
Beberapa tahun setelah itu, Aku genap berumur 5 tahun. Tahun tahun sebelumnya biasa saja walaupun aku sangat bahagia dengan kehidupan normalku menjadi anak kecil. sarapan, bermain, membantu Kiara nee-san, dan makan malam bersama. Hal hal seperti ini kadang adalah hal yang kurindukan di kehidupanku sebelumnya.
pertumbuhanku sangat cepat dibanding anak seusia ku, aku bahkan bisa berbicara dan berlari lebih baik daripada anak seusia 10 tahun di desaku. Karena bahasa yang dimiliki di dunia ini sama seperti dunia ku dulu, aku tidak perlu repot repot untuk belajar membaca atau menulis lagi. Waktu luang yang banyak itu kuhabiskan untuk membaca buku di rak bukunya kakek atau membantu Kiara nee-san membersihkan rumah.
Beberapa tetanggaku mengatakan kalau aku sangat jenius karena aku bisa membaca,menulis,menghitung di umurku yang ke 3 tahun bahkan mereka bergosip kalau aku itu keturunan raksasa karena pertumbuhanku yang sangat cepat, benar-benar bermulut jahat.
"Tuan Hikaru tolong letakkan cangkir ini." Kiara memberikan cangkir yang baru saja dicuci kepadaku.
"Baik Kiara nee-san,"
saat ini aku sedang membantu Kiara nee-san mencuci alat alat dapur.
"Tuan Hikaru, kau tak perlu memanggilku nee-san seolah olah saya memang kakakmu, saya adalah pelayan di rumah ini, anda bisa memanggil sayadengan nama saya saja." Memberitahuku dengan nada seorang pelayan.
"Hmmm kalau memang aku bebas untuk memanggilmu aku akan tetap memanggilmu Kiara nee-san. atau mungkin apakah kau merasa tidak nyaman?" Aku melihat tepat di matanya.
"(sedikit tersenyum), kamu memang anak yang baik. kalau begitu aku akan tetap memanggilmu Hikaru mulai sekarang ya?"
"Ya, aku sangat senang nee-san memanggilku seperti itu." aku tersenyum padanya.
*Krrekkk
(Suara pintu dibuka dari ruangan kamar kakek)
"ahhhh, tidurku buruk semalam, badanku rasanya sakit sekali." Kakek menguap sambil keluar dari kamarnya.
"Wah wah luar biasa sekali, kenapa kakek baru bangun jam segini? Ini sudah jam 9 pagi. tidakkah kakek
melihat Kiara nee-san sudah bekerja dari tadi?" Aku memarahi kakek yang hampir setiap hari seperti itu.
"haa? ahh males ah aku baru bangun tidur, setelah bangun tidur sudah jelas aku harus minum kopi dan tidur lagi." Kakek berjalan lemas ke sofa dan tidur lagi.
"Sialan kakek tua ini, lagian bagaimana bisa kakek pemalas seperti ini bisa diangkat jadi kepala desa. Seharusnya dia itu jadi gelandangan saja." Aku menggerutu.
"Hikaru, (sambil menepuk bahu ku) tidak boleh berkata kasar seperti itu, Tuan Rondo adalah orang yang disegani di desa dan dia adalah sosok yang dapat diandalkan, lagian tugas membersihkan rumah adalah tugasku sebagai seorang pelayan dan tidak ada yang salah dengan itu." Nee-san menasihatiku.
"tidak, tidak, tidak. kakek tua ini harus belajar minimal untuk membersihkan kamarnya sendiri, lagian apa kakek gak malu? aku saja membersihkan kamarku sendiri."
"(dengan wajah malu sekaligus kesal) ahhhh, iya iya aku paham. setelah meminum kopiku ini aku akan membersihkan kamarku."
"enggak, kakek harus melakukannya sekarang." Aku kembali memarahinya
"Hmmph, Hikaru pelit." Kakek pergi ke kamarnya dengan wajah cemberut sambil membersihkan kamarnya.
"Kiara nee-san apa cuciannya sudah selesai? apa ada lagi yang bisa kubantu?"
"Tidak, hanya sisa menyapu rumah dan memasak makan siang. terimakasih Hikaru, kau sudah bisa beristirahat sekarang." Nee-san meletakkan piring terakhir di rak piring.
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi berjalan jalan keluar ok?"
"Baiklah,Hati-hati dijalan Hikaru dan ingat jangan lupa pulang untuk makan siang ya."
"Baiklah,aku pergi dulu." Aku berjalan keluar dari rumah.
(Saat aku sudah pergi, sementara itu didalam rumah...)
"(Kakek mengintip keluar dari pintu kamarnya), apa bocah itu sudah pergi?"
"Ya, dia sudah pergi tuan Rondo. oh iya, tuan tidak perlu repot repot membersihkan ruangan tuan sendiri, biar saya saja yang melakukannya."
"Hmmm tidak, kali ini biar aku saja yang melakukannya, aku juga tidak sibuk hari ini, maaf ya Kiara sepertinya aku sudah sering menyusahkanmu." Kakek meminta maaf dengan tulus.
"Apa yang tuan Rondo katakan, Mengurus rumah adalah tugas saya, lagipula saya tak akan lupa atas kebaikan tuan Rondo yang mau menerima saya sebagai pelayan di rumah ini."
"Hmm baiklah kalau begitu, aku sangat terbantu hahahaha" kakek berubah lagi menjadi orang menjengkelkan.
(Di tengah perjalananku berkeliling sekitaran rumahku)
"Tempat ini sangat sepi, hanya ada beberapa rumah, hutan dan perkebunan. mungkin saja kakek dikucilkan oleh rakyatnya sendiri dan mereka menjauhinya hahahaha" aku tertawa meledek kakek.
"Hey nak Hikaru, apa yang kamu lakukan disini?" Tiba tiba terdengar suara seseorang memanggilku dari belakang.
"(Sambil menolehkan kepalaku), oh ternyata nyonya arima, aku hanya berjalan jalan sebentar. kemana nyonya ingin pergi?
" Panggil saja aku ibu arima. aku ingin pergi ke pusat desa, ada beberapa barang yang ingin kubeli. oh iya, apa kau mau ikut?
"Apakah boleh nyonya arima? Aku akan sangat senang jika diizinkan ikut menemani ibu."
"Tak apa, aku juga senang ditemani belanja oleh anak baik sepertimu, ayo kita pergi." Dia memegang tanganku
"Tunggu dulu, aku harus minta izin kepada Kiara nee-san karena aku akan terlambat makan siang." Aku menarik tanganku darinya
"Tidak usah cemas, kita langsung pergi saja. biar aku yang urus kalau ada masalah." Ibu arima memegang tanganku lagi.
"Baiklah kalau begitu, aku rasa tidak masalah pergi seperti ini sesekali."
Kami berjalan beberapa saat dan berhenti untuk menyewa kereta kuda untuk sampai ke pusat desa. melewati hamparan Padang rumput yang hijau, beberapa rumah dan kamipun sampai di pusat desa.
"Wahh keren sekali gapura itu" aku mendongakkan kepalaku keatas melihat gapura yang baru saja kami lewati.
"Banyak sekali kereta kuda disini, jalanannya berbatu dan banyak orang berlalu-lalang. Tempat ini sangat berbeda dengan pemandangan di rumah kakek" aku terus melihat ke sekeliling.
"Tunggu sampai kau melihat pasarnya, itu adalah tempat yang paling ramai di desa ini."
"Walaupun daerah ini disebut desa, tapi pemandangan ini jelas jelas seperti pusat kota. Kenapa wilayah seperti ini tidak disebut sebagai kota saja ibu arima?" Aku bertanya kepadanya
"Benar sekali, desa ini cukup besar bahkan sudah cukup besar untuk dikatakan sebagai kota. kepala desa Rondo benar benar luar biasa mengembangkan desa ini yang tadinya desa biasa seperti desa lainnya menjadi tempat yang makmur seperti ini."
"Apa!? kakek tua itu?"
Aku terkejut tak percaya.
"Jangan berkata seperti itu, disamping perilakunya yang terkadang jelek namun memang dialah sosok dibalik pembangunan desa ini. satu satunya alasan daerah ini tidak disebut kota karena kudengar rondo-san sepertinya ada masalah dengan pihak kerajaan, padahal kalau desa ini menjadi kota desa ini dapat mengundang guild petualang untuk membantu desa ini."
Kami masuk ke pasar desa yang penuh dengan gerai toko dan orang orang, suara yang sangat ramai dari pedagang memenuhi pendengaran
"Selamat datang! silahkan masuk lihat lihat barang barang yang kami tawarkan disini."
"ayoo kesini anggur segar baru dari pertanian."
Keramaian pasar desa penuh dengan interaksi dan sangat hidup, kereta kami berhenti. aku dan Ny arima turun.
"Jangan jauh jauh dariku ya, tetaplah dibelakang ku dan jangan menjauh, tempat ini sangat ramai. paham kan?
Ibu arima memperingatkan ku
"aku paham." Aku mengangguk mengerti.
Pasar menjual banyak hal, mulai dari Roti, tepung, daging, bunga ,ikan, buah, sayur, kerajinan tangan dan juga benda benda unik seperti jimat dan batu sihir.
"aku beli ini 3 ikat." Ibu arima menunjuk ke sejenis tumbuhan.
"Harganya 3 koin perunggu." Sang pedagang tersenyum.
(Ibu arima memberikan uang dan tersenyum). "Terima kasih."
"Terima kasih, datanglah lagi" sang pedagang melambaikan tangannya
Ibu arima terus berjalan, membeli beberapa barang yang diperlukannya. Terlalu banyak hal menarik untuk dilihat disini, sampai akhirnya aku berhenti disebuah toko senjata yang sangat menakjubkan.
"Wahh keren sekali." dengan wajah terpukau akupun masuk ke dalam toko itu.
Segala jenis senjata dan armor dipajang di sekitaran toko itu pedang, tombak, panah, perisai dan baju zirah yang yang terlihat tersusun rapi di rak.
"Wah pedang yang ini terlihat keren sekali." Aku melihat sebuah pedang raksasa yang dipajang didinding.
"Hey anak kecil, dimana orang tua mu?" Seorang laki laki memanggilku.
"Eehhh",akupun tersadar bahwa aku terpisah dari ibu arima.
"Sepertinya aku tersesat."
"Kau tersesat ya, mari sini biar kuajak kau berkeliling" dengan wajah senang dan antusias terhadap ku dia mengajakku melihat-lihat.
"Apakah kau tersesat karena melihat semua senjata senjata yang berkilauan ini?"
"Ya mereka sangat luar biasa" aku menjawab dengan semangat
"Hahaha, ternyata kau paham juga. mereka semua ini adalah senjata kualitas bagus, yang ini adalah twinblade dari pasukan elf yang terkenal, yang ini adalah pedang Crusader kerajaan barat."
"Oh, dan lihatlah tombak ini." Dia mengambil sebuah tombak besar dengan gagang berwarna merah gelap dan bilah yang panjang dari dinding. tombak ini adalah tombak yang dipakai pasukan berkuda kerajaan gazel dalam perang 1000 hari dengan negara silvania, apakah kau tau tentang perang 1000 hari nak?"
"Aku tidak tau."
"Perang 1000 hari adalah perang perebutan kota strategis bernama lozagon antara kerajaan gazel dan negara silvania."
"Kota ini memiliki pelabuhan, perumahan dan benteng yang sangat besar. terletak di tengah tengah laut tetapi selalu ramai dan dikunjungi pedangang, beberapa pedagang bahkan menyebut kota ini kota surga."
"Wahh hebat sekali, siapa yang memenangkan pertarungan itu?"
(Sambil mengelap tombak itu)
"Pertarungan merebut kota lozagon berlangsung tepat 1000 hari, itulah kenapa dinamakan perang 1000 hari.
Pertarungan perebutan kota itu sangat sengit, kedua negara menguasai kota itu bergantian namun hanya dalam beberapa hari direbut lagi oleh negara musuh dan terus seperti itu."
"Sampai akhirnya sang Raja gazel mengirim armada kapal yang dinamakannya 'hakurou', armada kapal perang yang dapat menampung banyak prajurit dan penuh dengan meriam. Tombak ini adalah jenis yang dipakai para prajurit itu."
"Kerajaan silvania kewalahan dengan serangan pasukan hakurou, ditambah dengan adanya serangan lain dari negara tetangga yang berusaha untuk menginvasi silvania. Akhirnya pemimpin negara silvania terpaksa menarik pasukannya dari kota lozagon dan pertempuran dimenangkan oleh kerajaan gazel, tombak yang membawa kemenangan ini dinamakan tombak hakurou sesuai dengan nama pasukan itu."
"Dimana kah kota itu berada tuan paman?" Aku bertanya penasaran.
"Hahaha, kota itu sangat jauh dari sini. kau harus melewati beberapa kerajaan dan lautan yg berbahaya untuk sampai ke sana." Dia berkata seolah olah itu mustahil untuk hanya bertamasya kesana.
"Hmm, mungkin akan bagus jika aku kesana suatu saat."
"Wah anak kecil apakah kau tertarik untuk menjadi seorang petualang?"
"Petualang ya....."
"Ya petualang, kau bisa menjelajah banyak tempat yang belum dikunjungi orang orang dan bertemu dengan orang orang hebat diseluruh dunia."
"Sepertinya menyenangkan."
"Ya, sangat menyenangkan. akupun dulunya adalah seorang petualang dan akhirnya menetap disini setelah aku menikah. dengar nak, masih banyak tempat misterius yang belum pernah didatangi orang sebelumnya."
"Benarkah itu?"
"Ya, sampai sekarang belum ada orang yang sudah memetakan seluruh bagian dari dunia ini. dunia ini sangat amat luas penuh dengan keajaiban dan misteri itulah tujuan petualang mengembara, untuk menemukan keajaiban itu. Duduklah nak, Akan kuceritakan beberapa cerita bagus lainnya."
Pemilik toko itupun terus bercerita tentang banyak hal denganku sampai hari mulai gelap dan akhirnya ibu arima datang.
"Permisi, apakah kau melihat seorang anak kecil dengan rambut biru disekitar sini?" Ibu arima bertanya ke setiap toko.
"Nyona arima aku disini!" Aku melambaikan tanganku padanya.
"Yaampun darimana saja kau, aku sangat khawatir." Ibu arima kemudian memelukku.
"Dia tersesat dan aku menjaganya disini" paman itu datang dan memberitahukan kejadiannya pada ibu arima.
"Terima kasih banyak tuan pemilik toko. sekarang Hikaru, mari kita pulang."
"Baik ibu arima, paman pemilik toko aku pergi dulu" aku melambaikan tanganku dan berjalan pergi bersama ibu arima.
"Eh tunggu dulu, sebelum kau pergi nih kuberikan sesuatu untukmu"
Dia memberikan sebuah benda yang dibungkus dengan kain.
"Apa ini?" Aku bertanya padanya
"Itu adalah pedang kayu, kau bisa mulai latihan untuk menjadi petualang dengan itu, Tak perlu membayarnya hahahaha."
Terima kasih banyak, baiklah kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa lagi paman."
"Ya hati hati dijalan." Paman itu melambaikan tangannya pada kami.
Saat kami pulang hari sudah nampak gelap dan saat aku sampai dirumah tentunya aku dimarahi oleh Kiara nee-san sangat lama karena tidak memberi kabar karena pulang telat, ibu arima langsung kabur dan tidak mau membela ku.