
''Ray, kamu udah menghubungi Xena?'' tanya mama begitu Rayan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Mama Liana masih menemani Rayan menjaga Sana, sedangkan papa William sudah pulang sejak hampir sejam yang lalu. Sana juga barusan tertidur.
Rayan menggeleng. Sejujurnya, dia bingung harus berkata apa. Rayan sama sekali tidak menyalahkan Xena, dia hanya panik dan takut sesuatu terjadi pada Sana, karena hal tersebut akan berdampak pada Xena.
''Ya dihubungin dong Ray, biar Xenanya nggak khawatir.'' Mamanya menyarankan. Rayan hanya mengangguk saja. Beberapa kali pria itu membuang nafas kasar.
Sementara di kamarnya, Xena malah malamun. Pikirannya belum bisa teralihkan dari Sana, dia masih khawatir.
Satu minggu pun berlalu, keadaan Sana berangsur membaik. Satu minggu terakhir ini, Rayan juga tidak datang ke kantor, pria itu memilih untuk menemani Sana, dia harus memastikan Sana sembuh total.
Hari ini, Xena sudah memutuskan untuk menjenguk Sana. Dia tidak peduli kalaupun Sana akan mengusirnya lagi, yang jelas dia hanya ingin melihat dan memastikan kondisi Sana lebih dulu, sebelum dia pergi.
Tok tok tok
Xena mengetuk pintu ruangan rawat Sana terlebih dulu.
''Masuk.'' Rayan yang berteriak dan memintanya masuk. Rayan tentu tidak tau, kalau Xena yang datang.
Xena pun menggeser pintunya, perlahan dia melangkahkan kakinya. Disana, dia melihat Rayan yang sedang menyuapi Sana, sangat telaten dan lagi-lagi, itu membuat dadanya sesak.
''Maaf mengganggu kalian.'' Rayan teralihkan. Cepat-cepat dia menoleh. Suara itu, Rayan rindu suara itu.
''Xena.'' Nampak raut bahagia di wajah Rayan dan Sana yang melihat itu jadi tidak senang.
''Mau apa lagi kamu kesini?'' tanya Sana ketus.
''Aku hanya ingin menjengukmu.'' Xena meletakan parcel yang dia bawa diatas meja. Dia berdiri agak jauh.
''Ray, aku mau ngomong 4 mata sama Xena, kamu bisa keluar dulu nggak?''
Rayn seperti tidak mendengar. Sedari tadi dia hanya fokus melihat Xena.
''Ray, kamu dengar nggak sih apa yang aku bilang tadi?'' ucap Sana kesal.
''Ha?'' Rayan bertanya kembali, dengan wajahnya yang sedikit kaget.
''Aku bilang, aku mau ngomong sama Xena, kamu bisa keluar bentar nggak?''
Rayan mengangguk. Pria itu berjalan keluar sambil berjalan mundur, karena masih memperhatikan Xena.
''Mau apa kamu kesini, mengganggu saja!'' ucap Sana ketus. Dia merasa terganggu oleh kedatangan tiba-tiba Xena ini.
''Bagaimana keadaan kamu?''
''Akan baik-baik saja kalau kau tidak berkeliaran disekiarku ataupun di sekitar Rayan.''
Xena memaksakan senyumnya.
''Tinggalkan Rayan dan berhenti mengunjungiku seperti ini.''
Xena hanya diam. Ya, sebenarnya dia juga sudah merencakan ini dari jauh-jauh hari dan dua hari lagi, dia akan ikut Bryan ke California. Xena benar-benar akan meninggalkan Rayan sekarang dan mungkin ini kali terakhirnya dia melihat pria itu.
''Xen.'' Rayan menghentikan langkah Xena. Pria itu sudah berdiri di depan Xena. Rasanya Rayan ingin memeluk wanita itu, Rayan kangen, sangat kangen. Tapi, belakangan ini dia harus terus berada di rumah sakit hanya agar Sana cepat sembuh dan agar Xena terbebas dari rasa bersalah.
''Kamu udah makan siang?'' Niatnya, Rayan akan mengajak Xena makan siang. Ya walaupun hanya di kantin rumah sakit.
''Sudah, aku sudah makan sing.'' Xena meramas kuat kuku-kuku jarinya. Menahan rasa tidak rela dalam dirinya. Rasanya Xena ingin menangis dan berteriak kalau dirinya tidak ingin meninggalkan pria itu. Tapi apa dia punya pilihan? tidak kan? Karena nyatanya Rayan tidak pernah sekalipun menginginkan kehadirannya. Apalagi sekarang sudah ada Sana yang menjadi kekasih pria itu.
Memilih untuk tetap disini, hanya akan lebih menyakiti dirinya dan tentu juga hal itu akan menyiksa Rayan. Xena ingin membebaskan Rayan, agar pria itu bisa tenang dan bersama dengan wanita yang benar-benar dia cintai, yaitu Sana.
''Maaf Ray, aku harus pulang.'' Cepat-cepat Xena melangkah. Rayan langsung menahannya.
''Bisa ngobrol sebentar?''
Xena baru akan memutar tubuhnya, disaat yang sama, mereka mendengar suara teriakan kesakitan Sana.
''Ray, kepalaku sakit Ray.'' Cepat-cepat Rayan melepas tangan Xena dan langsung berlari masuk. Xena hanya bisa tersenyum kecut dan kembali meneruskan langkahnya.
Sehabis dari rumah sakit, Xena bertemu dengan Cassie di sebuah cafe. Weekend, jadi Cassie tidak ke kantor hari ini. Sedangkan Xena, dia sudah tidak bekerja lagi, terakhir dia masuk kantor itu 2 hari yang lalu.
Xena tersenyum, melihat Cassie yang datang dengan diantar Aldo. Xena belum bertanya tentang cerita mereka, karena terlalu fokus pada masalah yang belakangan ini dia hadapi.
''Hai Xen, apa kabar?'' sapa Aldo basa basi
Xena cekikian. ''Biasa aja kali.''
''Aku dengar 2 hari lagi kamu mau ke California Xen, Rayan ngizinin emang?''
Xena melemparkan senyum kecutnya dan memilih tidak menjawab pertanyaan Aldo. ''Oh ya, selamat buat kalian.'' Xena ikut senang, apalagi dia melihat Aldo benar-benar peduli dan menyayangi Cassie. Cepat juga moveonnya si Aldo, Xena harap, dia juga akan seperti itu, akan cepat melupakan Rayan.
Semoga saja, lingkungan baru akan membantunya.
''Nih, aku buatin kue kesukaan kamu, disana kamu nggak bisa dapat kue seenak buatanku Xen.'' Cassie tersenyum, mengeluarkan cupcake yang memang sengaja dia buat untuk Xena.
Xena tersenyum. ''Aku harap bisa menemukan kue lain, yang juga akan menjadi favoritku.''
Cassie mengusap punggung Xena, dia mengerti arti ucapan Xena barusan. Ucapan itu, mengarah pada hubungan Xena dan Rayan.
''Disana banyak kue enak, kamu nggak mungkin hanya akan menyukai satu jenis.'' Sebenarnya, Aldo juga mengerti maksud ucapan Xena, makanya dia mencoba menghibur. Walaupun Aldo bersahabat dengan Rayan, tapi Aldo juga tidak mungkin memaksa Xena tinggal, apakagi jika Rayan hanya akan menyakitinya.
Walaupun sulit, Aldo berharap Xena akan bahagia dan menemukan seseorang yang benar-benar tulus menyayanginya.
''Terus kamu nggak ngasih aku hadiah perpisahan Do, apa kek gitu?'' Xena hanya bercanda, dia tidak benar-benar menginginkan Aldo memberinya hadiah perpisahan. Lagian, itu hanya akan memberatkannya dan memperbanyak bawaannya.
Hampir dua jam Xena, Aldo dan Cassie mengobrol. Xena pun pamit duluan, karena Bryan dan Yudi sudah datang menjemputnya. Rencananya, dia akan berbelanja beberapa keperluan lagi. Sebenarnya Yudi masih keberatan, tapi dia tidak punya pilihan lain. Toh kakaknya disana untuk belajar dan syukurnya ada Bryan yang bisa sedikit dia percayai, untuk menjaga kakaknya.
''Oh ya kak, pacar kakak? Kok aku nggak pernah liat lagi.'' Tiba-tiba Yudi membahas tentang Rayan. Xena tidak berkomentar apapun, wanita itu memlih diam dan membuang pandangannya keluar jendela mobil.
Yudi pun tidak membahas lagi. Dia pikir mungkin saja Rayan dan Xena sedang bertengkar karena Rayan yang mungkin tidak setuju Xena melanjutkan kuliah di luar negeri.
Bersambung .....