Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 38



Hari ini, Xena benar-benar dibuat bingung akan sikap Rayan. Entahlah pria itu kesambet apaan. Tadi pagi, Rayan datang menjemputnya untuk ke kantor bersama dan karena ulahnya itu, para karyawan jadi banyak bergosip sekarang.


Tidak hanya itu, sejak tadi, sejak Xena duduk di kursi kerjanya, Rayan terus menerus menerornya dengan mengirimi banyak chat, sedikit lambat Xena membalas, pria itu akan mengomelinya.


Seperti sekarang, Rayan mengatainya sebagai karyawan yang kurang kompeten, karena mengabaikan perintah atasannya. Oh ayolah, Xena juga banyak kerjaan kali, jadi nggak bisa terus menerus membalas chat Rayan yang sangat nggak penting itu.


TING


[Xena, keruanganku sekarang]


Xena membuang nafasnya, matanya sudah memutar, saking jenuhnya. Bukannya membuka chat, Xena malah melirik dan sekilas membaca isi chat yang tampil di notifikasi ponsel.


Xena tidak berniat membalas dan berpura-pura tidak tau akan chat tersebut.


Oh ayolah, ini masih jam kerja dan banyak pekerjaan yang harus Xena selesaikan. Xena sudah berniat menyelesaikan pekerjaannya sebelum pergi, agar tak membebankan orang lain. Xena juga sudah memberitahu beberapa rekan kerjanya, tentang rencananya tersebut.


Dan kalian tahu, si botak merasa sedih akan keputusan Xena itu. Ya tentu sedih, secara, selama ini kan si botak selalu membebaninya dengan banyak pekerjaan dan sekarang, setelah dia pergi, siapa lagi yang akan membantu si botak.


TING


[Kamu yang ke ruanganku sekarang atau aku yang ke ruangan kerjamu sekarang?]


 Aduh, ingin sekali Xena menonjok wajah Rayan, saking kesalnya dengan sikap semena-mena pria itu.


Katanya Rayan banyak kerjaan, katanya sibuk terus kenapa sekarang malah punya waktu luang untuk menyiksanya?


[SEKARANG XENA!!]


Mau tidak mau, terpaksa Xena menuruti ya maklumlah, walau bagaimana pun, sekesal dan sebete apapun dia, Xena tetap menghargai Rayan yang notabenenya adalah atasannya.


‘’Itu si Xena mau kemana tuh?’’


‘’Eh lu liat nggak si Xena jalannya terburu-buru.’’


‘’Ih palingan mau nge**cur lagi.’’


‘’Aku pikir pak Rayan itu beda loh, eh nggak taunya sama aja kayak laki-laki hidung belang di luaran sana. Padahal kan pacarnya cantik.’’


Beberapa karyawan bergosip dengan terang-terangan, suara mereka juga sangat besar jadi Xena mendengar semua itu dengan jelas.


‘’Awas saja kalian,’’ Xena melirik mereka satu-satu, seperti tengah menandai setiap musuhnya. Ingat ya, Xena itu bukan wanita yang penuh kelembutan jadinya, dia pasti akan membalas setiap perlakuan buruk yang dia terima dari orang lain terkecuali Rayan. Bukannya apa, Xena merasa tidak pernah bisa membalas pria itu, mungkin karena rasa cintanya kali ya.


‘’Ada apa pak?’’ tanya Xena sopan begitu masuk ke ruangan Rayan. Dia berjalan pelan dan berdiri di depan meja kerja Rayan, memperhatikan si pria yang malah fokus pada pekerjaannya dan seperti tidak menggubris kedatangannya.


‘’Pak Rayan, ada apa ya?’’ Xena maju selangkah, tubuhnya hampir bersandar di meja kerja Rayan.


‘’Bentar bentar, kamu duduk dulu, saya masih banyak kerjaan.’’


Mata Xena membulat. Sumpah demi apapun, ingin sekali Xena menonjok Rayan detik ini juga seandainya dia bisa.


Ah, pria itu benar-benar sedang mengerjainya dan sayangnya, Xena hanya bisa menerima lalu membawa langkahnya lagi, duduk di sofa sambil sesekali memperhatikan Rayan.


Xena tersenyum tipis, pemandangan di depannya sedikit menimbulkan bunga di hatinya, rasa kesalnya juga perlahan hilang.


Beberapa detik kemudian, Xena sudah menggeleng kepalanya, mengalihkan pandangannya dari Rayan dan mencoba menghilangkan Rayan dari pikirannya. Tidak baik untuknya terus memikirkan Rayan.


Setengah jam kemudian.


Rayan menatap dalam wajah Xena. Entah sejak kapan wanita itu tertidur.


Dug dug dug


Rayan memegang dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang. Ada apa, kenapa tiba-tiba dia berdebar untuk Xena? Kenapa tiba-tiba dia jadi sangat nyaman dan selalu ingin berada di dekat Xena? Selalu ingin tau apa yang Xena lakukan.


Bahkan tadi malam, lagi dan lagi Rayan tidak bisa tidur karena pikirannya terus melalang buana, memikirkan Xena. sebelumnya, bahkan pada Sana, Rayan tidak pernah sampai seperti ini.


Baru membuka matanya, Xena langsung diam membeku, menatap manik hitam Rayan yang hanya berjarak beberapa cm dari wajahnya. Saking dekatnya, hembusan nafas keduanya sampai menerpa wajah masing-masing.


Xena kalang kabut, ingin menghindar tapi Rayan sudah lebih dulu menariknya dan ….


Cup


Rayan menempelkan bibirnya pada bibir Xena lama tanpa adanya aktivitas tambahan.


Mata Xena mengerjap beberapa kali saking kagetnya dengan tindakan tiba-tiba Rayan itu. Tangannya meremas ujung dressnya, tubuhnya mendingin disertai dengan getaran - getaran aneh. Tubuhnya terasa kaku, pikirannya kosong entah melayang kemana.


Xena segera mendorong Rayan, begitu dia mendapatkan kesadarannya kembali. Bukannya terlepas, Rayan malah menariknya, memeluk punggungnya agar lebih menempel pada pria itu. Bibirnya yang tadi diam, mulai bergerak, meminta akses masuk.


Xena masih kaku tapi refleks membuka mulutnya, membiarkan Rayan bergerak bebas di dalam sana. Rayan terus me**esap dan untuk pertama kalinya Rayan bisa merasakan sendiri yang namanya ciuman. Sekedar bocoran aja, Rayan baru saja kehilangan ciuman pertamanya untuk Xena dan begitupun sebaliknya.


Rayan tenggelam dalam indahnya ciuman pertamanya, pria itu terus saja bermain, mengeksplor dengan bebas setiap rongga mulut Xena. Manis dan kenyalnya bibir Xena, bikin Rayan ketagihan.


Kalau tau ciuman akan semenyenangkan ini, mungkin Rayan sudah melakukannya sejak dulu, pikir pria itu yang tiba-tiba tersentak kaget karena Xena yang sudah mendorong tubuhnya kuat.


Di depannya, Xena sedang meraup banyak oksigen. Astaga Tuhan, dia hampir kehabisan nafas gara-gara ciuman pertamanya itu.


Xena pikir, dia tidak mau lagi melakukan hal seperti ini, karena sangat mengancam nyawa. Nggak lucu kan, kalau dia meninggal saat sedang berciuman wkwkwk.


Sedangkan Rayan, pria itu hanya bisa menggaruk belakang kepalanya, sedikit salah tingkah akan perbuatannya barusan tapi kalau boleh mengulangnya, Rayan akan sesering mungkin melakukannya. Heheheheh ketagihan si doi wkwkkwkw


Xena juga sama, tiba-tiba dia menjadi salah tingkah, saat maniknya kembali beradu dengan manik Rayan. Cepat-cepat Xena memalingkan wajahnya, Rayan langsung berdehem.


Sedetik kemudian, Xena kembali melirik Rayan dengan ujung matanya, lalu tersenyum tipis. Xena senang, karena Rayan lah yang mengambil ciuman pertamanya dan walau nggak bisa bersama setidaknya Xena sudah punya kenangan indah yang bisa dia ingat seumur hidup.


EKHEM


Xena menoleh saat Rayan kembali berdehem.


‘’Nggak ada kerjaan ya kamu, malah santai-santai di ruangan saya.’’


Mata Xena membola, ucapan Rayan barusan sedikit membuatnya emosi. Bukannya tadi Rayan yang memintanya datang?


‘’Aku punya banyak kerjaan, lain kali jangan seenaknya menyuruhku datang disaat jam kerja seperti ini.’’ Xena sudah melangkah pergi, tiba-tiba Rayan memanggilnya lagi yang otomatis Xena kembali berbalik menatap pada pria itu.


Rayan, pria itu melangkah dan berdiri didepan dinding kaca, posisinya sudah membelakangi Xena dengan kedua tangannya yang dimasukan ke dalam saku celananya.


‘’Untuk yang tadi, anggap saja tidak pernah terjadi.’’


Xena tersenyum kecut. ‘’Ternyata ciuman tadi tidak berarti apa-apa untuk Rayan?’’


Miris sekali, Xena menertawai dirinya yang lagi dan lagi kembali terjebak dengan pesona Rayan. Xena pikir, dia barusan jatuh dari ketinggian yang lumayan tinggi, sampai merasa benar-benar hancur.


Yaiyalah, Rayan tidak menyukainya, jadi mana mungkin benar-benar ingin menciumnya?


Bersambung.....