semua orang dan meninggalkan hutan yang telah terbakar oleh api hitam ku.


Kami menyusul mereka yang lari lebih dulu. Aku bertemu dengan Kiara dan tentu saja dia marah padaku.


Setelah pelarian panjang yang kami lakukan akhirnya kami sampai di kota terdekat dari desa. Georgetown, desa kami berhubungan sangat baik dengan kota ini. Pemimpin bangsawan kota ini juga terkenal baik, Viscount Abby George.


"Berhenti disana! Siapa kalian! " Saat kami sampai di gerbang kota, kami diberhentikan oleh penjaga gerbang.


Kenzo maju kedepan dan berbicara.


"Kami dari desa Rondo. Desa kami diserang, izinkan kami masuk."


"Desa Rondo kah, tunggu sebentar saya akan tanyakan kepada walikota."


Ucap salah seorang prajurit.


Kami menunggu di depan gerbang berharap kebaikan hati dari walikota kota ini. Setelah beberapa saat akhirnya prajurit itu datang kembali.


"Walikota sudah mendengar beritanya, kalian boleh masuk. Kami juga menyiapkan tempat beristirahat dan makanan untuk kalian." Ucap prajurit itu.


"Terimakasih banyak." Kami berjalan masuk ke kota dengan pakaian yang kotor dan lapar.


Kami masuk ke aula yang disiapkan untuk pengungsi seperti kami. Kami dapat mandi dan kami juga diberi makanan yang layak. Saat kami sedang makan sang walikota datang masuk kedalam aula dengan pengawalnya.


"Apakah kalian dari desa Rondo, selamat datang di kota ku." Sang walikota masuk dan menyapa kami.


Kami semua bergegas berdiri berniat memberi hormat padanya.


"Tidak, tidak, duduklah. Selesaikan makanan kalian terlebih dahulu. Aku hanya datang ingin melihat keadaan kalian." Ucap walikota meminta kami duduk.


"Aku sudah dengar beritanya. Aku turut sedih atas insiden yang terjadi pada desa kalian. Rondo touji adalah orang yang baik dan dia juga pernah membantu kota ini saat kami sedang kesulitan. Ambil waktu selama yang kalian butuhkan disini."ucap walikota.


"Terimakasih tuan walikota, saya Kenzo perwakilan dari desa mengucapkan terimakasih pada anda."


"Ya, dan dimana Rondo? Aku tidak melihatnya disini." Walikota melirik ke kami semua.


"Kami terpisah dengannya, sebenarnya kami terpencar-pencar saat kami lari dari desa." Ucap kenzo dengan sedih.


Seorang prajurit berlari menghampiri walikota memberi hormat dan membisikkan sesuatu kepadanya.


"Oh maaf semuanya aku harus pergi dulu, sepertinya kami kedapatan pengungsi tambahan." Ucap walikota dan kemudian pergi.


Para pengungsi baru datang, dan syukurlah ternyata mereka adalah warga desa dari desa kami. Kami bertanya kepada mereka dan sepertinya mereka memilih rute hutan seperti kami. Tapi sayangnya tak banyak dari mereka yang bisa selamat sampai ke tempat ini.


Yang pertama datang hanya belasan orang. Namun tiap beberapa jam beberapa warga pelarian dari desa kami berhasil selamat dan datang ke kota ini. Kota Georgetown saat ini menampung empat ratus orang pengungsi dari desa kami.


....


Beralih ke balai kota dari kota Georgetown. Saat ini semua pegawai sedang sibuk mendata para pengungsi dan menyiapkan tempat berteduh bagi mereka yang baru datang.


"Walikota, enam belas orang pengungsi datang lagi." Ucap seorang prajurit.


"Biarkan dia masuk, terima semua orang yang butuh diselamatkan." Ucap walikota memberi izin.


"Apakah anda yakin tuan walikota" sekretaris yang berdiri disampingnya menanyai walikota


"Tenanglah, keuangan kota kita lebih dari kata aman untuk membantu sesama." Ucap walikota menenangkan sekretarisnya.


"Tapi seharusnya kita sudah bisa membicarakan jumlah pengungsi maksimal yang akan kita terima di kota kita." Jawab sang sekretaris.


"Masalah itu kita bicarakan nanti saja, saat ini prioritas utama kita adalah menyelamatkan sebanyak mungkin orang." Jawab walikota.


"Saya juga mendengar laporan kalau ada banyak sekali warga desa pelarian yang terpisah saat menuju kesini dan ada juga yang tersesat dan saat ini masih berada diluar kota. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya sang sekretaris mengganti topik.


"Perintahkan beberapa regu pencari untuk menyelamatkan mereka! Bawa juga seorang dokter kalau saja ada seorang warga desa pelarian yang terluka saat tersesat."


"Baik tuan walikota." Sekretarisnya memberi hormat meninggalkan walikota dan segera memerintahkan pasukan pencari kota mereka.


....


Sudah tiga hari kami disini dan saat iniĀ  jumlah pengungsi yang ada di kota ini adalah delapan ratus orang.


Sudah berkali kali terdengar kabar dari para prajurit kota kalau goblin Horde kembali menyerang desa-desa sekitar desa kami. Mereka berbicara soal kehancuran desa kami yang merupakan desa terbesar disekitar itu membuat para goblin dapat menyerang desa-desa sekitar dengan bebas tanpa takut ada bala bantuan dari desa lain. Bahkan goblin Horde kali ini menyerang beberapa desa sekaligus. Dalam tiga hari sejak kami sampai disini dilaporkan Deuce sudah menghancurkan sepuluh desa. Namun belum ada pengungsi dari desa desa itu yang datang ke kota ini. Kemungkinan besar mereka sedang dalam pelarian dari kejaran goblin dan akan sampai besok atau beberapa hari kedepan.


Akan seburuk apakah bencana goblin ini. Deuce yang sampai saat ini terus memerintahkan para goblinnya untuk menyerang desa-desa lain tanpa henti telah membawa masa-masa ini kedalam insiden pengungsi yang akan terjadi tak lama lagi.