
Seminggu berlalu
Sore ini Rayan menjemput Xena yang baru pulang kerja. Sekarang Xena kerja di perusahaannya Aldo. Bukan lewat jalur khusus ya, tapi karena emang Xena punya kemampuan yang bagus makanya perusahaan Aldo merektrutnya.
''Ray, udah lama nunggunya?'' Xena tersenyum menghampiri sang kekasih.
''Belum kok, baru nyampe. Oh ya, kita makan malam dulu ya baru aku anter kamu pulang.''
Xena mengangguk dan mereka pun masuk ke mobil.
''Makanannya kok nggak dimakan Ray?'' Xena memperhatikan Rayan yang sepertinya sedang banyak pikiran. Sejak tadi, beberapa kali dia menangkap Rayan yang sedang melamun.
Xena hanya memperhatikan, saat Rayan mengambil sesuatu dari kantongnya dan meletakannya di atas meja.
''Buat kamu.'' Hanya itu yang Rayan katakan.
Xena melepas sendok dan garpunya. Dia mengambil kotak itu dan membukanya.
''Ray ini ....?'' Xena menatap Rayan dengan penuh tanda tanya.
''Cincin lamaran.''
''Cincin lamaran?''
Rayan hanya mengangguk. Pria itu hampir tidak melihat wajah Xena.
Xena malah tersenyum. ''Cara kamu ngelamar nggak romantis banget ya?'' ucapnya.
Perlahan Rayan mengarahkan pandangannya pada Xena. ''Kamu mau?''
''Mau apa?'' Xena malah sengaja menggoda.
''Maksudku, lamaranku ditolak atau diterima?''
Xena mengambil cincin itu dan memasukannya ke jari. ''Yah, udah kepasang Ray.'' ucapnya menggoyang-goyangkan jarinya yang sudah tersemat cincin disana.
''Xen kamu terima?'' Wajah Rayan mulai sumringah.
''Aku nggak punya alasan buat nolak.''
''Beneran?''
''Iya beneran Ray. Udah makannya diterusin.''
Bukannya makan, Rayan malah berdiri, pria itu langsung memeluk Xena dan mengatakan terimakasih. Dia merasa legah, karena ternyata Xena tidak menolak lamarannya.
''Aku udah terima lamarannya. Kedepannya, kamu nggak bisa bikin aku kesal Ray.''
Rayan mengangguk, dia mencium beberapa kali puncak kepala Xena. ''Ya aku janji.''
Setelah pulang, Rayan dan Xena langsung memberitahu tentang lamaran itu pada keluarga mereka dan dalam waktu dekat ini, keluarga Rayan akan datang ke rumah keluarga Xena lagi, untuk membicarakan tanggal pernikahan mereka.
Dikamarnya, Xena terus terusan tersenyum. Dia menatap foto Rayan. ''Aku nggak nyangka kita akan berakhir seperti ini Ray. Padahal aku dulu sudah sempat menyerah pada hubungan kita tapi terimakasih karena sudah menyusulku dan membawaku kembali kesisimu.'' Dia mengusap foto Rayan dan menciumnya singkat.
Xena senang sekali. Kisah cinta yang dulu dia pikir tidak akan berhasil, sekarang malah berjalan dengan mulus. Bahkan sebentar lagi dia dan Rayan akan menikah. Oh Tuhan, bukan main senangnya wanita itu.
*****
''Bry, kamu udah umur segini belum punya pacar juga?'' tegur mamanya Bryan. Tidak terlalu diambil pusing oleh Bryan. Pria itu malah asyik main game di ponselnya.
''Bry, sebelum meninggal, mama pengen banget loh liat kamu nikah, punya anak. Mama pengen ngerawat dan ngegendong cucu mama.''
Mendengar itu, barulah Bryan meletakan ponselnya. Dia menatap mamanya dengan sendu. ''Ma, Bryan nggak punya pacar, gimana mau nikah?''
''Ya kamu cari dong, masa sih dari banyaknya cewek nggak ada satu pun yang nyantol sama kamu. Kamu nggak mungkin masih ngarepin Xena kan Bry?'' Mamanya tau, kalau Bryan sudah lama menyimpan rasa pada Xena tapi mau diapakan lagi, Xena sudah punya pasangan sekarang.
''Nggak ma, aku sama Xena benar-benar hanya sebatas sahabat sekarang.''
''Yaudah kalo gitu buktiin kalo kamu emang udah nggak berharap sama Xena. Besok malam mama mau kamu bawa pacar kamu ke rumah.''
''Siapa yang mau dibawah ma, Bry nggak punya pacar.''
''Yah terserah, yang jelas besok mama mau ketemu sama pacar kamu Bry atu kalo nggak mama bakalan jodohin kamu sama Alia, anak tetangga kita. Mau kamu?''
Bryan langsung menggeleng. Gila saja, mana mau dia dijodohkan dengan wanita cerewet itu. ''Oke-oke, besok Bry akan bawa pacar Bryan. Tapi mama janji, kalau udah ketemu, jangan ada bahas-bahas soal pernikahan atau apapun itu, oke?''
''Iya,'' ucap mamanya asal-asalan.
Bryan pun menelpon teman-temannya, untuk bertanya.
Jam 18.30
Bryan sampai di cafe. Disini dia akan bertemu dengan seorang wanita yang tadi sempat dikenalkan oleh salah satu temannya.
''Clarissa?''
Bryan agak kaget. Ternyata wanita itu Clarissa, teman kuliah Xena sewaktu di California.
''Apa kabar Bry?''
Bryan tersenyum canggung. Kenapa harus Clarissa sih? Bryan kurang srek pada wanita itu. Pria itu menggaruk kepalanya, membawa pandangannya ke arah luar cafe. Disana, tidak sengaja dia melihat Xena yang sedang bersama pria yang semalam meninggalkannya.
Pria itu seperti sedang marah pada Xena.
''Lepasin, sakit.''
''Kamu sudah bikin aku malu di depan om-tantemu dan kamu pikir aku akan melepaskanmu. Dasar wanita nggak laku!''
Mata Sana menajam. Tidak suka dengan ucapan terakhir pria itu.
''Kata siapa dia nggak laku?'' Sana rada kaget, saat tiba-tiba Bryan menarik dan merangkul pundaknya. Wanita itu hanya berdiri diam, memperhatikan Rayan dari samping.
''Bryan.''
''Perkenalkan, aku Bryan, pacarnya Sana,'' ucap Bryan yang semakin membuat Sana kaget, sedangkan pria di depan mereka hanya tertawa meremehkan.
''Pacar? Ck, wanita seperti ini tidak layak untuk dijadikan pacar, hanya akan membuatmu menderita.''
''Menderita atau tidak, biar jadi urusanku. Oh ya dan kamu siapa?'' Bryan ikut melempar tatapan sinisnya.
Bukannya menjawab, pria itu malah berbalik dan pergi. Tapi terlebih dulu, dia menatap tajam pada Sana. ''Dasar wanita murahan,'' ucapnya.
Bryan emosi. Dia ingin mengejar tapi Sana menghalau. ''Makasih udah dibantuin.''
''Bryan, apa maksudnya tadi?'' Tatapan Bryan dan Sana mengalih pada Clarissa yang sedang mendekat pada mereka. Wanita itu sudah memasang wajah betenya. Ya bete, karena tadi Bryan meninggalkannya begitu saja.
''Tolong bantu aku sekali ini saja.'' Bryan berbisik. Disaat bersamaan pria itu kembali merangkul pundak Sana, Sana sampai kaget dibuatnya.
''Cla kenalin ini Sana, pacarku.''
Mata Sana membutat, begitu pun dengan Clarissa.
''Sekali ini, tolong bantu aku,'' bisik Bryan lagi.
Sana pun hanya bisa memberikan senyum canggungnya pada Clarissa.
''Nggak mungkin, kalo kalian pacaran kamu nggak mungkin minta tolong buat -''
Bryan langsung memotong ucapan Sana. ''Kemarin aku sama Sana lagi bertengkar doang. Maaf ya Cla.''
''Jadi ini pacar kamu Bry.''
''Mati aku.'' Bryan menutup matanya kuat. Dia tau suara siapa itu. Pelan-pelan Bryan berbalik, memberikan senyum tertekannya pada sang mama. Sana juga ikut berbalik.
Paruh baya itu nampak heboh. ''Cantik banget calon mantuku.''
Sana melirik Bryan sekilas, dia memberi kode lewat mata. Wanita itu bingung, dia sudah menebak kalau paruh baya di depannya ini adalah mamanya Bryan.
''Please.'' Bryan memohon.
''Kamu namanya siapa cantik?''
''Sana tante.'' Sana tersenyum tertekan dan sekali lagi kembali melirik pada Bryan.
''Oh ya, kedalam yuk, kita ngobrol di dalam.'' Mamanya Bryan lengsung menarik Sana masuk ke cafe. Bryan hanya bisa pasrah dan perlahan mengikuti.
''Bry. Kamu nggak mungkin benar-benar pacaran sama Sana kan?'' Clarissa menahan tangan Bryan.
''Maaf Cla, aku lagi mumet.'' Bryan melepaskan tangan Clarissa dan kembali meneruskan langkahnya.
Bersambung .....