Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 56



Sehabis sarapan, Rayan mengantar Xena ke apartemen, untuk mengambil buku dan perlengkapan kuliahnya. Setelah itu, Rayan juga kembali mengantar Xena ke kampusnya.


''Nanti aku jemput kalo kamu udah pulang kuliah.''


Xena hanya mengangguk. Tidak lupa, dia mencium pipi kanan Rayan, sebelum berlalu meninggalkan pria itu. Baru beberapa langkah, Xena kembali menoleh dan melambaikan tangannya.


Rayan pun ikut melambai, sambil tersenyum.


''Kita ngobrol sebentar.'' Rayan menoleh, di belakangnya sudah ada Bryan. Bryan langsung berbalik, mencari tempat untuk mengobrol.


Hampir setengah jam mereka ngobrol. Bryan duluan pergi karena ada punya jadwal kuliah.


''Cie ... Cie ... ada apa tuh, kok tadi aku liat udah pake cium-cium pipi segala?'' Clarissa meledek, menyenggol kecil lengan Xena yang sudah tersenyum malu.


''Kami bersama lagi,'' ucapnya malu-malu.


''Wah beneran? Aku ikut senang Xen.'' Clarissa memeluk Xena. Dia benar-benar ikut senang akan keberhasilan hubungan Xena ini. Dalam hatinya, Clarissa juga berharap, untuk bisa mendapatkan Bryan.


Di jakarta.


Sudah sejak kemarin Sana mencoba menelpon Rayan, tapi nomor pria itu tidak kunjung aktif. Tadi siang dia juga datang ke kantor Rayan tapi Rayan tidak masuk. Dan disinilah Sana sekarang, di depan rumah keluarga Rayan.


''Malam tan.''


''Malam Sana ada apa?'' sambut tante Liana.


''Rayannya ada tan?''


''Rayannya kan lagi dinas ke luar kota.''


''Siapa yang dinas keluar kota ma? Rayan bukannya ke California ya, nyusul Xena?''


Tante Liana menggeram kesal, menatap suaminya dengan ujung matanya. Dia sudah berusaha menyembunyikan kebaradaan Rayan eh suminya malah ember. Mana tampangnya polos lagi, seolah nggak bersalah.


Kalau Sana menyusul Rayan gimana? Bisa-bisa Rayan gagal membawa pulang Xena.


''Rayan ke California om?''


Om William malah kembali mengangguk. ''Loh, emangnya Rayan nggak bilang sama kamu?''


''Pa.'' Tante Liana langsung menegur. Dia melotot sebagai isyarat, tapi suaminya masih nggak ngeh dan malah bertanya perihal istrinya yang terus melotot padanya.


''Kenapa ma, matanya sakit?''


Bukan main kesalnya tante Liana. Dia pun kembali melihat pada Sana. ''Tante harap kamu tidak berpikiran untuk menyusul Rayan disana,'' ucap tante Liana dan langsung meninggalkan Sana.


Tante Liana kesal, mengingat Sana adalah penyebab perginya Xena. Tapi dia juga tidak mungkin menyalahkan Sana sepenuhnya, karena yang paling bersalah adalah putranya.


''Om, beneran Rayan nyusul Xena ke California?'' Sana kembali bertanya.


''Iya kemarin berangkatnya.''


''William...!'' teriak tante Liana penuh kekesalan. Paruh baya itu meminta suaminya untuk segera masuk.


''Rayan menyusul Xena?'' Sana buru-buru membalik badannya dan pergi. Dia tidak bisa membiarkan hal itu. Sana bertekad menyusul Rayan juga.


Sehari kemudian.


Sehabis kuliah, Xena langsung menuju hotel tempat Rayan menginap. Dia berdiri lama di depan hotel, memperhatikan seseorang yang baru masuk. Itu Sana, apa Sana datang untuk bertemu Rayan atau apa Rayan yang menyuruh Sana datang?


Xena sudah mulai berpikir yang tidak-tidak. Wanita itu memilih berbalik dan tidak jadi menemui Rayan. Dia tidak mau sakit hati, melihat Rayan dan Sana yang lagi bersama.


Sudah lewat beberapa jam, tapi Xena belum juga datang. Rayan pun memutuskan untuk menelponnya. Tapi teleponnya tidak diangkat oleh Xena.


Rayan jadi khawatir dan memilih keluar untuk menyusul Xena ke apartemennya.


''Rayan?'' Tidak sengaja Sana melihat Rayan yang berjalan terburu-buru, keluar dari lobby hotel. Sebenarnya, Sana tidak tau kalau Rayan menginap disana, itu hanya sebuah kebetulan.


Sana ingin menyusul tapi tidak sempat. Wanita itu memutuskan untuk menunggu Rayan di lobby hotel.


''Xen ... Xen buka pintunya Xen, kamu didalam kan?'' Rayan berusaha menekan bel pintu apartemen Xena, tapi tidak mendapat jawaban. Dia mengambil ponselnya lagi, mencoba menelpon Xena. Tapi lagi-lagi Xena tidak menjawab.


''Xen ... Xen buka pintunya, kamu kenapa?'' Rayan sudah mengetuk pintu kamar Xena.


''Kamu menyakitinya lagi?'' tanya Bryan dengan nada tidak senang.


Rayan tidak mempedulikan, pria itu terus mengetuk pintu kamar Xena.


''Xen ... Xen buka pintunya, ngomong sama aku, kamu kenapa?''


Sebenarnya Bryan juga ingin bertanya, tapi memilih untuk masuk ke kamarnya. Dia rasa, dia tidak perlu terlalu ikut campur dan membiarkan kedua orang itu menyelesaikan masalah mereka. Kecuali, kalau Rayan benar-benar menyakiti Xena lagi, maka dia akan langsung turun tangan.


Entahlah, tapi semenjak Rayan datang, tidak pernah sekalipun Bryan merasa cemburu pada pria itu. Bryan sudah benar-benar mengiklaskan Xena seutuhnya. Dia pikir, asal Xena bahagia, itu sudah cukup untuknya.


Hampir setengah jam Rayan mengetuk, barulah Xena membukakan pintu. Mata wanita itu sudah nampak sembab.


''Kamu kenapa?'' tanya Rayan langsung menangkup wajah sang kekasih.


Air mata Xena mengalir lagi. ''Kamu kenapa datang kesini?'' tanyanya.


''Aku datang karena kamu tidak bisa dihubungi. Tadi katanya mau datang ke hotel, kenapa nggak datang?''


Xena menggeleng. ''Aku melihatmu bersama Sana, bagaimana aku bisa kesana.''


Kening Rayan mengerut. ''Aku sama Sana? Kamu mimpi?''


Lagi-lagi Xeba menggeleng. ''Tadi aku melihat Sana di depan hotel tempat kamu menginap. Kalian pasti bersama lagi kan?''


''Kamu lihat Sana?''


Xena mengangguk.


''Tapi aku tidak bertemu dengannya Xena, aku bahkan nggak tau kenapa dia kesini.''


''Boong, kamu nggak mungkin nggak tau dan dia juga nggak mungkin nyusul kamu kesini kalau kamu nggak ngasih tau dia tentang keberadaan kamu.''


''Xen aku benar-benar nggak tau tentang itu.''


Xena menyeka air matanya. ''Kamu beneran nggak tau?''


''Aku nggak tau Xena.'' Rayan menekan kata-katanya.


''Tapi kenapa dia bisa disini Ray?''


''Ya mana aku tau.''


''Xen ....'' Rayan menatap serus Xena.  ''Aku udah bilang aku nggak punya hubungan apa-apa dengan Sana, aku juga udah nggak punya perasaan apa-apa sama Sana, bisa nggak kamu percaya sama aku? Seperti hari ini, terus terang aku kecewa, kamu main nuduh aja tanpa sama sekali meminta penjelasan dariku.''


''Tapi aku juga nggak bisa berpikir jerni, begitu melihat Sana disana. Aku mengingat lagi apa yang dulu terjadi dan itu membuatku takut dan sedikit tidak percaya padamu.'' Xena sudah kembali menangis. Sebenarnya dia juga tidak mau ini terjadi, tapi setiap kali melihat Sana, dia menjadi tidak percaya diri, dia takut kalau-kalau Rayan kembali bersama Sana dan pergi meninggalkannya.


Rayan menarik Xena dalam pelukannya. ''Aku tidak ingin bersama siapapun selain kamu, tolong percaya padaku.''


Xena mengangguk walaupun dia tidak yakin dengan hal itu.


''Xen, kamu hanya perlu mempercayaiku dan aku menyukaimu itu adalah hal yang pasti.''


Xena mengangguk lagi. ''Maaf, kalau aku sudah kekanak-kanakan.''


Masih dalam posisi saling memeluk, Rayan mengelus-ngelus pelan punggung Xena. Dalam hatinya, sebenarnya dia bertanya-tanya kenapa Sana bisa ada di negara ini.


''Malam ini, aku akan menginap disini.''


Xena melerai pelukannya, menengadah untuk melihat pria tersebut.


''Kalau aku pulang sekarang, kamu pasti akan berpikir yang tidak-tenang. Xen, aku tidak akan kembali ke hotel itu tanpa kamu.''


Xena pun tersenyum dan kembali memeluk Rayan.


Bersambung .....