
''Xen kamu apa-apaan sih.'' Rayan menatap garang Xena yang sedang menarik paksa tangannya keluar dari apartemen. Wanita itu terus menarik paksa Rayan, membawa Rayan ke satu hotel yang tidak terlalu jauh dari apartemennya.
''Menginap disini, kalau kamu masih mau tinggal di kota ini,'' ucap Xena. Sekarang mereka sudah masuk ke dalam kamar yang tadi Xena pesan.
''Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal dengan pria itu.''
''Ray, sebenarnya kamu ini kenapa sih? Jangan bertingkah berlebihan dan bikin aku salah paham. Kalau kamu terus bersikap seperti ini, aku akan berpikir kalau kamu menyukaiku.''
Rayan tertawa sinis. Dia sudah menyusul Xena sejauh ini, memangnya apalagi alasannya, kalau bukan karena dia menyukai wanita itu?
Xena ingin keluar, ingin menenangkan diri, karena tadi sempat menggebu-gebu.
''Mau kemana?'' Rayan langsung menahan.
Xena menutup matanya sejenak, melepas genggaman tangan Rayan dan menoleh. ''Ray, pulanglah,'' ucapnya berusaha tersenyum.
Rayan hanya berdiri diam, memperhatikan seluruh wajah Xena. ''Aku akan pulang asal kamu ikut denganku.''
''Ray kamu kenapa sih sebenarnya? Aku jauh-jauh kesini, hanya untuk menghindar dari kamu, agar kamu bahagia dengan wanita yang kamu cintai.'' Xena menutup rapat bibirnya, menahan air mata yang sudah siap mengalir keluar. Kalau Rayan terus bersikap seperti ini, dia rasa pertahananya akan segera runtuh.
Xena berbalik lagi, tapi tiba-tiba, tangan Rayan sudah melingkar di pinggangnya. Xena menatap ke bawah, pada tangan Rayan yang sedang mengunci tubuhnya dan air mata yang sedari tadi dia tahan pun perlahan keluar.
''Aku menyukaimu Xena, apa kamu tidak mengerti?''
Xena refleks menoleh. Menatap dalam wajah Rayan.
Rayan melepas pelukannya, dia memutar tubuh Xena agar menghadapnya. Diambilnya kedua tangan Xena, untuk dia genggam. ''Aku menyukaimu Xena, makanya aku datang menyusulmu kesini.''
''Ray kamu ....?'' Xena masih nampak tidak percaya dengan pengakuan Rayan. Kenapa bisa? Kenapa tiba-tiba Rayan mengatakan menyukainya? Ini beneran apa mimpi?
Mata Xena mengikuti tangan Rayan yang mulai terangkat dan mengelus lembut wajah Xena. ''Aku menyukamu,'' ucap Rayan lagi.
Xena langsung jongkok, wanita itu menangis keras sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rayan jadi panik, dia bingung kenapa Xena tiba-tiba menangis sekencang itu.
''Kamu jahat Ray, jahat banget,'' rancau Xena dalam tangisnya.
Rayan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mulai membujuk Xena. ''Xen, kamu kenapa? Ada yang sakit?'' tanyanya.
Xena membuka telapak tangannya, masih sambil menangis. ''Yang kamu katakan tadi, itu beneran?''
''Yang mana?'' Rayan malah berpura-pura begok.
''Tadi kamu bilang kamu menyukaiku, itu benar tidak?''
Rayan tersenyum, lalu mengangguk, Sedangkan Xena sudah kembali mengeraskan tangisannya.
''Loh ... loh ... loh, kamu kenapa sih Xen? sakit apa gimana? jangan bikin panik dong.''
Xena kembali menghentikan tangisannya.
''Kalau kamu menyukaiku, terus bagaimana dengan Sana?''
Rayan memutar jengah bola matanya. ''Kenapa sih kamu suka sekali membahas Sana, Sana dan Sana lagi?''
''Ya karena aku tau kamu mencintainya Rayan.''
''Kalau aku mencintai Sana, aku nggak mungkin nyusul kamu sampe kesini. Paham nggak sampe sini?''
Xena malah diam. Wajahnya menyiratkan kalau dia sedang memikirkan sesuatu. Rayan malah tertawa kecil, karena merasa gemas akan ekspresi Xena itu.
''Jadi, kamu tidak mencintai Sana lagi dan sekarang kamu sudah menyukaiku?'' Xena kembali memastikan. Rayan hanya bisa mengangguk. Pria itu tersenyum, lalu menarik Xena masuk ke dalam pelukannya.
''Berhentilah memikirkan orang lain. Aku datang kesini karena kamu.''
''Bagaimana aku bisa berhenti memikirkannya? Dia kan wanita yang paling kamu cintai.''
''Itu dulu, sebelum aku bertemu wanita aneh yang sekarang menangis di depanku ini.''
''Maksud kamu?'' Xena melepaskan pelukannya. Matanya sudah tajam saja. Rayan hanya bisa tersenyum dan kembali menarik Xena dalam pelukannya.
''Sudahlah, jangan membahas orang lain lagi, buang-buang waktu saja.''
Xena pun mengangguk.
''Oh ya Ray, aku ingin mendengar ucapanmu yang tadi.'' Rayan mengeryit. Ucapan yang mana maksud Xena?
''Tadi kamu bilang kamu menyukaiku, aku ingin mendengarnya lagi.''
Rayan tidak keberatan. Pria itu mengatakannya lagi. ''Aku menyukaimu Xena,'' ucapnya diiringi sebuah senyuman yang membuat Xena sangat senang.
''Ray.''
''Hhmm,'' Rayan menatap Xena yang sedang bersandar di dadanya. Wanita itu menengadah.
''Aku ingin mendengarnya lagi.''
''Mendengar apa?''
''Kamu tau maksudku.''
Rayan hanya tersenyum dan kembali mengucapkan kalimat yang ingin Xena dengar itu. ''Aku menyukaimu Xena.''
Pria itu hanya bisa menggeleng, melihat Xena cekikikan kesenangan karena ucapannya barusan.
1 jam kemudian. ''Ray, aku ingin mendengarnya lagi.''
Rayan sudah tidak bertanya lagi dan langsung mengatakannya. ''Aku menyukaimu Xena.'' Dan itu kembali bikin Xena tertawa senang.
hampir jam 11 malam, Xena bangun dari duduknya.
''Mau kemana?'' tanya Rayan memperhatikan Xena.
''Pulang Ray, udah malam benget ini.''
Rayan menggeleng. Pria itu kembali menarik Xena naik ke ranjang. ''Temani aku disini. Aku agak takut tidur sendirian di tempat baru.''
Xena malah cekikikan, dia memukul kecil lengan Rayan. ''Alasan aja.''
''Please....?''
''Yaudah, tapi aku telepon Bryan dulu, biar dia nggak khawatir.''
Karena Bryan tidak mengangkat teleponnya, Xena pun memutuskan untuk mengirim chat.
Malam ini akhirnya Xena menginap bersama Rayan. Mereka memang tidur di ranjang yang sama, tapi Xena memberi batas ditengah dan Rayan hanya menanggapinya dengan senyum.
''Jangan lewati batas ini, nanti kamu khilaf,'' ucap Xena membalik badannya, jadi memunggungi Rayan.
''Menghadap sini Xen.''
''Aku nggak bisa tidur kalau ngeliat wajah kamu Ray, degdegan terus jadinya.''
Rayan tersenyum senang. Pria itu mengubah tidurnya menjadi terlentang. Dia menoleh pada Xena lagi sebelum menutup matanya untuk tidur.
''Cepat sekali dia tertidur.'' Xena kembali berbalik, wanita itu tersenyum dan mulai ikut memejamkan matanya.
Pagi ini, Xena bangun dan langsung mencari Rayan. Pria itu sudah tidak ada di ranjang.
Xena pikir, apa Rayan sudah pergi meninggalkannya? Apa Rayan berubah pikiran dan memilih kembali pada Sana?
Xena hampir menangis, saat tiba-tiba pintu hotel terbuka dari luar, menampilkan Rayan yang sedang membawa 1 paper bag ditangannya.
Cepat-cepat Xena berdiri, menghampiri pria itu dan memeluknya.
''Hei ada apa?''
Xena hanya menggeleng. Hampir semenit dia memeluk Rayan.
''Kamu dari mana Ray?''
Rayan mengangkat paper bag yang dia bawa. ''Pakaianmu.''
''Kamu pergi untuk membelikanku pakaian?''
Rayan mengangguk, menyerahkan paper bag itu pada Xena. ''Bersihkan dirimu, setelah itu kita turun sarapan.''
Xena mengangguk. Tidak lupa dia mencium pipi kanan Rayan sebelum berlari masuk ke kamar mandi.
''Sepertinya Xena yang dulu sudah kembali,'' gumam Rayan, kembali memikirkan sikap agresif Xena diawal pertemuan mereka.
Sambil menunggu Xena bersiap, Rayan memutuskan untuk mengecek emailnya.
Oh ya, Hans, pria itu juga ikut menginap di hotel ini. Tadinya dia sudah ingin pulang, tapi Rayan menahannya.
Bersambung .....