Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 37



‘’Tadi kamu mau ngajak aku kemana?’’ Xena meletakan sendoknya, pertanda makannya telah selesai.


Bukannya menjawab, Rayan malah berdiri, menghampiri penjual dan membayar makanan mereka. Setelah itu langsung melangkah menuju mobil, tanpa menunggu Xena yang masih duduk.


‘’Pria itu.’’ Xena menggerutu dan langsung menyusul Rayan.


‘’Sebenarnya kita mau kemana sih Ray?’’


‘’Duduk di depan.’’


Xena mencondongkan tubuhnya kedepan, bertanya kembali tentang apa yang Rayan katakan barusan. Otak kecilnya belum bisa mencerna, lebih tepatnya dia bengong dan tidak percaya akan ucapan barusan.


‘’Omongan ku kurang jelas?’’ Rayan menoleh kebelakang. Seperti biasa, wajahnya tetap datar.


‘’Bu - bukan gitu, tapi kan …?’’


‘’Xena kalau aku ngomong tuh didengar.’’


‘’Aku dengar Ray, tapi aneh aja. Selama ini kamu nggak pernah ngijinin aku duduk didepan, terus kenapa tiba-tiba.’’ Xena masih saja tak percaya. Bukannya apa, takut saja kalau tiba-tiba muncul pikiran aneh di otak kecilnya. Dan juga, dia takut saja kalau hati yang sudah berusaha diteguhkan, malah kembali memunculkan harap.


‘’Pindah Xena.’’ Rayan menekan kata-katanya sedang Xena malah kembali bertanya dan itu sedikit menimbulkan rasa kesal Rayan.


‘’Kamu yakin? Tapi itu kan - ‘’


‘’Yaudah nggak usah pindah, kalau kamu mau semalaman ada ditempat ini.’’ Pria itu kembali membenarkan posisi duduknya sedang di belakangnya, Xena sudah mendengus. Sedetik kemudian, Rayan tersenyum, melirik Xena yang hendak membuka pintu depan mobil.


‘’Dasar tukang maksa.’’


Dengan refleks Xena memundurkan tubuhnya, nafasnya ditahan kuat, saat tiba-tiba Rayan mendekat dan membantunya untuk memasangkan seat belt. Matanya ikut melebar sempurna, menatap wajah Rayan yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Hampir saja dia kehabisan nafasnya, saat tiba-tiba Rayan tersenyum tipis, ditambah lagi, pria itu mengusap gemas puncak kepala Xena.


‘’Bernafas lah,’’ Rayan sedikit menggoda. Sedetik kemudian, pria itu kembali tersenyum, mendapati Xena masih dalam posisi dan ekspresi yang sama.


‘’Wanita konyol ini, ternyata punya sisi menggemaskan juga,’’ gumam Rayan dalam hatinya. Tak berapa lama, dia sudah menghidupkan mobil. Xena, membuang nafas berat dengan pandangannya yang langsung dialihkan ke arah jendela mobil.


‘’Astaga jantungku.’’ Beberapa kali mengelus dadanya lalu terdiam kaku, menatap pantulan wajah Rayan lewat kaca jendela mobil. Bibirnya digigit kecil, hatinya tak karu-karuan. Keinginan untuk meninggalkan Rayan terasa lebih berat, hati yang sudah berusaha dia bentengi sedikit goyah.


‘’*Tuhan, tolong jangan munculkan perasaan seperti ini lagi, aku tidak sanggup mencintai tanpa dicintai, *itu terlalu menyakitkan untukku.’’ Xena langsung mengalihkan pandangannya, karena Rayan yang tiba-tiba menangkap basa dirinya yang sedang mengamati pria itu.


‘’Udah puas liatnya?’’ Rayan malah menggoda. Xena tidak menanggapi, memilih diam dan menatap jalanan di depannya.


‘’Xen, tolong ponselku dong.’’ Rayan meminta Xena untuk mengambilkan tas kerjanya, karena ponselnya tiba-tiba berdering. Tadi Rayan meletakan tas kerjanya di kursi belakang.


‘’Ponselnya Xen.’’ Meminta Xena untuk mengeluarkan ponselnya dari tas kerja.


‘’Iya Na, kenapa?’’ Xena kembali membuang pandangannya keluar, kalau boleh, dia ingin menulikan telinganya sejenak, agar tak mendengar obrolan Rayan dan Sana. Beberapa kali Xena menutup matanya, mencoba menahan rasa sesak di dadanya. Rayan memang tidak membicarakan hal romantis, tapi nada bicara Rayan yang sangat lembut dan perhatian yang Rayan berikan pada Sana, mampu membuat Xena cemburu. Xena hanya bisa tersenyum kecut, mendengar ucapan terakhir Rayan, sebelum pria itu mengakhiri panggilan telepon. Katanya, pria itu akan segera datang untuk menjemput Sana.


Xena sudah berpikir, kalau pasti Rayan akan menurunkan ditengah jalan dan menyuruhnya pulang dengan naik taxi.


‘’Xen,’’ panggil Rayan.


Xena menoleh, berusaha tersenyum di tengah rasa kecewanya. Tak berapa lama dia menunjuk ke arah depan, minta Rayan menurunkan dirinya di tempat yang masih ramai. ‘’Aku turun di depan aja Ray.’’


Rayan kembali menoleh. ‘’Mau ngapain, beli sesuatu?’’


Xena mengerut. ‘’Bukannya kamu mau jemput Sana?’’


‘’Kalau gitu aku turun di depan Ray, mumpung rame tempatnya jadi gampang buat nyari taxi.’’


‘’Kamu kenapa sih?’’ Xena bingung, melihat Rayan yang tiba-tiba memasang wajah kesal. Tak berapa lama, pria itu sudah menghentikan mobilnya.


‘’Kamu lagi sama aku, ngapain nyari taxi? Nggak suka kalau aku nganterin kamu pulang? Kenapa, takut dilihat orang lain?’’


‘’Ngomong apa sih Ray?’’ Xena merespon dengan wajah malasnya. Jelas-jelas Rayan yang ingin menjemput Sana, kenapa sekarang malah berdebat dan terkesan sedang mencari-cari masalah dengannya?


‘’Xen aku lagi ngomong loh sama kamu.’’ Lebih kesal saja Rayan, karena Xena yang malah membuang pandangan ke arah luar, tanpa menatapnya sama sekali.


‘’Kalau kamu terus berdebat disini, kamu bakalan telat jemput Sana. Nggak mau kan kamu, kalau nanti dia pulang pake taxi?’’


Rayan terdiam, menatap belakang kepala Xena. Cepat-cepat pria itu menahan, saat Xena hendak keluar dari mobil.


‘’Duduk!’’ ucapnya dan kembali menyalakan mobilnya. Xena hanya menatapnya, tanpa mau mengatakan apa-apa. Entahlah, Xena juga bingung, tak tau apa yang akan pria itu lakukan.


‘’Hallo Do, tolong jemput Sana di cafe Velvet.’’ Rayan langsung mengakhiri panggilan telepon, bahkan sebelum Aldo mengatakan apa-apa. Xena hanya menatapnya, tak mau banyak berpikir atau kegeeran.


Xena kembali melirik, melihat Rayan yang langsung mereject panggilan dari Aldo, saat Aldo menelponnya.


*****


Sudah hampir 5 menit sejak Rayan memarkir mobilnya di depan rumah Xena. Keduanya malah saling diam, sampai akhirnya Xena membuka suara dan hendak turun dari mobil.


‘’Ada apa?’’ Xena menatap tangan Rayan yang menahan tangannya.


‘’Besok aku jemput.’’


Bingung dong Xena, tumben-tumbennya Rayan berucap seperti itu. Biasanya, pria itu harus disuruh oleh mamanya terlebih dulu, agar mau menemani atau mengajak Xena jalan.


‘’Turun gih, udah malam, aku harus istirahat.’’ Tiba-tiba Rayan mendorong Xena, untuk segera keluar dari mobil.


‘’Pelan-pelan Ray, aku bisa jatuh.’’


Rayan tidak menanggapi, dan langsung berlalu pergi sambil memperhatikan Xena dari kaca spion.


‘’Itu pacar kakak kan?’’ Xena hampir saja berteriak, karena Yudi yang tiba-tiba muncul disampingnya. Refleks, wanita itu mengangkat tangannya lalu memukul lengan Yudi dengan sedikit keras.


‘’Bisa nggak kalau datang nggak usah ngagetin? Untung kakak nggak punya penyakit jantung Yud, kalau nggak udah kekancing dari kapan taun karena kebiasaan kamu ini.’’


‘’Itu pacar kakak kan?’’ Yudi langsung mengikuti Xena yang sudah berlalu pergi.


‘’Pacar apaan sih itu atasan kakak di kantor.’’


‘’Atasan mana yang nganterin karyawannya pulang? Emang aku bodoh?’’


‘’Orang dia emang atasan kakak.’’


‘’Atasan merangkap pacar lebih tepatnya, iya kan?’’


‘’Udah deh, kakak capek, mau istirahat.’’ Xena enggan untuk jujur atau membahas tentang Rayan pada Yudi. Dia hanya tidak ingin Rayan berkenalan dengan keluarganya. Maklumlah, hubungan mereka sudah diujung tanduk dan sebentar lagi akan berakhir jadi, percuma saja mengenalkan Rayan pada keluarganya, yang ada keluarganya malah akan berharap lebih dari hubungan tersebut.


Bersambung ....