
Gerah, betapa ramainya orang yang ada di balai desa sekarang. Saat ini semua penduduk dievakuasi di balai desa. Tentu saja makanan dan tempat berteduh disediakan. Tapi selain dari pada itu kami harus mengantri Berjam jam hanya untuk mandi. kami harus tidur di barisan yang lurus dan sempit. Banyak orang yang sudah menggerutu walaupun ini masih hari pertama. Banyak anak kecil yang menangis karena tidak nyaman dengan kondisi ini. Para petugas desa benar benar kewalahan membagikan makanan kami semua tiga kali sehari.
"Hey sistem, apa para goblin itu muncul secara sendirinya dari dalam hutan?"
aku berpikir tipe kemunculan goblin adalah spawn secara acak di hutan seperti di beberapa game RPG
"Tidak, selain roh semua makhluk tidak ada yg muncul tiba-tiba seperti itu." Sistem menjawab.
Huhh, jujur saja aku benci situasi ini. Kakek dan juga Erika meminta semua warga untuk tetap di balai desa dalam waktu seminggu. Aku juga sudah dengar dari warga lain kalau kakek memutuskan untuk bekerja sama dengan para bandit.
Saat ini jam sudah menunjuk ke angka dua belas Tengah hari, titik terpanas sepanjang hari. Banyak orang semakin menggerutu dan beberapa lagi mulai protes.
"Woi! Apa yang sedang dilakukan Eugene si kepala militer itu! Kenapa kami belum bisa pulang!" Entah dari arah mana tiba tiba seorang pria setengah mabuk menarik kerah seorang petugas penjaga dan berteriak didepannya.
"Pak, tolong jaga sikap anda. Tetaplah di kamp evakuasi anda sampai semua ini selesai." Petugas itu menjawab dengan wajah sedikit ketakutan.
....
Di tempat yang lain Margaret dan kakek datang ke markas para bandit dengan uang yang dijanjikan.
"Ini dia, tiga ratus keping emas seperti yang disepakati." Margaret meletakkan sebuah peti berisi penuh keping emas.
"Hei kau, hitung itu." Vaustine menyuruh seorang anak buahnya sambil duduk dikursi singgasana bandit ya layaknya seorang raja.
"Semuanya pas tiga ratus keping bos." Salah satu anak buah Vaustine melaporkan padanya.
"Uang muka sesuai dengan perjanjian. Baiklah langsung saja kita buat kontrak darahnya." Kakek langsung berbicara tanpa basa basi.
"Wah wah emang perlu pake kontrak darah. Aku merasa tersinggung nih. Seakan aku tidak dapat di percaya." Ucap Vaustine.
"Berhenti bercanda! Tidak ada yang mau percaya dengan kalian. Jika kau tidak berniat untuk berkhianat maka kontrak darah ini tidak akan berefek apapun. Tapi kalau kau melanggar kontrak maka kau akan mati."
"Wah seramnya, aku sampai merinding ketakutan hehe." Vaustine hanya menjawab meremehkan.
"Terserah saja, mau kontrak darah atau apapun itu."
"Berikan setetes darahmu padaku. Letakkan di cawan ini." Kakek memberikan cawan yang terbuat dari kaca padanya.
Joseph menusuk jarinya dan meneteskan darahnya kedalam cawan, kakek juga melakukan hal yang sama setelah itu.
"Kontraknya sama seperti yang kita bicarakan saat rapat, jika salah satu dari kita melanggar kontrak ini maka pelanggarnya ini akan mati. Joseph Vaustine, aapakah kau menerima perjanjian kontrak dengan jaminan nyawamu ini."
"Hmm ya terserah aku setuju."
Sebuah bercak hitam mulai terukir di tangan kiri kakek dan Vaustine. Seperti tato berbentuk rantai yang mengelilingi tangan kiri mereka.
"Baiklah sudah selesai, jangan lupa segera bawa anak buahmu ke perbatasan Utara. Aku akan ke balai desa. Temui Eugene. Dia yang pegang kendali dalam perang ini." Kakek kemudian pergi meninggalkan markas bandit itu bersama bendaharanya.
....
Saat ini di perbatasan Utara, eugene masih memimpin pasukan pertahanan.mendengar setiap laporan dan menyusun semua strategi di dalam tendanya.
"Bagaimana laporan aktivitas didalam hutan?" Eugene bertanya pada salah satu prajuritnya.
"Tidak ada tanda tanda serangan dalam waktu dekat kapten." Prajurit itu menjawab.
*Drap drap, suara derap kaki kuda yang medekati tenda Eugene.
"Kapten kapten! Lima ratus pasukan bandit dan Joseph Vaustine sudah datang!" Seorang prajurit lain berlari masuk ke dalam tenda Eugene memberi laporan.
"Arahkan mereka ke tenda untuk mereka. Dan juga panggil Vaustine ke tendaku. aku ingin berdiskusi padanya." Eugene memerintahkan prajuritnya.
Semua pasukan bandit diarahkan menuju pos mereka masing masing. Tak lama Joseph sampai di tenda Eugene sendirian.
"Sombong sekali kau ya komandan pemula. Kau tidak menyapa kami saat pertama kali sampai." Joseph masuk ke tenda Eugene.
" Jangan membuatku tertawa, jangan pikir kalian akan diperlakukan dengan hormat seakan kalian adalah pasukan kerajaan." Eugene menjawab dengan wajah kesalnya.
" Oh ya sudahlah, sudah cukup basa basinya. Aku datang ingin bertukar informasi dengan pasukan kalian."
Joseph segera menyudahi pertengkaran mereka yang jika dilanjutkan akan melanggar kontrak yang dia buat.
Eugene kemudian menarik nafasnya, dan mempersilahkan Joseph untuk duduk di meja strategi bersama dengannya.
" Jadi, sudah seberapa jauh yang kalian ketahui tentang penyerangan ini?" Joseph bertanya padanya.
" Tidak banyak saat berpatroli di hutan Pasukanku hanya melihat beberapa goblin yang mungkin juga ditugaskan sebagai mata mata. Hanya ada pertarungan kecil satu hari terakhir ini." Eugene menjawab.
" Lama sekali ya kerja kalian, anak buah ku bilang mereka akan menyerang tiga hari lagi. Mereka sudah sangat yakin dengan itu."
"Hah! Bagaimana kalian bisa meramal kedatangan goblin!" Eugene tidak percaya dan memukul mejanya.
"Anak buahku mengawasi goblin itu sampai ke markas mereka. Mereka sedang mengumpulkan makanan. Kau tahu, tidak mudah memberi makan tiga ribu goblin yang rakus."
"Menghitung dari banyaknya jumlah mereka dan waktu persiapan yang diperlukan anak anak buahku yakin kalau penyerangannya setidaknya terjadi tiga hari lagi. Bagaimana dengan pasukan kalian, apakah kalian sudah siap tiga hari lagi?"
" Pasukanku selalu siap kapan saja. Namun aku tidak menyangka bahwa kalian para bandit memiliki kemampuan seperti itu." Eugene sedikit terkagum.
" Hah, itu bukan apa apa. Puluhan tahun hidup didalam hutan dan saat ini kami bisa meramal cuaca sepuluh hari kedepan."
" Ini informasi yang berguna, Tuan Rondo sudah menceritakan tentang kontrak darah kalian jadi kurasa aku bisa memegang ucapanmu. Aku yakin kau juga ingat bahwa isi kontraknya kau harus melawan goblin goblin itu dengan serius."
" Haha, terserah apa katamu. Kalau begitu aku pergi. Sudah tidak ada yang bisa kita bicarakan." Joseph berdiri dan bersiap pergi
"Tunggu Vaustine!" Eugene menghentikannya.
"Hah?" Vaustine menengok kebelakang.
"Aku hanya memperingatkanmu. Apapun itu rencana licik yang kau rencanakan buanglah semua itu karena kalau sampai itu terjadi maka aku yang akan membunuhmu."
Eugene menatap matanya dengan kuat.
"Membosankan..." Joseph meninggalkannya tanpa menjawab perkataannya.
....
Beralih ke tempat yang lain. Saat ini kakek sudah sampai di balai desa, dia menyapa para penduduk yang dijumpainya dan menuju ke ruangannya.
"Jadi Erika, bagaimana kondisi kamp pengungsian sekarang?" Kakek bertanya sambil duduk diatas mejanya.
Wajah Erika mengerut dan setelah menarik nafas dia memberitahukannya.
"Kurang bagus tuan Rondo, saat ini saya melihat sudah ada beberapa warga yang mengeluh. Ditambah lagi sudah tersebarnya rumor bahwa desa kita bekerja sama dengan bandit untuk mengusir goblin, ini membuat beberapa warga tidak senang dan mengkritik keputusan kita."
"Seperti yang kuduga tidak mungkin bisa disembunyikan. Erika tolong tahan pergolakan para warga selama yang kau bisa. Kami di perbatasan Utara juga akan dengan sekuat tenaga menyelesaikan ini secepat mungkin."
"Baik tuan Rondo."
Saat ini, di kondisi yang tidak mengenakkan di balai desa. Para warga yang tidak bersyukur dan kegaduhan yang segera datang. Semua orang sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.