
Hari ini Rayan pulang dengan dalam keadaan yang risau. Sejak tadi, berulang kali dia mencoba menghubungi nomor ponsel Xena, tapi hasilnya tetap nihil. Mamanya Xena juga tidak mau memberitahu dimana Xena sekarang.
''Ray, kamu udah ngomong sama Xena belum?'' Mamanya berjalan menghampiri Rayan yang baru masuk ke rumah.
Rayan mendesah kasar, mendudukan tubuhnya di sofa ruang tamu rumah mereka. ''Xena pergi ma, nggak tau kemana,'' ucapnya Rayan mengusap kasar wajahnya, bingung harus mencari Xena kemana.
''Pergi gimana Ray, kamu udah ke rumahnya?'' Mamanya mendekat dan ikut duduk di samping pria itu.
Rayan pun mengangguk. ''Sudah ma, tapi mamanya nggak mau kasih tau dimana Xena sekarang. Aku juga bingung, kenapa Xena pergi dan tanpa mengatakan apa-apa seperti ini.''
Mamanya mendengus dan memukul kecil lengan Rayan. ''Nggak usah bingung, itu kan karena ulah kamu sendiri.''
Rayan pun beralih menatap mamanya. ''Emang Ray salah apa ma? Xenanya yang tiba-tiba pergi gitu aja.''
''Kan udah mama bilang sama kamu waktu itu, untuk langsung menghubungi Xena, eh ternyata kamunya malah sama sekali nggak pernah menghubungi dia. Mama yakin dia ngerasa kalau kamu tuh nggak peduli sama dia dan lebih memilih Sana. Ray, Xena itu tau kalau kamu suka sama Sana dan mama yakin kali ini dia pergi karena alasan itu.''
Rayan diam sesaat. ''Xena tau hal itu?''
''Ray, kamu memang pintar berbisnis, tapi kalau soal seperti ini, soal perasaan dan kepekaan kamu benar-benar nol besar, mirip papamu memang.''
''Tapi kan Rayan ngelakuin semua itu juga buat Xena ma, biar dia nggak ngerasa bersalah.''
''Ya tapi cara kamu salah. Kamu ingin menolongnya tapi kamu malah mengabaikannya. Itu namanya mengatasi satu masalah dan sekaligus menambah masalah baru.''
Rayan kembali diam. Sebenarnya, sampai detik ini dia tidak merasa kalau tindakannya salah, karena nyatanya dia tidak punya niat lain terhadap Sana, dia hanya membantu Sana karena Xena juga.
Entahlah. Rayan kembali berdiri dan langsung masuk ke kamarnya. Pria itu ingin membersihkan dirinya lebih dulu, agar pikirannya juga bisa kembali jerni. Sehabis mandi, Rayan kembali mencoba menghubuni nomer ponsel Xena, tapi hasilnya masih sama.
''Kamu kemana sih Xen?'' geramnya agak kesal, mengingat Xena yang pergi begitu saja, tanpa pemberitahuan sama sekali.
Hampir satu bulan berlalu.
Xena terlihat menikmati kehidupan barunya, dia punya beberapa teman baru dan tentunya ada Bryan juga yang selalu menemani di sampingnya. Hampir satu bulan ini, Xena juga masih sangat sering memikirkan Rayan, dia sering penasaran tentang kegiatan apa yang sedang Rayan lakukan dan lain sebagainya.
Entahlah, Xena ingin menghilangkan pikiran-pikiran itu, tapi rasanya sangat susah, wajah Rayan selalu muncul, bahkan saat dia sedang tertawa dan bersenang-senang dengan teman-teman barunya sekalipun.
''Sedang apa kamu sekarang, Ray?'' Xena bergumam sendiri, memperhatikan foto Rayan di ponselnya. Entahlah, katanya dia ingin melupakan Rayan, tapi untuk menghapus foto Rayan saja dia tidak tega.
''Lagi apa Xen?'' Bryan datang dengan membawa satu cup ice cream bersamanya.
''Nggak ngapa-ngapain, hanya lagi mikirin tugas aja. Oh ya tadi pagi aku dapat tugas baru, agak susah, bantuin ya nanti.'' Cepat-cepat Xena mematikan layar ponselnya dan memasukan ponselnya ke tas. Dia tidak mau Bryan tau kalau selama ini dia masih sering memikirkan Rayan.
Oh ya, bicara tentang Bryan, seminggu yang lalu pria itu sudah mengutarakan perasaannya pada Xena dan tentu Xena menolaknya. Xena bukannya ingin menyakiti Bryan dan dia juga menolak Bryan bukan karena masih mencintai Rayan.
Dan syukurlah, Bryan bisa menerimanya dan sampai sekarang, pria itu masih memperlakukannya seperti biasa. Ya walau terkadang Xena sering merasa bersalah. Tapi menurut Xena, dia benar-benar tidak bisa jatuh cinta pada sahabatnya. Bukan karena dia takut kehilangan seorang sahabat tapi memang pada dasarnya, dia yang tidak mau dan tidak bisa menjalin hubungan seperti itu.
Sekali sahabat, selamanya akan menjadi sahabat.
''Iya nanti aku bantuin. Oh ya Xen, nanti malam aku ada party sama beberapa temanku, pulangnya agak malam mungkin, kamu nggak pa-pa kan sendrian di apart?'' Bryan menyerahkan ice cream yang dibawanya dan Xena pun langsung melahapnya. Di California, Xena tinggal di apartemen yang sama dengan Bryan. Ya tentu karena Xena yang tidak mau tinggal di apartemen sendirian. Tapi tenang saja, mereka tidak sekamar kok, walaupun diawal-awal Xena sering sekali tidur di kamar Bryan dan menyuruh pria itu untuk tidur di sofa.
''Ya nggak pa-pa, emang pulangnya jam berapa Bry?''
''Belum tau Xen, namanya juga party.''
Xena hanya mengangguk dan kembali memakan ice creamnya. ''Tapi kalau pulang jangan lupa beliin aku makan ya, takutnya aku laper di tengah malam.''
''Iya ... Iya.''
Bryan tersenyum. Tangannya terangkat untuk mengacak rambut Xena. Sebenarnya, Bryan sedang berusaha untuk baik-baik saja, akan penolakan Xena. Pria itu agak kecewa tapi masih bisa berpikir jernih dan dia juga tidak mau memaksakan perasaannya pada Xena. Dan sama seperti Xena, sekarang Bryan juga sedang berusaha untuk moveon.
Bryan tidak mau membebankan perasaannya pada Xena. Ya walaupun dia tidak tau kapan akan bisa melupakan wanita itu.
''Hai Xen.'' Clarissa teman baru Xena menghampiri mereka. Clarissa tersenyum malu-malu saat melihat Bryan. Sebenarnya wanita itu tertarik pada Bryan tapi Bryan tidak peduli dan terlihat sangat cuek.
''Yaudah Xen, aku tinggal ya.'' Bryan pamit pergi meninggalkan Xena dan Clarissa.
''Kamu suka sama Bryan?'' Xena melihat Clarissa yang masih memperhatikan punggung Bryan.
''Keliatan banget ya?''
Xena mengangguk. ''Banget, wajah kamu sampe merah Cla.''
Clarissa memgang pipinya yang bersemu merah. ''Ya, aku suka sama Bryan sejak pertama ketemu. Eh tapi ...'' Clarissa langsung melihat Xena. ''Xen, kamu sama Bryan benar-benar nggak ada hubungan apa-apa kan?''
Xena malah merespon pertanyaan itu dengan tawa. ''Aku sama Bryan hanya sahabatan kok, kamu tenang aja.'' Xena memperhatikan wajah Clarissa yang nampak berbinar dan hal itu mengingatkannya pada masa-masa dulu, saat awal-awal dia jatuh cinta pada Rayan.
''Kalau aku ngejar Bryan, kamu setuju nggak?''
''Itu hak kamu Cla, tapi aku hanya mau mengingatkan, untuk tidak memberikan hatimu secara penuh, biar kamu punya perisai kalau-kalau kenyataan tidak berjalan sesuai harapan kamu.'' Wajah Xena berubah sendu. Dia kembali teringat akan perjuangannya dalam mendapatkan Rayan dan pada akhirnya, dia tetap harus mundur.
Clarissa mencoba tersenyum. Dia peka pada situasi dan dia yakin kalau Xena pernah mengalami cinta sepihak, makanya Xena lebih dulu mengingatkannya untuk tidak terlalu berharap.
Bersambung .....