
Tibalah hari keberangkatan Xena. Wanita itu menatap sendu pada mamanya dan Yudi yang berdiri sedang melambai padanya dan Bryan.
''Bryan tante titip Xena ya,'' teriak mamanya.
''Tentu tante, Bryan pasti akan menjaga Xena dengan baik.'' Bryan merangkul pundak Xena kemudian ikut melambai ke arah Yudi dan dan mamanya.
''Pacarmu, kenapa dia tidak datang mengantarmu?'' Bryan memperhatikan wajah sendu Xena dan kembali memperkuat rangkulannya. Sebenarnya dia sudah bisa menebak, kalau wanita itu punya masalah dengan hubungannya.
Maaf kalau mungkin Bryan bahagia akan kandasnya hubungan Xena dan Rayan tapi baginya, mungkin ini cara Tuhan untuk memberinya kesempatan. Mulai sekarang, Bryan janji tidak akan mencintai Xena dalam diam lagi.
''Selamat tinggal Ray, semoga kamu dan Sana selalu bahagia,'' Xena berusaha baik-baik saja. Dia tidak bisa lemah, dia harus berusaha sekuat tenaga untuk melupakan Rayan. Xena tidak mau terus terjebak dalam cinta yang menyakitkan seperti ini dan kedepannya, jika dia jatuh cinta lagi, Xena janji tidak akan memberi hatinya sampai 100% lagi.
Xena juga harap, kisah ini tidak akan terulang. Suatu saat kalaupun dia jatuh cinta lagi, Xena harap dia akan mencintai pria yang juga mencintainya. Dia tidak ingin terlibat rasa sakit akibat cinta sepihak lagi.
Di rumah sakit, Rayan masih setia menjaga, merawat dan menemani Sana, tanpa tahu kalau Xena sudah pergi meninggalkannya.
''Hai Sana, bagaimana kabar kamu?'' Selama Sana dirawat di rumah sakit, baru hari ini Aldo menyempatkan diri untuk berkunjung. Entah apa alasannya karena sejujurnya kalau masalah sibuk, belakangan ini Aldo tidak terlalu sibuk.
''Aldo?'' Kening Sana mengerut, rasanya sudah lama dia tidak melihat pria itu. Sebenarnya Sana masih merasa bersalah pada Aldo dan itu yang membuatnya agak canggung dan tidak nyaman saat bersama Aldo.
''Bagaimana keadaan kamu?'' tanya Aldo memperhatikan Sana, dari kepala sampai ujung kaki.
''Baik Do, makasih udah berkunjung.''
Aldo hanya mengangguk kecil kepalanya. Tatapannya pun beralih pada Rayan yang sedang sibuk dengan layar ipadnya. Sepertinya pria itu sedang bekerja. Sejak tadi, sejak dia masuk pun Rayan sama sekali tidak menanggapi.
''Selama Sana sakit kamu yang ngejagain dia?'' tanya Aldo mendekat pada Rayan yang duduk di sofa ruangan rawat itu.
''Hhm,'' jawab Rayan tanpa mengalihkan perhatiannya. Dia sedang serius membahas beberapa email yang baru Hans kirim untuknya.
Aldo mengangguk beberapa kali. Dengan sikap Rayan yang seperti ini, pantas saja kalau Xena memilih pergi. Walau bagaimanapun Xena adalah wanita, dia pasti cemburu melihat Rayan yang lebih perhatian pada Sana, apalagi Rayan terlihat seolah sama sekali tidak peduli pada Xena. Dunia Rayan terlihat hanya berputar disekitar Sana.
Satu minggu berlalu. Hari ini Rayan sudah kembali masuk ke kantor. Sana juga sudah dipulangkan dari rumah sakit dan sekarang Rayan menyewa seorang ART untuk memasak dan menjaga Sana di apartemennya.
''Ray, kamu bisa ngubungin Xena nggak, semingguan ini mama coba nomernya nggak aktif. Terakhir kali dia cuman ngirimin mama chat dan minta mama untuk selalu jaga kesehatan.''
''Nggak ma, Rayan belum menghubungi Xena,'' ucap Rayan santai. Tidak ada sedikitpun curiga, kalau-kalau Xena sudah meninggalkannya. Karena apa? Entahlah, tapi Rayan merasa kalau Xena tidak akan pernah meninggalkannya, Rayan tau kalau wanita itu sangat mencintainya jadi tidak mungkin untuk Xena pergi dari hidupnya.
''Nanti pas di kantor kamu langsung ngobrol sama Xena.'' Mamanya pun menggeleng, diiringin oleh helaan nafas. ''Lagian kamu ini keterlaluan sekali, bisa-bisanya kamu tidak pernah menghubungi Xena setelah kejadian itu. Ck, kalau mama jadi Xena, sudah mama tinggalkan pacar seperti kamu ini.''
Rayan hanya tersenyum tipis, melihat wajah kesal mamanya.
*****
''Hans tolong panggilkan Xena ke ruangan saya,'' ucap Rayan begitu masuk ke ruangan kerjanya.
''Maaf pak, tapi kan mbak Xenanya udah resign, udah seminggu lebih.'' Langkah Rayan terhenti, dia kembali menoleh dan menatap Hans penuh tanda tanya.
Hans memaksakan senyumnya, ingin sekali dia berkata 'ya mana aku tau' Lagian, prosedur resign di perusahaan mereka biasanya hanya diketahui oleh pikah HRD dan atasan langsung dari karyawan yang bersangkutan dan Hans juga tidak tau menau tentang itu.
''Yasudah, kamu boleh keluar dari ruangan saya.'' Rayan meletakan tas kerjanya diatas meja, dia mengambil ponselnya dari saku dan langsung menekan panggil pada nomor kontak Xena.
Sudah beberapa kali memanggil, tapi nomor Xena tetap tidak bisa dihubungi. Rayan pun meminta Hans untuk memanggilkan Cassie ke ruangannya, karena tau kalau wanita itu dekat dengan Xena.
''Selamat pagi pak, ada apa?'' Cassie tetap bersikap sopan, walau dalam hati dia merasa dongkol pada Rayan, apalagi mengingat pria itu yang sudah sangat menyakiti Xena.
''Xena kemana?''
''Loh pak Rayan bukannya pacarnya, kalau bapak nggak tau, bagaimana saya bisa tau?'' Cassie sedikit menyindir. Sorry to sorry, tapi dia tidak mau memberitahu keberadaan Xena pada pria didepannya ini.
Mata Rayan memincing tajam, cukup tidak suka dengan jawaban Cassie.
''Apa Xena mengatakan sesuatu padamu?''
Ingin sekali Cassie menjawab. 'Ya, dia mengatakan kalau anda sudah sangat menyakitinya' tapi tidak mungkin bukan dia berkata seperti itu. Jadinya, Cassie hanya menggeleng dan pura-pura tidka tau. Cassie juga mengatakan kalau dia dan Xena belum pernah bertemu sejak Xena resign dari kantor.
''Kamu boleh keluar.'' Cassie mendengus kesal, ingin sekali dia mencakar wajah menyebalkan Rayan. Cassie ikut sakit hati, setiap kali mengingat cerita Xena dan sakit hatinya Xena.
Rayan mulai gelisah. Dia pun berjalan keluar, berniat menemui Xena langsung di rumahnya. Rayan tidak tau, pria itu tidak mengerti kenapa tiba-tiba Xena resign dari perusahaannya.
*****
''Nak Rayan?'' Mamanya Xena menyambut dengan baik. Ya walaupun sebenarnya dia tau alasan besar kepergian Xena yang karena pria di depannya ini. Hanya Yudi yang tidak tau kalau Xena pergi dengan alasan patah hati.
''Ada apa ya nak Rayan datang kemari?''
''Saya mau bertemu Xena, Xenanya ada tan?''
''Xena udah nggak tinggal disini lagi dan tolong untuk nak Rayan, tante mohon maaf, tapi tolong jangan mencari Xena lagi,'' ucap mamanya Xena dengan lembut.
Kening Rayan mengerut, agak bingung dengan ucapan mamanya Xena. Xena tidak lagi tinggal di rumah itu? Dan tadi, apa maksud mamanya Xena memintanya untuk tidak mencari Xena lagi?
''Maaf tan, kalau Rayan boleh tau, sekarang Xenanya dimana ya?''
Mamanya menggeleng. ''Xena udah nggak mau ketemu kamu lagi nak.''
Semakin bingung saja Rayan. Ini kenapa tiba-tiba Xena tidak mau bertemu dengannya lagi?
Rayan belum sadar, akan tingkahnya selama ini, yang selalu dan selalu hanya bisa menyakiti Xena. Rayan bahkan tidak sadar, kalau belakangan ini dia sudah sangat menyakiti Xena.
Bersambung .....