
Seorang samurai wanita tiba tiba menjadi seorang guruku bagaimana latihannya akan berjalan?
"Perkenalkan saya yukiharu touji, kita masih kerabat jadi jangan terlalu formal ya."
"Saya Hikaru, senang berkenalan denganmu Yuki-san."
"Mulai hari ini aku akan menjadi gurumu, tapi aku tidak ingin jadi guru yang kejam, kalau ada yang kamu tidak suka tolong beritahu aku ya." Dia tersenyum manis padaku.
Dia sangat cantik jujur saja, rambutnya putih seperti namannya "Yuki" mungkin tingginya 165 cm dan yang lainnya? Mungkin dia terserang penyayang menurutku. Tapi dari pandangannya dia juga pribadi yang bisa serius.
(Kiara datang dari dalam rumah)
"Nyonya yukiharu, tuan Rondo meminta saya untuk mengantar anda ke kamar anda."
"Kumohon panggil saja aku Yuki."
"Baiklah nyonya Yuki."
"Tidak tidak gausah pake nyonya juga." Yuki sepertinya merasa canggung diperlakukan Seperti orang dewasa.
"Tunggu tunggu, Yuki-san kamu bakalan tinggal disini?" Aku kaget setelah menyadarinya.
"Ya, disekitar sini tidak ada penginapan. Rondo-ji bilang dirumahnya ada kamar kosong untuk tamu. Kita juga akan berlatih setiap hari."
"Baiklah Yuki-san biar saya bantu bawa barang barang anda." Kiara menawarkan bantuan padanya.
"Terimakasih kiara-san"
"Aku juga! Biarkan aku membantu." Aku juga ikut membantu mereka.
Kamar baru untuk Yuki-san sudah selesai, Kiara nee-san juga sudah mempersiapkan teh untuk kami semua di ruang tamu, kakek juga duduk disitu.
"Bagaimana Hikaru, apa kau suka dengan guru barumu?"
"Kami kan belum latihan kek, bagaimana aku tahu. Tapi sepertinya aku akan menyukai yukiharu-san dia kelihatannya baik."
"Meskipun begitu aku sudah berjanji pada Rondo-ji untuk tidak memanjakanmu Hikaru, setidaknya aku akan memenuhi tugasku sebagai guru." Yuki menambahkan.
"Ngomong ngomong, kenapa tidak kalian mulai saja latihannya hari ini? Ada Padang rumput luas disamping rumah. Hikaru sering main disana."
"Kakek, kau tidak sopan. Yuki-san pasti capek diperjalanannya saat kemari. Setidaknya beri dia istirahat." Aku langsung memarahinya saat dia mengatakannya.
"Tidak, umm, sebenarnya aku cukup bersemangat Hikaru, apa kau mau mulai latihannya hari ini?"
"Tentu saja aku mau, tapi apa benar kau tidak lelah?"
"Aku baik baik saja, bagaimana kalau kita pergi sekarang?"
"Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi."
Aku mengambil pedang kayuku dan sebuah buku di kamar ku dan Yuki-san membawa beberapa pedangnya bersamanya. Kami bersiap siap pergi.
Sebelum kami pergi Kiara nee-san menghentikan kami untuk bekal makan siang kami.
"Tunggu sebentar, saya sudah mempersiapkan makan siang untuk kalian berdua. Jangan lupa dimakan ya."
"Terimakasih nee-san."
"Terimakasih Kiara-san."
Kami berdua berterimakasih padanya dan berangkat.
kamipun pergi ke hamparan Padang rumput yang luas, tak jauh dari rumahku,aku bisa melihat rumahku dan nyonya arima dari sini. ditengah Padang rumput itu ada sebuah pohon besar yang kami gunakan untuk berteduh dan meletakkan barang barang kami. Kamipun duduk di pepohonan itu dan dia langsung memulai sesi pertanyaannya.
"Pertama-tama bisakah kau beritahu seberaja jauh pengalaman mu dengan pedang?"
"Ya baik yuki-sensei, saya berlatih menggunakan pedang kayu saya setiap hari."
"Sudah pernah mempelajari skill berpedang?" Yuki bertanya lagi.
"Belum Yuki-sensei."
"Pemula ya... , Oh iya jangan panggil aku dengan sebutan sensei. Aku ini masih 17 tahun dan aku tidak mau kedengaran tua." Dia menegurku dengan wajah sedikit kesal.
"Baiklah yuki-San."
"Ya, begitu lebih baik." Kali ini dia memasang wajah yang senang.
(Yuki berdiri) "Baiklah karena ini hari pertama, aku akan mengajarkanmu teori dan sedikit latihan saja."
"Baik Yuki-san." Aku mempersiapkan buku tulisku untuk menulis hal hal penting.
...
"Ada banyak jenis gaya bertarung di dunia ini. Tapi secara umum kau bisa membedakan mereka mulai dari yang menggunakan senjata jarak dekat seperti pedang,tombak,pisau dan lainya." Dia menjelaskan sambil berjalan mondar mandir dan terus melanjutkan.
"Ada juga yang menggunakan senjata api buatan para dwarf seperti pistol, senapan, shotgun, bom, meriam dan lainnya. Ada juga Busur, xbow dan senjata jarak jauh dari bangsa elf."
"Dan yang terakhir adalah sihir. Api, angin, petir dan berbagai macam elemen. Tidak banyak orang yang paham menggunakan sihir. Mungkin kamu akan sangat jarang melihat salah satu dari mereka."
"Kembali ke pembelajaran kita. Aku adalah seorang pengguna jarak dekat. Dan seperti yang kau lihat aku menggunakan pedang."
"Ada banyak jenis pedang di dunia ini. Setiap jenis memiliki keunikannya sendiri. Termasuk dengan pedang yang kupakai." Yuki mengeluarkan salah satu pedang dari sarung pedang yang terikat di pinggangnya.
"Pedang ini berjenis katana, senjata yang bagus dalam penyerangan tunggal atau berkelompok."
"Kelebihan pertama pedang jenis ini adalah pedang ini sangat tajam dan sangat cepat diayunkan. Kelemahannya mungkin ada di perawatannya dan juga pedang ini tidak tahan banting."
"Hmm hmm."aku menulis semua yang dikatakan Yuki di buku yang telah kusiapkan. Memang lumayan banyak namun aku merasa semuanya sangat penting.
"Skill yang paling diincar dari pendalaman teknik samurai adalah "kamaitachi" atau tebasan angin. Tergantung kemampuanmu bahkan kapten Walter dapat membelah sebuah kapal dari jarak ratusan meter. Namun idealnya mereka yang sudah ahli bisa menebas seseorang dari jarak belasan meter."
" Katana merupakan salah satu senjata yang gampang digunakan, sangat ramah pemula. Namun senjata ini memiliki banyak rincian ,sudut ideal dan teknik yang bisa didalami.
Easy to use hard to master."
"Hmm begitu ya" aku terus menulis semua perkataan yang dikatakan Yuki.
"Masih ada beberapa skill bagus yang bisa kau pelajari namun untuk sekarang fokuslah untuk bisa menguasai kamaitachi."
"Baik Yuki san!" Aku menjawabnya dengan semangat.
(Yuki mengambil 2 pedang katana yang diletakkannya di dekat pohon)
"Baiklah, kurasa segitu dulu aja teorinya, kalo gitu mari kita mulai latihan."
"Mohon bantuannya." Aku membungkuk memberikan hormat padanya.
"Ambil ini." Dia memberikan salah satu katananya padaku.
"Pegang pedangmu dan buatlah posisi seperti ini." kaki sejajar dengan bahu, ujung pedang sejajar dengan mata.
"fokuskan pandanganmu kedepan dan ayunkan. Seperti ini." Dia mengangkat dan mengayunkan pedangnya kedepan.
"Hyahh" aku melihat dengan seksama dan meniru gerakannya.
"Ya bagus seperti itu, baiklah ulangi lagi sampai 50 kali." Yuki sambil melihat pergerakanku dari berbagai arah.
"Baik Yuki-san!" Dengan suara lantang.
Sambil melakukan gerakan yang diajarkan Yuki aku berbicara dengan Iris didalam pikiranku.
...
"Hey iris, apa aku bisa menukar poin skill aktifku dengan skill kamaitachi ini?"
"Tapi, kalau anda pelajari sendiri anda dapat menguasainya tanpa harus menukar poin." Iris menambahkan
"Jadi begitu, jadi poin skill ini lebih untuk sebuah skill yang ingin kukuasai tapi tak mau kupelajari."
"Benar, sebagai contoh skill penghisap darah lifesteal, hanya dapat dipelajari anda setelah membunuh beberapa orang."
....
"48,49,50 hmm, kuda-kudamu masih kurang bagus dan Kau kurang keras saat mengayunkannya."
"Maafkan aku." Aku berpikir aku mengacaukannya.
"Tidak masalah, lakukan 50 lagi. gapapa kan?" Sambil memegang bahuku.
"Baiklah, 1..2..3..4..6..7..."
Setelah beberapa ratus gerakan yang sama berulang kali keringat mulai mencucur dari seluruh tubuhku, seluruh tubuhku merasa sakit dan aku juga merasa pusing.
"Tidak, posisi kakimu masih salah." Sambil membenarkan posisi kakiku.
"Dan caramu memegang katana masih kurang kuat. Pegang pedangmu dengan percaya diri." Sambil menunjukkan contoh gerakan nya lagi dan memperbaiki gerakanku.
Ternyata kuda-kuda nya sedikit membuat badanku pegal, sepertinya aku harus banyak berlatih. Ini memang membuatku lelah walaupun tidak dalam tingkatan sampai membuatku sangat kelelahan.
"Baiklah kita ulangi lagi, ikuti seperti yang kulakukan." Yuki membuat gerakannya dan aku mengikutinya.
"Baik! 1..2..3..4...,...48..49..lima puluhhh!" Aku mengayunkan ayunan terakhirku dengan keras.
"Kerja bagus Hikaru, gerakannya sudah lumayan untuk hari pertama."
"Hehe ini belum seberapa" aku menjawab dengan nada sedikit senang karena sudah berhasil.
"Mari kita istiharat sebentar. Kau sudah lapar kan? Duduklah, mari kita makan."
Kami duduk bersandar di batang pohon tempat kami meletakkan barang barang kami, menu makan siangnya adalah roti isi daging dan sayuran,kesukaanku.
"Hmm, kiara-san sangat hebat dalam memasak ya." Yuki sambil memakan roti isi nya dengan lahap.
"Ya, masakannya selalu enak, Yuki-san harus cobain lebih banyak masakan nee-san."
"Aku tidak sabar menantinya." Yuki menghabiskan roti isinya.
Kami menikmati makanan kami, masakan Kiara nee-san memang enak seperti biasa. Cuaca sedang bagus dan sekarang musim semi. Bahkan pada saat siang hari udara tidak terlalu panas.
"Yuki-san aku dengar kau mengajariku karena sedang libur, berapa lama kau libur?"
"aku libur setiap musim semi, aku diberikan libur 35 hari setiap musim semi. Jadi aku akan mengajarimu selama satu bulan."
"Begitu ya, padahal aku ingin Yuki-san mengajari aku sepanjang tahun."
"Kau juga bisa latihan sendiri, Aku hanya menunjukkanmu caranya. pada akhirnya semua hasilnya ada di tanganmu."
"Baiklah.." Yuki-san berdiri.
"aku rasa istirahatnya sudah cukup, apa kau masih sanggup Hikaru?"
"Tentu saja badanku sudah enak sekarang." Aku dengan percaya diri mengatakannya sambil memegang ototku.
"mari kita lakukan beberapa set ayunan pedang lagi."
"Baik Yuki-san", aku melakukan beberapa set lagi sampai latihan kami selesai
"Tegakkan badanmu, ayunanmu masih sedikit miring. Lakukan lagi!" Beberapa nasihat terus diberikannya sepanjang gerakan.
"47..48..49..lima puluh! Fyuhh ternyata agak melelahkan ya. Bagaimana Yuki-san?"
"Kerja bagus Hikaru, kamu pasti lelah, jangan paksakan dirimu ya."
"Jangan khawatir, aku masih bisa melakukannya lagi Yuki-san."
"Baguslah, tapi hari sudah gelap. Kita sudahi untuk hari ini, masih ada hari esok. Mari kita pulang."
"Baik Yuki-san."
Latihan hari pertama selesai, kami pun membereskan peralatan kami, kami bersiap untuk berjalan pulang namun saat kami membereskan barang barang...
"Notifikasi, anda mendapatkan skill baru, dan peningkatan dari skill yang sudah anda dapatkan."
"skill? Skill apa lagi kali ini?"
Lung I: paru-paru Anda dapat bekerja 10% melebihi batas maksimal.
Ronin II: Damage yang dihasilkan oleh tebasan pedang meningkat 15%.
"Latihan melelahkan tadi berguna juga ya...." Aku mengusap keringat di dahiku.
"Tambahan, anda mendapatkan bonus 1 skill poin dan peningkatan stat."
"Wah, padahal statku baru saja meningkat kemarin."
"Berikut daftar peningkatan stat anda.
-Stamina: +5. -Damage: +2
-Hp: +5
"Itu saja? Aku kira semuanya akan ditingkatkan sekaligus."
"Itu adalah bonus latihan anda. catatan, bonus latihan tidak didapatkan setiap kali latihan, ini berbasis keberuntungan."
"Berarti bukan berarti setiap kali latihan dapat bonus ya."
"Benar sekali."
"Itu saja kah iris? Ada lagi?" Aku sudah siap membereskan peralatan dan bersiap mengangkatnya pulang.
"Notifikasi baru, energi anda habis, fase tidur paksa diaktifkan."
"Oiiii, jangan mengatakan energiku habis begitu saja dengan gampang. kenapa bisa habis? Padahal tadi aku merasa masih punya energi."
"Beberapa energi anda dipakai untuk pemasangan atribut skill dan peningkatan stat."
"Tidak bisakah itu diatur setiap kali aku tidur saja? Tidak mungkin aku pingsan disini oii." Aku sedikit panik karena aku akan pingsan disini.
"Baiklah untuk peningkatan dan pemasangan skill dan stat selanjutnya akan dilakukan pada saat fase tidur, namun pada saat ini pemasangan sudah dilakukan dan tidak dapat dihentikan, dengan begitu fase tidur paksa diaktifkan!" Seketika pandangan di penglihatan ku berubah merah seperti tanda peringatan.
"Sialan, ternyata dari dulu waktu proses pemasangannya bisa diatur."
*Dubrakk!, Aku terjatuh pingsan saat mengangkat barang barang untuk dibawa pulang, Yuki yang berdiri disampingnya pun terkejut.
"Hikaru, Hikaru kamu kenapa? Yuki Menepuk-nepuk pipiku.
"Hikaru, Hikaru!" Dia berteriak didepan wajahku.
"Jawab aku, ini tidak lucu!"
...
"Astaga dia tak menjawab, bagaimana ini? Aku harus angkat dia ke rumah."
Yuki meletakkan semua barang barangnya, dia mengangkat badanku dan berlari membawaku ke rumah.