
''Ah segarnya.'' Sana menarik tangan Rayan agar ikut dengannya. Bukannya ikut, Rayan malah menepisnya. Rayan berbalik, melihat pada Xena yang sedang mengobrol dengan papa mamanya.
''Xen kesini bentar,'' teriaknya.
Sana kembali menggeram kesal. Kenapa sih, Rayan harus mengajak Xena juga? ucapnya dongkol.
''Dipanggil Rayan tuh,'' ucap mama Liana. Xena terpaksa berdiri. Wajahnya sudah ditekuk saja. Lagian, kenapa Rayan sangat suka menyiksanya sih? Xena pikir, Rayan sengaja, hanya agar Xena melihat keromantisannya dengan sana lagi.
''Ada apa?'' ucapnya ketus tanpa sama sekali melihat pada Rayan. Dia hanya melihat ke arah danau.
''Jalan-jalan sama aku, kalau duduk diam kayak tadi ngapain jauh-jauh kemari, di rumah juga bisa.'' Tanpa permisi, Rayan langsung menggenggam tangan Xena, membawa wanita itu pergi dan melewati Sana begitu saja.
''Ray, kalian mau kemana?'' Sana berlari menyusul tapi Rayan tidak terlalu menggubris.
''Ray ....'' Xena menoleh ke belakang, pada Sana yang sudah berdiri menatap mereka dengan perasaan kesal. Sana tidak lagi mengejar, karena tante Liana yang sudah menahannya.
''Gimana, sukanya nggak pemandangannya?'' Rayan membawa Xena ke bukit di belakang villanya. Dari ketinggian itu, mereka bisa melihat indahnya pemandangan di bawah sana.
''Bagus.'' Xena nampak berbinar, menikmati indahnya pemandangan itu. Rayan juga sama, matanya berbinar, menikmati indahnya pemandangan di sampingnya, alias wajah Xena. Ya, Rayan sedang memandangi Xena, dia tidak terlalu peduli dengan keindahan di bawa sana, karena keindahan di sampingnya terasa lebih menyenangkan.
Cepat-cepat Rayan mengalihkan pandangannya, saat tiba-tiba Xena menatap ke arahnya. Pria itu berdehem, karena sedikit salah tingkah.
''Bagus pemandangannya Ray, aku suka,'' ucap Xena dengan senyum lebarnya. Rayan mengangguk dan ikut tersenyum. Pria itu kembali mengarahkan pandangannya pada Xena yang sudah kembali memandangi pemandangan di depan mereka.
Hampir setengah jam Rayan dan Xena di bukit itu, mereka pun memutuskan untuk turun. Setibanya di villa, mereka melihat mama dan papa Rayan yang sedang mengobrol. Tapi mana Sana? Kenapa wanita itu tidak keliatan?
Tiba-tiba saja, dari arah samping. ''Ray kamu udah pulang?'' Sana berjalan menghampiri, dengan wajah sumringahnya yang jelas dibuat-buat.
''Hhmm.'' Rayan mengangguk dan meneruskan langkahnya untuk bergabung dengan kedua orang tuanya.
Sedangkan Xena, tangannya langsung ditahan oleh Sana. ''Xen aku mau ngomong bentar bisa?''
Xena tidak langsung menjawab, sedangkan Rayan, pria itu melihat sana dengan penuh tanda tanya.
''Ray, aku pinjem Xena bentar bisa kan?'' Sana pun langsung menarik Xena, bahkan sebelum Xena ataupun Rayan menjawab pertanyaannya.
*****
''Ada apa?'' Xena langsung to the point. Wanita itu membawa langkahnya untuk duduk di sofa, lalu kembali melihat pada Sana yang sudah menampilkan wajah kesalnya, sangat jauh berbeda dengan wajah yang tadi dia tampilkan saat masih bersama Rayan.
''Jauhi Rayan!''
Sebenarnya Xena tidak ingin menanggapi. Lagian, Sana ini wanita yang Rayan sukai jadi harusnya dia nggak perlu repot-repot seperti ini sampai meminta Xena untuk menjauhi Rayan. Toh pada kenyataannya Rayan tetap akan lebih memilih Sana daripada dirinya.
Xena memilih berdiri lagi. Dia memutuskan untuk keluar, dia tidak ingin membahas masalah yang sudah jelas dia bukan pemenangnya.
''Mau kemana kamu?'' Sana menahan kuat lengan Xena.
''Lepasin.''
''Jauhi Rayan.''
Xena kembali tidak menggubris. Dia menyingkirkan tangan Sana dan langsung keluar begitu saja. Sana tentu langsung mengejarnya.
''Mau kemana kamu? Aku belum selesai ngomong.'' Sana kembali menahan.
Karena kesal, Xena kembali menyingkirkan tangan Sana. Tapi sialnya, dia tidak memperhatikan kalau mereka sedang berdiri di depan tangga.
''Aku - aku nggak sengaja.'' Xena menggeleng kepalanya. Dia benar-benar tidak sengaja. Matanya sudah mulai berkaca, tubuhnya bergetar karena takut terjadi apa-apa pada Sana.
Bagaimana kalau kondisi Sana kristis?
Bagaimana kalau ....? Ah Xena benar-benar takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
''Tante aku-'' Xena kembali menggeleng, air matanya sudah jatuh membasahi pipi. Rayan, pria itu sudah berlari menggendong Sana, bahkan sama sekali tidak melihat padanya.
Rayan pasti sangat marah, karena dia sudah menyakiti wanita yang Rayan cintai, pikir Xena.
''Tenang sayang, kita doakan agar nggak terjadi apa-apa pada Sana.'' Tante Liana menenangkan, karena tau kalau Xena juga pasti terpukul dan syok. Tante Liana juga yakin kalau Xena pasti benar-benar tidak sengaja membuat Sana jatuh.
''Ayok sayang, kita susul mereka.'' Xena mengangguk, kemudian mulai berlari menyusul Rayan dan om William yang sudah lebih dulu ke mobil.
Xena menangis sejak tadi. Wanita itu beberapa kali berdoa, meminta agar Sana baik-baik saja.
''Tenang Xen, tante yakin Sana akan baik-baik saja.'' Tante Liana kembali menenangkan. Xena melirik pada Rayan, sejak tadi pria itu tidak menetapnya sama sekali, bahkan meliriknya pun tidak dan itu cukup membuat Xena sedih.
''Xena nggak sengaja tan,'' ucap Xena lagi.
Tante Liana memeluknya. ''Tante percaya sayang, kamu nggak mungkin lakuin tindakan seperti itu.''
''Tapi Ray ....'' Xena tidak meneruskan ucapannya lagi, hanya air matanya yang semakin mengalir deras.
Hampir 5 jam Sana tidak sadarkan diri, akhirnya wanita itu mulai membuka matanya juga. ''Ray.'' Itu kata pertama yang keluar dari mulut Sana.
Cepat-cepat Rayan mendekat. Xena dan kedua orang tua Rayan pun ikut mendekat. ''Ray, kepalaku sakit,'' ringis Sana.
Rayan pun nampak panik. Pria itu berlari untuk memanggil dokter.
Tante Liana menggenggam erat tangan Xena, saat melihat Rayan yang telaten mengurus Sana. Tante Liana tau kalau Xena sedih akan hal itu, tapi saat ini Xena tidak punya pilihan selain berkompromi akan itu.
''Yang sabar, yang penting Sana nya nggak kenapa-napa,'' bisik tante Liana kembali menghibur Xena. Xena tersenyum singkat, kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Rayan dan Sana lagi. Pria itu sedang duduk, sambil menggenggam tangan Sana.
Disini, sisituasi ini, Xena dapat melihat dengan jelas bagaimana pentingnya Sana dalam hidup Rayan. Sejak tadi, Rayan bahkan tidak beranjak barang sesenti pun dari samping Sana.
Xena berusaha baik-baik saja.
''Ray, aku tidak ingin melihat wanita itu ada disini,'' tunjuk Sana pada Xena.
''Maaf,'' ucap Xena. Sebenarnya, sudah beberapa kali dia mengucapkan kata itu, tapi Sana tidak pernah menggapi. Xena pun mengerti, karena walau bagaimana pun, sengaja atau tidak, dialah yang menyebkan Sana jatuh dari tangga.
''Ray, usir wanita itu.''
Rayan masih diam saja, pria itu sejenak menatap Xena.
''Aduh kepalaku sakit,'' Sana kembali meringis ''Ray, tolong suruh dia pergi dari sini, aku tidak ingin melihatnya,'' rancau Sana sambil memegang kepalanya.
''Xen, tolong pergi dari sini,'' ucap Rayan yang langsung Xena setujui. Dia juga tidak mungkin memaksa untuk ada disana.
''Semoga kamu cepat sembuh dan sekali lagi aku minta maaf karena sudah membuatmu seperti ini.'' Xena pun melangkah keluar. Rayan hanya bisa menatapnya sendu, tanpa mengucapkan kata-kata lagi.
Bersambung .....