
Tak ada satupun tentara yang berjaga di desa. semuanya telah dikerahkan di Utara membantu pasukan utama. kakek dan orang di desa mungkin bisa mengatasi puluhan goblin, namun ratusan bahkan bukanlah sebuah taruhan.
"Semuanya cepat pergi! kita tidak sanggup melawan mereka!" perintah kakek terdengar ke seluruh balai desa dan membuat kepanikan
semua orang berlari berhamburan menyebar ke segala arah. mendengar gerombolan goblin yang tiba tiba datang ke balai desa membuat semua orang panik dan langsung pergi meninggalkan balai desa. begitupun aku dan kak Kiara, begitu mendengar berita itu kami juga pergi meninggalkan balai desa dan berlari mengikuti gerombolan orang yang dipimpin oleh Kenzo, salah seorang petinggi desa.
saat ini semua orang berhamburan dan berpencar dalam banyak kelompok. aku tak tahu pasti berapa banyak gerombolan kami terbagi bagi. yang kami semua tahu saat ini bahwa kami harus lari.
hampir semua orang sudah berlari menjauhi balai desa. tetapi kakek belum, dia memeriksa semua orang didalam dan melihat apakah masih ada orang yang belum pergi. dia tidak mau pergi sampai dia memastikan bahwa balai desa sudah kosong.
setelah memastikan semua warganya pergi, kakek juga bersiap untuk kabur sampai dia mendengar sebuah suara dari tumpukan selimut.
"Uhukk! uhukkk!" suara batuk yang parah membuat kakek berpaling.
kakek mendekati tumpukan selimut itu dan mengangkatnya. seorang kakek tua bersembunyi dibawah tumpukan selimut itu. dan lebih tepatnya seorang kakek yang bersembunyi itu adalah ooki, sang penasehat desa.
"ooki, apa yang kau lakukan disini cepat pergi! para goblin sudah sangat dekat!" kakek meneriaki ooki dan menarik tangannya.
"uhukk! uhukkk! tuan Rondo, tinggalkan saja aku. sepertinya ini memang akhir dari hidupku. tubuhku sudah tidak sanggup untuk berlari." dengan tampang lemahnya dia melepas genggaman tangan kakek.
"kita semua akan pergi dari sini ooki! kau tidak boleh mati disini, dari semua orang yang ada di bawahku. kaulah yang paling setia diantara mereka semua." kakek menggenggam tangan ooki kembali.
"ayo kita pergi dari sini." kakek merangkul tangan Ooki di bahunya dan mereka berjalan langkah demi langkah meninggalkan desa.
mereka berjalan dan berjalan semakin jauh dari balai desa. gerombolan goblin itu telah masuk kedalam balai desa dan mereka memakan semua makanan yang ada di balai desa. sepertinya mereka gerombolan goblin yang kelaparan.
kakek dan ooki terus berjalan menjauh dari desa. dengan keringat yang mengucur diseluruh tubuh mereka.
saat mereka berdua berjalan, berpikir bahwa mereka sudah tidak dikejar lagi oleh gerombolan goblin itu. didepan mereka seorang pria dengan pakaian mewah sedang duduk diatas seekor kuda dan di belakang pria itu dua goblin champion bersama dengan belasan hobgoblin berdiri dibelakangnya. mereka berdiri disana seakan mereka sudah tahu kedatangan kakek dan menunggu disana.
melihat mereka, dengan putus asa kakek merangkul ooki dan berbalik arah mencoba berlari dari pria itu.
"tidak ada gunanya, kelilingi dua orang itu!" pria itu memerintahkan gerombolan goblin dibelakangnya.
goblin-goblin itu dengan mudah mengejar kakek dan ooki dan dengan mudah membuat mereka terdiam tak berdaya.
"uhukk!! uhukk!! hobgoblin sebanyak ini!? dan juga dua goblin champion!? apa maksudnya semua ini" ucap ooki ketakutan.
pria itu masuk kedalam lingkarang goblin-goblin yang melingkari kakek dan ooki dan berhadapan dengan kakek.
"kursi!" teriak pria itu dengan keras.
seekor goblin berlari mendekati pria itu berlutut dengan ketua kakinya dan kedua telapak tangannya menyentuk tanah membuah posisi layaknya sebuah kursi. pria itu lansung duduk diatasnya didepan kakek dan ooki yang masih tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat.
"siapa kau! apa maumu!" kakek mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya kepada pria itu.
para goblin yang mengeliling mereka tampak tidak senang, dan mereka maju dengan niat membunuh kakek.
"pssttt!! semuanya diam!!" pria itu menenangkan para goblin yang marah dan mereka kembali ke posisi mereka.
kakek masih tidak menurunkan senjatanya. mengarahkan pedangnya ke semua goblin yang ada disekelilingnya.
"siapa diantara kalian berdua yang bernama Rondo touji?" tanya pria itu.
"Aku Rondo touji dan aku pemimpin desa ini!" ucap kakek dengan tegas didepan pria itu.
"ohh, seperti yang kudengar dari orang orang, jadi yang satunya hanyalah kakek biasa. bunuh dia!" ucap pria itu.
seekor hobgoblin maju menarik ooki dari samping kakek dan langsung menancapkan pedangnya di perutnya.
"aaagrgrhghh...." dengan cepat ooki tersungkur ke tanah.
"apa yang kau buat dasar kau monster!!!" dengan amarahnya kakek berlari kearah pria itu dan mencoba membunuhnya dengan pedangnya.
pria itu hanya diam dan tersenyum, dan saat tebasan kakek hanya berjarak beberapa detik.
*bummm, goblin champion memukul wajah kakek dan membuatnya terjatuh di tanah.
"sudah kubilang jangan terlalu kuat!" pria itu terus mencambuk goblin champion itu berulang kali sampai darah menetes dari kulit kerasnya.
"aargg, ampuni... saya... master... Deuce..." ucap goblin champion itu memohon.
kakek hampir pingsan karena pukulan goblin tadi, dia terkapar ditanah dan saat ini dia kesulitan untuk berdiri.
"berdirikan dia!" pria itu memerintahkan para goblin lagi.
dua hobgoblin maju, menberdirikan kakek dengan mengangkat kedua bahunya.
pria itu maju dan berdiri sangat dekat didepan kakek. mendekatkan wajahnya dan menatap wajah kakek tepat dimatanya.
dengan tanpa takut kakek menatap wajahnya dengan amarah yang belum padam. menggerakkan giginya dan mengepalkan tangannya.
"heh, kau punya nyali juga ternyata orang tua."
ucap pria itu.
"tutup mulutmu dasar monster kejam!" teriak kakek.
"apa yang kau tunggu! bunuh saja aku!" teriak kakek pada pria itu.
"tentu, kalau aku ingin membunuhmu sudah pasti kulakukan dari tadi. aku sudah dengar tentangmu Rondo touji, dan aku ingin membuat kesepakatan denganmu."
kakek hanya diam saja sambil menatap pria itu.
"oh maaf aku lupa, namaku Deuce. dan aku ingin membuat sebuah kerajaan diatas desamu dan juga desa-desa sekitaran lainnya." ucap pria itu dengan sombong.
"kau mau kami pindah dari tempat ini dan tidak mengganggu kerajaanmu lagi? baiklah akan kulakukan." ucap kakek menebak.
"hahahaha konyol sekali! cambuk dia!" teriak pria itu.
seekor hobgoblin mengeluarkan cambuknya dan mencambuk kakek dengan sangat kuat.
"aaagrgrhghh!!!" kakek berteriak tatkala darah segar mengalir keluar dari punggungnya.
"dengar orang tua, aku bisa saja membunuh kalian semua dengan pasukan goblin yang aku miliki!" ucap pria itu mengancam dan menjambak rambut kakek.
"tapi sayangnya bukan hanya desa kalian saja yang perlu aku ratakan. dan aku benar benar kesal tentang goblin Horde yang berhasil kalian hentikan itu! Apa kau tahu seberapa besar kerugianku hah!!!" pria itu memukul wajah kakek.
"hanya demi satu desa aku kehilangan lima ribu goblin dan satu goblin champion. apa kau tahu berapa tahun yang kubutuhkan untuk mengumpulkan sebanyak itu hah!!! dan jangan lupakan semua uang yang kuhabiskan untuk memberi makan mereka!" pria itu terus memukul wajah kakek tanpa henti.
"dengarkan ini orang tua" pria itu menjambak rambut kakek dengan kuat dan mengarahkan wajahnya dekat dengan wajah kakek.
"dengarkan ini baik baik, ini adalah kesepakatan yang akan kita buat. jika kau menerimanya kau akan kubiarkan hidup. tapi jika kau menolaknya maka kau akan mati disini sekarang juga." ucap pria itu didepan wajah kakek.
"berpura-pura lah kalau gerombolan goblin di balai desa sudah pergi. datanglah kepada warga wargamu dan bawa mereka kembali ke desa."
"pimpin mereka menuju balai desa dan ketika kau sudah sampai di balai desa. aku akan menjebak mereka dengan perangkap yang sudah aku siapkan. Aku akan mengikat mereka semua dan menjual mereka ke pasar gelap. aku bisa saja membunuh mereka semua tapi harganya akan jauh lebih mahal kalau mereka hidup."
"jangan khawatir aku tidak akan berbohong tentang keselamatan nyawamu. kita akan lakukan kontrak darah." ucap Deuce meyakinkan kakek.
dengan tubuh yang tidak berdaya kakek mendengarkan, dan ia perlahan membuka mulutnya.
"a... ak.. aku lebih baik mati!" ucap kakek dengan semua tenaga yang dimilikinya.
"dasar kau kakek sialan!!!!" Deuce memukul wajah kakek.
"Sepertinya tak ada pilihan lain. Habisi dia!" Deuce keluar dari lingkaran para goblin meninggalkan kakek dan gerombolan goblin yang mengelilinginya
tanpa ada ampun, para goblin itu memukuli kakek sampai ia terkapar di tanah, darahnya bercurucan, air mata yang tak dapat dibedakan dengan darah membasuh seluruh tubuhnya. meninggalkan semua warganya, anak angkatnya, pelayannya, dan kenangan yang ada padanya.
Rondo touji, kepala desa dari desa rondo. pada hari itu menghembuskan nafas terakhirnya dengan tidak meninggalkan harga diri seorang pemimpin di jiwanya.
belum ada yang tahu tentang ini, saat ini semua warga desa sedang berlari. para goblin yang tadinya memakan makanan di balai desa mulai mengejar mereka. apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya.