Starting My New Life As An Adventurer

Starting My New Life As An Adventurer
kabar duka



Beralih kepada ooki. Dia yang saat ini pingsan ditengah tengah dilihat oleh regu pencari dari kota Georgetown.


"Hei, lihat disana! Ada seorang pria tua yang pingsan." Seorang prajurit menunjuk kearah ooki.


"Tinggalkan saja, dia pasti sudah mati." Prajurit lain menjawab sepele.


Tak mendengarkan ucapan rekannya, prajurit itu turun dari kudanya dan memeriksa denyut nadi ooki.


"Dia masih hidup, Panggil dokter kesini! Kita bawa dia ke kota sekarang." Prajurit itu mengangkat ooki dan mereka bergegas berangkat ke kota.


...


Derapan langkah kaki kuda dari beberapa orang prajurit pencari sampai ke kota, mengantar ooki ke tempat perawatan layaknya orang orang yang ditemukan tim pencari sebelumnya.


Kenzo dan beberapa orang dari kami menghabiskan sebagian besar waktu berada di pos pengobatan korban terluka, mencari warga warga desa kami yang tertinggal dibelakang kami setiap saat dan memberikan kabar pada kami yang di pengungsian.


"Kenzo! Lihat ini, tuan ooki sedang dibawa menuju ruang perawatan!" Teriak salah seorang warga dari seberang.


"Aku akan kesana segera."  Ucap kenzo sambil bergegas.


Terburu-buru, para prajurit tidak mengizinkan Kenzo untuk melihat ooki bahkan hanya sekejap. Ooki langsung dibawa ke ruang perawatan.


"Maaf pak, tapi orang yang sedang kami bawa ini sedang tidak sadarkan diri dan harus diperiksa secepatnya." Ucap salah seorang prajurit membawa ooki masuk.


Ooki yang masih pingsan dengan wajah kesakitan dibawa masuk ke tenda penyelamatan korban invasi goblin. Puluhan matras dipenuhi oleh pasien luka luka lainnya. Beberapa suster dan seorang dokter berputar putar mengobati mereka semua secara bersamaan.


"Dokter, ada pasien lagi, yang satu ini lukanya parah." Seorang suster menghampiri dokternya yang sedang mengamati pasien lainnya.


"Baiklah, tidurkan dia." Ucap sang dokter.


Sang dokter membuka baju ooki, melihat baik baik lukanya dan memberinya obat yang dibutuhkan


"Ugh...." Ooki mengerang kesakitan.


"Dokter, pasien kelihatannya sudah tersadar." Ucap sang suster sambil mengambilkannya bantal ooki duduk di kasurnya.


"Dimana aku?" Ucap ooki dengan lemah.


"Anda sekarang ada di kota Georgetown, anda ditemukan terkapar di tengah jalanan dan dibawa kesini." Ucap salah seorang suster.


"Sebelum anda bertanya lebih banyak saya ingin bertanya dan memberitahu beberapa hal." Ucap sang dokter menyela pembicaraan.


"Siapa nama anda dan apa pekerjaan anda." Sang dokter mengambil kertas biodata dan sebuah pulpen.


"Namaku ooki, aku adalah penasehat dari desa Rondo." Ucap ooki.


"Apakah anda memiliki nama keluarga?" Tanya sang dokter.


"Tidak ada, orang desa tidak memiliki nama seperti itu."


Kenzo dan beberapa warga lainnya masuk kedalam posko pengobatan setelah mendengar suara ooki.


"Ooki, syukurlah kau selamat." Ucap kenzo dan warga lainnya.


"Emm sebenarnya tidak terlalu baik." Sang dokter mencela.


"Apa maksudnya? Apa yang terjadi dokter?" Tanya Kenzo.


"Lukanya tidak bisa disembuhkan, dan hanya masalah waktu sampai waktunya tiba." Ucap sang dokter.


"Uhukk..uhuk... Hikaru.. panggilkan dia dan juga Kiara. Bawa mereka kesini aku harus menyampaikan sesuatu pada mereka." Ucap ooki sambil memegang tangan Kenzo.


Mendengar permintaan serius ooki. Aku dan Kiara dipanggil secara tiba tiba menuju posko pengobatan. Tanpa tahu kenapa tepatnya kami dibawa kesini.


"Hikaru dan Kiara sudah sampai." Ucap salah seorang warga yang mengantarkan kami ke tempat ooki berbaring.


"Tuan ooki, syukurlah anda selamat." Ucap Kiara dengan nafas lega.


"..." Ooki hanya terdiam dengan wajah bersalah.


"Ada apa, kenapa wajahmu seperti itu." Kiara kebingungan.


"Maafkan aku, aku benar benar minta maaf." Air mata mulai bermunculan diwajahnya.


"Aku tak dapat menyelamatkan tuan Rondo. Aku membiarkannya mati didepan mataku." Tangisnya tak dapat tertahankan lagi. Dan dia menangis dengan keras.


Apa maksudmu ooki! Apa maksudmu tuan Rondo meninggal!" Kenzo tidak terima dan berteriak padanya.


"Maafkan aku..." Ucap ooki dan tak berkata sepatah kata lain.


"Tuan Rondo...." Kiara hanya bisa menangis mendengar berita yang dia dengar.


"Bagaimana ini, bagaimana nasib desa kita! Bagaimana dengan masa depan kita!" Para warga yang ada disitu berdebat satu sama lain dan mulai panik.


Mereka menuduh satu sama lain atas kejadian ini. Tentang bagaimana kejadian ini bisa menimpa desa kami. Semua kesalahan ditimpahkan pada para staff dan petinggi desa. Terutama ooki yang dianggap penyebab kematian kakek.


"Lihatlah ooki! Hanya demi menyelamatkanmu tuan Rondo harus merenggang nyawanya!" Ocehan salah seorang warga.


"Lihat juga Kenzo! Andai saja kita pergi dari desa bersama dengan tuan Rondo, pasti beliau masih ada bersama sama dengan kita! Tapi Kenzo meninggalkannya!"


"Ini salah Margaret si bendahara! Harusnya kita menyewa tentara bayaran untuk kasus goblin ini!"


"Ini salah Erika..... Ini salah Eugene..... Ini salah....." Tuduhan tuduhan putus asa mereka mereka limpahkan pada petinggi desa tanpa melihat diri mereka sendiri yang sebenarnya sedang dilindungi.


Aku ada disana, melihat bagaimana mereka mencaci maki semua petinggi desa karena kekalahan kami melawan goblin. Aku melihat mereka, yang melupakan semua kerja keras mereka yang membangun desa yang kami pernah tinggali. Aku melihat mereka, mereka bahkan melupakan waktu berkabung dan berduka untuk kakek yang telah tiada. Mereka melupakan itu semua dan hanya memikirkan diri mereka sendiri.


Aku hanya terdiam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Aku keluar dari tenda perawatan itu dan berlari sejauh yang kubisa. Ketempat dimana tidak ada siapapun yang melihat. Ke tempat dimana sedihku tidak diketahui.


Disebuah bukit batu diluar perumahaan orang orang, di daerah yang hanya ada danau dibawah dan tak ada yang lain. Aku berteriak dan meluapkan seluruh emosiku disana.


"Aaaarrrrggghhhhhhhh!!!" Aku berteriak sekuat tenagaku kemudian aku menangis. Menangis sekuat tenagaku sampai langit menjadi gelap. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini, kenapa orang baik sepertinya harus mati. Dia bukan tipe orang yang memiliki musuh, dia terkadang bersikap seperti anak anak namun dia orang yang penyayang. Dia suka pergi ke undangan pesta warga walaupun dia bilang itu hanya demi daging. Dia orang yang baik, dia tak pantas untuk mati.


Setelah menangis aku hanya duduk termenung di bukit itu dengan sedih. Mengingat semua kenangan dan berusaha menerima kenyataan ini.


"Kalau kau ingin mati setidaknya ucapkan salam perpisahan yang pantas dasar kakek tidak berperasaan!" Aku berteriak sendiri, dan aku menangis lagi.


"Setidaknya biarkan aku berterimakasih dasar bodoh! Biarkan aku berterimakasih karena telah merawatku selama ini." Aku menangis semakin kuat dan tak dapat kuhentikan.


"Setidaknya biarkan aku memanggilmu ayah walau hanya sekali..."


Sama seperti semua orang yang lain, aku putus asa. Aku juga berpikir seandainya aku lebih kuat aku pasti bisa melindungi desa terdiam


Aku terduduk tak berdaya diatas bukit.


"Hei iris, beritahu aku cara menghidupkan orang mati." Aku bertanya padanya dengan putus asa.


"Makhluk yang sudah mati tidak dapat dihidupkan kembali." Ucap iris singkat.


"Apa maksudmu! Kau kan sistem yang maha tahu. Oh aku paham, level sistemmu kurang kan untuk menjawab pertanyaanku ini." Ucapku dengan frustasi.


"Anda tidak bisa menghidupkan orang yang sudah mati." Iris menegaskan.


"Aku mohon, Katakan apa saja! Mitos atau legenda aku tidak peduli. Beritahu aku cara menghidupkan kakek." Ucapku memohon pada iris.


"Orang mati tidak dapat dibangkitkan kembali." Lagi lagi iris mematahkan harapanku.


Aku menjadi kesal dan memukul mukul pohon yang ada di dekatku sampai tanganku penuh dengan darahku sendiri. Melukai diriku sendiri untuk meluapkan kesedihanku.


Setelah tak tersisa sedikitpun tangis yang bisa kukeluarkan dan darah yang bercucuran dari tanganku aku memutuskan untuk kembali ke tempat pengungsian dan beristirahat.


Aku berjalan ke tempat aku dan Kiara tidur, aku melihat wajahnya yang berusaha untuk menahan tangisannya.


"Hikaru, dari mana saja kamu. Aku sudah mencarimu kemana-mana" Kiara menghampiriku dan memelukku.


"Kenapa kak Kiara sangat khawatir, aku hanya pergi sebentar." Aku berbohong sambil menutupi rasa sedihku.


"Aku sangat khawatir. Aku sangat mengerti akan kesedihanmu Hikaru. Aku juga sangat terpukul atas kepergian tuan Rondo. Tapi kamu tidak boleh gegabah. saat ini hanya kamu yang aku miliki Hikaru. Aku mohon jangan lakukan hal yang membahayakan dirimu." Kiara memelukku semakin erat dan menagis didepanku.


Dia benar, hanya dia yang kumiliki. Aku tidak punya siapa siapa lagi selain kak Kiara. Seseorang yang terlempar ke dunia ini tanpa orang tua dan kerabat. Aku hanya punya dia sebagai tempatku pulang. Aku memeluknya dengan erat dan bersungguh sungguh didepannya.


Kiara melepaskan pelukannya perlahan. Aku mengusap air matanya dan mencium keningnya. Dengan senyum lega yang tak dapat kugambarkan dia memelukku kembali dan menatap wajahku.


"Mulai sekarang kita akan saling menjaga satu sama lain. Aku akan menjadi kakakmu yang menjagamu dan kamu bisa menjadi adik yang kuat yang melindungiku. Kita tidak akan berpisah untuk selama-lamanya." Ucap Kiara dengan lembut sambil mengelus wajahku.


"Aku berjanji aku akan melindungimu. Dan aku tidak akan membiarkanmu terluka walau hanya sedikitpun." Ucapku meyakinkannya sambil menatap wajahnya.


Malam itu, setelah kabar duka yang kami dapat. Kami bersama mencoba untuk melangkah maju. Tanpa kakek di sisi kami. Aku dan Kiara memutuskan untuk saling mendukung satu sama lain sebagai hal terakhir yang masing masing kami miliki. Di malam itu aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku akan selalu melindunginya.


Kami menghabiskan sepanjang malam bertukar perasaan. Bercerita tentang sikap buruk kakek dan tingkahnya yang pemalas. Kami berhasil untuk tertawa dan mengenang kenangan kami dengan suka. Mengumpulkan semua hal baik yang masih tersisa. Kami tertidur lelap setelah kami bercerita panjang.