
''Kamu nggak mandi dulu sebelum tidur?'' Rayan memperhatikan Xena yang sudah berbaring di sofa. Wanita itu sudah sibuk mengutak ngatik layar ponselnya, sesekali dia tertawa, karena melihat beberapa video lucu yang dia lihat di instagram.
Xena sedikit menyingkirkan ponselnya lalu melihat pada Rayan yang sedang duduk di ranjang sembari memegang satu buku tebal yang bisa Xena tebak kalau buku itu pasti berkaitan dengan bisnis. Ya lagian pria seperti Rayan nggak mungkin doyan baca novel kan?
''Kamu duluan aja Ray, aku bentaran deh, mau ngumpulin niat dulu,'' ucapnya terkekeh dan kembali fokus pada layar posel. Xena memang sengaja mengalihkan perhatiannya pada ponsel, ya kali dia harus diam-diam saja di ruangan itu, apalagi hanya berdua dengan Rayan? Bisa mati kutu dia.
''Kamu itu cuman mau mandi Xen, bukan mau perang.''
Wajah Xena ditekuk sebal, wanita bangun dari berbaringnya, meletakan ponselnya di sofa dan berjalan ke arah tas sedang miliknya. Dia mengambil handuk dan pakaian. ''Iya ... iya aku mandi sekarang,'' ucapnya berlalu masuk ke kamar mandi.
Rayan hanya bisa menggeleng, walau merasa sedikit lucu dengan jawaban Xena. Mandi kok harus pake ngumpulin niat segala?
Tidak sampai 20 menit, Xena sudah kembali keluar dari kamar mandi.
Mata Rayan terus mengikuti Xena. Wanita sudah duduk bersila di sofa dan kembali memainkan ponselnya. Rayan menggeleng, pria itu meletakan buku dan turun dari ranjang. Dia membuka laci kecil di samping ranjang dan mengeluarkan hair dryer.
''Kamu itu, habis mandi biasakan untuk langsung mengeringkan rambutmu. Kamu wanita Xena, harus lebih bisa memperhatikan kesehatanmu.'' Xena hanya membiarkan. Rayan, pria itu sudah berdiri di depannya dan mulai membantu mengeringkan rambutnya.
''Kamu bisa sakit, kalau tidak langsung mengeringkan rambutmu.''
Xena sedikit menengadah, memperhatikan wajah serius Rayan.
Ini beneran Rayan sedang mengeringkan rambutnya? Xena kembali bergetar. Bibirnya melengkung tanpa dia minta. Ini pertama kalinya loh, seseorang membantunya mengeringkan rambutnya. Xena tidak berhanti tersenyum.
Beberapa menit kemudian, rambut Xena sudah kering. Rayan mematikan hair dryer dan melirik Xena sekilas sebelum kembali berjalan dan meletakan hair driyer di laci kecil tempat dia mengambil hair dryer tadi.
''Tidurlah, ini sudah malam. Berhenti bermain ponsel apalagi tertawa nggak jelas seperti tadi.''
''Tapi aku belum ngantuk Ray,'' sungut Xena.
''Oh ya.'' Ekspresi Xena berubah girang. Dia berdiri dan berlari ke arah ranjang lalu duduk di sudut ranjang.
''Aku punya drama baru, mau nonton bersamaku nggak? Ray, sesekali beralihlah pada hal yang menyenangkan, jangan hanya buku terus yang menemanimu.''
Rayan baru mau menolak, tapi Xena sudah lebih dulu menarik buku di tangan Rayan dan menutupnya. Setelah itu, Xena merangkak dan lansung mengambil duduk di samping Rayan. Tidak lupa dia menarik selimut sampai menutupi bagian kaki hingga pahanya.Mereka berbagi selimut yang sama, sekarang.
''Ini drama china terbaru, aku sih belum nonton, tapi kayaknya drama ini cukup seru, aku sering lihat spoiler-spoilernya di instagram dan tiktok.'' Dia mulai memutar drama itu. Tangannya terangkat, mengarahkan pandangan Rayan ke layar.
''Aku tidak suka hal seperti ini, buang-buang waktu saja.'' Rayan malah kembali mengambil bukunya dan melanjutkan kegiatan membacanya. Sedangkan Xena, wanita itu hanya membiarkan dan terus melanjutkan acara nontonnya. Dia bahkan masih duduk diatas ranjang tanpa sama sekali bergeser dan Rayan pun tidak mempermasalahkan hal itu.
Tidak sampai satu jam, Rayan agak kaget saat tiba-tiba kepala Xena jatuh ke pundaknya. Bukunya dia lepas, pelan-pelan dia mengangkat kepala Xena dan mulai membaringkan Xena di ranjang.
Rayan tersenyum, menatap wajah tenang Xena. Pria itu membelai lembut wajah Xena. Ada rasa hangat yang menjalar. Rayan suka saat ini, senang rasanya bisa melihat Xena yang berada di sampingnya.
''Hei wanita aneh, sepertinya aku sudah menyukaimu,'' ucapnya pelan seolah sedang berbisik lalu dia kembali tertawa. Ah, rasanya Rayan ingin terbang, saking senangnya. Tidak lupa, Rayan mengambil foto Xena, sebagai kenang-kenangan. Diam-diam, Rayan juga mengecup sekilas bibir Xena.
Mumpung wanita itu sedang tidur, kalau xena bangun, mana berani Rayan melakukan itu, gengsi dia.
Sekali lagi Rayan mencium bibir Xena, sebelum dia kembali duduk dan melanjutkan kegiatan membacanya. Sesekali dia melirik Xena yang nampak sangat tenang dalam tidurnya. Pria itu tidak henti tersenyum.
Tok tok tok tok
Perhatian Rayan teralih, begitu mendengar suara ketukan pintu. Cepat-cepat dia berdiri, takut ketukan itu mengganggu tidur Xena.
''Mama? Ada apa ma?'' tanya pada mamanya.
Rayan pun langsung menjelaskan, biar mamanya tidak salah sangka.
''Oh kirain mama kalian udah macam-macam. Ingat ya Ray, jaga anak orang dengan baik jangan diapa-apain kecuali kalau kalian sudah benar-benar sah. Kamu bisa menjanjikan hal itu kan?''
Rayan mengangguk. Dia juga tidak mungkin melakukan hal diluar batas. Pria itu punya prinsip sendiri, dia anti melakukan hubungan s*x diluar nikah.
Rayan dan mama Liana sama-sama tersenyum, melihat Xena yang baru saja bergumam tak jelas. Wanita itu sangat menggemaskan kala sedang tertidur seperti sekarang.
''Oh ya Ray, di depan ada Sana tuh. Mama nggak tau kenapa bisa nyusul kesini.''
''Sana?'' Kening Rayan mengerut. Kenapa Sana bisa datang kesini?
''Ray, kamu sama Sana nggak ada hubungan apa-apa kan?'' Mamanya memberi tatapan menelisik. Sebenarnya mama Liana mulai sadar akan perasaan Rayan pada Xena tapi walau begitu, paruh baya itu tetap ingin tau tentang perasaan Rayan pada Sana, apalagi mengingat Rayan yang menyukai Sana untuk waktu yang lumayan lama.
''Nggak ada ma, kami hanya berteman.''
''Kamu yakin? Terus perasaan kamu? Kamu benar-benar sudah tidak menyukainya?''
Rayan diam, pria itu memilih untuk tidak menjawab pertanyaan mamanya barusan. ''Yaudah ma, aku temuin Sana dulu ya,'' ucapnya mengalihkan.
Tanpa mereka tau, Xena mendengar percakapan terakhir mereka. Tadinya Xena kebangun karena merasa ingin buang air kecil, tapi dia mengurungkan niatnya saat mendengar dua orang yang sedang mengobrol.
Lagian apa yang Xena harapakan, Rayan menghilangkan perasaannya pada Sana? Nggak mungkin kan? Dia tau Rayan sangat mencintai Sana, jadi melupakan Sana sepertinya sangat tidak mungkin untuk Rayan lakukan.
Xena hanya bisa merenung sambil membuang kasar nafasnya. Ya, dia memang tidak boleh terlalu berharap pada Rayan. Perlakuan Rayan akhir-akhir ini juga tidak bisa dijadikan patokan karena perbuatan baik belum tentu berkaitan dengan cinta bukan?
Xena berusaha memejamkan matanya lagi. Ah sialnya dia tidak bisa tidur lagi, pikirannya melayang, penasaran pada apa yang Rayan dan Sana lakukan sekarang.
Apa dia keluar saja dan ikut bergabung dengan mereka? Atau apa dia harus mengintip? Ah tidak-tidak, Xena tidak bisa melakukan hal itu.
Akhirnya, Xena memilih diam dikamar, dengan perasaan tidak tenangnya. Berulang kali dia melirik ke arah pintu, berharap Rayan cepat kembali.
''Ray.''
''Na, kamu ngapain disini?'' Rayan terus berjalan mendekat, dia memperhatikan Sana yang nampak sumringah. Wanita itu sampai berdiri untuk menyambutnya.
''Ray, kamu kok nggak bilang kalau mau ke villa?''
''Dadakan perginya,'' ucap Rayan mendudukan dirinya di depan Sana.
Sana berusaha tersenyum, menahan rasa jengkel yang lagi dan lagi menghampirinya. Nada bicaraa Rayan terdengar ketus, seolah tidak suka akan kedatangannya.
''Oh ya Xena mana?''
''Udah tidur.''
Sana hanya mengangguk-ngangguk saja. Keadaan jadi hening, Sana bingung harus berucap apa sedangkan Rayan malas untuk berucap.
''Aku nginep disini boleh?''
Bersambung .....