Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 45



''Bagus banget pemandangannya.'' Xena baru turun dari mobil. Matanya langsung menuju ke arah danau buatan di depan villa keluarga Rayan.


''Ray, tante, om, Xena bisa kesitu nggak?'' tunjuknya ke arah danau.


''Ray.'' Mama Liana memberi kode, agar Rayn ikut menemani Xena.


''Ini buatan ya Ray?'' Xena masih saja takjub. Padahal danau itu terlihat biasa, nggak ada special-specialnya. Tapi entahlah, mungkin Xena punya cara pandang yang berbeda.


''Udah puas liatnya, yuk masuk.''


Xena tidak menolak. Dia berjalan mengikuti dibelakang pria itu. Matanya masih kesana kemari, menikmati indahnya pemandangan yang tersaji. Rasanya sudah lama dia tidak melihat pemandangan sehijau ini. Xena menutup sejenak matanya, menghirup udara segar disana.


Villa 2 lantai itu di kelilingi oleh banyak pohon hijau, ukurannya tidak terlalu besar tapi nampak sangat subur. Ada banyak bunga juga yang mengiasi pekarangan villa.


Villa keluarga Rayan bukan satu-satunya villa disana, ada beberapa Villa mewah yang jaraknya tidak terlalu jauh, mungkin hanya berjarak 100 meter untuk setiap villa.


*****


''Ray, anter Xena ke kamar yang ada di samping kamar kamu ya.'' Mama liana sedang sibuk mengeluarkan barang-barang yang tadi dia bawa. Beberapa cemilan, kue, daging, sayur dan masih banyak lagi.


Tadinya Xena mau membantu, tapi mama Liana menolak dan menyuruh Xena istirahat saja.


''Ray.'' Xena menahan ujung kaos Rayan, begitu Rayan akan berbalik pergi, setelah tadi mengantarnya ke depan kamar.


''Ini, aku tidur disini sendirian?''


Rayan mengangguk. ''Kamu nggak mungkin mau tidur berdua sama aku kan?''


Cepat-cepat Xena menggeleng dan langsung menutup pintu kamar. Xena mulai memperhatikan seisi kamar. Kamar itu sangat luas dan semua perabotannya berwarna putih. Perlahan Xena melangkah, mendekat ke arah ranjang dan mendudukan dirinya disana. Wanita itu agak tidak nyaman, bukan karena kamarnya, tapi mengingat nanti malam dia akan tidur sendirian.


Kalau kalian tau, sebenarnya Xena itu orangnya agak penakut, apalagi dia harus tidur sendiri di tempat asing seperti ini. Bahkan hari masih siang dan dia sudah ketakutan memikirkan bagaimana nasibnya pas malam nanti.


Kalau dirumah sendiri tidak masalah untuk tidur sendirian, toh dia sudah terbiasa dengan segala halnya. Tapi ini tempat baru, beda ceritanya.


Xena sih yang bodoh. Tadinya, dia sempat berpikir kalau dia akan tidur dengan tante Liana dan Rayan akan tidur dengan om William.


Masih bergulat dengan pikirannya, Xena terlonjak kaget ketika tiba-tiba seseorang mengutuk pintu kamar dari luar.


''Xen kamu kenapa?'' Karena pintu yang tidak di kunci, Rayan pun langsung masuk, dia pikir Xena kenapa-napa.


''Kamu ngagetin aku.''


''Ha?'' Rayan agak bingung, sebenarnya dari sisi mananya dia mengagetkan Xena? Perasaan tadi dia mengetuk biasa aja deh, nggak kuat-kuat amat.


''Ray?''


''Hhmm.''


''Ini beneran aku tidur sendiria disini?''


Rayan mengangguk. Pria itu menangkap raut resah diwajah Xena dan langsung bisa menebaknya. ''Kamu takut?''


Rayn diam, berpikir sejenak. Pria itu kembali melihat wajah resah Xena dan tidak tega, apalagi mengingat dia yang mengajak Xena kemari dan tentu tujuannya agar Xena bisa bersenan-senang, bukannya malah resah seperti sekarang ini.


''Baiklah, tapi ingat, kamu tidurnya di sofa.''


Dengan semangat 45 Xena mengangguk. Syukurlah Rayan mau membantunya, pikirnya.


''Yaudah yuk turun, ngobrol dibawah sama mama-papa,'' ajak Rayan. Xena langsung mengikuti.


''Tasku, taruh dikamar kamu dulu.'' Dia tersenyum lebar, mengangkat tas sedang yang berisi berbagai macam keperluannya.


*****


''Bik, tante Liananya ada?'' Sana datang ke rumah Rayan, dengan membawa kue kesukaan tante Liana. Kue itu dia yang buat sendiri. Sana belum patah semangat, dia akan kembali merebut kasih sayang tante Liana dan juga Rayan.


''Ibu, bapak sama den Rayan pergi mbak, ke villa.''


''Ke villa?'' Sana memastikan lagi.


''Iya berangkat tadi pagi, pacarnya den Rayan juga ikut.''


Kekesalan kembali menghampiri Sana. Tidak bisa dibiarkan, dia tidak mau menciptakan peluang Rayan dan Xena untuk menjadi semakin dekat. Buru-buru Sana pergi, dia berniat untuk langsung menyusul ke villa keluarga Rayan. Sana tau alamatnya, karena beberapa kali dia pernah ikut dan liburan ke villa itu.


''Xen, duduk sini sayang, dekat tante.'' Tante Liana menepuk kursi di sampingnya, meminta Xena duduk disana dan mereka pun mulai mnegobrol santai. Kata tante Liana, dulu keluarga mereka sering sekali ke villa itu, saat Rayan masih kecil dan sebelum Rayan memilih menetap di Prancis.


Xena mengangguk-ngangguk, dia baru tau kalau sebelumnya Rayan pernah menetap lama di Prancis. Sesekali, Xena mencuri pandang, menatap Rayan yang sedang fokus mengobrol dengan om William. Seperti biasa, dua pria berbeda generasi itu sedang serius membahas tentang bisnis. Xena juga sempat mendengar tentang rencana Rayan yang katanya akan pergi ke Singapura untuk bertemu klien.


''Pacar kamu, ya kalau mau ditatap ya ditatap aja Xen, nggak bakalan ada yang ngelarang.''


Xena tersenyum kaku, saat tante Liana menangkap basah dirinya yang sejak tadi sering mencuri pandang pada Rayan.


''Heheheh nggak kok tan.'' Xena agak salah tingakh, apalagi melihat tatapan tante Liana yang sedang menggodanya.


Tiba-tiba, ekspresi tante Liana berubah serius. Paruh baya itu menatap pada Rayan dan Xena pun mengikutinya. ''Anak itu, dia tidak terlalu pandai mengekspresikan perasaannya. Kadang kala kata-katanya akan terasa sangat menyakitkan. Saat cemburu, dia hanya akan mengomel dan tidak akan mengakuinya dan itu akan membuat pasangannya kesal. Saat menyukai seseorang, dia cenderung berdiri diam dan memilih menjaga orang yang dia sukai agar tetap selalu di sampingnya.''


Setelah mengucapkan kata-kata itu, tante Liana beralih menatap Xena. Xena hanya bisa kembali melempar senyum kakunya. Maklum saja, sebenarnya dia tidak mengerti dengan apa yang barusan tante Liana sampaikan.


''Suatu saat, setelah kamu lebih mengenalnya, kamu akan mengerti maksud tante tadi.''


Xena kembali tersenyum dan mengangguk-ngangguk kecil. Matanya kembali menatap Rayan dan disaat yang sama, Rayan menatap padanya juga. Mereka saling menatap untuk waktu yang singkat, karena Xena langsung memutus pandangan dan memilih melihat ke tampat lain. Wanita itu sedikit salah tingkah, karena tadi Rayan menatapnya tidak biasa.


Sementara Rayan, pria itu malah tertawa melihat tingkah Xena. Benar-benar menggemaskan menurutnya.


Xena mengintip Rayan lagi dengan ujung matanya. Ternyata pria itu masih menatapnya dan bahkan sekarang Rayan juga sudah tersenyum padanya. Senyumnya manis, bikin Xena meleleh dan rasa-rasanya, dia kembali jatuh akan pesona Rayan lagi.


Rasanya sangat gampang untuknya jatuh cinta pada Rayan tapi kenapa begitu sulit untuk melupakan pria itu?


Bersambung .....