Starting My New Life As An Adventurer

Starting My New Life As An Adventurer
Boss of bandits, Joseph Vaustine



Setelah satu hari yang melelahkan, dan tak ada goblin yang menyerang malam itu. Kakek pergi menemui seseoranv di dalam hutan dan setelah itu kakek pulang untuk tidur dan bersiap untuk rapat keesokan harinya.


Besoknya...


"Oh tuan kepala desa sudah sampai."


Erika menyambut kakek yang baru saja sampai dengan kudanya.


"Apakah aku terlambat? aku sedikit terlambat bangun tadi."


"Tidak, para anggota rapat baru saja sampai dan karena tuan kepala desa sudah sampai, rapat akan segera dimulai."


"Baiklah mari kita kesana" kakek dan Erika menuju ke ruang rapat.


"Silahkan masuk tuan Rondo." Erika membukakan pintu untuk kakek.


Didalam ruangan rapat yang diisi dengan meja berbentuk oval dengan dikelilingi kursi disampingnya kakek masuk kedalam. Para staf desa semua sudah datang dan mereka duduk dengan gaya mereka masing masing.


"Maaf sudah menunggu, rapat akan segera dimulai." Kakek duduk di bagian meja yang agak lonjong didepan dan memulai rapat."


"Baiklah rapat akan segera dimulai. silahkan tuan Rondo."


"Biklah, seperti yang kalian tahu semalam desa kita diserang. Mereka tiba-tiba berhenti dan kabur ke dalam hutan."


Seseorang yang duduk didekat kakek langsung menyela pembicaraan dengan nada sombong


"Sudahlah tak perlu jelaskan latar belakangnya lagi, Kami semua sudah dengar. Langsung saja ke intinya aku sudah bosan."


"Jaga mulutmu Hayate! Kau hanya wakil kepala desa, kau tidak pantas mencela perkataan tuan Rondo."


"Heh, dan kau hanya seorang komandan sialan. Biar aku beri tahu kalian semua, aku sama sekali tidak peduli meskipun desa jelek ini hancur lebur sekalipun." Dia dengan remeh menjawab dan duduk dengan sombongnya.


"Kau benar benar membuatku kesal!" Eugene berdiri dan langsung mengeluarkan pedangnya.


"Aku harap kau menyesal karena itu adalah kata kata terakhirmu." Eugene mengarahkan pedangnya ke lehernya.


"Sudah cukup! Eugene sudah cukup. Dan Hayate, sebaiknya kau tidak cari masalah. Jangan lupa akulah kepala desa disini. Orang menjengkelkan sepertimu bisa menjadi wakil kepala desa hanya karena kau bangsawan."


"Cihh..." Dia menjadi diam dan hanya memasang muka tidak senang.


"Baiklah seperti yang Hayate bilang aku akan langsung ke poin utama. Erika, tolong beritahu rincian berapa lama desa sanggup memberi makan penduduk."


*Darrr, suara tendangan dobrakan keras di pintu ruang rapat mengejutkan fokus para petinggi.


"Hai para orang bodoh" seorang pria dengan tampang berandalan masuk begitu saja setelah mendobrak pintu


Lagi lagi datang sebuah gangguan yang mengacau rapat.


"Apa yang kau lakukan disini!" Eugene berdiri lagi dan mengeluarkan pedangnya.


"Vaustine, kukira kau tidak akan datang. Duduklah di kursi yang kosong." Kakek berdiri dan menyambut pria itu.


"Tuan Rondo! Kenapa kau mengundang ketua bandit ini ke ruang rapat kita. Mereka hanyalah pengacau dan pencuri!" Eugene dengan wajah marah tidak senang dengan keputusan kakek.


"Tenanglah Eugene, aku akan memberitahunya dalam rapat ini tapi tolong tunggu sebentar. Yang lainnya juga tolong bersabarlah." Kakek duduk dan mengambil nafas dalam dalam.


Sebelum itu sebenarnya setiap orang sudah mengenal satu sama lain, tetapi biar kuperkenalkan tiap tokoh buat kalian para pembaca Nama-nama orang yang ada di ruang rapat.


-Paling depan: Rondo touji, sang kepala


desa.


-Baris pertama kiri: hayate, wakil kepala desa. anak muda keturunan bangsawan yang sombong.


-Baris pertama kanan: Eugene, kepala pasukan keamanan. rambut pirang dengan badan besar


-Baris kedua kiri: Erika, sekretaris desa.


Wanita kantoran dengan kacamata.


-Baris kedua kanan: Kenzo kai, kepala layanan & laporan masyarakat. pria teladan dengan rambut hitam.


-Baris ketiga kiri: margaret, bendahara. Wanita kantoran dengan rambut pendek.


-Baris ketiga kanan: ooki, tokoh masyarakat/penasehat. kakek tua dengan baju biasa.


- Paling belakang: Joseph vaustine, pemimpin geng bandit. Seorang pria wajah angkuh.


"Erika tolong lanjutkan." Kakek memerintahkannya.


"Baik tuan Rondo, setelah saya dan tim saya menghitung jumlah ketersediaan makanan di lumbung kita. Dan jumlah pengungsi yang ada di balai desa. Kami memperkirakan desa kita dapat memberi para penduduk makan sekitar 3 Minggu."


"Bagus, itu lebih dari cukup sampai pasukan bantuan dari kerajaan sampai ke desa." Ucap kakek.


"Bagaimana dengan tempat berteduh para penduduk? Apakah semua sudah aman?" Ooki bertanya pada erika


"Di hari pertama mereka semua masih tidur secara berantakan. Untuk itu saya akan menugaskanmu ooki dan juga kenzo membantu mendirikan tenda dan membagikan selimut untuk warga yang ada di balai desa." Erika menjawab


"Baiklah masalah selanjutnya, berapa banyak prajurit yang kita punya?, Beritahu kami rinciannya." Kakek bertanya pada eugene


"Saat ini kita memiliki 750 orang prajurit. Dengan rincian lima puluh orang sebagai bantuan dan penjaga di balai desa, lima puluh orang sebagai penjaga di lumbung makanan dan gudang. seratus orang patroli di seluruh desa. lima ratus orang saat ini berjaga di sisi Utara untuk melawan goblin. Dan lima puluh orang sebagai pasukan pengintai di dalam hutan." Eugene berdiri dan menjelaskan pada semuanya.


"Baiklah joseph, aku dengar kelompok bandit kalian sudah menemukan kamp para goblin itu didalam hutan. Bisa kau perkirakan berapa jumlah mereka?" Ucap kakek.


"Yahh, kamp mereka sangat luas dan aku tidak bisa memperkirakan secara pasti tapi aku yakin ada sekitar tiga ribu, mungkin saja lima ribu." Dia hanya menjawab dengan santai.


"Hahhhh!" Kami semua tercengang dengan jumlah goblin yang diberitahukan Joseph.


"Jangan bercanda! Bandit seperti kalian mungkin pikir ini lucu tapi kami sedang serius disini!" Kenzo marah dan menujuk Vaustine.


"Aku tidak memaksa kalian untuk percaya. Dan satu lagi, bisakah kau langsung memberitahukan saja mengapa aku disini kepala desa yang hebat."


"Baiklah, intinya Joseph vaustine setuju untuk bekerja sama dengan kita untuk melawan goblin bersama."


"Tuan Rondo saya keberatan! Saya tidak mau bertarung bersama para bandit yang suka mencuri dan menyiksa orang." Ucap Eugene dengan keras.


"Tenanglah Eugene, sebenarnya aku juga tidak mau tetapi kita tak mungkin bisa melawan goblin-goblin itu sendirian."


"Aku bisa pinjamkan lima ratus anak buahku untuk bertarung bersama melawan goblin itu." Vaustine berkata dengan wajah sombongnya.


"Lima ratus orang!? Itu jumlah yang sama dengan prajurit yang menjaga perbatasan. Itu dapat meningkatkan kekuatan pertahanan kita 2 kali lipat." Ucap kenzo


"Ya walaupun memang berat bertarung bersama bandit tapi itu dapat menjadi bantuan yang sangat kita perlukan." Ucap ooki


"Jangan senang dulu. Tentu saja, ada beberapa syarat." Vaustine menyela mereka semua.


Wajah semua orang yang tadinya bersemangat kembali kesal dan curiga bersiap mendengar syarat licik dari sang pemimpin bandit.


"Beritahu kepada mereka." Kakek mempersilahkannya.


"Ehem...Baiklah syarat pertama kalian harus siapkan makanan buat mereka. Ya tentu saja bukan kami yang persiapkan."


"Baik, itu akan mengurangi jumlah persediaan makanan tapi tidak mengancam para warga." Erika sedikit melakukan perhitungan dan menyanggupi.


"Kedua, aku lihat beberapa goblin itu menggunakan senjata dan armor yang bisa dijual. Kalian mengerti maksudku kan? Intinya setelah perang selesai kami para bandit yang memiliki mayat-mayat goblin itu beserta perlengkapannya, setelah perang jangan ganggu kami ketika kami sedang mengambil senjata dan armor dari para goblin, mungkin juga beberapa perlengkapan prajurit kalian yang sudah mati."


"Baiklah aku mengerti." Eugene menjawab sambil menahan amarahnya.


"Dan syarat ketiga, kami ingin dibayar tiga ratus keping emas di muka."


"tiga ratus keping emas!?, Tuan Rondo jumlah itu setara dengan yang desa ini dapatkan dalam setahun. Jumlah itu terlalu banyak." Margaret tidak senang dan memperingati kakek.


"Aku tidak berniat tawar menawar dalam syarat-syarat ku. Kalian mau atau tidak?" Vaustine menjawab dengan wajah sombongnya lagi.


"Itu saja syarat syaratmu?" Ucap kakek dengan wajah tenangnya.


"Emm... ya itu saja kurasa sudah cukup."


"Baiklah, kalau begitu giliran kami yang memberi syarat."


"Pertama, kalian para bandit dilarang untuk membuat keributan, memancing kerusuhan ataupun mencuri senjata para prajurit di dalam pos perbatasan dan saat bertarung. "


"Kedua, kalian wajib menyerang goblin itu dengan serius dan tidak bermain main atau tidak mau menyerang mereka."


"Dan yang ketiga dan yang terpenting, jangan macam macam dengan penduduk kami, barang barang mereka, ataupun rumah mereka."


"Huhh... baiklah baiklah, akan kuberitahu anak buahku. Itu saja kan? Kalau begitu aku pergi dulu, aku harus memanggil mereka semua untuk langsung ke pos penjagaan bersama prajurit kalian hari ini. J dan jangan lupa bayaranku, tiga ratus keping emas paling lama besok saat matahari terbenam."


"Baiklah kurasa rapat pertemuan sampai sini saja, semua bubar! Laksanakan tugas kalian masing masing dan bersiap untuk serbuan goblin!"


Para petinggi desa bubar, hampir semua petinggi bergerak cepat dan melakukan tugas mereka dengan baik. Hayate langsung pulang ke rumahnya dan tidak memperdulikan apa apa, dan ketua bandit pergi dengan kudanya kedalam hutan menuju markas banditnya.