Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 54



''Jadi sebulan ini kamu tinggal disini?'' Rayan memperhatikan seluruh sudut apartemen Xena. Cukup luas dan tertata rapi.


''Kamar kamu yang mana?''


Xena menunjuk dengan dagu ke arah kamarnya. Rayan pun langsung malangkah dan membuka kamar Xena. Pria itu berdiri sebentar dan kembali memperhatikan kamar Xena yang juga terlihat rapi dan semua peralatannya di dominasi oleh warna putih. Rayan juga memperhatikan rak buku kecil yang ada di ruangan itu.


Xena hanya melirik saat Rayan sudah berbaring di ranjangnya. Xena pun berjalan ke arah meja kecil di sudut kamar dan mulai mengerjakan tugasnya.


''Lagi ngapain?'' Dia kaget saat Rayan sudah berdiri di belakangnya. Kepala pria itu dimajukan, setara dengan kepala Xena.


Xena menelan salivanya, agak gugup. ''Tu-tugas.''


Rayan hanya mengangguk. Pria itu tersenyum dan kembali ke ranjang.


Xena langsung membuang nafas legah. Untunglah, Rayan tidak mendengar detak jantungnya yang mungkin setara dengan detak jantung orang yang sedang marathon, saking cepatnya.


Xena kembali melirik Rayan, pria itu sudah mulai menutup matanya. Sudahlah, Xena hanya membiarkan, dia pikir mungkin Rayan capek.


Xena pun mulai melanjutkan tugasnya lagi.


''Xen.'' Tiba-tiba pintu kamar Xena dibuka dari luar. Ada Bryan disana.


Cepat-cepat Xena menempel telunjuknya di bibir, meminta Bryan untuk jangan ribut. Bryan tentu kaget dong, melihat ada Rayan di tempat tidur Xena. Lagian, kenapa pria ini bisa datang kesini, Bryan menatap Rayan tak suka.


Xena melirik Rayan lagi, lalu berdiri, menarik Bryan keluar dan menutup pintu kamarnya.


''Xen.''


''Aku jelasin aku jelasin.''


''Nyusulin kamu?'' Bryan hampir kehabisan kata-kata. Ingin sekali dia masuk dan menonjok wajah Rayan. Bryan tidak terima saja, pria itu tau apa yang Xena rasakan, bagaimana sakitnya Xena yang terpaksa memilih pergi dan meninggalkan Rayan sebulan yang lalu. Dan sekarang? Pria itu dengan gampangnya kembali? Bahkan tanpa rasa bersalah?


''Bry.'' Xena menggeleng. Bryan pun hanya bisa menahan kekesalannya. Dia juga menjadi kesal pada Xena yang segampang itu menerima Rayan lagi.


''Apa kamu nggak punya harga diri Xen? Dia ngebuang kamu begitu aja dan sekarang, saat dia datang lagi kamu langsung menerimanya?''


Lagi-lagi Xena menggeleng. Kalau berpikir secara logika, dia juga ingin mengusir Rayan, tapi hatinya seolah tidak mau melakukan itu. Dia malah ingin menahan pria itu disisinya.


''Xen, aku nggak habis pikir sama kamu.'' Bryan mendengus kesal, nafasnya sampai naik turun saking kesalnya. Bryan marah bukan karena dia cemburu melihat Rayan, tapi karena kesal mengingat Rayan yang sudah sangat menyakiti Xena. Walau bagaimana pun Xena adalah sahabat yang paling dia sayang, seseorang yang paling ingin dia lindungi.


''Bry.''


''Terserah kamu Xen.'' Bryan meninggalkan Xena dan masuk ke kamarnya, dengan sedikit membanting pintu kamar.


Xena hanya menatapnya. Dia tau maksud Bryan baik, tapi entahlah. Hati dan otaknya tidak mau sejalan.


Xena memilih duduk di sofa, dia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, hingga kepalanya menghadap ke atas, ke langit-lagit apartemen mereka. Xena bingung harus bagaimana.


''Udah bangun Ray?'' tanya Xena melihat Rayan yang sudah duduk di ranjang. Dia pun menutup kembali pintu kamar dan melangkah duduk di meja kecil tempatnya mengerjakan tugas tadi.


''Ada apa?'' Xena memperhatikan wajah Rayan yang agak sendu.


Rayan menggeleng, pria itu tersenyum tipis tapi agak sedikit dipaksakan dan Xena tau itu. Xena ingin bertanya lagi tapi sudahlah, dia juga tidak bisa terlalu banyak mencampuri urusan Rayan.


Sebenarnya tadi Rayan mendengar semua pembicaraan Bryan dan Xena. Ruangan itu tidak kedap suara, makanya Rayan bisa mendengar semuanya dengan jelas. Rayan tidak pernah membayangkan dan tidak pernah sadar, kalau Xena begitu terluka akan setiap sikapnya.


Pria itu kembali mengingat sikap-sikap kasarnya di awal pertemuan mereka. Rayan pikir semua karena sikap kasarnya itu. Tapi kan tidak. Yang bikin Xena sedih bukan itu, tapi tentang cara Rayan yang selalu menomorsatukan Sana dan menomor duakan dirinya, Rayan bahkan seperti tidak pernah menganggap hubungan mereka.


Rayan memperhatikan wajah Xena dengan perasaan bersalah, sedangkan Xena, wanita itu malah memberikan senyumnya, walaupun terlihat agak menyedihkan. Wanita itu memilih untuk kembali melanjutkan tugasnya.


Hampir masuk jam makan malam, Xena pun keluar lagi, ingin memasak makan malam untuk mereka. Sejak tadi, Rayan juga masih betah di kamar Xena, memperhatikan wanita itu.


''Mau kemana?'' tanya Rayan begitu Xena ingin keluar.


''Masak Ray.''


Rayan pun mengangguk. Dia juga langsung berdiri dan mengikuti Xena. Pria itu duduk diam sambil memperhatikan Xena yang sedang mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas sampai pada Xena yang sudah memasak.


''Ck, belum pergi juga kamu.'' Bryan menghampiri, menatap sinis pada Rayan.


''Aku akan tinggal disini bersama Xena.''


Makin kesal saja Bryan. Pria itu langsung melotot ke arah Xena, Xena hanya tersenyum. Nanti dia akan membujuk Rayan untuk menginap di hotel, pikirnya.


Xena juga tidak mau Bryan terganggu dengan kedatangan Rayan, karena walau bagaimana pun dia harus menghormati teman separtemennya itu.


Sepanjang makan malam, Bryan terus menatap sinis Rayan. Bryan dengan jelas memperlihatkan rasa tidak sukanya.


Xena hanya bisa diam, agak tertekan karena berada diantara dua pria itu. Rayan juga sama, sejak tadi terus melempar tatapan kesalnya pada Bryan.


Sudahlah, terserah mereka saja. Xena memilih untuk fokus pada makanannya. Setelah makan, Xena langsung berdiri, dan meminta kedua pria itu untuk mencuci piring dan membereskan dapur.


''Xen.'' Bryan ikut masuk ke dalam kamar Xena.


''Tolong kamu usir pria itu, aku benar-benar tidak nyaman melihatnya.''


''Kalau tidak nyaman, kenapa bukan kau saja yang keluar dari apartemen ini?'' Rayan sudah berdiri di belakang Bryan. Bryan pun menoleh dan mereka kembali terlibat adu pandangan.


''Bry.'' Xena meminta Bryan untuk keluar, karena dia mau berbicara dengan Rayan. Rayan memberikan senyum meledeknya melihat kekesalan Bryan karena Xena baru saja memintanya keluar.


''Ray, ada yang mau aku omongin.''


''Kalau kamu memintaku pergi, tidak akan!'' Rayan sudah duduk di ujung ranjang Xena. Pria itu tidak menatap Xena sama sekali dan memilih mengeluarkan ponselnya dan mulai mengutak ngatiknya.


''Ray, kamu nggak bisa tinggal disini. Lagian kamu bukannya banyak kerjaan di Indonesia?''


''Aku bisa melakukan kerjaanku dari sini.''


''Ray.''


''Xena, aku datang kesini mencarimu dan sekarang kamu malah mengusirku?''


Xena mendengus, mulai kesal pada pria itu.


''Ray, aku disini tinggal sama Bryan dan aku juga harus menghormati dia sebagai teman se apartemenku. Lagian, disini hanya ada 2 kamar, kamu nggak mungkin terus-terusan tinggal di kamarku.''


''Ya apa salahnya?''


Semakin kesal saja Xena.


Bersambung .....