
Hampir semalaman Xena menangis, matanya sampai bengkak karena hal itu.
‘’Udah mendingan?’’ Xena cukup kaget, langsung mengarahkan pandangannya pada Bryan. Ternyata pria itu tidur di kamarnya semalam?
Semalam, Bryan memutuskan untuk menemani Xena, karena khawatir pada sahabatnya itu. Alhasil, pagi ini badannya pegal, karena semalam tidur dilantai dan hanya beralaskan selimut yang tipis bahkan tanpa menggunakan bantal.
‘’Kamu tidur di lantai semalam?’’ Xena melah balik bertanya. Bryan berdiri, duduk di pinggiran ranjang Xena lalu menatap wanita itu dalam.
‘’Kamu kenapa semalam, kenapa nangis?’’ tanyanya.
Bulannya menjawab, Xena malah tersenyum, turun dari ranjang dan berlari masuk ke kamar mandi.
30 menit kemudian, dia berteriak, meminta Bryan untuk mengambilkan handuk untuknya.
*****
‘’Kamu mau ke kantor?’’ tanya Bryan saat Xena duduk di meja makan, disana sudah ada Bryan, mama dan Yudi.
‘’Hhmm.’’
‘’Kak tumben banget pake kacamata.’’ Yudi menegur, memperhatikan Xena yang tiba-tiba menggunakan kaca mata. Bukan kaca mata hitam, hanya kacamata biasa dan untungnya, bisa sedikit menyembunyikan mata sembabnya.
‘’Kenapa, cantik banget ya?’’ Xena pura-pura bercanda, untuk mengalihkan sang adik.
‘’Hhmm, mulai deh narsisnya.’’ Yudi pun teralihkan, pria itu memilih fokus pada sarapannya.
‘’Hari ini aku yang anter ya.’’
Xena tidak menjawab, hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Bryan barusan.
*****
‘’Nanti lembur nggak?’’
‘’Besar kemungkinannya sih lembur, emang kenapa?’’
‘’Mama suruh kamu ke rumah katanya udah lama nggak main kesana.’’
Xena menimang dan sedetik kemudian sudah menyetujui.
Rasanya memang sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan keluarga Bryan padahal dulu, saat Bryan masih tinggal di Indonesia, hampir setiap hari Xena dirumah keluarga Bryan bahkan Xena sampai dibuatkan kamar sendiri, saking seringnya dia menginap di rumah Bryan.
‘’Yaudah ntar kamu jempunya jam setengah 6 deh, aku usahain biar hari ini nggak lembur.’’ Xena pun turun dari mobil Bryan dan disaat yang bersamaan, mobil Rayan sampai di lobby apartemen.
‘’Oh ya nih.’’ Xena tersenyum lebar, menatap kotak makan siang yang Bryan kasih. Ternyata, tadi Bryan sempat membuatkannya bekal makan siang.
‘’Yaudah masuk gih.’’
Xena pun melambai, membalik badannya dan ….
Senyum yang tadinya lebar hilang seketika, saat melihat Rayan berdiri dengan mata tajamnya.
‘’Sudah jam berapa sekarang? Kamu telat.’’
Xena hanya memberikan senyum kakunya, sedikit menunduk dan pergi begitu saja. Xena memilih menghindar, rasanya masih sangat sakit, mengingat pemandangan memilukan semalam.
Melihat sikap cuek Xena, Rayan malah lebih jengkel. Pria itu juga ikut emosi, apalagi mengingat Xena yang semalam keluar dengan pria lain bahkan tidak memberinya kabar sekali.
Eitz tunggu dulu, sejak kapan seorang Rayan menuntut kabar dari Xena? Bukannya selama ini Rayanlah yang selalu menghindari Xena, bahkan sangat malas membalas setiap chat yang Xena kirim?
‘’Suruh Xena ke ruangan saya sekarang.’’ Rayan menelpon si botak dan langsung menutup panggilan. Tadinya, dia ingin menghubungi Xena langsung, tapi diurungkan.
‘’Ada apa pak?’’ tanya Xena pada pak botak yang baru memanggilnya.
‘’Kamu diminta ke ruangan pak Rayan sekarang.’’
‘’Tapi pak, pekerjaan saya masih banyak. Bisa diganti orang lain nggak?’’
*****
‘’Pagi pak, katanya pak Rayan manggil saya, ada apa ya pak?’’ Rayan serta Hans yang kebetulan ada di ruangan itu, menatap heran pada Xena yang tiba-tiba bersikap sangat sopan. Rayan, pria itu sedang duduk di sofa sambil memeriksa beberapa dokumen.
‘’Duduk.’’
Xena berusaha tersenyum, duduk di depan Rayan sedangkan Hans langsung pamit keluar, meninggalkan keduanya yang tiba-tiba menjadi saling diam.
‘’Maaf pak, ada yang - ‘’
‘’Semalam kamu kemana?’’ Rayan meletakan dokumen yang dia pegang diatas meja, menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, memijat pelan pangkal hidungnya lalu beralih menatap Xena.
Xena tersenyum sinis, kesal saja pada Rayan. Kalau boleh, ingin sekali dia memaki atau memukul pria itu sekarang.
‘’Aku tanya kamu kemana semalam?’’ Rayan sedikit memajukan tubuhnya, matanya terus menatap tajam Xena.
‘’Maaf pak, itu urusan pribadi saya.’’ Xena enggan menjawab. Dia berdiri, ingin pamit tapi Rayan sudah lebih dulu menyuruhnya untuk duduk lagi.
‘’Mulai hari ini, aku yang akan mengantar dan menjemputmu berangkat dan pulang kerja.’’
Xena hanya diam, tidak mengiyakan ataupun membantah ucapan Rayan itu.
‘’Keluarlah, aku sedang banyak pekerjaan.’’ Rayan kembali mengambil dokumen, mulai fokus pada dokumen itu dan sedikit melirik, saat Xena membuka pintu ruangannya.
‘’Oh ya,’’ ucapnya menghentikan langkah Xena. Xena berdiri di depan pintu yang sudah dibuka sedikit.
‘’Siang nanti, temani aku sarapan.’’
Lagi - lagi Xena tidak menjawab, langsung pergi. Tapi Rayan yakin, wanita itu pasti menyetujui ajakannya.
*****
‘’Tante, tante disini juga?’’ Tante Liana agak kaget, saat Sana menyapanya. Keduanya tidak sengaja bertemu di supermarket.
‘’Belanja apaan tan?’’
‘’Biasalah, keperluan dapur.’’
Sana mengangguk, tersenyum dengan begitu lebar. Ini kesempatan yang bagus untuk kembali mengambil hati tante Liana, pikirnya.
‘’Oh ya tan. Abis belanja makan bareng yuk, udah lama kan kita nggak jalan-jalan berdua. Tante mau nggak?’’
Tante Liana setuju, mengingat dulu Sanalah yang selalu menemaninya kemana-mana, baik sekedar shopping ataupun ke salon bersama.
Hampir sejam tante Liana berlanja. Setelah belanja, mama Liana dan tentu Sana, mereka pergi ke cafe yang tidak jauh dari supermarket tadi.
‘’Jalan seperti ini, kita terlihat seperti ibu dan anak perempuannya.’’
Tante Liana hanya tersenyum tipis, tidak terlalu menanggapi ucapan Sana itu.
‘’Oh ya tan, Rayan gimana?’’ Tante Liana mengalihkan tatapannya pada Sana, penasaran dengan maksud ucapan wanita itu.
‘’Duduk dulu tan, nanti aku ceritain.’’
Habis duduk, Sana memanggil pelayan, memesan minuman dan makan siang untuk mereka di depannya, tante Liana memperhatikan semua gerak gerik Sana. Ada sedikit perasaan bersalah di hati tante Liana, karena perlakuannya pada Sana yang belakangan ini agak ketus.
Dulu, tante Liana sangat suka pada Sana dan dulu, tante Liana juga sempat berpikir kalau Sana akan jadi mantunya, mengingat kedekatan Sana dan Rayan kala itu.
Awal tau Sana pacaran sama Aldo, tante Liana juga agak sedih, agak menyayangkan hal itu. Tapi, harapan dan rasa kecewanya pada Sana menghilang begitu saja, seiring dengan hadirnya Xena dalam hidup Rayan dan tentu juga dalam keluarga mereka.
Semakin hari tante Lina jadi semakin menyukai Xena dan perlahan, mulai jauh dari Sana. Sebenarnya, tante Liana bukannya benci pada Sana, hanya saja paruh baya itu tidak suka dengan sikap Sana yang sepertinya terlalu menempel pada Rayan dan terkesan tidak menghargai Xena padahal jelas-jelas Sana tau kalau Xena itu pacarnya Rayan.
Makanya, tante Liana mulai menilai Sana sebagai wanita yang kurang baik, hanya karena hal tersebut.
Bersambung .....