Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 42



Dan disinilah tim ahli gizi sekarang, duduk di salah satu cafe yang lumayan populer. Mereka semua termasuk Xena duduk dengan tegap, menyambut Rayan yang baru masuk. Kaku sekali bukan?


Makan malam ini tidak terlihat seperti makan malam, semua orang hanya diam, tersenyum canggung pada Rayan. Tidak ada rasa santai sama sekali, yang ada hanya rasa tertekan karena kehadiran Rayan.


Maksudnya, kalaupun ada makan malam tim, kenapa Rayan harus hadir segala sih, kan bikin mereka kurang nyaman.


Xena sih tidak begitu tertekan, tapi kasihan rekan kerjanya yang lain. Bahkan si botak saja ragu untuk mengajak Rayan ngobrol.


‘’Xen, pacar mu benar-benar menakutkan. Ini gimana makanannya mau ketelan coba?’’ Cassie berbisik. Xena hanya bisa membuang nafasnya kasar. Di ujung meja, Rayan duduk tegap tanpa berucap apapun, makan dengan sangat tenang.


‘’Ada apa?’’


‘’Lihat ponsel kamu.’’


Xena memerika ponselnya, agak kaget melihat banyaknya chat di obrolan grup. Matanya kembali melirik Rayan yang ternyata juga sedang menatap kearahnya.


Xena jadi tidak tega, apalagi setelah membaca obrolan-obrolan grup yang terus menerus mengatai dan mengumpat Rayan.


[Dia ngapain ikut sih?]


[Aduh nggak nyaman banget sih makan malam sama bos yang mukanya kaku kayak kanebo gitu]


[ini lama-lama aku bakalan sakit perut nih, karena makan dalam keadaan tertekan gini]


[Ih lagian kenapa dia ikut segala sih? Tadinya seneng banget pas tau ada acara makan malam tim eh nggak taunya si muka kaku ikut juga]


Begitulah kira-kira isi obrolan tim mereka. Hanya anggota tim pria yang saling berbalas chat di grup sedang yang wanita sepertinya hanya menyimpannya dalam hati, sangat terlihat jelas dari ekspresi mereka.


Tiba-tiba, Xena berdiri, menghampiri Rayan dengan membawa segelas orange jus. Rayan dan anggota tim bertanya tanya tentang apa yang akan Xena lakukan.


‘’Ha?’’ Rayan bingung, Xena memberikan orange jus itu padanya padahal jelas-jelas Rayan juga punya orange jus.


‘’Buat pak Rayan.’’


Xena agak memaksa, minta Rayan untuk segera minum orange jus dari dia.


Rayan minum hingga hampir setengah gelas, setelahnya, Rayan kembali menatap Xena dengan penuh tanda tanya.


‘’Pak Ray udah minum orange jusnya kan, itu tandanya pak Rayan setuju dengan permintaan saya.’’


Kening Rayan mengerut, perasaan Xena tidak pernah bilang kalau menginginkan sesuatu.


‘’Apa yang kamu mau?’’


‘’Duduk disini, disamping pak Rayan,’’ tunjuk Xena sambil menarik satu kursi, meletakkannya di samping kursi milik Rayan dan duduk. Rekan-rekannya saling memandang, takut kalau Xena kena omel. Untungnya, Rayan membiarkannya begitu saja, tidak menjawab tapi juga tidak menolaknya.


Xena agak mencondongkan tubuhnya, menunjuk ke arah makanan yang dia tinggalkan di tempat duduk sebelumnya. ‘’Cas, makananku dong, tolong dioperin aja.’’


‘’Enak banget, terimakasih ya pak Rayan karena sudah mengadakan makan malam ini untuk kami,’’ ucap Xena lagi, sengaja, untuk memancing rekan-rekan kerjanya.


Sedetik kemudian, mereka sudah mendengar sahutan bergantian dari beberapa rekan kerja yang juga ikut menyampaikan rasa terima kasih mereka pada Rayan.


Xena makan dengan santai, rekan kerjanya pun mulai rileks dan menikmati makanan mereka. Perlahan, suasana yang tadinya canggung berubah menjadi santai, mereka sudah saling ngobrol, bercandadan sesekali tertawa.


Rayan menatap Xena sambil tersenyum tipis. Sebenarnya, Rayan cukup peka akan suasana yang tadi terasa sangat canggung. Tapi syukurlah, ada Xena dengan segala tingkah laku anehnya yang ternyata bisa membantu Rayan juga.


Sikap aneh itu, perlahan menarik bagi Rayan. Dia juga tidak lagi merasa terganggu, seperti saat awal-awal dia mengenal Xena.


‘’Xen, Ray.’’ Yang dipanggil langsung menoleh. Ada Aldo di belakang mereka.


Semakin ramai saja makan malam itu, karena kedatangan si Aldo yang sikapnya 11, 12 lah dengan Xena. Sama-sama suka nyerocos wkwkwk.


Aldo dan Xena terus berceloteh, bergantian membuat lelucon yang semakin menambah ramainya suasana. Sesekali, Aldo mencuri pandang pada Cassie yang nampak diam dan Xena sempat menangkap aksi curi-curi pandang tersebut.


‘’Pak Aldo sama Xena udah lama ya kenalnya, keliatan akrab banget.’’


Mata Rayan membola, memperhatikan Aldo yang tiba-tiba meletakan tangannya di pundak Xena. ‘’Kita nih udah bestie banget, benar nggak Xen?’’ jawab Aldo mengedip genit, Xena membenarkan lalu keduanya tertawa.


‘’Xen.’’ Xena reflesk menoleh, entah darimana Bryan tau keberadaan Xena tapi nggak pa-palah, Xena cukup senang lalu meminta izin pada semuanya, agar Bryan bisa bergabung dengan mereka.


''Kok kamu tau aku ada disini, oh ya, maaf ya aku lupa kasih tau kamu kalau ada amkan malam tim.''


''Kebiasaan banget sih Xen, aku nunggu lama loh depan kantor kamu.''


''Trus tau aku disini darimana?''


''Dari ponsellah.''


Xena membulatkan mulutnya, sedikit lupa kalau dia dan Bryan saling berbagi lokasi satu sama lain.


Cassie mengalihkan, mengoper udang pada Xena. ‘’Udangnya Xen.’’ Tentu Xena tidak menolak, dia mengambil 2 sendok dipiringnya, lalu mengoper lagi pada orang lain.


‘’Loh, kamu bukannya alergi udang?’’ Mulut Xena kembali menutup. Padahal udah kena bibirnya loh tadi, tinggal sedikit lagi gol eh si Rayan malah menegur. Mana udangnya enak lagi, sudah keliatan dari tampilannya yang bikin Xena ngeces.


‘’Kamu hati-hati loh, jangan asal makan kayak gitu.’’


Semua mata memandang pada Rayan, bukan karena omelannya barusan tapi lebih kepada penasaran kenapa bisa Rayan tau kalau Xena alergi udang. Berarti keduanya udah sering makan bareng dong kan?


Eh tidak deh, omelan tadi juga menimbulkan sebuah kecurigaan.


Mereka pun kembali teringat, akan hari dimana Rayan dan Xena datang ke kantor bersama.


‘’Menurutku sih mereka beneran pacaran, liat deh,’’ bisik seseorang pada rekan disebelahnya. Rekan lain juga mulai menduga, tentang hubungan Xena dan Rayan.


‘’Xena nggak suka udang?’’ Suara tawa Bryan mengalihkan perhatian mereka. ‘’Kamu nggak suka udang Xen? Sumpah, kayaknya ini hal terlucu yang pernah aku dengar.’’


Xena tersenyum canggung, menatap pada Rayan yang sepertinya sedang menunggu klarifikasi Xena.


‘’Se - sebenarnya aku nggak alergi udang.’’


Xena menggaruk belakang kepalanya, masih melihat Rayan yang diam tanpa mengatakan apa-apa.


‘’Xena itu.’’ Bryan mengambil udangnya lagi, menyuapi Xena. Belum juga dikunyah, Xena sudah lebih dulu menggoyang-goyangkan kepalanya. Jempolnya terangkat, sebagai respon akan rasa udang yang menurutnya sangat enak.


‘’Enak banget Bry.’’


Xena juga menyuapi Bryan. ‘’Enak nggak?’’ tanyanya penuh antusias.


‘’Banget.’’


Rayan masih diam saja, memperhatikan Xena yang sepertinya memang menyukai udang. Tapi kenapa Xena berbohong waktu itu, kenapa Xena bilang dia tidak suka udang? Rayan jadi penasaran.


Sesekali, Xena menghentikan tawanya, melirik Rayan dengan ujung matanya. Xena sempat mempertimbangkan untuk minta maaf pada Rayan tapi setelah dia pikir lagi, sepertinya nggak perlu deh, apalagi mengingat waktu itu dia terpaksa berbohong karena Rayan juga, karena Rayan yang saat itu protes, takut kalau-kalau udangnya cepat habis dan Sana belum puas.


‘’Jadi ini Ray yang Xena maksud waktu itu?’’ Diam-diam, Bryan memperhatikan Rayan. Kata mereka sih Rayan adalah atasan, tapi tidak untuk Bryan, pria itu yakin kalau Rayan lebih dari seorang atasan untuk Xena.


Tadi, Bryan juga beberapa kali menangkap gerak Xena yang tidak biasa, yang selalu mencuri pandang pada Rayan.


Walau sudah begitu, Bryan seakan menolak fakta itu. Ada sedikit rasa tidak senang saat melihat Rayan apalagi saat Xena sedang memperhatikan pria itu.


Bersambung .....