Starting My New Life As An Adventurer

Starting My New Life As An Adventurer
kejutan yang mencurigakan?



(Hari ke-11 sampai ke-20)


Perkembanganku di sepuluh hari selanjutnya sangat terlihat. Meskipun begitu tak banyak hal yang mengejutkan yang bisa aku ceritakan.


Karena itu, semuanya akan kurangkum disini.


Di hari ke-14 aku mendapat bonus stat besar beserta +1 skill poin. Di hari ke-17 beberapa skill ku meningkat.


-Hp: +30


-MP:+18


-Stamina: +20


-Damage: +10


-Speed: +10


Skill yang naik level adalah samurai dan lung. Mereka berdua naik ke level II. Efeknya masing-masing meningkat 5%.


Yang terakhir, setelah latihan yang melelahkan, kemarin malam, tepat di hari ke dua puluh latihan akhirnya aku berhasil menguasai kamaitachi!


Setelah aku berhasil membuat kontrak dengan roh angin dan sepuluh hari latihan keseimbangan dan kekuatan akhirnya skill tebasan angin terdaftar di daftar skill ku dan langsung dapat kugunakan.


Aku dan yuki-san sangat senang karena dia bilang kalau berhasil menguasainya lebih cepat dari perkiraan. Dia bilang kalau dia pikir butuh waktu tiga puluh hari penuh bagiku untuk menguasainya, dan itu Masih tergolong cepat.


Kakek dan terutama kak Kiara sangat bangga kepadaku, kami bicara banyak tadi malam dan tertawa bersama saat makan malam. Meskipun di akhir makan malam kami aku melihat kakek dan Yuki sedang berbisik sesuatu yang sayangnya aku tidak dengar. Ya sudahlah, hari sudah larut dan besok kami harus latihan lagi, begitulah pikirku.


....


(Hari ke-21)


Pagi ini aku bangun dengan perasaan semangat, aku ingin cepat cepat berlatih dengan Yuki-san.


Pagi ini aku bangun dengan perasaan semangat, aku ingin cepat cepat berlatih dengan Yuki-san.


"Notifikasi, anda men..." Suara iris yang sudah menyapaku dengan notifikasinya.


"Eh, emm notifikasinya nanti aja ya iris saat ini aku lagi gak mood."


Aku bergegas bersiap untuk latihan, aku merasa hari ini aku akan belajar sesuatu, begitulah menurutku sampai pada saat kakek tiba tiba memanggil kami semua.


...


"Ada apa ini kek? Kami mau pergi latihan." Aku datang kepadanya dan menjawabnya dengan wajah sinis.


"Hei Hikaru bagaimana kalau hari ini kalian gak usah latihan dulu? Aku ingin mengajak kalian semua ke suatu tempat?" Kakek membalasku sambil menyiapkan kereta kuda yang sudah ada didepan rumah kami.


Tak biasanya kakek mengajakku dan malahan kami semua jalan-jalan, bukannya berpikiran buruk tapi terkadang kakek melakukan hal yang konyol dan menyebalkan jadi aku harus waspada.


"Bukankah itu ide bagus Hikaru? Kita terkadang juga harus beristirahat sejenak." Yuki-san juga membujukku.


Mencurigakan juga, apa apaan coba mereka, apa yang mereka rencanakan.


"Tapi Yuki-san, sebenarnya aku sedang semangat ingin latihan." Aku dengan halus menolaknya.


"Sudahlah hikaru, ayo kita pergi!"


Yuki langsung menarik lenganku dan melompat masuk ke kereta.


Dengan begitu aku,kakek,Yuki,Kiara naik ke kereta kuda yang sudah ada didepan rumah. Seperti sudah direncanakan. Yaa, baiklah aku ikuti saja mereka. Lagian sekarang aku juga jadi penasaran.


(Didalam kereta kuda)


Kami semua duduk tenang melihat pemandangan di sepanjang jalan tanpa ada membicarakan kemana sebenarnya kami akan pergi.


" kek, sebenarnya kita mau kemana sih?" Aku menanyainya dengan kesal.


"Kita sebentar lagi akan sampai, tunggu sebentar. Oh iya, bagaimana latihanmu?"


*Bruhhh


"kakek malah mengalihkan topik. Tapi sejauh ini aku sudah menguasai kamaitachi." Aku menjawab dengan sombong.


" Heh... hebat juga ya menguasai skill itu diumur 9 tahun, kakek menguasai skill itu diumur kakek 15 tahun. Dan sebenarnya itu masih termasuk cepat."


"Saya akan mengajari Hikaru banyak hal setelah ini." Yuki tersenyum membalas kakek.


" Tidak, tidak , ini karena pengajaran Yuki-san yang mudah dipahami."


*Crekk


(Kereta kuda pun berhenti).


"Baiklah semua, kita sudah sampai."


Kakek turun dan meminggirkan kereta kudanya.


Kami semua turun dari kereta kuda kami. Saat kulihat Pemandangannya tak berubah, suasana nya masih ramai dan hidup, kakek membawa kami ke pusat desa, sudah lama aku tidak kesini.


"Ayo ikut aku." Kakek mengajak kami semua dan kami saling berpegangan tangan ditengah keramaian.


...


Setelah berjalan beberapa saat.


"Wahh ini toko senjata paman yang dulu memberikan aku pedang kayu."


" Oyy, mitsuya! Kau didalam?" Kakek masuk kedalam toko itu dan menyapa sang paman pemilik toko.


Aku baru tahu nama paman itu mitsuya, terdengar lumayan gaul. Walapun jujur agak tidak cocok dengan badannya yang sedikit gemuk.


"Hei! ternyata Rondo kawan lama. Apa yang kau lakukan disini kapten? Apa kau mau membeli pedang baru?"


Aku langsung datang menyela pembicaraan mereka dan juga menyapa paman itu.


"Hai paman, apa paman masih ingat aku? Paman pernah memberikanku pedang kayu dan menceritakan aku tentang kota lozagon."


"ooh si anak tersesat. Bagaimana kabarmu? Apakah kau sudah memutuskan untuk berpetualang?"


"Hehe, aku sudah memutuskan. Aku sedang berlatih pedang sekarang." Aku tersenyum sambil mengusap kepala belakangku.


"Hahaha bagus bagus." Paman itu mengancingkan jempol kedepanku


...


...


Kulihat sekeliling toko, Setelah kulihat lagi tempat ini lebih besar dari yang kuingat, dan juga saat ini disini juga agak ramai


"Ini cucuku Hikaru, apa kau mengenalnya mitsuya?" Kakek memperkenalkanku lagi didepan pemilik toko.


"Wah kebetulan sekali, dulu anak ini pernah tersesat dan dia ke toko ini."


"Paman ini bercerita banyak hal dan tentang sejarah dan petualang."


"Jadi kau yang memberitahunya soal petualang, tapi baguslah kalau kalian sudah saling kenal. Ini akan lebih mudah." Kakek menambahkan


"Lebih mudah? Untuk apa?" Aku menjawab heran.


"Hari ini kamu akan memiliki pedangmu sendiri." Yuki menjawab dengan tersenyum.


"Haahhh, kenapa tiba-tiba seperti ini?, maksudku Aku sedikit terkejut."


"Tidak, sebenarnya setiap murid yang bisa menguasai kamaitachi akan diberikan pedang untuk dirinya sendiri."


"Sekarang pilihlah yang mana yang kau suka, Rondo-ji sepertinya sudah bicara dengan pemilik toko jadi sebaiknya kau pilih pedang yang mahal dan bagus." Yuki menunduk dan berbisik padaku


"Oi, aku masih mendengarnya." Kakek langsung menanggapi bisikan Yuki.


"Baik rondo-ji."


"Hati hati dijalan kapten!" Paman pemilik toko melambai kepada kakek.


...


"Aku penasaran kenapa paman memanggil kakek dengan sebutan kapten?"


"Oh, saat aku masih menjadi petualang kami pernah di misi yang sama, dia kaptennya jadi aku terus panggil dia begitu." Paman itu menjawab.


"Ngomong ngomong, jenis pedang apa yang kau inginkan?"


"Karena saat ini aku sedang mendalami teknik samurai, mungkin sebaiknya katana saja. Tapi apakah ada seperti ukuran anak anak?"


"Menurutku lebih baik kau langsung terbiasa dengan katana ukuran orang dewasa. Karena para penempa pedang sangat jarang atau bahkan tak pernah membuat pedang bagus untuk dipakai anak anak. Skill mu sudah tidak cukup hanya dengan katana seperti itu." Yuki membalasku dengan nasihat.


"Kurasa benar juga, tolong bawakan aku pedang ukuran dewasa terbaikmu paman."


"Baiklah tunggu sebentar ya, aku akan ambilkan beberapa katana ku."


Paman itu pergi mengambil beberapa katana yang dipajang, dia juga masuk ke dalam gudangnya. mungkin dia mengambil sepuluh katana, atau mungkin sebelas.


"Baiklah ini dia, apa ada yang kau suka?" Dia meletakkan katana-katana nya di atas meta dan kami duduk dikursi mengelilingi meja.


"Katana-katana ini lumayan, apakah ada yang menarik perhatianmu?" Yuki menanyakanku sambil melihat lihat detail setiap katana.


"Hmm, beri aku waktu sebentar ya."


Aku berpura pura memandangi setiap katana dan berbicara dengan iris.


"Hei Iris, apa menurutmu ada pedang yang bagus diantara katana katana ini?" Aku langsung bertanya padanya.


"Jawab, tidak ada yang terlalu menarik, kualitas katana katana ini bagus tapi hanya itu saja."


Kualitas bagus tapi biasa saja ya, sebenarnya menurutku untuk seseorang yang baru latihan itu tidak terlalu masalah tapi kalau saja aku bisa mendapat katana yang sedikit unik aku juga tak akan menolak. Karena saat diberitahi kalau aku akan dapat pedang milikku sendiri aku sedikit berharap itu punya kekuatan super seperti dapat mengeluarkan api.


Yah tapi yang seperti itu tidak mungkin ada ya...


*Cling cling (suara bel pintu toko yang dibuka)


"Permisi, saya datang ingin mengantarkan pesanan katana yang dipesan oleh toko ini" seorang kurir datang dan masuk ke toko.


Itu pesananku, tunggu sebentar ya. Oh ya Hikaru, lanjutkanlah memilih katanamu. aku akan kembali lagi." paman pemilik toko berdiri dan segera bergegas ke depan."


"Silahkan lihat dan pastikan katana nya." Kurir itu menurunkan semua banyak sekali tong kayu yang berisi katana dari sebuah gerobak yang ditarik oleh keledai.


"Baiklah ini sesuai sepuluh tong. Terimakasih ya, ini uangnya." Dia memberikan sejumlah uang dan membawa masuk katana katananya.


"Terimakasih..." Kurir tersebut pergi.


"Notifikasi, sepertinya saya merasakan suatu hawa yang menarik dari salah satu katana yang baru saja dibawa masuk ke toko." Iris tiba tiba berbicara.


"Maksudmu pedang-pedang yang disitu? Aku menunjuk ke arah tong tong yang sedang dibawa paman pemilik toko.


"ya, benar." Iris mengonfirmasi


"Baiklah." Aku langsung berdiri dan menuju ke katana yang baru saja sampai di toko itu.


"Apa yang disana itu juga katana paman?" Aku mendekati paman pemilik toko dan melihat lihat katana yang baru sampai ini.


"Oh ini, ini adalah katana katana lama atau bekas. pedang pedang ini tidak lebih baik dari yang kutunjukkan padamu." Paman pemilik toko membalas.


"Yang mana yang kau bilang menarik Iris?"


"Yang disana, yang memiliki sarung hitam dengan ornamen. Didalam tong ketiga dari kiri."


"Boleh aku lihat pedang yang itu paman?" Sambil menunjuk pedang yang disebutkan iris.


"Nih." Paman pemilik toko mengambil katana itu dan memberikannya padaku.


"Bisakah kau menganalisa pedang ini iris?" Aku memposisikan katana ini didekat mataku.


"Melakukan analisa..."


"Tampaknya pedang ini akan memberikan sesuatu setelah digunakan oleh pemiliknya dalam beberapa waktu, tapi apa yang akan diberikan dan berapa lama yang diperlukan untuk mengaktifkan kekuatan itu saya belum mampu menganalisanya di level sistem saya sekarang." Iris menjawab.


"Skill misterius ya, kelihatannya menarik. paman, apa kau menjual katana ini?"


"Ya, aku menjualnya sih, apa kau suka dengan katana itu?"


"Ya aku mau yang ini, tak apa kan Yuki-san?"


"Pilihlah sesukamu."Yuki-san hanya tersenyum dan menyetujui pilihanku.


"Katana ini sudah sedikit lama apa kau tak masalah dengan itu?" Paman pemilik toko memperingatkan ku.


"Tidak masalah, aku suka katana ini."


"Hmm, tapi Kenapa kau mau katana yang ini?" Paman itu heran dengan pilihanku.


"Hmm entahlah, aku rasa aku hanya suka pedang itu." Aku hanya menjawab seperti itu. tak mungkin kukatakan aku mendengar sebuah bisikan dari sebuah makhluk yang ada di kepalaku.


Tentu saja paman pemilik toko itu bingung. Tapi sepertinya dia juga tidak terlalu peduli


"Yah terserahlah, ada yang bilang kalau pedang dan pemiliknya saling terhubung melalui perasaan insting atau semacamnya. Baiklah aku akan poles sedikit, itu akan membuatnya sedikit mengkilap. Tapi usahakan jangan memukulnya terlalu keras. Kalau ini rusak mungkin butuh seminggu untuk diperbaiki."


"Satu Minggu? Kenapa lama sekali?"


Aku terkejut mendengarnya


"Memperbaiki pedang memang membutuhkan waktu yang lama terutama untuk jenis katana yang termasuk kategori pedang yang tipis, jadi usahakan jangan terlalu sering rusak, tapi harusnya kalau dipakai secara normal tidak akan masalah."


*Cling cling


"Aku kembali, apa kau sudah memilih katana yang kau suka Hikaru?" Kakek masuk bersama kiara


"Ya, aku sudah memilih yang aku suka"


"Nih, rajinlah berlatih." Paman itu memberikan pedangnya yang sudah dipoles padaku.


"Terima kasih paman." Aku membungkuk berterimakasih.


"Bagaimana apa kamu suka dengan katanamu?" Kakek bertanya padaku.


"Ya aku suka, terimakasih juga kek."


"Mulai sekarang latihan kita akan semakin serius jangan main main ya."


"Baik Yuki-san, terimakasih juga telah membantuku mencari katanaku."


"Ehem... baiklah, untuk pembayarannya mari kita diskusikan sekarang ya kapten hehehe." Mitsuta langsung memegang bahu kakek.


"ugh lumayan juga ya."


"Jangan pura pura bodoh kapten, itu kan sudah murah."


"Apa tidak ada diskon teman lama, emm gajiku sudah kuhabiskan untuk sake kemarin."


"Sudahlah bayar saja kapten."


"Baiklah..."


Katana-ku yang baru dipoles sudah dibayar lunas, Kakek sedikit murung setelah membayarnya sih.


Saat kami sampai ke rumah, kak Kiara langsung menyiapkan makanan yang baru dibelinya dan kami makan malam bersama dengan lahap di ruang makan bersama