
Belakangan ini, Rayan sangat sibuk dengan pekerjaannya tapi bukan berarti dia melupakan Xena ya. Rayan bahkan sudah memerintahkan Hans untuk menyewa orang mencari keberadaan Xena.
''Ray.'' Rayan menoleh, melihat Sana yang sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
''Ray aku bawain makanan buat kamu, cobain yuk.'' Sana sudah melangkah masuk dan duduk di sofa. Dia melirik pada Rayan yang masih nampak sibuk. Sebenarnya, belakangan ini Sana sering ke kantor, hanya untuk membawakan makan siang untuk Rayan. Tapi seperti sekarang, Rayan selalu cuek padanya dan selalu menggunakan kata sibuk untuk menyuruhnya pergi.
''Maaf Na, aku sibuk,'' ucap Rayan singkat tanpa melihat Sana lagi.
Sana berusaha tersenyum, walau hatinya perih akan sikap Rayan yang seperti ini. Belakangan, Sana juga baru tau, sikap baik Rayan, perhatiannya Rayan waktu dia sakit ternyata hanya untuk melindungi Xena semata.
Sana sedih, melihat sikap cuek Rayan sekarang. Kemana Rayannya yang dulu, Rayan yang selalu mengutamakannya, Rayan yang selalu tersenyum saat melihatnya. Kemana Rayannya yang itu?
''Yaudah aku pergi dulu, makanannya jangan lupa dimakan ya.'' Sana pun kembali melangkah keluar. Dia harap suatu saat Rayan akan kembali mencintainya seperti dulu.
Rayan hanya bisa membuang nafasnya, melihat pintu yang baru tertutup itu. Sebenarnya Rayan tidak ingin bersikap seperti ini, tapi dia harus membuat batasan yang jelas, agar Sana tidak semakin terluka lagi.
Sepeninggalan Xena, Rayan semakin menyadari perasaannya dan pria itu sudah benar-benar yakin kalau dia mencintai Xena makanya, dia terus menjaga jarak dari Sana, apalagi sekarang wanita itu sudah sembuh total dan tidak ada alasan baginya untuk selalu menjaga Sana lagi.
''Hans, sudah ada kabar tentang Xena?''
''Itu yang mau saya sampaikan pak. Beberapa hari yang lalu, mbak Xena terlihat sedang nongrong di sebuah cafe yang ada di California.'' Hans memberitahu.
Kening Rayan mengerut. ''California? Xena ada di california sekarang? Ternyata jauh juga larinya wanita itu.'' Pria itu malah terkekeh pelan. Dia merasa dirinya seperti kembali bugar, seperti kembali segar, hanya karena satu berita yang baru dia dapat ini.
Xena di California? Rayan pasti akan menyusulnya kesana.
''Siapkan tiket untukku, kita akan kesana besok.''
''Kita pak?''
''Ya, kamu ikut denganku.''
''Tapi pak ...?'' Rasanya Hans ingin menolak. Pergi bersama Rayan? Oh Tuhan dia tidak bisa membayangkan, akan serepot apa nanti dirinya.
''Tidak ada tapi-tapian, kamu ikut denganku,'' ucap Rayan tidak mau dibantah dan mau tidak mau, Hans hanya bisa mengikuti. Toh dia hanya seorang bawahan.
Dan disinilah Rayan sekarang, di cafe yang katanya kemarin pernah didatangi oleh Xena. Rayan sudah menunggu di cafe itu hampir selama satu jam, matanya bergerak kesana kemari, tapi tak kunjung melihat rupa Xena.
''Katamu Xena pernah datang kemari.''
Hans langsung mengangguk. ''Begitu menurut info yang saya dapat dari orang yang kita sewa.''
''Tapi kenapa sekarang nggak datang Hans!?'' Rayan terlihat sangat kesal dan sepertinya Hans juga sangat ingin memaki atasannya itu.
Astaga sumpah demi Tuhan, ingin sekali Hans berteriak saat ini juga. Hans heran saja dengan pemikiran Rayan, ya namanya juga cafe, ini kan cuma tempat nongkrong, bukan tempat tinggalnya Xena. Jadi maklum saja kalau Xena tidak datang setiap hari kesana.
Lagian, Hans juga sudah menyarankan agar mereka pergi setelah mengetahui alamat tempat tinggal Xena, tapi Rayan ngeyel dan katanya dia pasti akan segera menemukan Xena asal mereka sudah ada di kota yang sama.
Sementara Xena, dia dan Clarissa sedang duduk di taman yang tidak jauh dari cafe itu. Mereka sedang membuat tugas bersama di taman itu.
''Oh ya Xen, kemarin aku sempat lihat foto cowok di ponsel kamu, itu siapa? Pacar kamu ya?''
Xena sedikit berpikir. Diponselnya, dia hanya menyimpan foto Bryan, Yudi dan juga foto Rayan tentunya.
''Itu loh, foto cowok yang lagi tidur di mobil.''
''Bukan siapa-siapa tapi kok fotonya disimpan? Ayo ngaku ayo, pacar kamu kan itu?''
Xena kembali menggeleng. ''Dia satu-satunya pria yang kucintai dan juga yang tidak bisa kumiliki.'' Xena memaksakan senyumnya.
''Maaf.'' Di depannya, Clasrissa malah sudah nampak sendu, karena merasa bersalah akan pertanyaan tadi.
''Ngapain minta maaf, kan yang nolak cintaku dia Cla bukan kamu. Udah ah, kita lanjutin tugas aja sekarang, fokus, biar cepat lulus.''
Sama seperti Xena, Clarissa juga mahasiswa dari Indonesia. Mereka menjadi dekat karena berasal dari negara yang sama. Sesekali, Clarissa juga akan menginap di apartemen Xena dan Bryan, sengaja, hanya untuk lebih dekat dengan Bryan.
''Hai Xen, hai Cla.''
Perhatian mereka teralih pada 3 pria yang sedang melangkah menghampiri.
''Main basket bareng mau ngggak?''
Xena sedikit menimang. Kayaknya dia tertarik pada tawaran itu.
''Tapi aku nggak bisa, ajarin ya.'' Xena langsung berdiri, sedangkan Clarissa hanya bisa menggeleng. Tadi Xena mengajak fokus untuk mengarjakan tugas dan sekarang malah sudah ingin bermain basket. Untung Clarissa juga menyukai hal itu, kalau tidak, dia pasti akan langsung protes dan menarik Xena menjauh dari sana.
Xena dan Clarissa begitu menikmati permainan itu, mereka tertawa puas kala berhasil memasukan bola ke ring.
''Katanya nggak bisa main Xen.'' Chris menegur, sedangkan Xena hanya mengangkat pundaknya lalu tertawa lagi.
Sementara Rayan dan Hans sedang malangkah menuju taman. Mereka memperhatikan banyaknya muda mudi yang memenuhi taman itu. Ada yang sedang mengarjakan tugas, ada yang pacaran dan ada yang berolahraga.
Langkah Rayan terhenti, dia baru saja mangkap satu siluet yang tidak asing dimatanya. ''Xena?'' gumamnya dengan bibir yang sudah melengkung sempurna.
Tiba-tiba keningnya mengerut, saat melihat seorang pria merangkul pundak Xena. Yang menyebalkan, Xena malah tertawa dan bukannya menyingkirkan tangan pria itu.
Cepat-cepat Rayan melangkah. Pria itu langsung menarik kasar tangan Xena, bikin Xena dan beberapa orang tersebut kaget, akan tingkah tiba-tiba Rayan itu.
''Rayan?'' Xena speechless. Matanya sampai berkedip beberapa kali, hanya untuk memastikan kalau pria disampingnya benar-benar Rayan.
''Jauhkan tanganmu dari kekasihku.'' Rayan menunjuk pria yang tadi merangkul Xena, dengan tatapan mautnya. Pria itu ingin balik marah, tapi Clarissa langsung menghalangi. Clarrisa tau siapa Rayan, makanya dia langsung mengambil tindakan. Dia juga mengajak 3 pria itu untuk pergi meninggalkan Xena, Rayan dan Hans yang sedang berdiri tidak dari mereka.
''Rayan kamu ....?''
''Apa? Itu yang tadi apa maksudnya Xena?''
Xena tidak merespon, wanita itu masih diam, otaknya masih belum berfungsi sepenuhnya. Tangannya pun terangkat, untuk mencubit pipi Rayan.
''Xena kamu apa-apaan sih?'' dengus Rayan menatap Xena dengan wajah kesalnya.
''Kamu beneran Rayan?''
''Kamu pikir aku apa? Dedemit, gitu?''
Xena berusaha tersenyum. Matanya masih setia menatap wajah pria yang dia rindukan itu. Tapi, kenapa Rayan bisa ada disini? Apa dia punya kerjaan di kota ini? pikir Xena.
Xena lupa akan satu hal. Wanita tidak ngeh kalau tadi Rayan menyebut dan mengakuinya sebagai kekasih dari pria itu.
Bersambung .....