
Malam ini, Rayan membawa keluarganya untuk datang ke rumah Xena, hanya untuk berbincang dan saling mengenal. Maklumlah, selama ini Xena dan Rayan belum memperkenalkan keluarga mereka satu sama lain.
Ternyata mamanya Rayan dan mamanya Xena cepat sekali akrabnya. Sejak tadi, mereka sudah banyak mengobrol. Sedangkan Yudi, lebih banyak mengobrol dengan om William. Entahlah, mereka berdua sedang membahas soal ikan-ikan yang om William pelihara. Om William bahkan memperlihatkan foto-foto ikannya pada Yudi.
''Seneng banget mereka bisa cepat akrab,'' ucap Xena memeluk lengan Rayan. Mereka duduk memperhatikan keluarga mereka yang sedang asyik ngobrol satu sama lain.
''Oh ya, selanjutnya rencanamu gimana, mau kerja di perusahaanku lagi atau?'' Rayan menatap Xena, menyingkirkan beberapa anak rambut Xena yang agak menutupi matanya.
''Hhmm, rencananya mau kerja lagi, tapi nggak di perusahaan kamu. Nggak enak aja kalau kerja sama pacar sendiri, nggak bebas mau ngapa-ngapain.''
''Loh maksudnya gimana ya? Mau bebas gimana maksud kamu?''
Xena tertawa kecil. ''Kalau kerja di tempat yang sama kayaknya aku akan merasa terus di awasi, takut bikin kesalahan dan lain sebagainya.''
''Ya nggak pa-pa. Aku nggak keberatan kok kalo sekali-kali kamu bikin kesalahan.''
Xena menggeleng. ''Nggak. Aku kayak nggak nyaman aja. Kamu nggak tersinggung kan?''
Rayan menarik nafasnya. ''Tersinggung sih nggak cuman aku lebih suka kita satu tempat kerja.''
''Kalo satu kantor susah, aku nggak mau pekerjaan mengganggu buhungan kita nantinya.'' Xena berharap Rayan mengerti keputusannya. Bukannya Xena tidak mau dekat-dekat dengan Rayan tapi dia mau bebas di tampat kerja, tidak ingin tertekan karena pacarnya adalah atasannya jadi dia harus selalu tampil waw dan nggak bisa bikin kesalahan.
''Ray.''
''Hhmm?''
''Kamu nggak keberatan kan?''
Rayan nampak berpikir dan sedetik kemudian sudah menganggukan kepalanya. ''Aku ngerti kok maksud kamu. Lagian habis jam kerja kita juga masih bisa ketemuan.''
*****
Bryan baru memasuki cafe. Dia akan bertemu dengan beberapa temannya.
''Oy bro,'' sambut 2 temannya saat Bryan datang.
''Udah lama nggak ketemu makin sukses aja bro.''
''Baru selesai kuliah, mana ada sukses.''
Mereka pun mulai ngobrol. Tidak sengaja, Bryan menangkap sosok Sana yang juga sedang berada di cafe itu, dengan seorang pria. Entahlah, mungkin itu pacarnya Sana, pikir Bryan yang tidak terlalu diambil pusing.
''Kamu ngapain sih ngajakin aku kesini, aku ini orang sibuk San,'' ucap pria itu pada Sana.
''Sibuk apanya? Sibuk selingkuh sama sekertaris kamu?'' Bukannya keget atau minta maaf, pria itu malah mendengus, menatap tajam Sana.
''Kamu nyelidikin aku?''
Sana menyeringai. ''Aku hanya ingin melihat dan memastikan, apa kamu layak untuk jadi suamiku.''
Pria itu tertawa sinis. ''Dan hasilnya?'' tanyanya seolah tidak peduli.
Sana sedang menahan kesalnya sekuat tenaga. Pria itu adalah Sandy, pria yang diperkenalkan oleh om dan tantenya Sana. Kata mereka Sandy ini adalah pria sukses, baik dan layak untuk dijadikan suami.
Saat itu Sana terpaksa menerima Sandy dan sekarang, dia sudah tidak tahan lagi pada pria bre**sek yang suka bermain wanita itu.
''Hubungan kita sampai disini saja. Aku nggak mau menikah sama seseorang yang bahkan tidak bisa menghargai pasangannya.''
''Dan kamu pikir aku peduli?'' ucap pria itu dan langsung berdiri meninggalkan Sana. Dia bahkan tidak meminta maaf sama sekali dan itu bikin Sana agak sedih. Sana bukannya mencintai pria itu, tapi sebagai wanita, dia tetap merasa sedih. Sana sampai bertanya-tanya, apakah dia tidak layak untuk dicintai?
Sana menunduk, rasa-rasanya dia ingin menangis. ''Nggak perlu dipikirin. Kamu harusnya bersyukur bisa lepas dari pria seperti itu.'' Sana langsung melihat pria di depannya. Suara itu sedikit tidak asing untuknya.
''Bryan?''
''Aku pikir kamu udah lupa.'' Bryan tersenyum tipis.
''Kok kamu ada disini?''
''Ini kan cafe, ya bisalah aku ada disini. Nggak ada larangan kan?''
''Nggak. Maksud aku .....?''
''Aku balik kemarin. Kuliahku udah beres jadi balik lagi kesini.''
''Netap disini jadinya?''
Sana mengangguk. ''Xena juga udah pulang?''
Bryan balas mengangguk. Keadaan jadi hening, mereka bingung harus mengatakan apa lagi.
''Yaudah aku tinggal ya, lagi sama teman-temanku soanya.'' Akhirnya Bryan pamit, karena tidak enak juga meninggalkan teman-temannya.
Sana mengangguk. Wanita itu terus memperhatikan Bryan hingga Bryan sampai di tempat duduknya.
''Siapa?'' tanya teman Bryan ikut melihat pada Sana.
''Teman.''
''Sejak kapan kamu punya teman wanita lain selain Xena?''
Bryan tidak menjawab dan hanya mengambil orange jus di depannya dan langsung meminumnya habis.
*****
''Yuk aku anter pulang.'' Sana agak kaget, matanya mengikuti Bryan yang baru saja melewatinya. Itu tadi Bryan berkata padanya atau?
''Yuk, ngapain masih berdiri disitu?'' Pria itu menoleh pada Sana lagi.
''Beneran aku ternyata.'' Sana tersenyum dan mulai membawa langkahnya. Entahlah, tapi rasanya dia senang bisa bertemu Bryan lagi.
''Alamatnya?'' tanya Bryan menoleh pada Sana yang sudah duduk di sampingnya. Mereka sudah di mobil.
Sana pun memberi alamatnya. Sepanjang perjalanan mereka kembali diam, agak canggung untuk memulai obrolan.
''Makasih ya Bry,'' ucap Sana begitu mereka sampai di depan apartemen Sana.
''Sama-sama, yaudah aku balik ya.''
''Bry.'' Sana menahan.
''Bisa bagi nomer ponsel kamu nggak?''
Bryan tidak mempertanyakan maksud Sana dan langsung mengeja nomer ponselnya. Setelah itu dia kembali pamit.
Sana tersenyum, dia terus memperhatikan mobil Bryan yang perlahan menjauh. Bryan juga sama, pria itu masih memperhatikan Sana dari kaca spion mobilnya.
*****
''Ray, kamu udah ada niatan nikah nggak?'' Mamanya masuk ke kamar Rayan, duduk di samping ranjang dan memperhatikan Rayan yang sedang membaca buku.
Rayan tau maksud pertanyaan mamanya ini. Pria itu tersenyum, dia meletakan bukunya dan mengambil sesuatu dari nakas yang ada disebelah tempat tidurnya.
Mamanya nampak kesenangan, mengambil kotak kecil yang baru Rayan keluarkan.
''Kamu udah nyiapin cincin ternyata? Astaga mama pikir kamu malah belum mau nikah Ray.''
''Udah ketemu yang pas ngapain nunda ma?'' Rayan tersenyum hangat. Pria itu benar-benar siap melangkah ke jenjang baru bersama Xena. Rayan sudah yakin untuk menghabiskan waktunya bersama wanita itu.
''Terus kapan nih?''
Rayan membuang nafas berat, seperti ada yang mengganggu pikirannya.
''Ada apa?''
''Bagaimana kalau Xena belum siap menikah?''
''Kamu khawatir kalau Xena akan menolak lamarannya?''
Rayan mengangguk
''Ya dicoba dulu. Kalo emang Xena nya belum siap ya kalian bicarakan bagaimana baiknya. Hal seperti ini bukan suatu masalah, kuncinya hanya saling komunikasi aja.''
Rayan kembali mengangguk. Kalaupun nanti Xena menolak lamarannya, Rayan janji akan menerimanya dengan baik. Toh dia juga tidak bisa memaksa kalau memang Xena belum siap. Apalagi pernikahan butuh tekad yang kuat.
''Yaudah mama keluar dulu.''
Bersambung .....