Starting My New Life As An Adventurer

Starting My New Life As An Adventurer
Sword Of Ouroboros



(Di kamarku)


Aku duduk diatas kasur merenung sambil memegang gagang katana yang sudah hancur.


"Hei Iris, bukannya kau bilang kalau pedang ini bagus? Kalau seperti ini aku merasa tidak enak dengan kakek yang sudah membelikannya padaku."


"Jawab, sejak awal kondisi pedang tersebut memang berada di ambang kehancuran. Namun fakta bahwa pedang ini akan memberikan skill tambahan saat dipakai dalam waktu tertentu tetap benar adanya."


"Jadi kau mau bilang kalau pedang ini memang unik tapi sudah hampir hancur? Kalau begitu saja saja bohong. Lagian pada akhirnya aku tidak sempat membangkitkan ability khusus dari katana ini."


"Sebenarnya anda bisa."


"Hah, Membangkitkan skill dari pedang ini? Bagaimana caranya?"


"Bukan hanya membangkitkan skill-nya, tetapi memperbaiki bentuk katana tersebut dan membuat ketahanan dan ketajamannya lebih kuat dari pertama kali katana ini dibuat."


"Bagaimana caranya?"


"Anda bisa melakukan percobaan evolusi ke katana dengan biaya 10 skill poin."


"Saat katana berevolusi, katana tersebut akan kembali ke 100% durability dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya."


"Karena katana ini spesial seperti yang saya katakan, saat pedang ini berhasil melakukan evolusi anda anda mendapatkan 1 skill baru, skill hadiah dari evolusi pedang ini."


"Baiklah, dengan 10 poin, aku dapat skill baru dan pedang yang lebih kuat dari sebelumnya. Dapat dua hanya dalam sekali bayar, ayo kita lakukan!"


"peringatan, sebelum itu saya ingin mengatakan satu hal."


"Ada lagi?"


"Melakukan usaha evolusi tidak selamanya selalu berhasil. Bahkan, semakin tinggi levelnya tingkat keberhasilan evolusinya semakin rendah."


"Jadi bisa saja evolusi ini gagal, Berapa persen kemungkinan gagal nya?"


"Lima puluh persen"


"Ugh... baru evolusi pertama dan kemungkinannya sudah 1 banding 2. Sepuluh poin ini aku dapatkan dari latihanku selama ini, kalau sampai gagal berarti semua poin yang kukumpulkan selama ini akan sia-sia."


"Bagaimana, apakah anda ingin melanjutkan upaya evolusi dengan biaya 10 skill point?"


"Huhhh baiklah, kurasa saat seperti inilah seorang pria harus bertaruh. Kalau ini berhasil, aku juga bisa dapat pedang yang bagus. Lakukan!"


"Sistem, memulai upaya evolusi katana...."  Cahaya yang semakin terang muncul dari katana yang kupegang dan dalam sesaat terjadi ledakan cahaya yang membutakan mataku sejenak.


"Apakah evolusinya berhasil?"


Cahaya yang tadinya sangat terang itu perlahan mulai meredup dan mulai mengembalikan penglihatan ku. Jantungku berdetak kencang memikirkan keberhasilan evolusi ini.


"Sistem, evolusi dengan memakai skill poin berhasil dilakukan. item katana berhasil berevolusi menjadi "sword of ouroboros", stat dari pedang


meningkat drastis dan durability nya kembali ke 100%"


"Yesss, kukira evolusinya akan gagal. Sekarang katana ini kelihatan baru lagi." Aku dengan senang  mengangkat pedang baruku ini.


"Selamat, anda mendapatkan skill baru hadiah dari evolusi. Berikut keterangannya:"


Ouroboros: selimuti pedang dengan api hitam abadi, membakar benda yang bersentuhan dengan pedang.


"Skill yang dapat membakar musuh sampai dia mati. Kedengaran sangat mematikan, bagaimana dengan penggunaan mana? Batas waktu? Apa skill ini ada batas pemakaian maksimal?"


"Saat digunakan di pedang ini, skill ouroboros tidak akan memakan mana sama sekali, dan saat digunakan di pedang lain konsumsi mana berbeda tiap pedang. Kekuatan api meningkat berdasarkan stat pemiliknya, jika penggunanya memiliki stat yang tinggi maka api akan lebih kuat. Tak ada batas waktu, tak ada batas pemakaian. Skill ini juga termasuk dalam kategori unique skill."


"Baiklah, mari kita coba skill ini. Ouroboros!" Aku mengaktifkan skill ouroboros pada katana ku


...


...


Aura api hitam menyelimuti katana-ku. Aku menarik pedang dari sarungnya dan terlihat seluruh bagian pedang tertutup dengan api hitam yang pekat.


"Kukira ini akan terasa panas."


"Anda tidak akan merasakan panas saat berada di dekat api hitam yang anda buat. Dan walaupun anda terkena apinya, api tersebut tak akan menempel ataupun melukai anda."


"Begitu ya, walaupun begitu sepertinya aku harus berhati-hati. Soalnya sebagian besar dari rumah ini terbuat dari kayu. Bisa bisa aku tanpa sengaja membakar habis rumah ini."


"Mungkin aku akan mencobanya besok. Eh tapi bagaimana aku menjelaskan situasi ini pada mereka nanti. Darimana kubilang aku dapat pedang ini, mau alasan apapun sudah pasti bakalan mencurigakan."


"Iris, apa kau ada saran supaya mereka tidak curiga?"


...


"Saya mendapatkan sebuah skenario yang 70% berkemungkinan menghindari kecurigaan."


"Bagaimana?"


Iris memberitahukan rencananya padaku, walaupun menurutku rencana ini masih tetap mencurigakan tapi ini lebih baik daripada tidak melakukan apapun.


"Hmm, kurasa ini bisa dilakukan."


Aku menyembunyikan pedangku dibawah kasur, dan aku keluar menemui kakek yang sedang duduk di sofa. Aku kemudian duduk di dekat kakek, dan kelihatannya dia sudah mengetahui tentang apa yang ingin kubicarakan.


"Ada apa?" Kakek hanya menjawab seperti itu.


"Begini kek, ini tentang katana yang baru kau belikan itu."


"Oh itu, sejak awal aku juga tidak yakin pedang itu akan bertahan. Tapi aku tidak ingin menghancurkan semangatmu, jadi kupikir biarkan saja itu hancur di tanganmu."


"Jadi, bagaimana dengan pedangku?"


"Ya, nanti biar kubelikan lagi, tapi kali ini pilih yang bagus."


"Yess, tapi kek masih ada satu lagi yang ingin aku katakan."


"Ha, apa itu?"


"Aku tau pekerjaan kakek banyak belakangan ini, jadi aku tidak ingin mengganggu kakek. Aku berpikir bagaimana kalau aku belanja ditemani nyonya arima saja?"


"Hmm, tapi apa kau sudah bilang ke nyonya arima?"


"Tidak masalah, dia pasti mau."


"Baiklah, ajak Yuki sekalian."


"Eh tidak tidak, aku berpikir setelah belanja aku ingin sedikit jalan jalan dengan nyonya arima, jadi aku pikir kami berdua saja. Boleh kan?"


"Yasudah boleh, pergilah tidur." Kakek menjawab dengan ekspresi sedikit sedih.


"Yeah, terimakasih kek."


Aku masuk kembali ke kamarku, tahap 1 rencana lancar. Sementara itu kakek di ruang tamu dengan wajah sedihnya.


"Kasihan sekali anak itu, dia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Dia mencari cari alasan supaya bisa bersama nyonya arima yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri. hiks hiks."


Keesokan harinya, aku pergi ke rumah nyonya arima, tapi sebelum itu aku melempar keluar pedang ku lewat jendela dan mengambilnya kembali saat aku keluar. Saat aku sampai di rumahnya aku menyembunyikan lagi pedangku di sela-sela rumahnya. Beruntung itu semua berjalan lancar. Dan akupun mengetuk pintu rumah nyonya arima.


*Tok tok tok


" permisi nyonya arima saya Hikaru."


*Crekk, suara pintu terbuka dari depan rumahnya


"Oh Hikaru, lama tak bertemu. Kau sudah besar ya, Bagaimana latihanmu?" Nyonya arima langsung datang dan menyapaku dengan hangat.


"Hehe semuanya berjalan baik."


"Masuklah, kebetulan sekali aku sedang membuat kue kering."


"Ah tidak, soal itu... Aku datang kesini untuk meminta tolong."


"Oh apa itu yang bisa kubantu?"


"Semalam pedangku rusak dan hari ini kakek sedang sibuk. Bisakah kau menemaniku membeli pedang baru?"


"Teryata begitu, tentu saja bisa. Tapi sebelum itu kau harus makan kue keringku dulu."


"Saya akan makan dengan senang hati."


"Masuklah, duduklah dan tunggu sebentar. Aku akan bersiap-siap. Aku masuk dan nyonya arima menghidangkan sepiring kukis coklat yang masih hangat diatas meja.


Ny arima itu orang yang baik, mungkin seumuran dengan kakek. suaminya sudah meninggal dan anak anaknya sudah meninggalkan rumah dan menikah. Begitulah yang kudengar dari kakek. Dia sering mengajakku ke rumahnya, yahh biasanya aku selalu menolaknya. kurasa dia sedikit kesepian. Mungkin aku juga sedikit paham rasanya tidak melakukan apapun setiap hari. Seharusnya aku bersikap lebih baik padanyan. tapi kali ini aku akan menemaninya sungguh sungguh.


"Baiklah aku sudah siap, mari kita berangkat." Nyonya aroma keluar dari kamarnya dan menggendong tas bahunya.


"Baiklah."


Kami berjalan sedikit setelah itu kami menyewa kereta kuda ke pusat desa.