Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 63



Bryan berusaha mengejar Sana yang sudah berjalan keluar dari cafe. Sana jelas menolak permintaan Bryan, tapi Bryan bersikukuh untuk mengajak wanita itu menikah.


‘’San.’’


‘’Jangan ngaco Bry, aku nggak setuju sama ide kamu itu.’’ Langkah Sana terhenti, badannya berbalik, melihat pada Bryan yang baru saja menahan lengannya hingga membuat langkahnya terhenti.


‘’Kenapa? Aku ingin tahu alasannya.’’


Kening Sana mengerut, tidak habis pikir dengan pertanyaan Bryan yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Alasannya? Apa perlu dipertanyakan lagi?


‘’Bry aku memang ingin menikah, tapi bukan berarti aku sedang terburu-buru. Aku memang ingin menikah tapi dengan cinta bukan dengan sebuah kesepakatan. Maaf, aku nggak bisa menerima ajakanmu dan aku harap kamu mengerti itu.’’


Sana kembali ingin melangkah tapi Bryan kembali menahan tangannya.


‘’Bukankah keluargamu juga menuntut agar kamu cepat menikah?’’


Sana memutar jengah bola matanya, tidak suka dengan Bryan yang terkesan memaksa. Dia pun kembali meneruskan langkahnya tanpa peduli pada Bryan yang kembali mengejarnya.


*****


Xena bangun pagi-pagi sekali dan sudah tidak menemukan Rayan di sampingnya. Perhatian Xena teralih kala mendengar suara pintu kamar yang baru dibuka dari luar. Disana, ada Rayan yang sedang tersenyum, melangkah mendekat padanya sambil membawa segelas jus berwarna hijau.


‘’Morning,’’ ucap Rayan tersenyum. Dia meletakan jus tersebut di meja kecil yang tak jauh dari ranjang.


‘’Morning.’’ Xena beranjak dari ranjang. Dia memandang Rayan dengan matanya yang berbinar. Xena seperti belum percaya, kalau pria tampan itu sudah resmi menjadi suaminya.


‘’Kenapa?’’ Rayan menarik Xena dalam pelukannya. Beberapa ciuman kecil diberikannya untuk sang istri yang sudah mulai tertawa kecil.


‘’Aku hanya belum percaya, pria yang dulu menolakku mentah-mentah sekarang sudah resmi menjadi suamiku.’’


Rayan hanya tersenyum kecil. Terus terang, dia merasa sedikit bersalah, setiap kali mengingat bagaimana sikapnya pada Xena, dulu. Cinta memang tidak bisa diprediksi, Xena yang dia pikir sangat jauh dari kriteria wanita idamannya malah membuatnya jatuh cinta. Dulu, Rayan berpikir kalau selamanya dia hanya akan mencintai Sana, tapi siapa yang menyangka, Xena mampu merebut hatinya, bahkan hanya dalam waktu singkat.


Mencintai Xena bikin Rayan sadar, kalau kriteria bukanlah penentu. Kriteria akan terasa tidak berarti, saat dirinya dihadapkan dengan seseorang yang mampu membuat hatinya bergetar.


Satu bulan kemudian


Sana tersenyum hambar, memandangi pria yang sedang melepaskan jasnya yang berwarna hitam. Setengah jam lalu, Sana dan Bryan resmi menjadi sepasang suami istri. Sana terpaksa menerima permintaan konyol Bryan, semua dia lakukan karena kasihan pada mamanya Bryan yang sedang sakit. Paruh baya itu, selalu meminta Sana untuk menjadi istri Bryan dan mengatakan hal itu akan menjadi permintaan terakhirnya sebelum dia meninggalkan dunia ini.


5 minggu lalu, mamanya Bryan mengalami kecelakaan mobil yang membuat keadaannya kritis dan karena permintaan mamanyalah hingga Bryan berani meminta Sana untuk menikah dengannya.


''Aku yang mandi duluan apa kamu?'' Bryan melangkah mendekat. Pria itu sudah bertelanjang dada dan langsung mengambil duduk disamping Sana.


''Bry bajunya dipakai dong.'' Sana mengalihkan tatapannya karena sedikit risih dengan pemandangan itu. Rasanya aneh saja melihat Bryan telanjang dada seperti sekarang, apalagi mengingat pernikahan mereka yang terjalin bukan karena cinta.


Bryan memandang Sana sekilas dan langsung mengalihkan perhatiannya pada ponsel, memilih tidak menghiraukan ucapan Sana. Pria itu tau kalau Sana risih tapi entahlah, dia bahkan sama sekali tidak sungkan melepas pakaiannya didepan Sana. Toh wanita itu sudah jadi istrinya, pikirnya.


Walaupun mereka menikah tanpa cinta, tapi Bryan tidak pernah berniat untuk meninggalkan ataupun menceraikan Sana. Baginya, Sana akan menjadi satu-satunya wanita yang akan menemani hari tuanya.


Bryan juga berjanji akan belajar mencintai wanita itu, ya walaupun mungkin membutuhkan waktu yang agak lama. Maklumlah, Bryan termasuk pria yang susah untuk memberikan hatinya.


''Bry.'' Sana masih menegur.


''Nggak pa-pa kali di kamar ini.''


''Tapi kan ada aku Bry, kamu nggak malu emang?''


Bryan mematikan layar ponselnya, membawa pandangannya pada sana, lalu tertawa kecil. ''Kenapa harus malu? Kamu kan istriku.''


Sana mematung. Ucapan Bryan barusan sedikit memberikan getaran pada hatinya. Dia jadi salah tingkah, karena Bryan yang terus menatapnya, apalagi sambil tersenyum tipis.


''Kalau gitu aku aja yang mandi duluan.'' Cepat-cepat Sana berdiri dan langsung masuk ke kamar mandi. Wanita itu berdiri dibalik pintu kamar mandi, rasanya agak lain, saat melihat tatapan Bryan tadi.


''Kalau seperti ini, bagaimana kami bisa hidup bersama.'' Mulutnya protes tapi tanpa sadar bibirnya melengkung. Wajah Bryan juga langsung memenuhi pikirannya. Hampir 1 menit dia senyum-senyum sendiri.


''Astaga Sana, kamu mikirin apa sih?'' Kelapanya digelengkan, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang baru saja menghampiri otak kecilnya. cepat-cepat melangkah dan langsung melakukan ritual mandinya.


''Kenapa?''


''Bisa minta tolong nggak?'' Sana berteriak dari dalam kamar mandi.


''Apaan?''


''Tolong ambilin handukku Bry, ada dalam koper.''


Kepala Sana nongol sedikit dari balik pintu kamar mandi. ''Makasih ya.'' Dan langsung menutup pintu kembali, sedikit malu. Sedangkan Bryan, pria itu hanya menggeleng dan langsung balik ke tempat duduknya.


''Kamu mau dipesenin apa? Lapar kan?''


''Hhmm, makan diluar bisa nggak Bry?''


''Udah larut malam, pesan aja.''


''Yaudah pesan aja yang kamu suka, aku nggak pemilih kok.'' Sana menghampiri kopernya, untuk mengambil pakaian gantinya.


''Loh Bry, koper aku?'' Sana berbalik, menunjuk kopernya yang sudah kosong.


''Tuh.'' Bryan menunjuk ranjang dengan dagunya, sedangkan Sana langsung membesarkan matanya, melihat pakaiannya yang sudah berhamburan di atas ranjang. Bukan pakaian masalahnya, tapi pakaian dalamnya yang sudah tercecer sana sini.


Cepat-cepat dia melangkah, mengumpulkan semua pakaian dalamnya dan disembunyikan dibelakang tubuhnya. ''Bry, kenapa dikeluarin sih pakaianku?''


''Aku nyari handuk tadi.''


''Iya tapi kan nggak perlu dikeluarin juga Bry.''


''Yaudahlah ya, udah terlanjur ini.'' Bryan malah merespon dengan santai. Pria itu berdiri, hendak masuk ke kamar mandi, tapi lebih dulu menggoda Sana yang masih sibuk menyembunyikan pakaian dalamnya.


''Aku suka, ukurannya terlihat pas.''


Mata Sana membola, karena ucapan frontal Bryan barusan, sedangkan Bryan malah tertawa kecil, senang akan reaksi Sana barusan. Ah, sepertinya akan menyenangkan, menggoda Sana seperti sekarang.


*****


''Aku nggak nyanka loh, Bryan bakalan sama Sana.''


Rayan hanya tersenyum, menanggapi ucapan istrinya itu. Sejujurnya, dia juga tidak menyangka hal itu, tapi tetap saja dia merasa senang akan pernikahan Sana. Rayan yakin kalau Sana akan bahagia bersama Bryan. Rayan juga yakin kalau Bryan bisa menjadi sosok suami yang baik untuk Sana.


''Kira-kira mereka jadiannya gimana ya? Tapi cara mereka dekat gimana ya?''


''Nggak usah dipikirin, cukup doakan yang terbaik aja buat mereka.''


Xena mengangguk. Benar kata Rayan, tapi tetap saja dia penasaran akan cerita dua sejoli itu. Dalam hatinya, Xena sudah berpikir untuk menanyakan hal itu langsung pada Bryan. Selain itu, dia juga sedikit kesal karena Bryan menyembunyikan hubungannya dan Sana. Xena bahkan hampir kehilangan kata-katanya, saat tiba-tiba Bryan mengajaknya bertemu dan langsung memberikan undangan pernikahan. Saat itu, ingin sekali Xena bertanya, tapi sayang waktu tidak memungkinkan, karena Bryan tidak bisa berlama-lama.


''Ini apa?'' Tiba-tiba mata Xena tertuju pada kotak kecil yang terletak diatas ranjang. Entah sejak kapan kotak itu ada disana, tapi satu hal yang pasti, kotak itu pasti untuknya.


Dengan semangat Xena mengambil kotak tersenyum, sedikit menggoyangkannya, untuk mendengar bunyi yang berasal dari dalam kotak. ''Isinya apa?''


''Dibuka aja.''


''Bagus banget.'' Dari kotak itu, Xena mengeluarkan sebuah kalung. Kalung itu sangatlah indah. Tidak hanya kalung, Kotak itu juga terisi banyak foto Xena, ada yang sendirian dan ada juga yang berdua dengan Rayan. Belum sempat Xena melihat semua fopto itu, perhatiannya sudah teralih pada sepotong kertas yang ada didalam kotak tersebut.


Xena tersenyum begitu selesai membaca tulisan dalam sepotong kertas tersebut.


''Sorry, thank you, i love you.'' Kata itulah yang tertulis disana.


''Xen.'' Bryan berdiri, mendekati Xena dan duduk didepan Xena.  Diambilnya kedua tangan Xena, lalu diciumnya.


''Sorry, untuk rasa sakit yang aku berikan dimasa lalu dan aku janji akan menebus rasa sakit itu seumur hidupku. Thank you, karena sudah memilihku dan mengizinkan aku untuk hadir dalam kehidupan kamu. Xen, aku tau aku bukan pria yang baik, tapi aku berjanji akan terus berusaha untuk menjadi pria yang baik buat kamu dan Xena, aku mencintaimu, sangat mencintaimu.'' Rayan pun mencium kening Xena lama, memberitahu bagaimana dia sangat mencintai wanita itu, wanita yang dulu sangat tidak dia sukai tapi sekarang malah menjadi wanita terpenting dalam hidupnya.


TAMAT