
Rayan baru mengantar sana ke kamar. Pria itu memilihkan Sana kamar yang ada di lorong paling ujung di lantai 2. Kamar itu berada di samping kamar yang tadinya mau Xena tempati.
''Ray, aku tidur di kamar yang sama dengan Xena boleh nggak? Aku takut tidur sendirian.''
''Kamu udah biasa datang kesini Na dan setau aku setiap kali kamu datang kamu selalu tidur sendirian.'' Rayan berbalik, hendak melangkah pergi, tapi ujung kaosnya sudah lebih dulu ditahan oleh Sana.
''Ray please ....'' Sana memperlihatkan ekpresi penuh harap. Rayan pun hanya bisa menghembus nafas kasar dan kembali berbalik menatap Sana.
''Nggak bisa Na, Xena tidur di kamarku sekarang.''
Tangan Sana terlepas, syok dengan pernyataan Rayan barusan. ''Ti - tidur di kamar kamu? Apa maksudnya Ray, kenapa dia bisa tidur di kamar kamu?'' Sana sudah menampilkan rasa tidak sukanya, wanita itu berbicara dengan nada yang sedikit tinggi.
''Sudah malam, sebaiknya kamu tidur.'' Itu yang Rayan katakan dan setelahnya pria itu kembali melangkah pergi, membiarkan Sana dalam kegeramannya.
Sana menatap penuh kebencian, tangannya terkepal erat. Entah bagaimana cara Xena bisa merayu Rayan hingga Rayan mengizinkan Xena tidur di kamarnya.
Sana geram bukan main. ''Tidak ... tidak, Rayan bukan pria seperti itu, dia tidak akan melakukan hal-hal seperti itu,'' gumamnya mencoba menenangkan pikirannya yang mulai berkelana jauh.
''Tidak, Rayan bukan pria seperti itu.'' Tanpa Sana sadar, air matanya sudah mengalir keluar. Wanita itu mulai menangis, karena tidak terima dengan apa yang terjadi.
Pintu kamar terbuka. Cepat-cepat Xena memejamkan matanya lagi. Dia mendengar Rayan yang beberapa kali membuang nafas berat. Pria itu seperti sedang risau, tapi kenapa?
Tidak berapa lama, Xena sudah mendengar suara gemercik air di kamar mandi. Xena pun memutar badannya, melirik ke pintu kamar mandi yang sedang tertutup rapat.
''Ada apa dengannya? atau apa mereka bertengkar tadi?'' Xena mencoba mencari alasan. Berulang kali dia membuang nafasnya, melihat ke arah langit-langit kamar.
Refleks matanya kembali tertutup, saat mendengar pintu kamar mandi yang kembali terbuka. Dapat Xena rasakan kalau Rayan naik ke ranjang. Tiba-tiba dia jadi nervous, pelan-pelan Xena membalik badannya, menjadi membelakangi Rayan.
Matanya dipejam paksa. ''Ini beneran Rayan mau tidur di ranjang juga?'' pikirnya.
Xena kembali merasakan adanya pergerakan dari Rayan. Pria itu kembali bangun dari tidurnya dan membenarkan selimut untuk Xena.
Xena mengingit kecil bibirnya, menahan rasa grogi yang semakin besar, apalagi saat Rayan kembali membaringkan tubuhnya sangat dengan dengan tubuh Xena.
''Berhenti berpikir yang tidak-tidak Xena.'' Xena merutuki dirinya yang malah berpikir aneh.
Tidak sampai 10 menit, Xena sudah mendengar dengkuran halus Rayan. Pelan-pelan dia memutar tubuhnya, memperhatikan wajah terlelap Rayan.
''Dia beneran sudah tidur kan?'' gumamnya.
Xena pun tersenyum, menikmati pemandangan indah di depannya. Wajah Rayan benar-benar sangat tampan. Pokoknya Rayan adalah pria tertampan di muka bumi ini, menurut Xena.
Senyum Xena semakin lebar, tangannya terangkat untuk menyentuh pelan setiap bagian wajah Rayan. Xena pikir, ini akan menjadi pertama dan terakhir kalinya dia melihat Rayan berbaring di sampingnya seperti ini. Jadi, Xena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, kalau boleh, Xena akan terjaga sampai pagi, hanya agar dia bisa melihat wajah Rayan.
''Setampan ini Tuhan, gimana aku nggak klepek-klepek?'' Xena terkekeh pelan. Dia sangat menikmati situasi ini.
*****
Padahal semalam niatnya Xena nggak mau tidur eh nggak taunya dia tetap tertidur juga. Disampingnya, Rayan baru saja membuka matanya. Pria itu mengerjab, pandangannya teralih, saat sadar ada tangan diatas dadanya.
Rayan melirik ke samping dan langsung mendapati wajah Xena yang sangat dekat dengan wajahnya, kira-kira hanya berjarak 5 cm jauhnya. Rayan sedikit memundurkan kepalanya, tapi tidak berapa lama, senyum sudah terbit diwajah tampannya.
Ini pemandangan terindah yang pernah dia lihat sesaat setelah membuka matanya di pagi hari. Tangan Rayan terangkat untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang sedikit mengganggu dan menutupi wajah cantik Xena.
Setelah itu, Rayan bangun dari tidurnya kemudian mandi dan langsung keluar kamar. Sebelum keluar kamar, pria itu kembali melirik Xena dan tersenyum.
''Masak apa ma?'' Rayan mengampiri. Pria itu membuka kulkas dan membuat kopi untuk dirinya sendiri. Entah mujizat darimana, tiba-tiba Rayan tergerak dan ingin membuatkan jus untuk Xena.
''Jus untuk Xena ya?'' Mama Liana tersenyum, dia sudah bisa menebak.
''Nggak kok ma, ini untuk Rayan sendiri.'' Rayan gengsi untuk menjawab iya, Sedangkan mamanya hanya menggeleng saja.
''Kalo suka ya dibilang, jangan dipendam aja. Keburu diambil orang baru tau rasa.''
''Nggak akan ada yang berani merebut pacar Rayan ma,'' jawab Rayan tanpa sadar.
Mamanya kembali tersenyum. ''Namanya cewek, tetap butuh pengakuan Ray. Kalau cinta ya dibilang biar Xenanya tau.''
Rayan tidak menjawab lagi. Pria itu sedang fokus menuangkan jus buah naga buatannya ke dalam gelas.
Rayan hendak meletakan jus buatannya itu diatas meja. Belum sampai di meja, dia melihat Xena yang sudah berjalan menghampiri, tidak lama, dia juga melihat Sana, berjalan di belakang Xena.
Sana mempercepat langkahnya dan mendahului Xena. Dia merebut jus buah naga dari tangan Rayan. ''Kamu masih ingat aja kalau aku suka jus Ray,''
Rayan baru akan menegur, tapi Sana sudah lebih dulu meminum jus tersebut. Sudahlah, Rayan pun membiarkannya tanpa tau kalau Xena sedang kecewa karena berpikir kalau Rayan benar-benar membuatkan jus itu untuk Sana. Rayan bahkan hanya membuatkan satu gelas, tanpa mengingatnya sama sekali.
''Xen,'' Rayan menyapa tapi Xena tidak menggubris.
''Pagi tante, pagi om.'' Xena ikut menyapa om William yang sedang berjalan mendekati meja makan.
''Mau lauk yang mana Ray?'' Tiba-tiba Sana merebut piring Rayan dan berinisiatif untuk mengambilkan sarapan untuk Rayan.
''Nasi goreng aja Na.'' Rayan pun menjawab dengan sedikit enggan.
Xena tersenyum kecut, mencoba menahan rasa sesak di dadanya.
Apa Rayan sengaja membawanya kesini untuk melihat keromantisannya dan Sana?
Apa ini cara Rayan untuk membuatnya sadar kalau dirinya tidaklah penting untuk pria itu?
Xena berusaha memaksakan senyumnya dan memilih untuk tidak menatap Rayan ataupun Sana lagi. Xena tidak sanggup kalau terus diberi pemandangan seperti itu.
''Xena sayang, sarapan nak.'' Mama Liana tersenyum. Paruh baya itu sempat menangkap wajah sendu Xena.
Xena mengangguk. ''Makasih tan,'' ucapnya mulai memasukan makannan dalam mulutnya.
Sesekali Rayan melirik pada Xena. Wanita itu tampak diam sejak tadi dan itu bikin Rayan sedikit khawatir. Dia jelas tau kalau Xena bukanlah tipe yang suka diam.
''Ada apa, kamu sakit?'' bisiknya.
Xena menggeleng tanpa menatap Rayan.
''Ray, habis ini temani aku jalan-jalan di area sekitar danau ya.'' Sana sengaja mengalihkan, karena tidak suka melihat Rayan perhatian pada Xena.
Bersambung .....