Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 53



Kini Rayan dan Xena sudah duduk di cafe yang katanya pernah Xena datangi itu. Sedangkan Hans, pria itu hanya menunggu di luar.


''Kenapa pergi tiba-tiba?'' Rayan langsung melayangkan pertanyaannya. Ya, sampai sekarang, dia belum tau apa penyebab kepergian Xena. Rasanya, alasan yang waktu itu mamanya bilang sangat tidak mungkin terjadi.


Xena tersenyum, masih tidak menyangka kalau Rayan sekarang ada di depan matanya.


''Xen, jawab pertanyaanku.'' tanya Rayan dengan suara tegasnya.


''Biar kamu bahagia.''


Kening Rayan mengerut. Ini jawaban apa coba? Rayan sama sekali tidak mengerti.


''Aku lagi nanya Xen, bukan bercanda.''


Perlahan wajah Xena berubah menjadi serius. ''Ray, aku tau selama ini kamu mencintai Sana dan aku sadar aku hanya pengganggu dalam hubungan kalian. Aku juga tau, kalau kamu tidak benar-benar sungguh-sunggu ingin menjalin hubungan denganku dan saat itu, saat Sana terluka, aku melihat dengan jelas, kalau aku tidak punya peluang apapun untuk menggantikan Sana di hati kamu. Makanya aku memilih pergi.''


Rayan terdiam. Ternyata tebakan mamanya memang benar. Xena pergi karena dirinya, karena sikapnya. Tapi kan Rayan melakukan hal itu untuk Xena? Kenapa Xena tidak bertanya dan langsung menyimpulkan?


''Xen.''


''Kamu nggak perlu bilang apa-apa lagi Ray. Aku udah lama sadar kok akan posisiku yang tidak pernah special buat kamu.'' Xena berusaha tertawa, hanya untuk menutupi luka dihatinya.


Rayan kembali terdiam. Pria itu menangkap ekspresi kesedihan di wajah Xena.


Apa tindaknnya itu benar-benar sudah sangat menyakiti Xena?


Rayan ingin meminta maaf, tapi rasanya agak berat untuk mengucapkan satu kata itu dan jadilah Rayan hanya diam memperhatikan Xena.


''Oh ya, kamu disini berapa hari? Urusan kerjaan ya?'' Xena mengalihkan pembicaraan. Dia mencoba menekan getaran-getaran aneh yang kembali memenuhi dirinya. Xena juga berusaha untuk tersenyum, hanya ingin memperlihatkan pada Rayan, kalau dia baik-baik saja di kota itu.


''Aku menyusulmu kesini.'' Rayan memilih untuk jujur. Lagian dia tidak punya alasan untuk berpura-pura datang karena pekerjaan, itu terlalu menambah urusan.


''Me-menyusulku?'' Xena agak tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Rayan datang menyusulnya? Kenapa? Astaga, apa terjadi sesuatu pada Sana, makanya Rayan datang mencarinya?


''Apa terjadi sesuatu pada Sana?''


''Kenapa malah menanyakan orang lain sih? Aku aja udah duduk disini dari tadi kamu nggak nanya kabar aku gimana?'' Rayan malah mengomel. Dia agak kesal karena tiba-tiba Xena malah membahas Sana.


''Terus, kalau bukan karena Sana kenapa datang mencariku?''


''Apa salahnya datang mengunjungi kekasihku?''


Mata Xena membola. Kali ini dia benar-benar mendengar dengan jelas. Rayan menyebutnya sebagai kekasih? Ini maksudnya apa?''


''Ke-kekasih?'' Xena memperlihatkan ekpresi tak percayanya. Ya tentu dia tidak percaya dong, apalagi mengingat Rayan yang tidak pernah menganggap status mereka ada.


''Sebulan disini tidak bikin kamu amnesia kan?''


Cepat-cepat Xena menggeleng. ''Tapi kenapa?''


''Apanya yang kenapa?''


''Kamu tiba-tiba menyebutku sebagai kekasih.''


''Ya karena emang kamu kan kekasihku.'' Rayan menggeleng sambil berdecak. ''Sudahlah, jangan menanyakan hal yang kurang penting. Nanti sore, ikut denganku, kita kembali ke Indonesia hari ini juga.''


Lagi-lagi mata Xena membulat. Pria ini, seenaknya saja mengambil keputusan. Dia bahkan tidak bertanya tentang apa yang sedang Xena lakukan di California.


''Aku kuliah Ray disini, mana bisa pulang tiba-tiba.''


''Kuliah? Kamu kuliah disini?''


''Iya,'' jawab Xena dengan nada malasnya. Entahlah, dia senang bisa bertemu dengan pria itu lagi tapi disaat bersamaan dia juga menjadi kesal sendiri. Ya karena sikap Rayan yang seperti ini.


''Berapa lama lagi selesainya?''


Cepat-cepat Rayan mencekal tangan Xena, saat wanita itu hendak berdiri. ''Kamu tinggal dimana sekarang?''


''Diapartemen, nggak jauh dari sini.''


''Sendiri?''


''Sama Bryan.''


Rayan melotot penuh kekesalan. Bisa-bisanya Xena tinggal dengan seorang pria. Rayan sudah membayangkan, apalagi mengingat Xena yang takut tidur sendirian kalau sedang berada di tempat baru. Tiba-tiba rahangnya mengeras, rasa kesal memenuhi dirinya.


''Nggak bisa, kamu harus pindah apartemen, aku nggak mau kamu tinggal sama dia.''


''Apa-apaan sih Ray, kok jadi ngatur-ngatur.''


''Ya kamu kekasihku jadi wajar kalau aku mengaturmu. Aku nggak suka kamu dekat-dekat dengan pria lain.''


Xena terdiam. Tadi, apa yang barusan Rayan katakan? Pria itu tidak suka Xena dekat dengan pria lain? ini maksudnya Rayan sedang cemburu, begitu?


''Ray, kamu nggak sedang cemburu kan?''


''Memang apa salahnya kalau aku cemburu? Aku berhak untuk itu.''


Tanpa diminta, lengkungan manis muncul menghiasi wajah cantik Xena. Wanita itu tersipu sekaligus senang dengan pernyataan Rayan barusan.


Ini kenapa Rayan jadi open open gini ya? Xena berpikir sejenak. Eh tapi tunggu dulu, dia tidak bisa terbuai begitu saja. Apalagi dia tau kalau Rayan mencintai Sana.


''Ray.'' Xena sudah kembali menatap serius wajah Rayan. ''Kalau kamu nyusul aku kesini, bagaimana dengan Sana? Dia nggak marah?''


''Ngapain bahas Sana lagi sih Xena?'' Rayan menekan katanya, dengan nada tidak sukanya.


''Ya tapi kan dia orang yang kamu cintai Rayan.''


''Itu kan menurutmu. Sudah, berhenti membahas orang lain. Sekarang, cari apartemen baru dan pindahkan barang-barangmu secepatnya.''


''Apa-apaan sih Ray, aku nggak mau pindah. Lagian apartemanku yang sekarang bagus kok, terus ada Bryan juga yang menemaniku.'' Xena sengaja membahas Bryan lagi, hanya untuk melihat bagaimana reaksi Rayan.


''Justru karena disana ada Bryan, makanya kamu harus pindah.''


''Ya tapi kenapa?''


''Aku nggak suka Xena, kamu ngerti nggak sih?''


''Iya tapi alasannya apa Rayan? Kamu nggak mungkin nggak suka tanpa alasan kan?''


''Stop berdebat. Sekarang tunjukan dimana apartemanmu, kita kesana untuk mengambil barang-barangmu.''


Mata Xena membola. Dia pikir Rayan hanya bercanda tadi. Ternyata beneran?


''Ray ... Ray aku nggak mau pindah. Kamu ini apa-apaan sih, datang-datang main ngatur-ngatur aja. Nggak. Pokoknya aku nggak mau pindah, titik.''


''Yaudah, kalau kamu nggak mau pindah, berarti aku ikut tinggal disana.'' Semakin besar saja mata Xena. Ini Rayan kenapa sih sebenarnya? Kok jadi rada aneh gini sikapnya?


''Ray, aku nggak tau apa niat kamu yang sebenarnya datang kesini, tapi aku disini sama Bryan sedang kuliah. Jadi tolong jangan diganggu,'' ucap Xena pada akhirnya.


Xena tentu senang mendengar pernyataan Rayan yang katanya datang untuk menyusulnya tapi kan, dia juga tidak bisa langsung percaya. Lagian, dia rasa dia tidak seberarti itu untuk Rayan, hingga pria itu harus capek-capek datang hanya untuk menysulnya. Xena pikir, Rayan pasti punya tujuan lain.


''Tunjukan, dimana apartemenmu,'' ucap Rayan tanpa peduli dengan apa yang barusan Xena katakan. Pria itu hanya tidak mau menciptakan peluang untuk pria lain mendekati Xena.


Rayan pun menarik Xena keluar, meminta Xena memimpin jalan menuju apartemennya.


Bersambung .....