Sorry, Thank You & I Love You

Sorry, Thank You & I Love You
Part 39



Malam ini, Xena pulang di jemput Bryan sedangkan Rayan? Katanya sih pria itu sudah pulang sejak sore tadi.


‘’Kamu mau makan di luar atau mau makan di rumah?’’ tanya Bryan begitu Xena masuk mobil. Bryan tertawa, memperhatikan wajah manyun Xena.


Sambil tertawa, Bryan menarik bibir Xena. ‘’Kenapa sih, manyun gini?’’ ucapnya meledek Xena dan sedetik kemudian tangannya terlepas, karena Xena yang sudah mengigitnya dengan kuat.


‘’Kebiasaan deh Xen.’’ Sambil menggeleng, Bryan memperhatikan dalamnya bekas gigitan di tangannya.


‘’Reseh sih.’’


Mobil Bryan mulai melaju, membela padatnya jalan. Maklum malam minggu jadi muda mudi pada keluar mencari udara segar wkwkwk


‘’Ray, aku pengen bakso di depan ya.’’ Tidak sadar, Xena malah memanggil Rayan padahal jelas-jelas Bryanlah yang kini duduk disampingnya. Sebenarnya, kalau boleh jujur, sejak tadi Xena terus kepikiran pada Rayan, karena tumben-tumbennya pria itu pulang cepat. Xena kepikiran karena takut saja kalau Rayan sedang punya masalah atau apa kek.


‘’Rayan?’’ Bryan menautkan alisnya, melirik Xena sekilas.


‘’Hhmm...?’’ Xena malah berpura-pura tidak tau, seolah Bryan hanya salah dengar tadi tapi jelas kok, Bryan yakin dia tidak salah dengar tadi.


‘’Kamu panggil aku siapa tadi?’’


‘’Panggil? Maksudnya?’’


‘’Tadi kamu bilang Ray, Ray siapa?’’


‘’Ray? Astaga Bry, kamu salah dengar kali orang aku manggilnya Bry kok.’’ Xena pun menghindar, memilih membuang pandangannya ke luar.


Bryan kembali melirik Xena, dari tingkah sang sahabat, Bryan bisa tau kalau Xena sedang berbohong padanya tapi yaudahlah, Bryan pikir Xena pasti akan bercerita saat dia ingin bercerita. Tapi, walau begitu Bryan juga penasaran pada sosok Ray yang dipanggil Xena tadi.


Itu siapa?


Cewek atau cowok?


Teman kantor kah atau?


*****


Xena baru turun dari mobil. Mungkin karena laper kali ya makanya dia melangkah cepat masuk, langsung memesan bakso untuknya dan Bryan bahkan tanpa bertanya pada pria itu. Sudah bersahabat lama, Xena sudah sangat hafal semua kesukaan Bryan, termasuk bakso. Dibanding bakso besar, Bryan lebih suka bakso kecil, jangan pakai sayur dan mienya diganti bihun.


Xena duduk di bangku panjang yang sudah disediakan tukang bakso, pandangannya mengarah kesana sini, melihat keadaan sekitar dan ….


Deg


Pandangannya terkunci, pada seseorang didepan sana, di salah satu cafe yang Xena tau khusus menjual makanan pencuci mulut. Disana, Xena melihat Rayan duduk manis dengan Sana, pria itu juga tersenyum.


‘’Sia-sia saja aku memikirkannya,’’ Xena memalingkan wajahnya pada Bryan yang baru menyusulnya. Tadi, Bryan mampir ke minimarket dulu membeli tisu dan minuman dingin untuk Xena.


‘’Kamu udah nelpon Aldo, ini udah jam berapa tumben banget dia lama,’’ ucap Rayan sambil menyeruput minumannya. Ini hari ulang tahun Sana makanya Rayan datang untuk menemaninya.


‘’Aldo nggak datang Ray, katanya ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal.’’


Kening Rayan mengerut, gelas minumnya diletakkan di meja lagi, lalu dia mengambil ponselnya, berniat menghubungi Aldo.


‘’Nggak usah Ray, kita berdua aja nggak pa-pa kok, lagian aku juga nggak mau membebani Aldo kan kasian dia lagi banyak kerjaan.’’


Sana mencegah tindakan Rayan itu. Sebenarnya, Sana memang tidak menghubungi Aldo, dia ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Rayan, hanya dengan Rayan. Sana juga sudah berniat untuk mengutarakan isi hatinya, dia yakin Rayan akan menyambut perasaannya itu.


Tiba-tiba, suasana menjadi canggung. Tiba-tiba, Rayan dikagetkan dengan Sana yang mengambil tangannya, membawanya dekat dengan wanita itu. Cepat-cepat Rayan menarik tangannya lagi, tidak nyaman saja dengan hal itu.


‘’Ray aku suka sama kamu.’’


Rayan tersedak minuman, pernyataan Sana barusan membuatnya kaget setengah mati. Matanya menatap Sana dengan tatapan tak biasa.


‘’Ray kamu dengar nggak, aku bilang aku suka kamu,’’ ulang Sana dengan menekan setiap katanya.


Rayan masih tak bergeming, pria itu duduk diam di tempatnya tanpa mengatakan apapun. Bukannya senang, Rayan malah tidak suka dengan pernyataan Sana ini.


Anehnya, setelah semua terjadi, Rayan malah merasa tidak senang, pikirannya langsung melayang pada Xena.


‘’Ray.’’ Sana ingin menyentuh tangan Rayan tapi Rayan keburu menghindar.


‘’Ini ulang tahun kamu, ngomongnya jangan ngawur.’’


‘’Ray, aku yakin kamu tau, kalau selama ini aku tuh suka sama kamu. Kamu pikir tiap bulan aku bela-belain ngunjungin kamu untuk apa? Ya karena aku punya rasa sama kamu.’’


Rayan kembali menatap Sana, dengan pandangan tidak sukanya. ‘’Berhenti membahas masa lalu, sekarang aku punya pasangan dan begitupun kamu.’’


‘’Aku sama Aldo udah putus Ray, dia juga tau kok kalau aku suka sama kamu.’’


‘’Maaf aku nggak punya waktu untuk membahas hal seperti ini. Selamat ulang tahun, aku pamit dulu.’’ Rayan langsung pergi, tentu Sana menyusul.


Rayan menutup matanya, perlahan dia melepas tangan Sana yang sudah melingkar di perutnya. Sana sedang memeluknya dari belakang sekarang.


‘’Na jangan gini dong,’’ ucap Rayan. Pria itu berbalik, menatap Sana yang sudah berlinang air mata.


‘’Aku suka sama kamu Ray dan aku juga tau kalau kamu punya perasaan yang sama. Iya kan?’’


‘’Aku harap, kita tetap jadi sahabat yang baik.’’ Rayan menolak dengan lembut, tangannya menyeka air mata Sana, berharap Sana mengerti akan keputusannya.


Rayan akui, dulu dia memang sangat suka pada Sana, tapi itu dulu. Pernyataan Sana tadi bikin Rayan sadar akan perasaannya, tentang siapa yang dia sukai dan siapa pemilik hatinya sekarang.


‘’Tapi kenapa Ray, kenapa nggak bisa padahal jelas-jelas kita saling mencintai.’’ Sana penuh harap, sengaja menangis untuk meluluhkan Rayan. Karena Sana tau, Rayan itu sama sekali tidak bisa melihatnya menangis atau sedih.


‘’Kita nggak saling mencintai Na, kamu keliru.’’


Sana menatap Rayan heran.


Apa maksud ucapan Rayan barusan? Rayan nggak mungkin benar-benar menyukai Xena kan?


‘’Jangan bilang kamu ….’’


‘’Ya, aku menyukainya, benar-benar menyukainya.’’ Rayan menjawab bahkan sebelum Sana melanjutkan pertanyaannya.


Sana menggeleng, tidak percaya pada apa yang baru dia dengar. ‘’Nggak, kamu bohong, kamu nggak mungkin suka sama dia. Ray, apa bagusnya dia dibanding aku?’’


Bukannya menjawab, Rayan malah tersenyum, bikin Sana lebih sakit hati.


‘’Aku tau kamu bohong, kalian belum lama saling mengenal, gimana bisa kamu tiba-tiba suka sama dia. Ray aku tau, kamu pacaran sama dia karena aku kan, karena sakit hati sama aku kan?’’


Tidak sengaja, Sana melihat Xena yang juga sedang melihat ke arah mereka.


Sana menjinjitkan kakinya, menarik kerah jas Rayan dan ….


Sana mencium Rayan. Di seberang jalan, Xena langsung membuang pandangannya, matanya berkaca saking sakitnya melihat pemandangan itu.


‘’Xen kamu kenapa?’’ tanya Bryan memperhatikan perubahan Xena.


‘’Ada apa, kenapa nangis?’’


Bukannya menjawab, Xena malah memeluk Bryan, membuat keduanya jadi pusat perhatian. Bryan memutuskan untuk pergi, membayar bakso pesanan mereka tanpa makan sama sekali.


‘’Begitu wanita yang kamu cintai, yang murahan seperti itu?’’ tunjuk Sana pada Xena yang berjalan bersama Bryan, keduanya masuk ke mobil lalu pergi.


Rayan tentu kesal, melihat Xena dengan pria lain. Dengan rasa marahnya, Rayan buru-buru naik mobil, pergi dari tempat itu meninggalkan Sana sendirian.


‘’Kamu milikku Rayan, dari awal,’’ gumam Sana, dia menyeka air matanya sambil terus memperhatikan mobil Rayan yang menjauh.


Bersambung .....