Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 62



''Jadi, sudah berapa lama kalian saling kenal?''


''Hampir 2 tahun tan.''


''Udah lama juga ya.'' Mamanya melirik Bryan dengan tatapan kesal, karena merasa sudah dibohongi. Setiap kali ditanya, Bryan selalu berkata tidak punya kekasih, tapi nyatanya?


''Oh ya Sana kamu umurnya berapa, pekerjaannya apa? Kalau misalnya, misalnya nih ya kalau Bryan udah pengen nikah kamu siap nggak?''


''Ma.'' Bryan langsung menegur. Lagi dan lagi Sana hanya bisa tersenyum tertekan. Tidak berapa lama, dia sudah dikagetkan oleh Bryan yang tiba-tiba menariknya keluar dari cafe. Dia terus menarik Sana dan tidak merespon teriakan mamanya.


''Bry mobilku.'' Sana menunjuk ke arah mobilnya, tapi Bryan masih saja menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil pria itu.


''Maaf soal tadi.''


''Nggak pa-pa, aku ngerti kok.''


Hari H pernikahan Xena dan Rayan.


Xena duduk di ruang tunggu. Wanita itu sudah cantik dengan wedding dressnya. Xena menengadah, saat mendengar suara Bryan yang sedang melangkah mendekat padanya.


‘’Cantik banget Xen.’’


Xena tersenyum, menatap Bryan yang sudah berdiri tegak di depannya. Pria itu tersenyum hangat padanya, wajah Bryan terlihat berseri, ikut senang akan pernikahan Xena yang akan berlangsung sebentar lagi. Sekarang, perasaan Bryan pada Xena benar-benar hanya sebatas sahabat. Bryan sudah mengikhlaskan, benar-benar mengikhlaskan Xena dan berharap agar wanita cantik itu selalu diberi kebahagiaan. Bryan juga janji, perlakuannya pada Xena tidak akan berubah, dia tetap akan menjaga Xena sebaik mungkin.


Tidak berapa lama, Bryan sudah tertawa kecil. Lucu saja melihat wajah Xena yang sedikit tegang dan nampak pucat. Xena sampai membasahi bibirnya beberapa kali, mungkin saking groginya.


‘’Santai aja, semua pasti akan berjalan lancar.’’


Xena mengangguk pelan, tapi bukan berarti rasa groginya langsung hilang begitu saja.


Bryan mengambil duduk di samping Xena, diambilnya tangan wanita itu, untuk sedikit menenangkan sang sahabat. Bryan mulai menceritakan beberapa cerita pada Xena, tentang beberapa gosip dan juga beberapa kejadian lucu yang dia alami. Dan benar saja, hal itu sangat membantu Xena. Buktinya, Xena sudah meladeni dan membalas setiap cerita-cerita yang Bryan katakan padanya. Sesekali Xena juga tertawa.


‘’Xen, acaranya udah mau dimulai sayang, yuk….’’ Mamanya datang memanggil. Rasa gugup pun kembali menerpa Xena, beberapa kali dia menarik dan membuang nafasnya.


‘’Tenang saja.’’ Bryan mengusap punggung Xena, wanita itu pun tersenyum tipis.


Rayan tersenyum, memperhatikan Xena yang sedang melangkah mendekat ke arahnya. Xena, wanita itu berjalan pelan dengan didampingi oleh seorang pria paruh baya yang Rayan tau adalah paman dari Xena.


Proses demi proses pun selesai. Beberapa kenalan datang untuk memberikan selamat pada sepasang muda mudi yang baru saja memasuki satu tahap baru dalam hidup mereka itu.


Xena, wanita itu sudah tertidur lelap. Tadi, Xena pamit istirahat duluan, karena sudah merasa sangat capek. Ya bayangkan saja, setelah pemberkatan, mereka langsung melanjutkan dengan resepsi pernikahan. Xena merasa sangat capek, karena harus bersalaman dengan banyaknya tamu undangan yang hampir seluruhnya adalah klien-klien bisnisnya Rayan. Sedangkan Rayan, pria itu masih ngobrol-ngobrol dengan para undangan dan masuk setelah hampir 2 jam setelah Xena masuk. Malam ini mereka menginap di hotel tempat berlangsungnya resepsi pernikahan mereka.


Rayan mengecup kening Xena lebih dulu, sebelum berdiri untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, Rayan kembali dan langsung tidur disamping Xena. Tidak lupa, dia menarik Xena kedalam pelukannya.


‘’Selamat malam,’’ ucapnya kembali mengecup kening Xena dan perlahan mulai menutup matanya.


*****


‘’Sedih karena hari ini Rayan menikah?’’ Sana tersentak, matanya mengarah pada seseorang yang baru saja duduk di sampingnya.


‘’Kamu belum bisa melupakan Rayan?’’


Sana menggeleng, pandangannya kembali mengarah kedepan. Ya, dia memang sedih karena pernikahan Rayan, tapi bukan karena Sana masih menyimpan perasaan pada Rayan, tapi dia sedih karena dirinya tidak bisa hadir dan turut merasakan hari bahagia pria itu. Sana juga sedih, karena Rayan tidak mengiriminya undangan pernikahan, tapi kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya dia juga bisa mengerti alasan kenapa Rayan tidak mengundangnya datang.


‘’Nggak, aku hanya sedih, karena tidak bisa turut andil dalam hari bahagianya. Aku pikir, Rayan benar-benar membenciku sekarang.’’


‘’Kamu benar-benar sudah melupakan Rayan?’’ Pria itu menoleh ke samping. Sana hanya mengangguk, sebelum mengambil orange jus di depannya dan meminumnya hingga hampir habis.


‘’Untuk sekarang, apa ada seseorang yang kamu sukai?’’


Sana ikut menoleh ke samping. Manik mereka bertemu satu sama lain. Keduanya saling diam, memperhatikan satu sama lain.


‘’Jadi istriku mau nggak?’’


Mata Sana membulat, saking kagetnya dengan ucapan Bryan barusan. Dia pikir pria itu sedang mabuk, tapi bagaimana bisa? Bryan kan tidak minum alkohol. Tapi, kenapa bicaranya jadi ngawur?


‘’Kalau kamu belum menyukai seseorang, mau nggak nikah sama aku? Aku perlu bantuanmu dan aku janji akan menjagamu dengan baik. Kedepannya kita bisa terus hidup rukun seperti sekarang.’’


‘’Tapi ini pernikahan Bry.’’


‘’Tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan pasangan hidup, yang bisa selalu ada dan menemani kita bukan? Dan kupikir, kita berdua bisa hidup dengan rukun sampai hari tua nanti.’’


Sana hanya diam. Dia jelas ingin menikah dengan pria yang mencintainya, bukan dengan pria yang hanya memerlukan teman hidup. Sana akui, mereka mungkin akan jadi teman hidup yang baik untuk satu sama lain, tapi bagaimana dengan perasaan? Masa sih dia harus memiliki pernikahan tanpa cinta. Lalu bagaimana dengan keturunan? Sana sangat menginginkan seorang anak dan untuk mendapatkannya, bukankah dia harus menikah dengan pria yang mencintainya?


Bersambung .....