
"Bersiaplah sensei! inilah pembalasanku, unique skill ouroboros!!!"
Yuki-san masih terdiam heran, aku tidak membuang kesempatan dan langsung berlari ke arahnya. Aku langsung menebas pedangku dan mengarahkannya ke wajahnya. Karena terlalu lama terdiam dia tak sempat menangkisnya dengan benar dan *Slashh, satu tebasan kecil berhasil mengenai wajahnya.
"Unique skill ya, tidak pernah ada anak 9 tahun yang menguasai skill langka seperti itu. Tapi, bukan hanya kau yang memiliki skill seperti itu...."
*Wuuushhhhh, hembusan angin yang kencang bergerak melingkar, perlahan kelopak- kelopak sakura muncul dan ikut terbang bersama dengan angin.
"Perlihatkan padaku kekuatan asli unique skill mu Hikaru, aku akan meladeninya. Unique skill sakura...."
...
...
Arah angin seketika berubah, kelopak sakura yang berterbangan mengeliling Yuki seakan dia sendiri yang memerintahkannya.
"Sudah kuduga orang sekuat Yuki-san pasti punya jurus andalan juga." Aku berusaha mempertahankan kuda kudaku ditengah dorongan angin.
*Wuuuhhshhshhhh, angin berputar semakin kencang, kelopak sakura yang sangat banyak terbang mengelilingiku. Membuatku tak bisa melihat keluar.
Perlahan kelopak sakura itu berjatuhan ke tanah, dan angin pun berhenti...
"Kupikir akan ada sesuatu yang terjadi, begini saja?"
*Wuushh... Yuki-san tiba tiba berdiri disampingku, berbisik dengan suara biasanya dibelakangku.
"Kelopak-kelopak sakura itu bisa kuubah menjadi sangat tajam jika aku serius. jika aku mengarahkan kelopaknya ke musuh, mereka pasti akan mati karena sayatan sakura."
"Bagaimana, Masih mau lanjut? Kalau kamu masih mau aku akan serius menggunakan sakura ku."
"Oke oke, baiklah aku menyerah."
Aku mengangkat kedua tanganku keatas.
"Lagian aku sudah puas, aku sudah berhasil mengenaimu."
"Oke, tapi bisakah kamu matikan skill mu sekarang? Api kecil ini tak mau padam." Yuki sambil mengusap usap bagian wajahnya yang terkena tebasan api hitam ku yang tak kunjun padam.
"Oh maaf..." Aku mematikan skillku.
Setelah api hitam itu menghilang dari wajahnya, tanpa sengaja aku memberikan luka bakar pada wajahnya.
"Yuki-san, wajahmu terbakar!"
"Tenang saja ini tak akan berbekas." Dia dengan tenang mengusap wajahnya dan merapalkan semacam mantra penyembuhan.
"Fyuh, syukurlah."
Yuki-san pun menyarungkan pedangnya lagi ke pinggangnya.
"Baiklah Hikaru, kurasa sekarang saatnya kau menceritakan darimana kau mempelajari skill itu."
Aku terdiam sesaat, aku tak menyangka aku sampai lupa kalau skill ku ini masih rahasia.
"Hei Iris, bantu aku mencari alasan."
"Maaf, perintah anda sebelumnya melarang saya untuk ikut campur. Ini adalah pertarungan anda."
"Sial,ternyata iris juga bisa ngambek..."
Terpaksa aku harus memberitahunya, meskipun aku masih menyembunyikan keberadaan iris.
"Sejujurnya, aku mendapatkannya dari evolusi pedang ini."
"Hah, evolusi?!, Kapan? Evolusi itu terjadi setelah senjata sudah dipakai bertahun atau puluhan tahun."
"Saat malam hari tiba-tiba pedang ini bercahaya dan berevolusi."
"Apa kau yakin kau sudah mengatakan yang sejujurnya? Apa memang tidak ada sesuatu yang terjadi." Yuki bertanya padaku dengan wajah sedikit curiga.
"Tidak ada." Aku menjawab dengan gugup.
"Bisakah kamu menunjukkan skillmu kepadaku lagi?"
Aku mengaktifkan skillku dan menunjukkannya didepannya
"Api hitam yang sangat panas,ini baru pertama kali kulihat."
Yuki terus melihat lihat skillku dan menanyai beberapa hal sampai langit berubah menjadi gelap.
"Oh sudah malam. Baiklah mari kita pulang." Yuki berdiri dan bersiap membereskan peralatan kami.
"Dan juga Hikaru, aku sebenarnya masih belum percaya dari mana kamu mendapatkan skill ini. Tapi sepertinya kamu pun belum tau banyak tentang skill ini. Kamu juga merahasiakan skill ini jadi kuanggap kamu punya alasan tersendiri. Untuk saat ini aku tak akan bertanya, aku juga tidak akan memberitahu Rondo-ji. Tapi saat aku kembali lagi nanti kita akan cari tahu tentang skillmu itu."
"Terimakasih Yuki-san."
Kamipun pulang ke rumah, kakek dan Kiara sudah menunggu kami dirumah.
"Selamat datang Hikaru, Yuki." Kiara menyapa kami dari ruang tamu.
"Semua berjalan lancar, selama ini Hikaru juga sudah belajar banyak hal." Yuki menjawab sambil meletakkan peralatan latihan kami.
"Hei Yuki, bagaimana kalau kau disini 1 bulan lagi, biar aku minta izin ke si Walter itu. Rumah jadi sepi kalau kau pergi."
"Rondo-ji tau kalau kami tidak bisa begitu kan."
"Cih, dasar pasukan kerajaan terlalu disiplin."
"Dan juga liburku sudah sangat panjang. Hanya prajurit berpangkat tinggi yang bisa mendapat libur sebanyak ini."
"Tidak seperti dirimu kek, perkiraanku selama satu tahun kau libur 9 bulan dan hanya bekerja sedikit selama 3 bulan." Aku meledeknya.
"Hmmmph, kau tidak tau aja kalau jadi kepala desa itu merepotkan. Kau tahu, aku selalu diundang ke pesta dan jamuan makan. Kadang jadwalnya tabrakan jadi aku harus pilih harus ikut pesta atau jamuan."
"...." Aku sampai terdiam bingun harus berkomentar jelek atau kagum akan kesombongannya menjadi kepala desa yang tidak becus.
"Oh ngomong ngomong Kiara sudah menyiapkan makan malam untuk kita. menunya adalah daging rusa, sengaja dibuat agak besar karena ini malam terakhir Yuki ada disini." Kakek berdiri dan mengajak kami berdua makan malam.
Kamipun makan bersama di satu meja makan yang berisi banyak sekali daging dan buah-buahan. Setelah makan kakek minum anggur dan tidur di sofa, Kiara dan aku membersihkan meja makan dan Yuki-san mengemas barang barangnya.
Pagi setelah itu, tibalah pada saat perpisahan. Yuki mulai mengangkat tas nya dan berpamitan kepada kami semua.
"Rondo-ji, aku pergi dulu."
"Jangan lupa titipkan salamku untuk Hiroki sialan itu dan juga Walter."
"Kiara-san, aku pergi dulu. Terus jaga Hikaru ya."
"Ya, semoga pekerjaanmu disana juga berjalan Lanjar Yuki-san." Mereka berdua bersalaman dan tersenyum satu sama lain.
"Dan yang terakhir Hikaru, aku pergi dulu. Jangan lupa terus latihan aku menantikan perkembanganmu lewat surat"
"Datanglah lagi kesini tahun depan, kami akan sangat menyambutmu. Aku juga masih ingin diajari olehmu Yuki-san. tidak, Yuki-sensei."
"Huhhh, sudah kubilang jangan panggil aku sensei. baiklah, kalau tidak ada halangan tahun depan aku akan datang lagi. Boleh kan Rondo-ji?"
"Tentu saja, kau juga boleh datang kesini kalau kau berniat kabur dari pasukan Walter hahaha." Kakek tertawa seakan berpikir Yuki akan benar benar melakukannya
"Sebelum aku pergi, aku ada hadiah untukmu Hikaru." Yuki mengeluarkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Sebuah buku tua yang tebal dengan sampul kulit, aku membacanya dan ternyata ini adalah buku teknik berpedang.
"Itu untuk latihanmu, saat aku pergi buku itu bisa menjadi pembantumu dalam berlatih."
"Terimakasih Yuki-san, aku juga punya sesuatu untukmu" aku mengambilnya dari tangan Kiara dan memberikan sepotong sweater yang dirajut dengan benang putih.
"Hehe Kiara dan aku yang membuatnya. Aku dengar musim dingin di ibukota sangat dingin jadi kami membuatkannya untukmu."
"Terimakasih Hikaru, kiara-san." Yuki menerimanya dan mengusap kepalaku.
"Baiklah, kurasa sudah saatnya aku pergi. Jaga diri kalian ya." Yuki san mengangkat tas nya dan naik keatas kuda.
"Jangan lupa datang tahun depan ya!"
"Ya, tahun depan aku ingin melihat perkembangan yang besar darimu."
"Hati-hati dijalan Yuki-san!"
"Ya..."
Yuki-san pergi meninggalkan kami dengan kudanya. Derapan kaki kuda yang semakin menjauh perlahan menghilang dari pandangan kami. Kami terus memandangi dia melewati jalanan dari depan rumah sampai kudanya dan dia sangat jauh dan tidak terlihat lagi.
...
"Sepertinya hari hari latihanku akan terasa sepi. Aku tak sabar menunggu tahun depan."
Kamipun masuk kerumah dan begitulah, suasana rumah tanpa Yuki-san yang sedikit sepi. meskipun begitu kami terus melakukan kegiatan kami walau dia tak ada disini.
....
Berganti tempat, Disuatu tempat yang jauh dari desa.
Ada sebuah bangunan tua yang didalamnya terdapat beberapa orang dengan jubah hitam yang menutupi wajahnya.
"bagaimana persiapannya?" Salah seorang berjubah hitam bertanya kepada rekannya.
"Semua berjalan sesuai rencana kita" jawab rekannya yang berdiri disampingnya.
"Kerja bagus, 'Rondo touji', desa yang dipimpinnya mengganggu rencana kita."
"Jangan khawatir. Kita akan melenyapkannya. Festival panen akan penuh dengan darah...."
Siapakah mereka? Apa yang sedang mereka rencanakan? Bangunan tua tempat mereka berkumpul tertutup kabut yang sangat tebal dan tidak ada yang tau rencana mereka selanjutnya.