
(Di dalam kereta)
"Aku sangat senang ketika kau memintaku untuk menemanimu, jika kau ada masalah lagi beritahu aku ya."
"Ya, terimakasih nyonya."
Sebelum ke toko senjata aku menemaninya pergi belanja, dia bertemu dengan beberapa temannya, dan juga pergi mengobrol dengan penjual. Dia memperkenalkan ku dengan orang orang yang dia temui dan kami makan siang di sebuah toko roti di pinggir pasar.
"Bagaimana roti nya, enak kan? Ini tempat kesukaanku."
"Ya, ini enak. Tapi menurutku kue buatanmu lebih enak."
"Begitu ya, hahaha aku jadi teringat masa lalu... Kata katamu mirip sekali dengan yang diucapkan suamiku. Dia juga bilang kalau kue buatanku lebih enak." Ibu aroma tersenyum.
"Terimakasih ya Hikaru."
"Tidak perlu berterimakasih nyonya, aku mengatakannya bukan untuk menghiburmu. Aku memang berpikir seperti itu."
"Oh ya begitu kah, Baiklah mari kita pergi ke toko senjatamu sekarang. Kau sudah siap makan kan"
"Sudah, mari kita pergi."
Kami pergi ke toko dan bertemu lagi dengan paman pemilik toko.
"Sudah kuduga katana itu akan rusak. Jadi kau mau beli lagi?" Paman mitsuya menghela nafas mendengar ceritaku.
"Begitulah, kali ini kakek menyuruhku membeli pedang yang bagus. Katanya nanti dia akan bayar."
"Baiklah tak masalah, tunggu sebentar ya biar kuambilkan rekomendasiku."
Dia mengeluarkan beberapa rekomendasi pedang dan tanpa ragu aku langsung memilih pedang dengan sarung hitam yang mirip dengan pedangku.
"Kau sudah yakin yang ini kan?" Dia memastikan
"Ya, aku sudah yakin."
"Baiklah, jaga ini baik baik." Paman mitsuya memberikan pedangnya dan kegiatan belanja kami selesai.
Jadi rencananya itu aku membeli pedang baru yang mirip dengan pedangku sekarang, dan nanti saat pulang aku akan mengambil pedangku yang ku sembunyikan di rumah nyonya arima dan mengatakan kalau itu pedang yang baru aku beli. Pedang baru ini akan kusembunyikan dibawah kamarku.
Aku tau kalau ini adalah tindakan pemborosan, tapi aku tak kepikiran cara untuk membuat mereka tidak curiga kalau bukan begini.
"Baiklah, terimakasih paman."
Setelah selesai membeli pedang baru, Ny arima mengajakku jalan jalan dan makan di tempat nomor dua kesukaannya, kami pulang saat langit sudah agak gelap. Kami pulang dengan kereta kuda lagi, dan kami turun di rumah nyonya arima.
"Apa kau bisa pulang sendiri? Gak mau kuantar." Ibu arima bertanya dengan wajah khawatir
"Tidak perlu, langian rumah kita kan sangat dekat."
"Baiklah, kalau begitu sampai ketemu lagi ya."
"Terimakasih Ny arima."
Setelah dia masuk kedalam rumahnya aku mengambil pedang yang kusembunyikan dan sebelum aku ke rumah aku memasukkan pedang yang baru kubeli ke kamarku lewat jendela tanpa ketahuan.
Dan sekarang mereka berpikir kalau pedang yang kupakai sekarang adalah pedang yang baru kubeli. Untunglah mereka tidak curiga, dan sepertinya besok aku sudah bisa latihan seperti biasa.
....
(Di kamarku)
"Fyuhh... Untunglah semua berjalan lancar." Aku menghela nafas sambil menyembunyikan pedang baruku tepat dibawah kasurku.
"Besok aku akan menunjukkan skill ku ini didepan yuki-sa... Bruhh, aku baru ingat. Bagaimana caranya memberitahu mereka tentang skill baru ku. Arrghh merepotkan sekali."
"Kalau kutanya iris dia mungkin ada solusi, tapi aku sudah sangat capek menyusun skenario seperti ini. Kurasa untuk saat ini lebih baik sembunyikan dulu skill ini."
*Tok tok tok, suara pintu mengetuk pintu kamarku
"Ya, masuk saja pintunya tidak dikunci."
"Aku dengar kau sudah membeli pedang baru jadi aku ingin melihatnya." Yuki-san mengetuk pintuku dan masuk.
"Oh, ini dia." Aku langsung menyerahkan katana yang kuevolusikan itu."
"Hmm, ya ini bagus. Baiklah jangan lupa besok kita akan mulai belajar teknik surashuu-geri . Latihan kita tinggal seminggu jadi kita tak punya banyak waktu."
"Aku mengerti."
"Kalau begitu baguslah, dan selamat malam Hikaru."dia pergi dan menutup pintu kamarku.
Keesokannya kami pergi latihan,di Padang rumput hijau nan luas berlatih seperti biasa.
"Seperti yang kau tahu, inti dari mempelajari teknik otomatis adalah menghafal sangat rinci sampai akhirnya kau bisa bergerak secara sendirinya. Walau memang agak membosankan, teknik ini adalah sangat bagus dalam akurasi dan ketepatan. Biasanya untuk mempelajari surashuu-geri butuh sekitar 2 minggu. Tapi kita akan kebut waktunya setengah menjadi seminggu. Jadi jangan perlambat kecepatanmu."
"Baik Yuki-san!" Aku menjawab siap.
Selama satu Minggu terakhir, kami pergi lebih cepat dan pulang lebih lama, latihannya juga lebih berat dari biasanya. Tapi seperti yang direncanakan Yuki aku berhasil menguasai surashuu-geri dalam 1 Minggu. Sebuah skill dua serangan otomatis.
Menyenangkan rasanya mengetahui bahwa latihanku sudah selesai. Dengan skill skill yang kudapat benar benar sebanding dengan usaha dan tenaga yang kukeluarkan. Tapi seperti yang bisa kuduga, sudah saatnya Yuki-san pulang dan meninggalkan desa. hanya sisa satu hari lagi sampai perpisahan kami benar-benar nyata.
Kami berjalan ke Padang rumput untuk latihan hari terakhir kami
....
"Ya, aku harus kembali bekerja."
"Tidak bisakah kita belajar lebih lama lagi? Aku ingin menyempurnakan skillku."
"Kamu bisa pelajari sendiri tanpaku, kamu sudah tahu intinya. Hanya perlu banyak latihan."
"Tapi aku suka latihan bersamamu. Aku tidak ingin ini berakhir."
"Ayolah, jangan buat suasananya jadi menyedihkan. Kalau kamu berlatih serius mungkin suatu saat kau akan diterima di unit khusus Walter sama sepertiku, walaupun mungkin kau harus benar benar serius berlatih." Yuki mengelus kepalaku.
"Tapi bagaimana dengan Kiara? Dia pasti kesepian. Kakek juga masih tak berguna."
"Tenanglah, kita bisa berkiriman surat. Kalau kamu ada Kendala saat latihan kamu bisa kabari aku. Aku juga akan mengirim surat kalau kamu mau."
"Lagian jangan sedih dulu, kita masih punya 1 hari. Ayo kita latihan." Kami sampai dan Yuki meletakkan barang barangnya.
...
"Karena ini hari terakhir, bagaimana kalau kita latihan bertarung?" Yuki berdiri didepanku yang sedang melakukan pemanasan.
"Aku ingin lihat seberapa jauh perkembanganku selama latihan."
"Hmm, kurasa begitu. Ini bisa jadi penutupan yang bagus. Peraturan biasa?"
"Tidak, kali ini yang menang ditentukan sampai salah satunya mau menyerah."
"Apa Yuki-san berniat untuk menyiksaku? Karena sekarang ini aku juga tidak ingin menyerah!"
"Kalau begitu keluarkan pedangmu! Kita mulai latihan terakhir tanpa basa basi!" Kami berdua mengeluarkan katana yang digantung di pinggang kami.
Wajah serius terpampang diwajahku yang sudah membuat kuda kuda menyerang kearah yuki-san, jarak kami terpaut 10 meter dan dia juga kelihatan siap kapan saja.
"Baiklah Yuki-san, kali ini aku yang akan menang!"
"Coba saja kalau bisa!
*Hyaaaarghh"
Kami berdua melompat mengejar satu sama lain. Tabrakan pedang terjadi ditengah tengah udara ketika kami melompat.
*Tingg... Tentu saja aku kalah kuat dalam tabrakan pedang itu dan aku terlempar ke belakang karena dorongan pedangnya. Untungnya aku berhasil mendarat dengan aman. Aku langsung berlari lagi kearah nya.
"Apa anda ingin saya melakukan analisa untuk membantu pertarungan anda?" Iris tiba tiba menawarkan bantuan pertarungan padaku.
"Tak perlu, Ini pertarungan ku dengannya. kali ini akan kulakukan sendiri."
*Tingggg, serangan yang berhasil ditangkis lagi olehnya.
*Tingg....Tingg...Tingg...Tingg, berkali kali seranganku ditangkis olehnya, disamping itu setiap kali aku membuka celah dia terus memukulku dengan belakang pedangnya, dan juga beberapa kali menendangku. Kalau ini pertarungan sungguhan kurasa aku sudah mati 7 kali.
Serangan berkali kali yang gagal, Yuki-san masih berdiri tegak dengan kuda kuda yang tanpa celah. Sedangkan aku berdiri membungkuk beberapa meter didepannya dengan tampang kelelahan.
"Kenapa kau berhenti? Sudah kelelahan? Kalau begitu katakan kau menyerah."
"Mana mungkin semudah itu!Uhukk uhukk." aku mengatakan hal sombong seperti itu sambil terbatuk batuk.
"Baiklah karena kau diam saja biar aku yang maju."
Lompatan yang sangat jauh, mungkin lebih tepat disebut hentakan yang membuatnya terlihat seperti terbang ke arahku. Dia melompat ke arahku dengan serangannya, dengan sisa tenaga yang kumiliki aku berusaha menangkisnya.
*TAAAKCKK... TACKKKCK. Dua serangan cepat langsung mendarat di tubuhku bahkan sebelum aku menyadarinya. Pandanganku memudar, keseimbangan ku menghilang, aku rebah di tanah.
*Brakkk, aku jatuh ke tanah dengan tubuh yang sudah kesakitan.
"Kenapa Hikaru!?, Sudah menyerah? Jujur saja kali ini aku tidak akan bersikap lembut. Gerakanmu sudah bagus seperti yang aku duga, tapi apa hanya segitu saja!?" Yuki terus meneriaki aku, terus saat aku terjatuh diatas tanah.
*Uhuk uhuk
"Jangan bercanda ,Dipukuli berkali kali seperti itu. Apa kau tahu bagaimana rasa sakitnya?"
"Aku mencoba menyerangmu berkali kali, namun tak ada satupun yang berhasil. Malahan aku dihajar babak belur seperti ini."
Perlahan aku mencoba berdiri dengan sekuat tenagaku, menggenggam katana yang kupegang sekuat yang aku bisa. Aku kembali melihat dia, dia tidak membuat posisi mengejek, dia tidak bergaya seperti meremehkan ku. Masih di kuda kudanya yang tanpa celah dan tatapannya yang selalu siap menahan apa saja.
"Jangan pikir aku mau diperlakukan seperti orang lemah terus terusan seperti ini!"
Amarah meluap, saat ini aku tidak memikirkan apapun. satu saja, satu saja maka aku akan puas. Andai aku bisa mendaratkan satu seranganku padanya maka akan kukeluarkan semua kekuatan yang kupunya.
Dengan wajah yang benar benar marah aku menatap matanya.
"Bersiaplah sensei." Udara memanas, tanah bergetar di tempat aku berdiri.
"Inilah pembalasanku,
Unique skill ouroboros !!!"
Ledakan api hitam yang menyelimuti pedangku. dengan seluruh kekuatan yang kupunya... dengan seluruh kekuatan yang kupunya, akan kubuktikan padanya!