
''Lepaskan.''
Bryan pun melepaskan tanga Sana. Sekarang mereka sudah berada di taman yang tidak jauh dari apartemen Bryan dan Xena. Taman yang sama dengan taman yang mempertemukan Rayan dan Xena lagi.
''Kamu apa-apaan sih?'' Sana menatap nyalang Bryan. Wanita itu ingin berbalik dan pergi, tapi ucapan Bryan menahannya.
''Kamu itu cantik, carilah seseorang yang benar-benar menyukaimu dan jangan bertahan mati-matian pada seseorang yang tidak menginginkanmu. Itu hanya akan menghancurkan akal sehatmu.''
Sana berbalik, dia menatap Bryan yang sedang menatap ke depan, pada beberapa pria yang sedang bermain basket.
''Berbicara memang gampang, tapi kamu tidak tau seberapa sulitnya hal itu, saat kamu mengalaminya.''
''Kata siapa aku tidak mengalaminya, aku bahkan sedang mangalaminya sekarang. Tapi lihatlah, aku baik-baik saja bukan?'' Bryan menoleh. Pria itu tersenyum kecil melihat ekspresi Sana yang agak kaget mendengar ucapannya barusan.
''Kamu harus bisa mengontol perasaanmu. Biarkan pikiran yang bekerja. Aku jamin, kamu akan merasa lebih baik.''
Sana masih saja diam. Wanita itu malah memeprhatikan wajah Bryan dalam-dalam. Seperti tidak yakin kalau pria itu sedang merasakan apa yang dia rasakan sekarang. Pasalnya, Bryan terlihat biasa dan tanpa beban sama sekali.
''Perasaan seseorang tidak bisa kamu paksa. Sekeras apapun kamu berusaha, kamu tidak akan mendapatkan sesuatu yang memang tidak diciptakan untuk kamu miliki. Hidup masih panjang, masih banyak yang harus kamu lalui. Jangan menghancurkan kebahagianmu dengan kesedihan yang berlarut. Saat kamu memilih jatuh cinta kan harusnya kamu sudah mengetahui konsekuensinya.''
Sana kehabisan kata-kata. Ya, dia akui apa yang Bryan bilang itu benar tapi rasanya, kenapa sangat sulit untuk dilakukan?
Dia bahkan tidak bisa berhenti memikirkan Rayan, lalu bagaimana caranya dia bisa melupakan pria itu?''
''Berpikir yang sehat. Kamu juga pasti ingin bahagia kan? Maka dari itu, mulai sekarang belajarlah mengiklaskan. Aku yakin suatu saat kamu akan bertemu dengan seseorang yang akan sangat mencintaimu. Kamu pantas untuk itu, jadi jangan terlalu bersedih.''
Sana agak tersentuh dengan ucapan itu. Apa sekarang dia harus berusaha melupakan Rayan? Apa bisa? Sana tetap ragu.
''Jangan terlalu dipikirkan, nikmati saja prosesnya. Sesuatu yang baik akan mendatangimu, kalau kamu menjalani hidupmu dengan baik. Dan satu lagi, jangan merusak kebahagian orang lain, itu bukan perbuatan yang pantas dipuji.''
Sana tersentak, tiba-tiba tangan Bryan mengusap lembut kepalanya. Tanpa sadar, dia ikut tersenyum, saat melihat pria itu tersenyum.
''Semangatlah. Jika kamu tidak mendapatkan sesuatu, maka kamu akan mendapatkan hal lain, yang mungkin lebih berarti dan lebih berharga dari yang sebelumnya,'' ucap pria itu lagi.
Entah kenapa, ucapan-ucapan Bryan seolah membuka pikiran Sana. Ya walaupun dia tidak tau hasilnya, tapi dia akan berusaha untuk mencobanya.
Sebenarnya, belakangan ini Sana juga tidak suka akan sikapnya sendiri. Dia merasa menjadi wanita jahat, hanya karena rasa cemburunya pada Xena. Dan sebelum itu benar-benar memburuk, dia harus mencegahnya.
''Terimakasih.'' Bryan menoleh lagi, karena tiba-tiba mendengar ucapan terimakasih dari Sana.
''Nggak perlu berterimakasih, itu bukanlah hal yang besar.''
''Oh ya, aku Sana, kamu?'' Sana mengulurkan tangannya.
''Bryan,'' ucap Bryan mengambil tangan Sana. Keduanya pun tersenyum canggung dan dengan cepat melepas jabatan tangan mereka.
''Sudah lama bersahabat dengan Xena?'' tanya Sana tiba-tiba.
Bryan mengangguk.
''Jadi, dia yang kamu maksud tadi? wanita yang kamu sukai?''
Bryan hanya tersenyum tanpa menjawab. Sedangkan Sana juga sudah kembali diam. Mereka memilih menikmati permainan basket di depan mereka.
Di apartemen, Rayan sedang sibuk dengan pekerjaannya dan Xena memilih untuk mengerjakan tugasnya.
''Ray, pekerjaanmu sebayak ini, apa tidak masalah ditinggal lama?''
Rayan menghentikan kegiatan ketik mengetiknya dan beralih menatap Xena. ''Nggak pa-pa, masih bisa aku tanganin kok.''
Tatapan Rayan semakin serius. ''Kalau aku pergi terus kamu disini gimana?''
''Ray, aku bukan anak kecil lagi, aku bisa jaga diri. Disini juga ada Bryan yang akan menjagaku dan setelah kuliahku selesai, aku akan langsung pulang ke Indonesia.''
Rayan masih diam. Sebenarnya pria itu ingin bertanya, 'Kalau aku merindukanmu bagaimana?' hanya saja dia gengsi.
''Ray.''
''Aku akan mempertimbangkannya.''
Xena pun mengangguk. Xena hanya tidak mau, Rayan lalai dalam tanggung jawabnya, apalagi semua ini bersangkutan dengan Xena juga.
''Xen, kalau aku pergi, apa kamu nggak akan merindukanku?''
Xena tertawa kecil. ''Sudah zaman modern Ray, banyak cara yang bisa dilakukan. Kamu bisa menelponku setiap hari atau melakukan panggilan video.''
Rayan masih agak keberatan. Bagaimana kalau Xena membutuhkannya, masa dia nggak ada disamping wanita itu dan malah si Bryan.
''Ray, prioritaskan apa yang perlu diprioritaskan. Kamu itu seorang Ceo, kamu bertanggung jawab untuk masa depan perusahaan dan para karyawan loh.''
''Iya ... iya aku pulang, tapi minggu depan.''
Xena tersenyum. Dia senang mendengar keputusan Rayan barusan.
*****
Tidak terasa, hari ini Rayan sudah harus kembali ke Indonesia. Xena datang ke bandara untuk mengantarnya.
''Aku bingung, kenapa aku ada di tempat ini sekarang?'' protes Bryan berpura-pura kesal.
Tadi, pria itu sedang tidur dan tiba-tiba Rayan datang membangunkannya. Rayan memaksa Bryan untuk ikut ke bandara, katanya agar supaya Xena tidak pulang sendirian nanti.
Xena dan Rayan tidak menanggapi protesan Bryan itu. Mereka hanya asyik berpelukan dan saling mengucapkan kata selamat tinggal. Tidak lupa, Rayan juga mencium kening Xena lalu mulai melambai dan melangkah pergi.
''Ayok Xen, udah nggak keliatan kali orangnya.'' Bryan menarik Xena pergi, karena wanita itu masih setia berdiri disana, padahal penampakan Rayan sudah tidak terlihat lagi.
''Kamu nangis?'' Bryan menoleh kesamping, melihat Xena yang ternyata sedang menangis. Lama-lama Bryan pusing juga kalau seperti ini.
''Aku kangen sama Rayan Bry.''
Hedeh. Bryan memutar malas bola matanya. Ini bahkan belum 20 menit sejak mereka berpisah di bandara tadi dan sekarang Xena sudah menangis karena kangen? Tapi tidak heran sih, namanya juga Xena.
Dulu, waktu pertama kali Bryan memutuskan kuliah di California, Xena juga seperti ini, selalu menangis dan terus terusan bertanya kapan dia akan pulang.
Waktu pertama kali Xena datang kesini, beberapa hari Xena juga menangis karena merindukan mamanya dan Yudi.
Sudahlah, Bryan harus memaklumi hal itu.
''Bry kapan sih aku akan lulus kuliah?''
''Ya tergantung kamu Xen, ngapain nanya aku.''
Pria itu hanya bisa menggeleng kepalanya, mendengar beberapa kali Xena membuang nafas berat. Wanita itu, sudah seperti orang yang memiliki masalah berat saja.
Hari-hari pun berlalu. Setiap hari Xena dan Rayan akan selalu berbagi kabar lewat ponsel. Xena melewati harinya dengan baik. Dia juga lebih semangat lagi dalam menyelesaikan kuliahnya.
Bersambung ....