
"Notifikasi, sesosok roh angin mengajukan kontrak kerjasam dengan anda."
"Hah?"
...
(Hari ke-8)
Sudah lebih dari seminggu aku berlatih bersama Yuki-san, aku sudah mengerti berbagai teknik berpedang dan kekuatanku juga meningkat lebih cepat seiring latihan.
Saat ini kami sudah berada di Padang rumput dan sedang berlatih.
12..13..14..15..., Aku melakukan setiap gerakan dengan semakin bagus dan semakin kuat.
"Bagus, pertahankan gerakanmu seperti itu." Yuki san menyemangatiku sambil melakukan gerakan yang sama.
"Notifikasi, anda mendapatkan bonus latihan"
-Instinct: +7
-Aura: +3
"Anda juga mendapatkan +1 skill poin sebagai bonus tambahan."
"Terimakasih informasinya iris." Aku menjawabnya.
"Laporan selesai..."
..49..50..."Huhhh, aku pikir itu lumayan." Aku menghela nafas dan mengusap keringat di dahi ku.
"Ayo kita istirahat dulu." Yuki menyimpan katananya.
Kami duduk di bawah pohon seperti biasa memakan bekal yang disiapkan Kiara dengan lahap.
Setelah itu kami melakukan latihan lagi dan pulang seperti biasa. Setelah sampai ke rumah aku mandi, makan malam dan langsung ke kamarku. Tidak ada hal yang terlalu spesial di hari ke delapan ini. Begitulah yang aku pikir, sampai ada notifikasi baru dari iris.
"Notifikasi, saya menerima sebuah pengajuan kontrak kerjasama dari sesosok roh angin."
"Hah?" Aku menjawabnya dengan nada bingung.
" Dia memberi kesempatan untuk tawar menawar mengenai kontraknya." Iris menambahkan.
" Hei tunggu dulu, apa maksudmu dengan roh angin? Dimana dia?"
"Roh adalah entitas yang tidak dapat dilihat. Namun, manusia masih dapat berkomunikasi dengan mereka. Salah satunya dengan cara membuat kontrak."
"Kontrak? Dia mengajukan kontrak denganku? Kenapa tiba tiba begini?"
"Saya juga tidak tahu, mengajukan kontrak adalah keinginan pribadi seorang individu. Namun saya mengira ini karena stat aura dan Instinct anda mencapai batas minimal untuk membuat kontrak dengan roh. Saat ini stat aura dan Instinct anda ada di 20 poin."
"20 poin ya, tidak terasa juga. Saya pertama kali aku bereinkarnasi seingatku poin aura dan Instinct ku cuma 0 dan 1."
"Iris, coba tunjukkan informasi statku sekarang. Aku penasaran."
"Baik, berikut informasi stat yang anda miliki."
-Hp: 30
-Mp: 20
-Stamina: 22
-Damage: 15
-Speed: 10
-aura: 20
-instinct: 20
"Ternyata berkembang juga ya, bagaimana menurutmu iris?"
"Jawab, untuk anak seusia enam tahun stat ini sudah diatas rata rata. Saat ini stat anda setara dengan anak berusia 10-13 tahun."
"Kembali ke pernyataan saya, apa jawaban anda? Apa anda ingin menerima, menolak atau menunda jawaban anda?" Iris kembali ke topik awal.
"Oh ya bicara soal kontrak yang tadi. Memang apa yang ditawarkannya?"
"Eh tapi sebelum itu, aku masih tidak mengerti apa itu roh dan darimana dia bisa kenal denganku. Bisa kau jelaskan lebih detail dulu?" Aku menambahkan.
"Baik, pertama saya akan jelaskan apa itu roh. Roh adalah sebuah entitas yang hidup di dunia berbeda dengan manusia, namun dalam kondisi tertentu mereka dapat ke dunia manusia dan membuat kontrak dengan mereka."
"Roh yang mengajukan kontrak dengan anda adalah roh kelas rendah. Dia mengajukan kontrak kerjasama dengan anda saat anda berada di Padang rumput saat anda sedang melakukan latihan."
"Jadi begitu, sekarang semua terasa sedikit masuk akal. Terus apa kontrak yang dia ajukan?"
"Kontraknya berisi bahwa dia bersedia meminjamkan kekuatannya setiap anda bersedia menukarnya dengan poin mana anda."
"Ohh menarik, kukira dia bakalan meminta setengah umurku atau semacamnya." Aku menjawabnya dengan antusias.
"Kau bilang dia adalah roh tingkat rendah kan? aku tertarik dengan kontrak ini tapi aku tidak tahu seberapa kuat 'tingkat rendah' ini. Bisakah aku lihat dulu seberapa kuat kekuatan yang bisa kugunakan? Setelah itu kita akan bicara soal harga."
"Baiklah akan saya tanyakan..." Iris menjawab dan terdiam sejenak.
...
Setelah suasana diam sesaat di kamarku iris kemudian kembali lagi dan mulai berbicara.
"Sistem, roh angin tersebut bersedia untuk melakukan percobaan satu kali. Dia menyarankan agar kekuatannya disalurkan pada media, tongkat, pedang atau semacamnya agar anda dapat lebih mudah mengendalikannya."
"Emm tunggu sebentar." Aku kebingunan mencari suatu benda sebagai media.
"Baiklah bersiap." Iris berkata tanpa memberikan penjelasan
*Wrooouuhgggh
Aku merasakan angin dari berbagai arah datang mengitari bilah pedangku dan berkumpul dan semakin besar... Semakin besar... Hembusan anginnya yang kuat sampai membuat rambutku terbang sangat kuat, semakin besar... Dan."
*Duarrrr!
Pusaran angin yang tidak stabil itu meledak. Kekuatannya sampai membuat cangkir dan teko di meja jatuh serta mencampakkan berbagai barang lainnya.
Aku tersungkur jatuh sambil melihat kekacauan yang disebabkan oleh kekuatan roh angin ini.
*Tok tok tok tok, suara ketukan pintu dari luar kamarku.
"Hikaru, Hikaru, apa yang terjadi. Apa kau baik baik saja." Suara Kiara terdengar cemas dari balik pintu.
"Gawat! Bagaimana ini? Bagaimana aku menjelaskan ini pada Kiara?
*Tok tok tok tok
"Hikaru, apa yang terjadi?" Aku juga bisa mendengar suara Yuki di balik pintu.
"Saran, anda bisa mengatakan ini sebagai alasan..." Iris menyarankan ku sebuah alasan yang sedikit masuk akal.
"Uhukk uhukk maaf Kiara nee-san, Yuki-san" aku membuka pintu kamar sambil terbatuk batuk.
"Apa yang terjadi Hikaru? Kenapa kami mendengar ada suara yang kuat dari kamarmu?"
"Aku tadi melihat serangga dan aku takut. Aku melemparnya dengan bantal ke segala arah sampai membuat kekacauan ini, aku minta maaf." Aku menunduk minta maaf ke mereka berdua.
"Astaga... Bahkan gelas dan teko pun sampai pecah." Kiara kaget dengan kekacauan yang terjadi di kamarku.
"Aku minta maaf nee-san, aku terkejut dan takut tadi."
"Huhh, tak apa asal kau selamat. Aku kira ada hal buruk terjadi padamu." Kiara mengelus kepalaku.
"Hmm tapi aku baru tahu kalau kau takut serangga Hikaru. Aku kira kau anak yang tidak kenal takut." Yuki-sna juga tersenyum dibelakang Kiara.
"Uhuk uhuk... Sekali lagi maafkan aku Kiara nee-san, Yuki-san." Debu masih berterbangan di seisi kamar dan membuatku terbatuk batuk.
"Kau tampak berkeringat sekali Hikaru, keluarlah biar kubuatkan teh untukmu. Biar aku yang membersihkan kamarmu." Kiara dan Yuki menatapku dengan khawatir.
"Uhuk uhukk terimakasih yuki-san, kak Kiara."
Aku merasa bersalah pada mereka berdua, saat ini mereka sedang membersihkan kegaduhan yang aku buat dan aku saat ini duduk di kursi meja makan dengan secangkir teh hangat.
Tapi saat ini yang lebih penting adalah kekuatan roh angin ini. Kekuatannya cukup besar bahkan untuk kelas rendah yang dikatakan Iris. Setelah aku mencoba kekuatan roh ini tentu saja roh itu meminta negosiasi harga segera. Saat aku duduk iris langsung muncul dan langsung menyebutkan penawaran yang disampaikan roh tersebut.
"Sistem, roh angin tersebut menawarkan bayaran 7 MP setiap satu kali pemakaian kekuatannya."
"Kapasitas MP ku hanya 20 itu berarti aku hanya bisa menggunakan skill ini maksimal 2 kali berturut-turut. Tapi aku penasaran sebenarnya berapa lama sampai MP ku terisi kembali?"
"Saat ini berdasarkan kecepatannya pemulihan MP anda ada di kisaran +1MP/jam."
"Butuh 20 jam dari kosong sampai penuh kembali, hampir satu hari. Aku berpikir aku bisa spam skill ini sesukaku awalnya. Hmm, coba kita tawar 1MP per pemakaian apakah dia mau?"
"Peringatan, sebelum anda menawarkan harga saya menyarankan anda untuk memberikan harga yang pas dan masuk akal. Roh juga sebuah makhluk hidup dan jika dia tersinggung dengan penawaran anda perjanjian kontrak bisa batal dan reputasi Anda diantara roh yang lain bisa menurun drastis."
"Woah, terimakasih peringatannya iris. Aku sampai lupa, kalau aku tawar sejauh itu makhluk apapun pasti tersinggung. Harga awalnya ada di 7 poin, coba tawarkan 4 poin kurasa itu masih wajar."
"Akan segera saya sampaikan..."
Iris terdiam dan taak berselang beberapa lama...
"Notifikasi, individu roh angin telah menyepakati penawaran harga anda. Kontrak kerjasama sudah disetujui. Meminta persetujuan dari anda."
"Ya, aku setuju."
*Cling cling cling, percikan-percikan cahaya menyinari sekeliling tubuhku sesaat.
"Kontrak kerjasama berhasil dibuat."
"Fuhh aku membuat kontrak dengan roh. Aku sudah sadar sejak pertama kali aku mencoba ini sih, tapi apa skill tebasan angin menggunakan kekuatan dari roh angin sebagai sumber kekuatannya?"
"Saya belum tahu, namun setelah memerhatikan kekuatannya saya sangat yakin bahwa skill tebasna angin berasal dari kekuatan roh." Iris menambahkan.
" Terus kenapa sih Yuki-san tidak bilang kalau aku harus buat kontrak dengan mereka. Kalau dia bilang dari awal pasti akan lebih mudah."
" Jawab, kemungkinan besar itu karena dia tidak sadar telah membuat kontrak dengan roh."
"Hah? Bukannya kontrak memerlukan persetujuan dari kedua pihak, bagaimana bisa dia tidak sadar."
"Sebagian besar kontrak kerjasama dengan roh terjadi secara tidak sadar. Kontrak kali ini juga secara teknis termasuk dalam kategori kontrak 'tidak sadar'."
"Tapi aku sadar saat menyetujui nya."
"Itu karena saya sebagai perantara diantara Anda dengan roh tersebut. Entitas saya sebagai sistem berdiam diri di batas antara kesadaran dan alam bawah sadar anda, jadi saya bisa berinteraksi dengan sesuatu yang tidak anda rasakan. Anda tidak benar benar berkomunikasi dengan roh melainkan melalui saya. Umumnya proses pembuatan kontrak memakan waktu lebih lama sampai sang manusia menyetujuinya secara 'tak sadar' di alam bawah sadarnya beserta harganya."
"Oh ya bicara soal alam bawah sadar kurasa itulah alasan mengapa untuk menyalurkannya membutuhkan media ya."
"Benar, kekuatan yang disalurkan akan lebih stabil apabila anda menyalurkan kekuatan tersebut dari tubuh anda ke benda yang anda pegang. Jika anda mencoba untuk membuat pusaran angin ditengah tengah udara maka kekuatannya akan sulit untuk dikendalikan dan tidak akan maksimal."
"Hmm aku sudah tidak sabar ingin mencoba kekuatan baruku ini, tapi sayangnya hari sudah gelap dan aku tidak ingin membuat kegaduhan lagi di rumah ini. Aku akan tinggi besok sekaligus akan kutunjukkan pada Yuki."
Setelah selesai bicara dengan iris aku menghabiskan teh hangatku yang sudah sedikit dingin karena percakapan panjangku dengannya.
Kak Kiara dan Yuki kemudia datang dan bilang kalau kamarku sudah selesai dibersihkan. Sebelum tidur aku berterimakasih pada mereka berdua dan aku masuk kedalam kamarku.