Starting My New Life As An Adventurer

Starting My New Life As An Adventurer
apa yang terjadi di balai desa



"Hahhh... Huhhh...hahhhh...." Suara berat nafas Eugene saat mencoba kabur dari ladang jagung. Dia berlari tanpa arah, tingginya pohon jagung dan lebatnya mereka membuat Eugene tidak sadar bahwa dia berputar putar di ladang itu.


Tidak ada yang bisa dia lakukan seorang diri. Setiap kali dia berlari, dia terus mendengar teriakan regu-regu pasukannya yang dibunuh satu persatu. Tidak ada waktu untuk bergabung. Tidak ada waktu untuk berpikir. Dia terus berlari dan berlari cukup jauh dan murni keberuntungan Eugene berhasil keluar dari ladang jagung labirin itu.


Eugene berpikir bahwa dia sudah aman, namun dia masih mendengar suara-suara goblin yang mengejarnya. Tanpa ada pilihan Eugene berlari lagi dan bersembunyi di hutan tak jauh dari ladang.


....


Berganti ke balai desa, tidak ada seorangpun tentara yang berjaga disini saat ini. Semuanya telah dikerahkan menuju ke perbatasan Utara dan seperti yang kalian ketahui hampir semuanya tewas.


Walaupun begitu tidak ada masalah yang cukup serius atau kegaduhan yang membutuhkan seorang prajurit.


Kehadiran kakek yang disegani semua orang ternyata cukup efektif menekan beberapa penduduk yang protes dan mengeluh.


"Tuan Rondo, apakah kami masih lama lagi disini? Apakah pasukan kita belum menang melawan goblin itu?" Beberapa orang berkumpul di sekeliling kakek dan mengeluh.


"Tolong bersabarlah semuanya. Aku belum mendapatkan berita apa apa dari pasukan Utara kita, besok aku akan kirim Kenzo untuk melihat keadaan disana. Tapi untuk sekarang, sebaiknya kalian bersabarlah." Dengan wajah meyakinkannya kakek membujuk para warga.


Satu persatu warga menerima pernyataan kakek dan pergi, walaupun mereka kembali dengan wajah tidak terlalu puas, namun setidaknya semua berjalan dengan aman.


....


Saat ini aku sedikit menjauh dari balai desa. Berjalan-jalan menuju tempat yang sedikit lebih nyaman dari balai desa. Aku tahu kakek meminta semua orang jangan kemana mana. Memang sedikit melanggar peraturan dari kakek sih, tapi Setelah berhari-hari disini aku juga sedikit muak dengan atmosfer orang-orang dan juga hawa panas dari kerumunan. Paling tidak setidaknya aku butuh udara segar sebentar.


Tak lama setelah aku berjalan ada sebuah taman yang tak terlalu jauh dari balai desa, tak ada orang disini. Aku mengeluarkan katana ku dan berlatih disini menghabiskan hari yang membosankan.


Sebenarnya aku bisa saja berkumpul dan bermain bersama anak seusiaku, mereka berkumpul bersama dan bermain-main didepan balai desa. Tapi entah kenapa, entahlah, umurku didunia ini memang sekitar sepuluh tahun tapi seharusnya jika ditambah dari umurku dari dunia sebelumnya maka sekarang aku sudah berusia dua puluh tujuh tahun.


Aku sudah mencoba berkumpul dan bermain dengan mereka, tapi saat aku berkumpul dengan mereka rasanya seperti berbicara dengan orang bodoh. maksudku wajar saja, mereka masih berumur sepuluh tahun. Ditambah lagi kebanyakan dari mereka cengeng. Lebih baik aku menyendiri di taman ini dan mungkin sedikit berlatih dari buku yang ditinggalkan Yuki-san padaku.


Setelah selesai melakukan pemanasan, Aku berlatih dengan damai di taman yang sepi ini. Aku mempelajari gerakan-gerakan baru sambil terus melihat isi buku. Ditengah latihanku yang damai, tiba-tiba ada seorang pria dengan pakaian yang mewah datang menghampiriku.


"Wahh, teknik pedang utara." Pria itu datang dengan sebatang rokok yang menyala dibibirnya.


Aku melihatnya sekilas dan lanjut berlatih, tapi pria itu semakin dekat padaku dan dia duduk di sebuah ayunan yang ada di sampingku.


"Katakan bocah darimana kau pelajari teknik itu?" Pria itu bertanya dengan nada penasaran.


"Guruku, dia seorang prajurit kerajaan." Aku menjawabnya seraya terus melakukan gerakanku.


"Pantas saja, oh ya, ngomong ngomong gerakan yang bagus! Berapa umurmu bocah?" Pria itu bertanya lagi.


"Sepuluh tahun, dan jangan panggil aku bocah. Namaku Hikaru." Aku membalasnya.


"Haha, baiklah baiklah. Kalau begitu namaku Deuce. Senang bertemu denganmu Hikaru." Pria itu meminta maaf dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku.


"Baiklah, senang bertemu denganmu juga." Aku menjabat tangannya.


Entah setelah beberapa set latihan, namun setelah beberapa saat aku menyudahi latihanku. Aku dan pria itu duduk di sebuah ayunan yang bersampingan.


"Aku belum pernah melihatmu di balai desa Deuce, dimana kau tinggal?" Aku memulai percakapan dan bertanya padanya.


"Oh aku bukan warga desa ini, Aku hanya istirahat sebentar dan merokok." Dia menjawab dan membakar rokoknya lagi.


"Untuk apa kau datang kesini." Aku bertanya padanya.


"Singkatnya aku ada urusan disini. Tapi kurasa persiapannya belum selesai jadi aku bisa istirahat sebentar." Dia menjawab dengan santai.


"Aku penasaran, kenapa bocah sepertimu sudah mempelajari teknik pedang utara? tidakkah kau mau bermain dengan anak anak seusia denganmu?"


"Aku tidak suka bermain dengan mereka. Dan aku melakukan ini semua karena aku ingin menjadi petualang." Aku menjawabnya.


"Kurasa bukan tawaran yang buruk." Aku menjawabnya.


"Baiklah ini dia... Untuk berpetualang melewati berbagai macam tempat perlu yang namanya uang. Dan dalam kondisi tertentu petualang akan sangat sulit mengumpulkan uang. Untuk itulah sebaiknya kau membawa seorang atau beberapa budak dalam perjalananmu."


"Selagi kau menikmati petualanganmu kau dapat memerintahkan mereka bekerja dan mengambil uangnya. Jika tidak ada pekerjaan untuk mereka dan kau butuh uang kau bisa menjualnya." Dia mengatakannya dengan wajah yang santai.


Mendengar perkataan dari pria itu amarahku langsung sampai ke puncak dan seketika aku berdiri dihadapannya.


"Kau benar benar bajingan!


Terimakasih atas 'nasehat' mu tapi aku tidak akan melakukan hal yang keji seperti itu!" Aku dengan tegas menjawabnya.


"Fuhhh.... Ternyata kau juga tidak mengerti.... Terserah apa katamu bocah, namun begitulah cara kerja dunia ini." Pria itu juga berdiri dari tempatnya.


"Membosankan, kurasa waktu istirahatku sudah selesai. Aku pergi bocah, dan aku harap kau tidak mati saat menjadi petualang." Pria itu berjalan pergi meninggalkanku sendirian di taman.


"Apa - apaan tadi orang itu, aku tidak menyangka ada orang sebejat dia!" Dengan wajah kesal aku menendang batu yang ada di dekatku.


"Kurasa saat ini aku kembali saja ke balai desa. mood-ku rusak dan aku sudah tidak semangat untuk latihan." Dengan menghela nafas aku berjalan kembali ke balai desa.


Disepanjang jalan aku terus memikirkan perkataan pria itu, betapa kejinya apa yang dia katakan namun aku masih tidak mengerti beberapa hal.


"Tapi kalaupun melakukan seperti yang dia katakan, bukannya akan berbahaya. Maksudku bukankah para budak itu dapat memberontak?" Aku bertanya tanya pada diriku sendiri.


Tanpa kusadari suara iris terdengar dan ia menjawab dari kepalaku.


"Jawab, ada sebuah cara untuk mencegah budak memberontak. Sang tuan dapat membuat kontrak darah dengan sang budak dan dengan cara seperti itu si budak tidak akan bisa membunuh tuannya. Bahkan dengan cara apapun."


"Dengan cara apapun maksudnya jika sang budak membunuh tuannya maka si budak juga akan mati?" Tanyaku pada iris.


"Kurang tepat, Sistemnya tidak seperti itu, kontrak perbudakan mencegah sang budak untuk membunuh tuannya. Bahkan walau itu hanya masih sekedar niat."


"Ketika sang budak menaruh dendam dengan tuannya, seketika itu juga sang tuan akan menyadarinya dari kontrak perbudakan yang sudah disetujui mereka berdua.  Dan saat itu terjadi, maka sang tuan dari budak tersebut dapat memilih tiga pilihan."


"Menghapus seluruh ingatannya dan membuat sang budak tersebut kosong layaknya tak mempunyai emosi. Menghapus dendam yang dimiliki oleh budak itu dan membuat budak itu tak memiliki dendam lagi padanya. Atau yang terakhir hanya langsung membunuhnya."


"Perlu diketahui bahwa jika seseorang menyetujui kontrak darah perbudakan dan menjadi seorang budak maka tuannya memiliki kuasa absolut untuk mengendalikan seluruh raga sang budak. Bahkan sampai merekayasa ingatan mereka. Itulah sebabnya kontrak darah perbudakan hampir mustahil dipatahkan oleh sang budak."


"Tapi kenapa ada orang yang mau menjadi budak,Bukankah itu sama saja mati?" Tanyaku lagi pada iris


"Umumnya seseorang tidak langsung menerima dirinya menjadi seorang budak. Biasanya itu adalah konsekuensi dari perjanjian mereka yang lain."


"Misalnya awalnya anda berhutang dengan seseorang dengan nyawa anda  sebagai jaminan, maka ketika anda tak dapat melunasinya maka nyawa anda diambil oleh sang pemberi hutang. Ketika itulah anda sudah menjadi budak. Beberapa kejadian lain seperti taruhan, penipuan dan banyak hal yang lain juga dapat membuat seseorang menjadi budak. Kenyataannya dunia ini memang kejam."


Setelah mendengar semua penjelasan iris, aku sampai di balai desa. Langit sudah berubah gelap dan saat ini staff desa sedang membagikan makanan kepada kami semua.


Saat makanan sedang dibagikan, seorang warga berteriak kepada seluruh balai desa dari luar.


"Hei lihat semuanya! Ada yang datang! Lihatlah cahaya obor yang banyak itu!" Pria itu menunjuk barisan cahaya obor yang masih jauh dari balai desa.


Warga-warga yang lain berbondong-bondong keluar dan melihat barisan cahaya obor itu. Kakek berserta para staff desa lainnya juga ikut dan melihat.


"Apa itu pasukan Utara kita? Tak kusangka sebanyak ini yang selamat, syukurlah." Untuk sesaat kakek merasa bersyukur melihat barisan obor itu.


Barisan obor itu semakin mendekat, para warga mulai bersorak berpikir atas kemenangan mereka. Semakin dekat cahaya itu datang. Sampai mereka melihat wajah-wajah yang memegang obor obor itu.


Tubuh kecil dan berwarna hijau, beberapa dari mereka memegangi obor dan mereka berlari seperti orang gila. Gerombolan besar goblin berlari tepat menuju barisan warga yang menyambut mereka.


Tersentak, Wajah orang-orang yang awalnya bersorak bahagia berubah menjadi kepanikan, dalam hitungan detik semua orang berlari berhamburan. Melarikan diri dari gerombolan goblin yang hampir sampai di balai desa.