Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 36



‘’Ntar pulangnya aku jemput.’’


‘’Hhmm,’’ jawab xena tersenyum dengan sangat lebar. Entahlah, wanita itu merasa sangat bahagia dan dalam hatinya, dia cukup bersyukur karena sang sahabat pulang di waktu dia sangat membutuhkan pria itu. Xena merasa kehadiran Bryan bisa sedikit menghiburnya.


‘’Bry.’’


‘’Hhmm.’’


‘’Terimakasih.’’


‘’Untuk?’’


‘’Terimakasih karena sudah menjadi sahabat terbaikku,’’ ucap Xena dengan tulus. Bryan tentu saja senang.


‘’Aku masuk ya, kalo telat bisa gawat.’’ Xena melangkah mundur, melambai pada Bryan. ‘’Kalau menjemputku, tolong bawakan minuman kesukaanku,’’ teriaknya lalu memutar tubuhnya dan sedikit berlari masuk ke bangunan perusahaan.


‘’Suruh Xena ke ruanganku, sekarang!’’ suruh Rayan pada Hans. pria itu terus melangkah masuk ke ruangannya.


*****


‘’Ada apa pak?’’ tanya Xena begitu masuk ke ruangan Rayan.


‘’Sore nanti, ikut denganku.’’


‘’Kemana pak?’’


‘’Ikut saja, nggak usah banyak tanya.’’


‘’Tap - ‘’


Xena hanya bisa menelan ludahnya, melihat tatapan tajam Rayan.


‘’Keluar dari ruanganku, jam 5 aku tunggu di lobby.’’


‘’Lobby?’’


‘’Keluar Xena.’’ Rayan berucap dengan nada datarnya. Xena pun buru-buru keluar. Entahlah, tiba-tiba dia sedikit takut pada pria itu.


‘’Kenapa sih dia?’’ gumam Xena begitu menutup pintu ruangan Rayan sembari mengelus dadanya. Wanita itu hanya bisa menggeleng dan langsung melangkah pergi.


*****


‘’Ada apa Xen?’’


‘’Bry, nanti nggak usah jemput aku ya, aku ada kerjaan tambahan soalnya.’’


‘’Ya nggak pa-pa kalau udah kelar tinggal telepon aja, aku tetap akan menjemputmu.’’


‘’Nggak usah Bry, aku keluar dengan atasanku dan sepertinya dia yang akan mengantarku pulang.’'


‘’Atasan? Kamu dekat dengan atasanmu?’’


‘’Sedikit.’’


‘’Oh yaudah, tapi kalau misalnya atasan kamu nggak bisa nganter, kamu langsung telepon aku, nanti aku jemput. Jangan pulang sendiri kalau udah malam, oke…?’’


‘’Siap bos.’’ Xena cekikikan dan mengakhiri panggilan telepon mereka.


‘’Seandainya kata-lata itu, kamu yang mengatakannya, pasti akan lebih menyenangkan untuk didengar,’’ guman Xena tersenyum tipis, tapi tak berapa lama dia sudah kembali cemberut. ‘’Ck, jangan terlalu banyak bermimpi Xena, pria itu nggak mungkin melakukan hal itu untukmu!’’


*****


Jam 5 sore. Xena kembali pulang cepat, wanita itu keluar dan memutuskan untuk menunggu Rayan di halte terdekat.


‘’Hallo pak Ray.’’


‘’Kamu dimana sih? Udah saya bilang -’’


‘’Saya di halte dekat kantor pak.’’


Rayan mendesah kesal, mematikan panggilan telepon dan langsung menuju halte terdekat.


‘’Naik!’’


‘’Pak, ini kita mau kemana?’’


Rayan menyatukan alisnya, pria itu memutar kepalanya, menatap Xena yang juga sedang menatapnya.


‘’Pak Ray?’’


Xena hanya diam, mengangguk dan tersenyum kecil. Sementara Rayan, pria itu sudah mendengus dan tak berapa lama, dia sudah menyalakan mobilnya dan langsung meninggalkan tempat itu.


‘’Dia kenapa sih?’’ Xena bingung saja dengan sikap Rayan.


‘’Pak Ray.’’


‘’Rayan Xena, panggil aku Rayan seperti biasanya.’’


Xena hanya bisa mengangguk kecil ‘’oh ya Ray, kita mau kemana?’’


‘’Kamu akan tau saat sampai nanti.’’


Xena kembali mengangguk, tapi dalam hatinya, dia cukup kesal dengan jawaban Rayan tersebut. Memang apa salahnya pria itu menjawab pertanyaannya sih?


Sesekali Rayan memperhatikan Xena, dari kaca spion. Wanita itu sedang asyik dengan layar ponselnya, sambil tersenyum-senyum kecil.


‘’Carikan untukku, restoran terdekat dari tempat ini,’’ suruh Rayan tiba-tiba.


‘’Res -restoran?’’


‘’Aku ingin makan malam, carikan restoran untukku!’’


Xena tak mengatakan apa-apa lagi, wanita itu langsung mencari. Setelah dapat, dia langsung memberitahu Rayan.


‘’Aku nggak suka restoran itu, tempatnya kurang bagus. Cari lagi’’


‘’Aku nggak suka pemandangannya, restorannya nggak terlalu ramai. Cari lagi’’


‘’Aku minta restoran yang bagus Xena, bukan restoran yang seperti itu. Cari lagi.’’


Xena tak bisa lagi menahan rasa kesalnya. Sejak tadi, restoran yang dia rekomendasikan selalu saja ditolak Rayan, dengan banyak sekali alasan tak masuk akal yang pria itu katakan.


‘’Sebenarnya bapak ingin restoran yang seperti apa sih? Kalau tidak puas dengan apa yang saya cari, lebih baik cari sendiri!’’


‘’Kamu nggak liat, aku sedang menyetir. Dan sudah ku katakan, panggil aku Rayan Xena!’’


Xena hanya bisa memutar bola matanya, dia enggan untuk menjawab ucapan Rayan barusan. Tiba-tiba saja, dia meminta Rayan untuk menghentikan mobilnya.


‘’Kamu laper kan? Turun deh.’’


Rayan menatap Xena bingung, begitu juga pada pemandangan sekelilingnya.


‘’Turun Ray.’’


‘’Ini tempat apa sih?’’


‘’Kamu laper kan?’’


Rayan mengangguk sedang Xena, wanita itu langsung menarik tangan Rayan dan masuk ke salah satu tenda yang menjual ayam lalapan dan seafood. Setelahnya, Xena langsung memesan beberapa menu yang dia inginkan.


‘’Belum pernah makan di tempat seperti ini kan?’’


‘’Hhmm,’’ jawab Rayan dengan wajahnya yang sedikit risih.


‘’Tenang aja, makanannya enak kok, mereka juga cukup bersih.’’


‘’Bersih apanya, makanan di pinggir jalan seperti ini.’’


‘’Nggak usah lebay deh Ray, makanan di pinggir jalan juga tetap disebut makanan. Aku jamin, setelah makan ditempat ini, kamu pasti akan balik ke tempat ini lagi.’’


Rayan malah tertawa kecil. ‘’Kamu yang jangan lebay. Makanan dipinggir jalan, nggak mungkin seenak makanan restoran.’’


‘’Kita liat aja nanti. Kamu mau taruhan nggak?’’


Rayan mengerut. ‘’Taruhan apa?’’


‘’Kalau makanannya nggak enak, kamu boleh deh nyuruh aku melakukan apapun, tapi kalau makanannya enak, kamu harus nurutin kemauan aku selama seminggu ke depan. Gimana, berani nggak?’’


‘’Kamu yakin, mau taruhan seperti itu?’’


‘’Hhmm.’’


‘’Oke, tapi ganti taruhannya. Kalau aku yang menang, kamu harus mengikuti semua keinginanku untuk sebulan kedepan dan kalau aku kalah maka aku akan mengikuti kemauanmu selama seminggu kedepan, oke?’’


‘’Nggak adil banget sih Ray.’’


‘’Aku atasan kamu loh. Jadi, taruhan itu harus lebih menguntungkan untukku.’’


Xena berdecak. ‘’Diluar kantor, masih aja bawa-bawa jabatan.’’


‘’Aku dengar loh omongan kamu Xen.’’


‘’Yaiyalah pasti dengar, kamu kan punya telinga Ray. kalau udah nggak bisa dengar, itu malah berbahaya.’’


Rayan ikut berdecak. Udah deh, gimana, kamu setuju nggak sama taruhannya?’’


‘’Iya,’’ jawab Xena dengan malas sedang Rayan langsung tersenyum senang. Pria itu sangat yakin kalau dialah yang akan jadi pemenangnya.


‘’Siapa?’’ tanyanya begitu mendengar dering ponsel Xena. tak menjawab, Xena malah tersenyum, melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya.


‘’Hallo bry. Aku lagi sama bosku, lagi mau makan malam. Kamu dimana?’’


‘’Bos?’’ guman Rayan dalam hati, dengan perasaan tak sukanya. Entahlah, dia sangat tak suka mendengar hal itu keluar dari mulut Xena. bukankah mereka sepasang kekasih?


‘’Oh gitu, yaudah nanti aku telepon kamu lagi deh. Oh ya Bry, malam ini kamu nginep dirumah lagi kan? Nanti beliin minuman kesukaanku ya. Kalau aku pulangnya telat, kamu taruh aja di kulkas.’’ Setelahnya, Xena langsung mengakhiri panggilan telepon. Wanita itu hanya tersenyum kecil, melihat Rayan yang melotot padanya.


‘’Siapa?’’


‘’Hhmm?’’


‘’Siapa yang menelpon mu barusan.’’


‘’Bryan.’’


‘’Bryan siapa?’’


Bukannya menjawab, Xena malah lebih fokus pada pelayan yang sedang melangkah ke arah mereka sembari membawa makanan yang tadi dia pesan.


‘’Makanannya udah siap,’’ ucapnya kegirangan, sedang Rayan, pria itu mendengus dan masih menatap Xena dengan tatapan kesalnya.


‘’Makan Ray,’’


Dengan perasaan kesalnya, Rayan mengambil piring yang Xena berikan. Pria itu juga mengambil sendok dan garpu sedang Xena, langsung merampas sendok dan garpu tersebut.


‘’Makanan seperti ini, lebih enak jika dimakan dengan menggunakan tangan.’’


‘’Memangnya kamu pikir aku makan dengan kaki?’’


‘’Maksudku makan dengan tangan langsung Ray, nggak pake sendok dan garpu.’’


‘’Kamu jangan aneh-aneh deg Xen.’’


Xena tidak menggubris, wanita itu menarik tangan Rayan, berdiri untuk mencuci tangan mereka. Setelahnya, dia mencontohkan cara makan pakai tangan.


‘’Aku tau kali caranya, hanya saja aneh untukku makan dengan cara yang seperti itu.’’


‘’Dicoba dulu, enak tau.’’


Rayan tetap menolak, pria itu lebih melebarkan matanya, lalu sedikit berteriak meminta sendok dan garpu.


‘’Nggak asyik banget sih Ray,’’ ucap Xena melihat Rayan. Tak berapa lama, dia sudah diam, menantikan reaksi Rayan, setelah mencoba makanan tersebut.


‘’Gimana, enak kan?’’


Bersambung.....