
"Dengar, kalau kita dua ratus orang bergerombol masuk melewati ladang jagung ini, kita pasti akan ketahuan. Jadi aku akan membagi regu kita menjadi hanya lima orang saja per regu."
"Setiap regu harus terus bersembunyi dan membunuh goblin sebanyak mungkin. Aku tidak bisa bilang targetnya berapa tapi setidaknya bunuhlah tiga puluh goblin per regu."
"Setelah berhasil membunuh goblin, sembunyikan mayatnya di dalam ladang. Dua hal terpenting dalam misi ini, kita harus cepat dan jangan bersuara."
"Kalian mengerti?" Eugene bertanya dengan prajuritnya dengan suara berbisik.
"Mengerti kapten." Para prajuritnya menjawab dengan berbisik.
Eugene kemudian membagi semua anggotanya menjadi empat puluh regu yang terdiri dari lima orang di tiap regunya.
"Baiklah, kalian semua berpencar lah dan lancarkan misinya, semoga beruntung."
"Laksanakan" para prajurit menjawab dan segera berpencar.
Seperti yang tadi dijelaskan, lumbung makanan ini berada di tengah tengah ladang jagung. Dan juga ada banyak jalan bercabang yang menghubungkan jalanan utama dengan lumbung. Disepanjang jalan tersebut para goblin berkeliaran menjaga lumbung yang mereka kuasai.
Saat ada goblin yang lewat, para prajurit akan muncul dari dalam barisan pohon jagung dan menggorok lehernya. Menarik mayatnya kedalam dan mengulanginya secara terus menerus.
Tanpa bersuara, tanpa disadari, setelah Berjam-jam semuanya berjalan sangat lancar, ratusan goblin berhasil dibantai tanpa menimbulkan korban di pihak Eugene.
Saat ini Eugene dan beberapa prajurit yang satu kelompok dengannya sedang bersembunyi di tengah tengah ladang. Menarik nafas untuk sejenak sambil mengintai target berikutnya.
"Baiklah, ada lima goblin didepan sana. Kita lakukan dengan cepat."
Regu Eugene dengan cepat membunuh goblin itu, setelah goblin goblin itu mati, mereka semua bekerja sama untuk menarik mayatnya ke dalam ladang.
"Uurgh, bantu aku mengangkat yang satu ini." Eugene dengan kesulitan mengangkat salah satu goblin yang gemuk.
Belum sempat menyembunyikan semua mayat goblin tersebut, seekor goblin yang menunggangi serigala tanpa ada tanda apapun melompat kearah salah satu regu Eugene dan melukainya.
Eugene dan regunya yang saat ini tidak sedang bersembunyi bertemu dengan seekor goblin penunggang serigala. Eugene dan timnya bersiap untuk membunuh mereka dan mengeluarkan senjata mereka.
*Wuusshhh, beberapa goblin penunggang serigala lainnya muncul dihadapan regu Eugene dan menyerang mereka terus menerus.
"Goblin rider yah, dan lagi sebanyak ini. Darimana mereka semua berasal."
Keringat mencucur dari wajahnya dan Eugene mulai pasrah.
Mereka tersudut dikelilingi oleh belasan goblin penunggang, saat ini Eugene dan semua anggotanya saling membelakangi satu sama lain.
Seakan sudah mengerti akan nasib mereka semua, rasa takut dan pasrah tadi berubah menjadi semangat juang yang tinggi, dengan bangganya Eugene dan anggotanya mereka mengangkat pedang mereka dan bersiap untuk membunuh mereka semua walaupun harus mati disini.
"Prajurit prajuritku, suatu kehormatan bertarung bersama kalian. Kita akhiri semuanya disini. hidup sebagai prajurit, mati sebagai prajurit!"
"Seperti biasa kau memang selalu membuat kami kagum kapten, saat kami semua pasrah akan kematian kami kau tetap berdiri tegak layaknya seorang pemimpin." Salah seorang prajuritnya berbicara ditengah kepungan goblin.
"Apa yang kau bicarakan ini? Apa maksudmu?" Dengan wajah herannya Eugene bertanya.
"Hehe, aku juga setuju. Tidak mungkin kami akan biarkan kapten hebat kami mati ditempat seperti ini."
Ucap salah seorang prajurit lain.
"Kalian semua, apa yang kalian semua rencanakan! Aku lebih memilih mati daripada harus meninggalkan kalian semua!" Eugene memarahi seluruh anggotanya.
Salah seorang prajurit lain menatap wajah Eugene.
"Harus ada yang membantu tuan Rondo. kapten Eugene selamatkan lah desa kita, kampung halaman kita semua!"
*bupp, salah seorang prajurit mendorong Eugene jatuh kedalam ladang jagung. Mengalihkan perhatian goblin itu hanya kepada prajurit prajuritnya.
"Semoga keberuntungan menyertaimu!" dengan serentak mereka berteriak kepada Eugene di akhir hayat mereka.
Dengan rasa penyesalannya, Eugene berlari tanpa tujuan menjauh dari prajurit prajuritnya menyusuri ladang jagung dengan menangis dan rasa duka bagi para prajuritnya.
....
Beralih ke perbatasan hutan Utara, saat ini pertarungan melawan goblin yang dipimpin oleh Joseph Vaustine masih berlangsung.
"Hyarghhh!" Vaustine dan seluruh pasukan menyerang goblin.
Gelombang keenam pasukan goblin itu berhasil dihentikan, sisa sisa prajurit yang bertahan mengatur barisan ulang dan menunggu gelombang goblin terakhir.
"Gelombang keenam sudah selesai. Aku tidak tahu bagaimana kami bisa bertahan sampai sekarang. Yang tadi itu dua ribu goblin melawan empat ratus orang." Vaustine menghela nafas panjang.
"Hei kau Beri laporan! Berapa sisa prajurit yang masih tersisa." Vaustine bertanya kepada salah seorang pemimpin pasukan dari desa.
"Lapor! Total prajurit yang tersisa saat ini adalah dua ratus enam puluh delapan orang." Prajurit itu menjawab.
"Dua ratus prajurit luka luka menghadapi gelombang ketujuh goblin Horde. Tim pengintai didalam hutan sudah dibantai habis jadi kami tidak tahu informasi tentang gelombang ketujuh yang akan kami hadapi. Namun, perkiraanku jumlahnya sekitar 2500 goblin."
"Baiklah sudah kusimpulkan, Ini mustahil! Aku dan seluruh anggota banditku akan kabur dari sini sekarang juga." Vaustine benar benar bersiap menaiki kudanya bersama seluruh anggota banditnya.
"Hei Vaustine! Kemana kau mau kabur! Apa kau sudah lupa tentang kontrak darah yang sudah kau setujui dengan tuan Rondo!?" Salah seorang pemimpin prajurit desa berteriak kepada Vaustine.
"Jangan bodoh, isi kontraknya adalah aku dan seluruh anggota ku harus menyerang goblin itu dengan serius dan tidak bermain main. Selama ini aku sudah serius menyerang mereka. Aku hanya diminta menyerang mereka dengan serius bukan untuk mengorbankan nyawaku."
"Jika memang ada kemungkinan walaupun hanya sedikit pasukan gabungan ini bisa memenangkan pertarungan maka aku tidak akan bisa kabur. Namun kondisi saat ini sama dengan bunuh diri! Ini bukan lagi strategi perang ataupun taktik. Sebaiknya kalian juga kabur selagi kalian sempat dasar prajurit bodoh." Vaustine menaiki kudanya dan segera berangkat.
Tepat saat mereka akan kabur, segerombolan orang datang dari arah berlawanan menuju ke tempat pasukan Utara berada.
"Boss! Lihat disana!" Salah seorang bandit memanggil Vaustine.
*Drap drap drap, hentakan kaki kuda dari segerombolan orang tersebut sampai ke Medan pertempuran pasukan Utara.
Salah seorang pria dari gerombolan tersebut turun dan berhadapan dengan Vaustine.
"Bala bantuan dari balai desa dan juga pasukan patroli siap membantu pasukan Utara! Jumlah bala bantuan seratus delapan puluh orang!"
Sebuah harapan baru bagi pasukan Utara, prajurit-prajurit desa bersemangat dan bersorak gembira, sedangkan Vaustine dan para anak buahnya kelihatan sangat kesal.
"Sial! kalau begini jadinya aku tidak bisa kabur. Harusnya kalian tidak datang dan memberi harapan pada pasukan ini." Vaustine kesal dan turun dari kudanya.
Vaustine berjalan kedepan, berdiri diantara pasukan yang tersisa berteriak memberikan kata-katanya sebagai pemimpin perang.
"Sialan kalian semua!! Aku tidak ingin mati!!!! Peluangnya sangat amat kecil dan kemungkinan terburuknya kita semua akan dibantai habis!" Vaustine berteriak dengan nada yang tidak jelas.
"Apakah kalian mau mati orang orang sialan!?" Vaustine berteriak lebih keras kepada semua prajurit.
"Tiidaakk!!!" Semua orang berteriak menjawab Vaustine.
" Maka diamlah dan turuti semua perintahku! Kita akan balik menyerang goblin bajingan itu mulai dari sekarang!
"Wraghhhhh!!!!!" Semua orang tanpa terkecuali mengangkat senjata mereka tinggi tinggi dan berteriak dengan nafas yang menggelora. Mampukah mereka bertahan menghadapi gelombang terakhir goblin.