
Yudi memperhatikan Rayan yang duduk di ruang tamu rumah mereka. Ya, Rayan datang untuk menjemput Xena. Kalau biasanya Rayan hanya menunggu di luar, kali ini pria itu memilih masuk, sekalian berkenalan dengan keluarga Xena.
‘’Jadi kamu, pria yang tidak mau berjuang itu?’’ Alis Rayan terangkat, agak tidak suka dengan sikap Yudi yang tidak sopan. Tapi tunggu deh, pria tidak mau berjuang? Apa maksud anak remaja di depannya ini?
‘’Maksud kamu?’’
‘’Kamu bukan pria yang baik untuk kakakku.’’
Rayan malah terkekeh, dia rasa ucapan Yudi barusan agak lucu. Memang apa kurangnya dia, sampai dirasa nggak baik untuk Xena?
Yudi tidak mau kalah, remaja itu menajamkan matanya. ‘’Saya nggak suka pria yang gampang menyerah seperti kamu.’’
Alis Rayan kembali terangkat. Kok pembicaraan Yudi agak aneh ya? Perasaan, ini pertama kalinya mereka bertemu, dan Yudi malah sudah berbicara ngawur padanya?
Di kamar.
‘’Xen.’’ Mama menggoyang pelan tubuh Xena. Xena hanya membuka matanya kecil dan menutupnya lagi.
‘’Hhmm.’’
‘’Bangun Xen, di depan ada pacar kamu.’’
Xena masih tidak bergeming.
‘’Pacar kamu Rayan, nunggu kamu di depan Xena.’’
Mata Xena terbuka sempurna, perlahan dia menatap mamanya.
‘’Maksud mama?’’
‘’Di depan ada Rayan, katanya mau jemput kamu.’’
Xena langsung duduk. Agak panik kalau-kalau Rayan bertemu dengan Yudi. Cepat-cepat dia turun dari ranjang, berlari keluar kamar. Xena lupa akan penampilannya yang acak-acakan, rambutnya yang agak mengembang seperti rambut singa dan yang paling penting, dia lupa kalau sedang menggunakan pakaian tidurnya yang agak terbuka, mirip pakaian dinas seorang istri.
‘’Xena, pakaian kamu.’’ Mama berteriak tapi sayangnya Xena tidak sempat mendengarnya.
Yudi dan Rayan saling menatap tajam, seolah ada kilatan biru di mata mereka masing-masing. Tatapan itu sangat intens dan tidak satupun dari mereka mau mengalah untuk menyudahi tatapan tajam itu lebih dulu.
‘’Ray.’’ Suara itu barulah mengalihkan tatapan mereka. Rayan diam membeku. Matanya memindai setiap jengkal dan lekuk tubuh sempurna Xena.
Saking kesalnya, Yudi melempar bantalan sofa ke wajah Rayan.
‘’Kak ngapain keluar pake baju kayak gitu!?’’ teriaknya penuh kekesalan. Rayan mengalihkan pandangannya. Pria itu salah tingkah.
‘’Ha?’’
‘’Xena kamu tuh, ya pakaian tidurnya diganti dulu toh nak.’’ Mama juga ikut menegur, memberi selimut untuk menutupi tubuh Xena.
‘’Aaaahh mama kenapa nggak bilang dari tadi sih?’’ Sambil berteriak, Xena kembali berlari masuk ke kamarnya.
‘’Maaf ya Ray, anaknya emang agak kacau kalau pagi.’’
Rayan hanya mengangguk, melihat mama Xena yang sudah berlalu sepertinya ingin ke dapur.
‘’Katanya kalian sudah putus, kenapa datang dan bertamu disini lagi?’’
‘’Putus?’’
Yudi mengangguk.
‘’Dasar Xena, beraninya wanita itu.’’
‘’Kami nggak putus.’’
Wajah Yudi agak maju. Sesuai dugaannya, pikir remaja itu. Sebenarnya, Yudi sudah menduga, kalau Xena dan Rayan belum putus. Tapi kenapa kakaknya berbohong?
Yudi pun berdiri, pindah di samping Rayan. ‘’Tentang rencana kakakku, apa kamu ….?’’
‘’Ray.’’ Yudi tidak melanjutkan ucapannya, karena Xena yang sudah kembali berdiri di depan mereka. Kakaknya itu sudah menggunakan pakaian santai, rambutnya sudah disisir dan sepertinya sudah mencuci mukanya. Yudi jelas tau kalau Xena nggak mandi.
Xena menarik Rayan, ingin membawanya keluar tapi Yudi menahan.
‘’Mau kemana kak?’’
‘’Ada yang mau kakak omongin sama dia.’’
‘’Ngomong disini aja kak.’’
Rayan acuh saja, melihat tatapan kesal yang Xena layangkan padanya. ‘’Kamu ngapain kesini sih?’’ bisik Xena dengan nada geram.
‘’Kan aku ….’’
Xena mencubit paha Rayan, saat pria itu menjawab dengan nada yang besar. Andai tidak berada di rumah Xena, Rayan pastikan akan langsung mengomeli wanita itu, saking kesalnya dengan apa yang Xena lakukan. Cubitan Xena itu sangat sakit, apa Xena nggak menyadari itu?
‘’Kamu …?’’ Mata Rayan sudah membesar, rahangnya mengeras tapi Xena malah tidak peduli.
‘’Siapa suruh kamu kesini.’’
‘’Kak, kenapa kalian malah bisik-bisik sih?’’ tegur Yudi.
Xena hanya memperlihatkan barisan giginya, agak mendorong tubuh rayan untuk kembali duduk.
‘’Hhmm?’’ tanya Xena tidak mengerti.
‘’Katanya udah putus.’’
‘’Ah itu,’’ Xena bingung sendiri. Rayan juga penasaran dengan alasan yang akan Xena berikan.
‘’Beneran kok, waktu itu emang sempat putus. Kamu inget nggak?’’ Xena beralih pada Rayan. ‘’Ingat nggak, waktu kamu yang sibuk banget itu loh, sampai nggak punya waktu buat aku.’’
Satu alis Rayan terangkat.
‘’Waktu itu kan aku emang sempat minta putus.’’
Rayan tercengang, mendengar scenario yang Xena buat. Tapi kalau dipikir lagi, ucapan Xena tidak tidak 100% bohong, karena nyatanya Rayan memang terlalu sibuk dan juga emang nggak mau meluangkan waktunya untuk Xena.
Kalau diingat lagi, sepertinya terlalu banyak sikap Rayan yang bikin Xena kecewa, apalagi saat awal-awal pertemuan mereka.
‘’Terus tentang renca -’’
‘’Udah jam berapa sih ini, kok udah ngerasa laper ya?’’ Cepat-cepat Xena memotong ucapan Yudi. Menarik Rayan bersamanya dan berjalan menuju dapur.
‘’Ma, sarapan apa hari ini?’’ tanyanya sedikit berteriak.
‘’Roti bakar.’’
‘’Kakak belum ngomong ya, tentang rencana kakak itu?’’ bisik Yudi disela sarapan mereka.
‘’Nggak usah bahas itu dulu.’’
Xena tersenyum tipis, melihat Rayan yang sangat menikmati roti bakar buatan mamanya. Itu hanya roti bakar biasa, yang toppingnya hanya selai coklat tapi Rayan terlihat sangat menikmati, seolah sedang makan makanan di restoran mahal.
Sehabis sarapan, Xena dan Rayan pamit untuk ke rumah Rayan. Sesampainya di rumah Rayan, ternyata mama Liana juga sudah menyiapkan banyak makanan untuk menyambut Xena.
Xena terpaksa makan lagi, walau sebenarnya perutnya sudah terisi penuh, sampai ingin muntah.
‘’Kenapa Xen, nggak suka sama rasanya atau?’’ tanya papa William memperhatikan wajah Xena yang seperti tertekan.
‘’Kamu kenapa?’’
‘’Aku nggak bisa makan lagi, kenyang banget perut aku sampe mau pecah.’’
Rayan menggeleng kepala. Tidak habis pikir dengan Xena. wanita itu kan punya mulut, tinggal bilang kenyang apa susahnya? Kenapa malah memaksakan dirinya?
‘’Tinggal bilang aja Xen kalau udah kenyang.’’
‘’Ya lagian kamu nggak peka, udah tau aku habis makan tadi.’’
‘’Ya aku mana tau kalau kamu udah kenyang banget.’’
‘’Kenapa?’’ Mama Liana bertanya.
‘’Udah nggak usah dimakan lagi kalau emang udah kenyang.’’
‘’Xena udah kenyang ma.’’
‘’Makan dikit gitu udah kenyang?’’
‘’Tadi kami udah sarapan di rumahnya Xena. Aku sih masih laper tapi Xena perutnya udah nggak mampu.’’
‘’Oh yaudah nggak usah dipaksain kalo emang udah kenyang Xen.’’
Xena mengangguk, memberikan senyum tipisnya.
‘’Oh ya Ray, kata mamamu hari ini kita ke vila. Kamu yang minta katanya.’’
Rayan mengangguk. Dulu, mereka juga sempat berencana ke Vila tapi sayangnya rencana itu tidak terlaksana, karena Rayan yang masih enggan untuk pergi dengan Xena. Tapi sekarang, rasanya Rayan ingin selalu menghabiskan waktu bersama Xena dan pergi ke Vila kayaknya seru deh.
‘’Ke Vila?’’
‘’Rayan nggak kasih tau kamu?’’
Xena menggeleng, kembali memandang Rayan.
‘’Aku lupa bilang tadi,’’ jawabnya dengan enteng.
Xena pikir, harusnya Rayan memberitahunya sejak tadi, sejak mereka di rumah Xena. Agar Xena bisa menyiapkan beberapa barang yang dia perlu, seperti pakaian, skincare dan laptop mungkin, untuk dia pakai nonton disana.
‘’Nanti kita beli keperluan kamu dulu sebelum pergi.’’
‘’Buang-buang uang banget sih Ray.’’
‘’Yaudah kita balik ke rumah kamu dulu kalau gitu.’’
Tumben-tumbennya Rayan mau mengalah tapi sudahlah, Xena tidak ingin mempermasalahkan itu. Dan malah bagus dong.
Walau kadang menyebalkan, tapi Xena cukup suka dengan sikap Rayan yang sekarang, yang terlihat peduli dan seperti benar-benar menganggapnya sebagai seorang kekasih.
Xena pikir, kalau sikap Rayan seperti ini, mungkin dia bisa mengubah rencananya lagi, mungkin dia akan memilih bertahan di samping Rayan sambil berjuang membuat pria itu jatuh cinta padanya.
Bersambung .....