
Pagi hari yang bagus seperti biasa
Aku sedang berada diluar rumah sambil bermain dengan pedang kayu kesayangan ku. Tiba tiba kakek datang dari dalam rumah dan menjumpaiku.
"Oyy Hikaru." Kakek keluar dari rumah menyapaku
"Ha, Ada apa kakek tua? Kalo mau nyuruh beresin kamarmu aku gak mau." Aku menjawabnya dan langsung menghiraukannya.
"Ayolah jangan begitu, aku hanya bosan. Aku lihat belakangan ini kau sangat suka bermain dengan pedang barumu itu." Kakek datang mendekatiku.
"Ini bukan bermain, ini berlatih. Suatu hari nanti aku akan berpetualang dan menjadi pendekar pedang yang hebat." Aku dengan lantang membantahnya.
(Kakek duduk di sebuah batu besar di dekatku)
"begitu ya, kamu ingin jadi petualang ya."
"Ya, paman pemilik toko bilang jika aku menjadi petualang aku akan menemukan banyak hal menarik. Tapi pasti akan ada bahaya makanya aku belajar cara menggunakan pedang."
(kakek sambil berdiri) "ooh begitu.
Tunggu sebentar ya." Kakek masuk lagi kedalam rumah.
Setelah beberapa saat kakek pun datang kembali membawa sebuah katana dengan banyak ukiran di sarungnya dan sebuah pedang kayu.
"Lihatlah ini." Kakek Mengeluarkan pedang itu dari sarungnya.
"Wahhh pedang sungguhan!" Aku terpukau dan mencoba memegangnya.
"Hahaha... Tentu saja ini pedang sungguhan. Aku ini kan orang dewasa, tidak seperti Hikaru yang menggunakan pedang kayu." Kakek menarik pedangnya menjauh dari tanganku.
"Sialan kau kakek tua, palingan juga kau membeli itu di pasar antik dan hanya menggunakannya sebagai hiasan." Aku menjawab kesal.
"Hehh apa kau iri?" Kakek semakin menggodaku.
"Cihh aku tidak iri dengan pedang asli bagusmu itu." Aku memalingkan mukaku dan berusaha untuk tidak melihat pedang itu.
"Apa kau benar benar berpikir kalau aku membelinya di pasar antik dan hanya menggunakannya sebagai hiasan?"
"Tentu saja, kau kan kakek tua." Sekarang aku mengejek usianya
"Hahaha kalau begitu mau coba buktikan?" Kakek mengeluarkan sebuah pedang kayu yang juga dibawanya.
"Apa kau yakin kek? Aku ini sudah cukup mahir lho. Kalau kau ingin sombong ke cucumu lebih baik coba yang lain." Aku membalas dengan enteng.
(Kakek sambil berdiri dari dudukan batunya). "Apa kau takut?"
"Tentu saja tidak."
"Kalau begitu ayo kita bertanding." Kakek menantangku.
"Baiklah, siapa takut!" Aku berjalan berhadapan dengannya
Kami berdiri berhadap-hadapan dengan jarak sekitar 5 meter. Aku mengarahkan pedang kayuku ke arah kakek dengan sombong sedangkan kakek bersiap dengan kuda kudanya.
"Peraturannya sederhana. Siapa yang berhasil mengenai lawannya dengan pedangnya, dia yang menang. Dan yang kalah harus membersihkan kamar yang menang."
"Sudah kuduga kakek Ujung ujungnya hanya minta kamarnya dibersihkan. Tapi tenang saja aku tidak akan kalah!"
"Oh, dan sebagai tambahan karena aku sedang melawan anak kecil." Kakek mengambil sepotong kain dari kantongnya dan mengikat kain itu dikepalanya untuk menutup matanya.
"Aku akan melawanmu sambil menutup kedua mataku."
"Kau benar benar meremehkan ku. Baiklah! Aku harap kau tidak menyesal ya kek."
"Baiklah kalau begitu pertandingan dimulai! Ayo maju serang aku!
*Wuuushhh...
Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menyerang mendekatinya dengan polosnya. Tak ada yang salah, dia sedang menutup matanya, menyerang dengan cepat adalah cara terbaik untuk menang. Atau begitulah yang aku kira.
"Sudah sangat dekat! aku akan langsung menebasnya."
*Slashh! Aku mengayunkan tebasan yang cukup cepat dari jarak dekat.
....
*Step step...
Suara langkah kaki yang sangat ringan, dia hanya mengambil dua langkah kebelakang, menghindari tebasanku begitu saja.
"Kenapa tebasan mu lambat sekali? Padahal aku sudah memberikan kesempatan dan hanya diam tetapi kenapa tidak kena?" Kakek menilai gerakanku dengan masih menutup matanya.
"Sial, bagaimana dia melakukannya? Dia itu menutup matanya lho."
"Sudah menyerah?"
"Tentu saja belum, ini baru dimulai!"
Aku mengangkat pedangku lagi, kali ini aku akan lebih cepat lagi.
"Kalau begitu majulah!
*Slash *Slash *slashh....
Beberapa serangan yang lebih cepat dari sebelumnya. Bagaimana bisa dia bisa menghindari semua seranganku hanya dengan berjalan dan lompatan kecil.
*Slash!
Kali ini kakek tidak menghindar, posisi badannya sigap. Dia menangkis seranganku dengan pedang kayu miliknya.
"Tebasan yang ini lumayan juga, cukup layak untuk ditangkis."
"Jadi maksudmu serangan ku sebelumnya tidak layak untuk kau tangkis?"
"Begitulah..." Kakek menjawab dengan nada yang biasa saja
Aku kesal dan kebingungan di waktu yang bersamaan. Sudah jelas ini bukan hanya sekedar seni bela diri. Sepertinya kakek memiliki skill unik yang bisa membuatnya menebak gerakanku.
"Kau boleh menyerangku sih, lagi tapi aku yakin tidak akan kena bahkan kalau ada tiga orang sepertimu kurasa tidak jauh berbeda."
"Sial! Bagaimana bisa kau punya skill seperti itu." Aku berhenti menyerangnya dengan kesal.
(Kakek membuka penutup matanya)
"Oh, ini bukan skill lho. Aku sering melatih instingku ketika aku masih muda dengan bertarung sambil menutup mata. Serangan polos yang mudah dibaca seperti gerakanmu bahkan bisa kuhindari bahkan jika aku mengikat kedua tanganku."
Insting? Apa-apaan hal mistis sepeti itu. Apa kakek salah satu pengikut seni bela diri aliran kuno atau semacamnya?
"Info, insting yang anda disebut oleh individu Rondo adalah stat dasar yang dimiliki semua orang yang dapat dilatih." Tiba tiba suara sistem terdengar dikepalaku.
Oh iya, aku ingat aku punya poin insting bahkan saat aku pertama kali berhasil memback-up seluruh ingatanku.
"Benar, dan sekarang poin insting yang anda miliki hanyalah 2 poin. Di jumlah tersebut bahkan efeknya tidak akan terasa sama sekali." Sistem meneruskan.
"Begitu ya...."
...
"Baiklah, aku kalah kali ini. Kamarmu aja kan?" Aku pasrah karena aku sudah tau aku tidak akan bisa mengenainya.
"Ehh jangan merengut begitu. Gimana kalau kita buat 1 ronde lagi? Kalau kau menang kita bisa imbang."
"Permainan apa lagi?" Aku membalasnya dengan nada sedikit bersungut sungut.
"Peraturannya sederhana, kali ini aku yang akan menyerangmu. 20 detik, tidak tidak 10 detik saja. Jika kau bisa bertahan dari serangan seranganku dalam 10 detik maka kau yang menang."
Aku pikir permainannya bakalan kejar kejaran seperti tadi. Sekarang dia yang menyerang? 10 detik? Mungkin dia kasihan padaku dan hanya ingin membuat ini seri, terserahlah tak mungkin dia bisa menang.
"Sepuluh detik kan? Haha itu waktu yang sangat singkat!" Aku berjalan dan berhadap-hadapan lagi dengan kakek dengan jarak 10 meter.
"Baiklah kau siap?" Suara kakek terasa seperti ini bukan main main.
" Aku siap!"
Baiklah, aku juga bukan orang bodoh. Aku ada rencana cadangan kalau kakek ternyata serius. Rencananya adalah lari sampai sepuluh detik. Kalau begini aku sudah pasti menang!
"Baiklah, 10 detik dimulai dari..." Kakek mempersiapkan kuda-kuda.
Kali ini kuda kuda kakek agak berbeda, dia melebarkan kakinya dan sedikit membungkuk seperti posisi siap berlari, dia memegang pedangnya dengan kedua tangannya dan menariknya disamping dadanya
Kakek: sekarang!!!
*Whuuuuussshhh
Kakek menghentak kakinya berlari kearahku secepat angin. Saat aku sadar kakek sudah bergerak aku langsung berusaha secepat mungkin lari.
1..,2..,3..,4.. (aku menghitung detik didalam pikiranku).
5.., (kakek tepat didepanku)
*Tackkkk! Dia menghantam kuat pedangnya ke pedang yang kupedang.
6..,7.., (tanganku gemetar, hantaman yang luar biasa, pedangku terhempas di udara, aku tidak bisa menahan serangannya).
8...,9.., (kakek berputar dan membuat kuda kuda baru)
*Bakkkk! Dia dengan tanpa ampun menendang ku di dada dengan kakinya, Aku terhempas jauh dan kepalaku terbentur di batang pohon.
10.., (kakek menyelesaikan gerakan nya dan aku terbaring pingsan di samping batang pohon).
...
"Fyuhhh" kakek mengusap keringat di kepalanya.
"Bagaimana Hikaru, keren kan?" Kakek pun melihat ke arahku yang sudah pingsan disamping batang pohon.
"Arhrghhh astaga kenapa bisa jadi begini!? Kiara!!! Kiara!!!" Kake memanggil Kiara dari dalam rumah sambil berteriak.
"Ada apa tuan Rondo?." Kiara segera keluar setelah mendengar suara teriakan kakek.
"Balut kepala Hikaru dengan perban, dia berdarah." Kakek mengangkat kepalaku dan menggendongku dengan hati hati.
Astaga tuan Rondo... Apa yang terjadi pada Hikaru? Kiara terkejut melihat luka di kepalaku.
"Hmm kecelakaan, cepat balut lukanya, aku akan mempersiapkan kuda. Kita akan pergi ke tabib"
"baik tuan Rondo." Kiara segera melaksanakan perintah kakek.
Kuda telah siap kakek dan Kiara bergegas berangkat ke tabib di pusat desa dengan cepat.