Starting My New Life As An Adventurer

Starting My New Life As An Adventurer
Yuki VS Hikaru



(Hari ke-22)


"Sistem, anda berhasil meningkatkan salah satu skill anda berikut rinciannya."


-System III : sekarang saya dapat menjawab pertanyaan yang lebih sulit, Tambahan :


-Memory (+) : sekarang anda dapat memerintahkan saya untuk mengingat sesuatu atau sebagai pengingat.


-Analysis (+) : sekarang saya dapat menganalisa hal hal yang lebih rumit


" Anda juga mendapatkan +1 skill poin sebagai bonus."


Baru bangun begini sudah disambut dengan notifikasinya iris. Jadi ini yang mau dia bilang semalam.


Tapi gak berasa sekarang aku sudah punya 10 skill di daftar skill ku. Ya walaupun Sebagian besar efeknya masih sampah.


"Hei Iris, aku ingin bertanya. Aku melihat ada dua skill baru juga tapi disampingnya ada tanda '+' seperti itu. Bisa kau jelaskan?"


"Jawab, kedua skill yang anda lihat tersebut adalah skill tambahan atau skill turunan yang berasal dari unique skill milik anda. Anda juga dapat membedakannya dengan tanda '+' di samping namanya."


"Setiap unique skill memiliki kesempatan untuk mendapatkan skill turunan. Itulah juga pembeda antara unique skill dan skill biasa."


"Meskipun dikatakan sebagai skill turunan, namun skill skill ini terdaftar di daftar skill dan juga dihitung sebagai satu skill. Jadi, dengan tambahan 2 skill turunan anda sekarang anda sekarang memiliki 12 skill."


"Berarti 3 skill lagi dan level sistem bakal naik ke level empat. Eh oiya sepertinya tadi kau bilang aku dapat skill poin lagi, aku penasaran ada berapa skill poin yang kumiliki sekarang."


"Jawab, benar, dan saat ini anda memiliki total sepuluh skill poin."


"Aku rasa sepuluh poin dapat memberikan sesuatu yang lebih bagus daripada satu poinku yang kau rekomendasikan dulu.  Baiklah mari kita dengarkan rekomendasinya. Apa yang bisa kudapat dengan 10 skill poin?." Saat ini aku sudah terduduk dan menunggu rekomendasi dari iris.


"Baiklah, berikut rekomendasi saya" iris menampilkan beberapa skill di pikiranku.


- Trinitys: teknik 3 tebasan beruntun, (Cost: 7)


-Conqueror: melumpuhkan mob kelas rendah yang ada disekitar.


(max\=3 mob, 1x sehari), (cost\=9).


-Berseker: masuki mode amarah, meningkatkan semua stat sebanyak 20% selama 1 menit, (max\= 1x sehari)


(Cost\=9)


-Direwolf: memanggil seekor direwolf yang akan bertarung bersama anda selama 1 menit. (Max\= 1x sehari) (cost\=10).


Woah, 3 tebasan beruntun. Skill ini kurasa sangat berguna di keramaian. conqueror sangat praktis, aku bisa langsung menumbangkan monster kelas rendah di hadapanku. Berseker cocok untuk pertarungan sengit dan direwolf bisa sebagai support atau pengalih perhatian saat kabur. Saat ini aku sudah memikirkan segala macam combo yang bisa aku lakukan seperti layaknya fantasi fantasi game walaupun aku belum menukar poin skillnya.


"Kurasa sebaiknya aku ambil conqueror aja. Skill itu sangat praktis dan juga jika suatu saat aku terdesak dan  bisa membunuh mahkluk kelas rendah aku mungkin dapat membuat sisanya takut dan menghindari pertarungan yang tidak perlu."


"Tapi sebelum itu ini bukanlah pilihan yang bisa dipilih saat baru bangun tidur. Sepertinya aku juga harus lihat lihat sendiri semua hal selain rekomendasi yang diberikan Iris padaku. Siapa tau dia ketinggalan sesuatu yang bagus."


"Benar, saya juga menyarankan anda tidak terlalu berburu buru dalam memilih skill, Skill akan menentukan akan bagaimana gaya bertarung anda kedepannya. Dan juga tentunya jika anda simpan lebih banyak anda akan mendapatkan skill yang mungkin lebih kuat dari yang sekarang." Iris menambahkan.


"Kurasa begitu, terima kasih informasinya Iris apa ada lagi?"


"Tidak, itu saja untuk kali ini. Kalau begitu notifikasi selesai."


"Baiklah, saatnya berdiri dan bersiap siap latihan." Aku berdiri dan keluar dari kamar.


"Selamat pagi Hikaru." Kiara dan Yuki  yang sedang masak di dapur meyapaku dengan suara halus mereka.


"Selamat pagi nee-san dan yuki-san."


"Apa kamu sudah lapar? Tunggu sebentar ya, sarapannya sebentar lagi siap."Kiara menanyaiku sambil memasak sarapan kami.


"Tidak, aku mau mandi dulu, dimana kakek aku tidak melihatnya."


"Tuan Rondo mungkin sedang berada di kamar mandi, kurasa dia segera selesai. datanglah setelah mandi, sarapan pasti sudah siap."


"Baiklah, terimakasih nee-san."


Akupun langsung pergi mandi. atau seperti itu harusnya, tapi sepertinya mandiku harus ditunda sebentar.


*Crek creek


"Eh pintunya dikunci." Aku mencoba menarik narik pintu kamar mandi.


*Tok tok tok,


"Kek apa kau didalam?"


"Uurrghh, Hikaru jangan ganggu aku dulu. Aku sedang sakit perut." Kakek menjawab dengan nada yang sangat lemas.


"Huh... rasakan itu kakek tua, kau sepertinya belum sadar akan umurmu."


"uurghhh, arrghh....." Suara menjijikkan yang pasti sudah kalian mengerti


Ya ngomong-ngomong semalam kakek pulang larut sambil mabuk, dia bilang kalau komandan pertahannya membawa sake jadi dia minum beberapa. Tapi melihat wajahnya aku yakin dia minum satu botol penuh. Sekarang dia akan melewati siksaan panjang yang harus dia bayar atas kebodohannya, didalam toilet.


"Bruh kurasa aku ke dapur saja membantu nee-san, sepertinya siksaan kakek masih lama lagi." Aku meninggalkan kakek di dalam kamar mandi."


"Hikaru, kenapa kamu belum mandi?" Kiara menanyaiku yang kembali dari kamar mandi.


"Kakek sedang memakai kamar mandinya jadi sepertinya aku membantu kalian saja, apa ada yang bisa aku bantu?"


"Kalau begitu biasakan kau bantu aku memotong sayuran ini? Tapi hati hati dengan pisaunya ya." Kiara memberikannya pisaunya padaku


"Tenang saja nee-san, aku seorang samurai. Ini tugas yang mudah."


...


Setelah Kiara dan Yuki selesai memasak kami bertiga pun sarapan bersama di meja makan yang ada di tengah dapur. Dan selesai kami sarapan kakek keluar dari kamar mandi dengan keadaan seperti jiwanya sudah keluar dari tubuhnya. wajahnya terlihat sangat pucat, mengerikan sekali.


"Terimakasih makanannya, baiklah saatnya aku mandi." Aku meninggalkan meja makan.


"Aku juga akan mempersiapkan barang barang. Hikaru, setelah kau bersiap kita akan langsung latihan." Tuki berkata dan berdiri meninggalkan meja makan.


"Baik Yuki-san."


...


Tak lama setelah semua persiapan selesai kami pergi ke Padang rumput untuk latihan.


"Huhhh... Udaranya segar sekali." Aku menghirup nafas panjang sambil melakukan pemanasan


"Kali ini kita akan mencoba sesuatu yang berbeda. Karena progressmu cukup cepat kali ini kita akan lakukan latihan bertarung." Yuki sudah bersiap dan mengikatkan sarung pedangnya di pinggangnya.


"Bertarung? Maksudmu kita berdua bertarung dengan pedang?"


"Ya, kurasa kau juga harus belajar pertarungan sungguhan sesekali."


"Tapi kurasa ini terlalu cepat dan aku belum bisa menandingi mu"


"Tenang saja aku akan gunakan bagian belakang katana ku, jadi walaupun kena tidak akan berdarah. Dan lagipula kau tidak perlu menang, kau hanya perlu belajar. Itu jauh lebih penting dari kemenangan."


"Terdengar cukup masuk akal dan beralasan sekarang. Baiklah jika Yuki-san memaksa, sepertinya aku juga tak punya pilihan lain."


"Ayolah semangat aku tau kamu pasti bisa."


"Tapi apa tidak sebaiknya kita gunakan pedang kayu saja? Menggunakan pedang sungguhan rasanya sedikit berbahaya."


"Tidak, pakai yang asli saja. Aku masih bisa mengawasi mu dan kurasa dengan begini kurasa kau bakalan cepat mengerti."


"Baiklah kalau begitu, ayo kita lakukan" aku memasang kuda-kuda bertarung.


"Posisi bagus, tapi ingat jangan terlalu kaku ya nanti kamu bisa cedera."


Yuki-san juga sudah siap dengan  kuda-kuda nya.


"Baiklah peraturannya begini, siapa yang bisa mendaratkan 1 serangan ke tubuh lawannya dia yang menang. Kau tak usah menahan diri, biar aku saja. Keluarkan semua kemampuanmu"


"Satu saja? Rasanya kurang menantang." Aku menjawab kurang puas.


"Serangan seorang samurai itu ditujukan untuk menjadi fatal. Satu serangan yang dapat membawa musuh pada kematian. Dan jangan pikir kalau mendaratkan serangan akan semudah itu."


"Maaf, baiklah aku mengerti" aku menguatkan sikap bertarungku


"Ya aku siap!"


*Whuuushh dia berlari, tiap langkahnya terasa sangat rapi, berbelok dan melompat sangat halus layaknya aliran air.


*Tingg (suara dua besi yang dipukul bersamaan), tabrakan antara 2 buah pedang aku dan yuki, rasanya tak seberat saat aku melawan kakek. Sudah jelas bahwa Yuki-san menahan diri. Sepertinya aku harus serius kalau aku mau membuatnya menjadi semakin serius juga.


"peringatan, dada anda akan diserang, menghindar!" Suara iris tiba tiba terdengar di kepalaku.


"hah?"


*Whussshh.... Slashh, dengan cepat akhirnya Yuki-san menebasku di da...


Tapi karena peringatan dari iris aku berhasil menghindar tepat waktu. Yang tadi itu benar benar nyaris.


"Hmm lumayan juga, bagaimana dengan yang ini."


"peringatan, bahu kanan anda!"


*Whusshhh


*Tingg, aku berhasil menangkis serangannya lagi dengan pedangku. Sepertinya iris bisa sangat berguna dalam pertempuran.


*step step


Aku dan Yuki menjauh mengambil jarak aman


"Ya bagus, seperti itu."Yuki-san memujiku.


"Kali ini biarkan aku yang menyerang!"


"Kemarilah!"


"Bagian kanan individu Yuki menunjukkan celah, disarankan serang dari sana."


*Whuuushh, aku berlari sesuai ke arah yang ditunjukkan iris


"Baiklah ini dia, kamaitachi!


*Ting Ting Ting!!!


Ketiga seranganku ditangkis.


"Masih belum!, Kamaitachi!


*Thing Ting tingh....


"Sepertinya kamu sudah bersemangat ya." Yuki terus menangkis seranganku.


Aku terus menyerangnya dengan semangat, aku terus melihatnya tersenyum saat menangkis seranganku. Sepertinya perasaan kami berdua sama tentang ini.


Ya, ini menyenangkan.


*Tingggghh....


Katana kami berbenturan cukup kuat dan memhasilkan suara yang keras.


*Step step


Sekali lagi kami mengambil jarak aman.


"Baiklah anggap ini yang terakhir, jika kamu bisa menangkis yang ini kau yang menang."


"Yoshaahh!"


*Step step


Yuki-san berlari mengejarku dengan posisi berlari dan pedangnya ditarik sejajar dengan dadanya....


Gerakan yang sangat familiar, seakan aku pernah melihatnya. Oh ya! Gerakannya kakek surrashu-geri. Baiklah aku bisa melakukannya!


Saat berlari Yuki-san menyadari bahwa aku sudah mempersiapkan kuda kuda ku untuk menangkis serangannya, dia pasti sudah sadar kalau aku sudah pernah melihat teknik ini sebelumnya. Hal itu bukan membuatnya mengganti tekniknya, dia malah berlari semakin cepat, semakin cepat, dan gerakan yang sama setelah ini.....


*Thinngggg, aku berhasil menahan serangan pertama dari gerakan ini.


Getarannya luar biasa, rasanya seperti aku akan menjatuhkan pedang ini. Tapi ini belum selesai, setelah ini adalah tendangan!


*Whuuushh.... Aku berhasil menghindar dari tendangan itu dengan membelokkan badanku ke samping.


"Haha, aku berhas..."


*Tackk, Yuki-san memukul kepalaku dengan bagian belakang katananya.


"Aaargghhhh, sakittt. Kenapa ada serangan berikutnya bukannya cuma ada 2 serangan."


"Huh, sudah kuduga kamu sudah pernah melihat teknik ini. Darimana kamu melihatnya?" Yuki memasukkan katananya.


"Dari kakek."


"Oh ya tentu saja, lagian rondo-ji yang mengajarkan teknik ini padaku."


"Aduhduhduhduh, ya walaupun bagian belakang pedang tidak tajam namun kalau dipukul dengan batangan besi dikepala tetap saja terasa sakit."


"Sebenarnya kamu tidak salah, kalau kau memang pernah melihat serangan tadi sebelumnya maka kamu akan tau kalau itu adalah skill otomatis. Tak bisa dibatalkan dan tak bisa diganti gerakannya."


"Terus bagaimana yuki-san bisa menambahkan satu gerakan lagi? Bukannya kita harus berhenti dulu setelah menggunakan skill otomatis lalu bisa menyerang lagi?"


"Ya memang benar, apapun kondisinya saat kita menggunakan skill penyerangan otomatis kita wajib untuk berhenti sesaat. Tapi yang tadi itu aku tidak menggunakan skill sama sekali."


"Hahh? Tidak menggunakan skill? Maksudmu itu adalah gerakan yang kau lakukan dengan pikiranmu."


"Hihihi, sudah kuduga Hikaru akan tertipu. Makanya itu aku melakukannya tanpa skill. Dan sebenarnya tidak ada bedanya sama sekali." Yuki tertawa iseng.


"Tapi, kalau tidak ada bedanya sama sekali kenapa ada skill yang seperti itu?"


"Hmm, penggunaaan skill itu kan gampang, apalagi skill otomatis. Jika kamu melakukan gerakannya tanpa skill kau beresiko terjatuh karena posisi yang tidak pas, atau mungkin kecepatannya kurang tepat."


"Tapi dengan skill dia langsung membuat posisi tubuhmu sempurna untuk gerakannya."


"Yuki-san, kau harus ajari aku teknik itu.."


"Hehe, segera setelah kamu mengalahkanku."


"Hah Masih lanjut?"


"Tentu saja, ini baru satu kali."


"Baiklah mari kita lakukan sekali la..." Aku membuat posisi kuda kuda bertahanku lagi saat tiba-tiba pedangku retak dan dan hancur begitu saja dan berserakan di atas tanah.


"Aahhhhhhh! Pedangku!!!" Aku berteriak terkejut.


"Wah itu hancur berkeping keping...."


Yuki hanya membalas dengan wajah dan suara yang benar benar datar.


"Bagaimana ini Yuki-san? Katana ku hancur berantakan."


(Yuki terdiam kebingungan)


"Yahhh, aku juga tak tau. Di titik ini tak mungkin untuk memperbaiki katana yang sudah berkeping keping seperti ini."


"Latihan kita tadi memang agak kasar, tapi kalau yang seperti itu saja katana mu tidak bisa atasi berarti dari awal katana yang kamu pilih memang sudah sangat tua dan tumpul."


"Bagaimana dengan latihan kita?"


"Aku hanya bawa 1 katana saja hari ini. Kurasa kita lakukan latihan fisik saja."


"Baik Yuki-san"


Push-up, sit-up, squat kami melakukan berbagai macam latihan fisik sampai waktu pulang. Pedangku hancur berantakan dan aku mengumpulkan bagian yang berserakan ditanah.


Kami pulang kerumah, kakek hanya tertawa melihatnya dan Kiara nee-san menyemangatiku agar tidak terlalu bersedih.