Starting My New Life As An Adventurer

Starting My New Life As An Adventurer
Kegiatan baru



Hari hari setelah Yuki-san pergi kami sudah terbiasa dengan tidak adanya dia. Latihan ku masih berjalan dan aku juga mempelajari hal baru dari buku yang ditinggalkannya.


Hari ini juga, aku berencana untuk pergi berlatih. Tapi tadi pagi saat aku mau berangkat kakek mengajakku pergi ke hutan.


"Hikaru, ayo temanin aku ke hutan. Aku sedang ingin berburu. Tupai, kelinci atau mungkin rusa.


Apapun aku sedang bosan."


"Aku mau latihan hari ini."


"Ayolah, ini juga bisa dibilang sebagai latihan bertahan hidup. Kau kan juga bisa mencoba teknik memotong daging pada hewan hewan itu."


sudah kuduga, ternyata aku diajak hanya untuk memotong daging. Lagian aku ini belajar teknik samurai, bukan teknik tukang potong daging. Aku sedikit kesal mendengarnya.


"Baiklah baiklah, mungkin sedikit mencoba hal yang baru tidak ada salahnya."


Dan begitulah, sekarang aku sedang berada didalam hutan bersama kakek, untuk kesini kami hanya perlu jalan terus dari belakang rumah. Daerah rumah kami adalah daerah pinggir desa dan dekat sekali dengan hutan. Kami berjalan cukup jauh sampai kami menemukan sekelompok babi yang sedang memakan buah buahan yang jatuh dari pohon.


"Waah babi!, Tangkap mereka kek!!!" Aku berteriak semangat.


Mendengar suaraku para babi itu lari ketakutan berpencar kearah yang berbeda.


"Pssstttt!, Jangan berteriak dasar bodoh. Kalo begitu kita gak akan dapat buruan apa apa sampai sore."


"Oh ya maaf, aku lupa."


"Baiklah, ayo kita ikuti babi itu."


Kami mengikuti salah satu babi yang kabur tadi dan dia sedang memakan buah ditempat lain.


"Ingat, jangan berteriak. Ini babi yang paling besar yang kulihat tadi. Dagingnya pasti banyak dan larinya pasti yang paling lambat. Saat aba-aba ku kita akan tangkap babi itu dari kedua sisi. Pergilah kesana dengan perlahan dan tunggu aba-aba ku, kau mengerti?" Kakek berbisik padaku.


"Baiklah."Aku mengendap endap berjalan ke arah seberang kakek.


sekarang kami mengepun babi itu dari kedua sisi. Kakek perlahan mengangkat tangannya dan memberikan isyarat untuk maju. Kami berdua pun langsung melompat ke arah babi itu dan memegang badannya.


*Ngikkkkk, babi itu menjerit dan meronta ronta ingin melepas pegangan kami. Aku dan kakek memeluk babi itu dan berusaha agar dia tidak lepas.


"Pegang dia sebentar, aku akan ambil pisau di tasku." Kakek melepas pegangannya dan meraih tasnya.


"Cepatlah! aku tidak sanggup lama."


Aku memeluk babi itu dengan sekuat tenaga.


Di waktu yang singkat itu, saat aku memeluk babi itu sambil tertidur binatang itu meronta sangat kuat akhirnya beberapa debu tanah masuk ke mataku.


"Aargghhh mataku!" Aku melepaskan pelukanku dan menggosok mataku, babi itu seketika langsung berdiri dan lari


"Ah sial! Babi itu lari, padahal tinggal sedikit lagi. Ayo kejar dia!!!" Kakek menarikku dan kami berlari sekuat tenaga kami.


Dan begitulah kami berdua mengejar seekor babi didalam hutan, babi gemuk yang kami kira tak bisa berlari itu bergerak sangat cepat mirip seperti seekor kuda.


"Sialan, babi itu cepat sekali."


"Terus kejar dia! Hahaahahahh kita akan makan enakkkk!" Kakek tertawa dan berlari lebih kencang lagi.


Kakek sudah tertawa menggila melihat tumpukan daging yang besar itu sedang berlari didepannya, dia bahkan mengejar babi itu seperti seorang psikopat gila. Aku juga terus mencoba untuk mengejarnya namun babi itu malah semakin jauh, walau kami terus mengejarnya babi itu terus berlari dan tidak berhenti, saat kami hampir menyerah mengejarnya tiba tiba hewan itu tersandung akar pohon dan membuatnya terjatuh.


"Hikaru,tangkap dia!"


"Hyahhh." Mendengar teriakan kakek aku seketika langsung melompat menagkap babi itu dan tersungkur bersamanya.


*Ngikkk...ngikkkk...." babi itu menjerit dan menggeliat lagi dengan keras.


"Baiklah kali ini kau tak akan lolos."


*Stabb..., kakek menusukkan pisaunya ke leher babi itu dengan melintang.


Babi itu menggeliat lebih kuat sesaat dan kemudian dia akhirnya berhenti bergerak.


"Yeaahhh hahahhahah kita berhasil!" Kakek melompat kegirangan.


"Haahhh kita akan makan enak!"


"Enak sekali kau kek, aku yang harus menangkap dan menahannya dua kali dan bajuku kotor sekarang." Aku melepaskan pelukanku dan berdiri.


"Jangan marah begitu, aku tau sungai yang bersih disekitar sini. Bantu aku menarik babinya kesana, Kau bisa mandi dan mencuci bajumu biar aku yang memasak."


Dengan susah payah kami menarik babi itu ke pinggir sungai. Kakek mulai membuat api unggun untuk memanggang babi itu, aku mencuci pakaianku dan menjemurnya dan saat ini aku hanya mengenakan handuk yang biasanya kupakai untuk mengelap keringat saat berlatih.


"Lagian kek, kenapa kita harus menangkap hewan yang sebesar ini? Kita cuma berdua. ini tak akan habis."


"Bukankah itu menyenangkan? Hahahaha. lagian kan sudah kubilang kalau babinya lebih kurus larinya bakalan lebih cepat lagi. Dan juga nanti sisanya kita bawa pulang." Kakek menjawab sambil mengipas dagingnya.


Kami menunggu beberapa saat menunggu daging itu matang. Dan saat daging itu matang kami memotong beberapa bagian dari daging itu dan memakannya.


"Hmmm, ini sangat enak. Aku tak tau kau pandai memasak kek." Aku sambil memakan daging buruan kami.


"Hehe, saat jadi tentara dulu aku sering ditugaskan dihutan. Memasak sudah menjadi sebuah kewajiban."


"Ya, kuharap kau lebih sering membantu kak Kiara memasak dirumah."


Kami menikmati daging hasil buruan kami, terutama kakek. Dia memakan seluruh bagian kaki dan paha kiri belakangnya sendirian. Setelah kami selesai makan kami berkemas, membungkus daging ini dan bersiap pulang. Tapi tiba tiba...


"Uugghhh, aaarggh perutku sakit." Kakek meremas perutnya kesakitan.


"Sudah kuduga, kau kebanyakan makannya kek."


"Arrghh, aku sudah tidak tahan lagi."


"Tidak bisa kau tahan sampai pulang?"


"Tidak bisa, tunggulah sebentar disini aku akan kembali."


Kakek berlari menjauh dariku masuk ke dalam semak semak di hutan. Aku meletakkan barang barang dan duduk di pinggir sungai.


...


Setelah beberapa lama terdengar suara dari dalam hutan.


"Kakek, kau lama sekali." Aku membelakangi suara itu sambil melihat aliran sungai.


*Grrr....


"Apa apaan suara itu, apa suara perutmu biasanya semengerikan itu?"


Aku melihat ke arah suara itu.


Tiga ekor makhluk berkulit hijau berdiri didepanku kurang dari tujuh meter. Mereka menggunakan senjata dan berpakaian walaupun kumuh layaknya manusia.


*Grrkkk, grrrr


"aa....a... Apa itu?"


Keadaan hening, aku dan sekelompok makhluk itu saling tatap menatap. Aku mengeluarkan pedangku bersiap untuk keadaan terburuk.


*Ggrrrr, raarrrrwwww.


Salah seorang goblin yang membawa pedang langsung menyerangku secara terbuka.


*Slash...


*Grrrrrr


Goblin pedang itu pedang itu mulai mengangkat pedangnya, bersiap untuk memotongku. Saat itu aku tau aku bisa menghindar, tapi aku hanya terdiam ketakutan.


Saat itu aku berpikir aku benar benar benar akan dibunuh oleh para goblin itu hanya jarak sedetik saja sampai serangan goblin itu melukai ku.


*Tinggg...


seorang pria dengan pedang bersinar menangkis serangan goblin itu dan berhasil melindungi ku, setelah kulihat lagi ternyata itu adalah kakek!


"Kau tak apa? Mundurlah sedikit kakek akan urus mereka sebentar."


"Bahaya kek ,mereka ada tiga!"


"Tenang saja, sekelompok kecil goblin tak ada apa apanya dihadapanku."


Ternyata makhluk itu adalah goblin, seperti yang pernah kudengar di kehidupanku sebelumnya.


Ada tiga goblin yang muncul menyerang ku. Satu membawa pedang, satu membawa tombak dan yang satunya membawa panah.


Para goblin mundur satu langkah saat melihat kakek, mungkin karena aura yang dimilikinya. saat ini akupun bisa merasakannya.


"Kenapa, apa kalian takut?"


"Arrggghhh!!" Goblin goblin itu berteriak sambil menggenggam erat senjata mereka.


Goblin goblin itu mulai menyerang kakek secara bersamaan namun kakek bisa menangkis semua serangan yang diberikan, pertarungan berjalan sengit sampai kakek tertembak satu anak panah dari goblin pemanah, kakek pun mundur mengambil jarak aman.


"Ahhh sial ini sakit, kalian benar benar akan membayar untuk ini!"


"Ini adalah jurus andalanku, tak ada seorang pun yang pernah kulawan bisa menahan serangan ku ini, sekarang terimalah ini Vertical Slash!!!."


Goblin pedang bersiap menangkis serangannya dengan mengangkat pedangnya keatas secara horizontal namun dengan jurus andalan kakek pedang goblin itu patah dan serangannya menembus langsung ke kepala sang goblin pedang itu dan membunuhnya seketika."


Dua goblin yang tersisa itu ketakutan dan seperti kehilangan semangat bertarung.


Kakek melanjutkan ke goblin tombak dan dengan gampang mematahkan gagang tombak goblin itu yg terbuat dari kayu. dia pun langsung menusuk jantung goblin itu dengan sangat cepat.


Goblin panah yang sudah sangat ketakukan berlari berteriak masuk ke kedalaman hutan.


"Sial dia kabur. Arrghh, lukanya cukup menyakitkan."kakek terduduk kesakitan akan lukanya.


"Kek, kau tak apa? Kau berdarah."


"Ambil perban dari tasku, bantu aku membalut lukanya."


Aku membantu kakek membalut lukanya dengan perban yang dibawanya. kami meninggalkan daging panggang kami dan langsung membawa kakek sepepatnya ke rumah.


"Kak cepat!, kakek terluka parah dia baru saja diserang oleh goblin." Aku memanggil kak Kiara dari depan rumah.


"Apa!?, tuan Rondo diserang goblin. bagaimana mungkin?"


"Aku tak tau Kiara nee-san mereka datang begitu saja."


Kiara nee-san bergegas mengambil obat untuk mengobati luka kakek, kami berdua berusaha mengangkat kakek untuk masuk kedalam rumah.


"Berbaringlah kek, biar kami obati lukamu." Aku menidurkan dia diatas sofa.


"argghh."


Kami mengobati kakek dan membiarkannya beristirahat untuk beberapa saat. Dan setelah beberapa saat aku mencoba untuk bertanya padanya.


"Kek, apa goblin itu memang sering ada di hutan?"


"Mereka memang tinggal di hutan, namun mereka tidak seharusnya sampai disini. Kejadian goblin yang datang di hutan dekat desa itu sangat amat langka. Kalaupun ada goblin yang sampai mendekati hutan desa harusnya pasukan penjaga desa menghusir mereka menjauh."


"Mungkin mereka lengah, dan lagi goblin yang kulawan tadi itu sudah ada di kelas semi-hobgoblin. goblin yang sering tersesat dan sampai kesini biasanya adalah kelas terendah. mereka berpenampilan pendek, kurus dan lemah. goblin tadi benar benar berbeda dari goblin biasa."


"Menurutmu kek, mengapa dia menyerang kita?"


"Aku yakin karena daging yang kita masak, goblin itu makhluk yang gampang lapar."


"Dari mana goblin-goblin itu berasal kek?"


"ampung goblin ada jauh di ujung hutan ek disebelah Utara desa kita, goblin hanya akan berkumpul jika ada dari mereka yang benar benar kuat, minimal sekelas hobgoblin."


"Rumah kita ada di pinggir Utara desa, yaaa aku memilih tempat ini karena udaranya segar karena didekat perkebunan dan hutan, namun malah begini jadinya."


Kakek terus menjelaskan sambil mengoleskan lukanya dengan minyak.


"Aku memutuskan untuk tidak mencari masalah dengan kemah goblin itu, karena mereka juga jarang membuat masalah. goblin itu bodoh, namun mereka tidak sebodoh binatang. dan juga kepintaran mereka juga bisa meningkat jika mereka berevolusi ke hobgoblin atau lebih tinggi. firasatku berkata ini buruk."


"Memang kenapa kek?"


"Goblin Biasanya hidup dengan berburu atau memakan buah buahan di hutan, jika goblin semi-hobgoblin


Berkeliaran jauh sekali dari perkampungannya itu berarti populasi goblin meningkat dan cadangan makanan mereka habis."


"Jika ini dibiarkan goblin-goblin itu akan datang ke desa kita, membunuh semua ternak penduduk, merusak rumah rumah dan menghancurkan perkebunan, benar-benar sebuah bencana kehancuran." Kakek menjawab dengan wajah khawatir.


Setelah pembicaraan panjang tiba tiba ada suara ketukan di pintu depan rumah.


*Tok tok tok


"Pak kepala desa Rondo, saya Eugene ingin melapor."


"Kiara, tolong bukakan pintunya." Kakek memakai bajunya.


"Tuan kepala desa, saya mendapat laporan dari regu saya, saya ingin menyampaikannya sekarang."


"Ada apa ini, kelihatannya buru-buru sekali, ada apa?"


Wah si Eugene ini benar benar bertubuh kekar, ditambah dia punya rambut pirang yang keren.


"Kiara nee-san siapa Eugene itu?"


"Dia adalah kepala pasukan pertahanan desa, dia yang melindungi desa dan juga perbatasannya."


"Wahh dia benar benar kelihatan kuat. jadi itu kepala pasukan pertahanan"


"Kiara, buatkan 2 gelas kopi untuk kami, sepertinya ini akan menjadi percakapan panjang. Dan juga bawa Hikaru pergi tidur, ini sudah larut malam."


"Haaahhh, tapi aku pengen dengar juga." Aku memasang ekspresi menggerutu.


"Tak boleh, kau masih kecil dan ini sudah malam, sana pergi tidur."


Kiara membawaku pergi tidur dan setelah itu membuatkan kopi seperti yang diperintahkan kakek.


...


"Jadi Eugene, ada apa ini? Kenapa tidak kau sampaikan pagi saja?"


"Pasukanku memberikan laporan yang mencemaskan, aku berpikir aku harus menyampaikannya segera kepada tuan rondo."


"Apa itu?" Kakek menatap matanya dengan serius.


"Saya yakin Goblin horde, sepetinya akan datang!"


Laporan mengkhawatirkan Eugene. goblin horde, bencana mengerikan yang memporak porandakan desa. apa yang akan dilakukan kepala desa setelah ini.