
‘’Ray, kamu kok disini?’’ Senyum Sana yang tadinya lebar, redup seketika, begitu melihat Xena juga ikut bersama Rayan.
Ini bukan janjian ya, hanya kebetulan saja Rayan dan Xena datang di cafe yang sama.
‘’Yuk.’’ Dengan sengaja, Rayan menarik, menggenggam tangan Xena.
‘’Mama disini juga?’’ sapa Rayan.
‘’Siang tan, siang Sana.’’ Xena menyapa, tapi tidak melihat Sana sama sekali.
‘’Loh, mama nggak nyangka loh, bakalan ketemu kalian disini.’’ Tante Liana berdiri, pindah di samping Sana.
‘’Duduk.’’ Rayan menarik Xena yang masih berdiri diam. Mengangkat tangan untuk memanggil pelayan cafe.
‘’Mau pesan apa?’’ Rayan menggeser buku menu, meminta Xena untuk memilih sendiri apa yang wanita itu inginkan.
Xena agak menggeser tubuhnya, karena Rayan yang terlalu mepet. Bukannya membiarkan, Rayan malah menahan tangan Xena dan meminta Xena untuk kembali melihat buku menu.
‘’Liat menunya Xen, kenapa malah liatin aku sih?’’ Rayan tiba-tiba memutar kepalanya. Xena terdiam saking dekatnya jarak wajah mereka.
Rayan malah merasa senang, melihat wajah Xena yang tiba-tiba memerah, wanita itu juga menjadi gugup.
‘’Lucu sekali,’’ pikir Rayan yang entah pikiran dari mana, malah mengecup singkat bibir Xena, bikin Xena melotot kaget.
Bukan hanya Xena, mama Liana dan Sana juga ikut kaget, karena Rayan bukanlah tipe orang yang suka bertindak terang-terangan seperti ini, apalagi saat sedang ditempat umum seperti sekarang.
Kalau mama Liana tertawa senang, Sana malah mendengus kesal. Pandangannya semakin tajam saja pada Xena.
‘’Maaf tan, Ray, aku pamit ke toilet bentar ya,’’ pamit Sana yang sepertinya tidak terlalu dipedulikan. Sana pergi dengan sejuta rasa kesalnya.
‘’Kamu apa-apaan sih Ray,’’ protes Xena yang tidak dihiraukan. Rayan malah kembali meminta Xena memilih menu yang diinginkan. Katanya, pelayan sudah menunggu lama dan dia merasa tidak enak.
Ck, Rayan merasa tidak enak? Sejak kapan itu. Pikir Xena yang langsung menunjuk asal menu.
Eh tapi tunggu dulu, Xena baru menyadari satu hal. Wanita itu kembali melirik Rayan.
Rayan menciumnya? Di depan Sana?
Ini beneran apa mimpi sih?
Xena jadi bingung sendiri tapi tak berapa lama sudah memberi tatapan kesalnya lagi. Kemarin pagi, Rayan mencium dan menyuruhnya untuk melupakan ciuman tersebut terus kenapa sekarang menciumnya lagi?
Sebenarnya kenapa pria itu menciumnya lagi? Atau apakah Rayan sedang bertengkar dengan Sana lalu memanfaatkannya untuk memanasi wanita itu?
‘’Rayan … Rayan ….’’ Xena teralihkan, mendengar tante Liana yang sudah cekikikan. Tiba-tiba Xena jadi malu dan mulai menundukan kepalanya, menghindari tatapan tante Liana yang sepertinya akan segera menggodanya.
‘’Ini bukan pertama kalinya kan?’’ Xena tidak habis pikir dengan pertanyaan tante Liana. Oh ayo tolonglah, masalah itu nggak usah dibalas lagi, Xena malu tapi entahlah, si Rayan malah biasa aja, wajahnya sudah kembali datar, seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
‘’Maaf tan, Xena pamit ke toilet ya.’’ Sebelum pergi, Xena lebih dulu melirik Rayan lagi, ingin sekali dia mencakar wajah pria itu, saking kesalnya.
‘’Nggak usah diliatin, orangnya nggak bakalan hilang kok.’’ Cepat-cepat Xena pergi, saat tante Liana kembali menggodanya.
‘’Ceile, ada yang lagi jatuh cinta nih, iya kan?’’ Mama Liana kembali menggoda Rayan, dengan disertai senyum genitnya. Tidak hanya itu, mama Liana juga merasa gemas dengan Rayan yang tidak malu mencium Xena di depannya.
‘’Apaan sih ma.’’
‘’Ayo ngaku sama mama, kamu udah jatuh cinta kan sama Xena?’’
Rayan tidak menggubris, malah mengambil orange jus yang baru pelayan antar, meminumnya hampir habis, seperti orang yang sedang kehausan saja.
‘’Elah udah bucin masih nggak mau ngaku.’’
*****
‘’Tinggalin Rayan, kamu nggak pantas buat dia.’’ Baru akan masuk ke toilet, Sana sudah lebih dulu menghalau tepat di depan pintu masuk.
Sana tertawa sinis, memajukan langkahnya agar lebih dekat, lalu berbisik. ‘’Kamu tau kan, kalau aku tumbuh dan besar bersama Rayan?’’ Sana sedikit menjeda ucapannya, ekor matanya melirik Xena yang hanya diam.
‘’Aku lebih tau bagaimana dia dibanding orang baru seperti kamu. Kali ini, kejadian hari ini aku yakin Rayan tidak benar-benar serius dengan hal itu jadi jangan terlalu dibawa perasaan atau mungkin kamu akan sakit hati sendiri karena realitanya tidak sesuai harapanmu. Kamu mengerti kan?’’
‘’Sudah ngomongnya?’’
‘’Hhmm.’’ Sana kembali memberi senyum sinisnya, tatapannya sangat meremehkan Xena dan Xena tidak suka itu. Dengan sengaja, Xena memutar kepalanya kuat, mengibaskan rambutnya hingga menutupi wajah Sana, tantu saja wanita itu langsung berdecak kesal, tapi sayangnya Xena tidak peduli dan malah meneruskan langkahnya untuk masuk ke toilet. Xena bahkan sengaja membenturkan pundaknya pada pundak Sana.
‘’Aduh, pintu masuknya kecil banget sih,’’ ucapnya dengan suara besar. Sengaja memang, untuk diperdengarkan pada Sana.
*****
‘’Ray langsung balik kantor ya ma,’’ pamit Rayan, pria itu kembali menarik tangan Xena bersamanya.
‘’Ray, aku bisa ikut nggak?’’
‘’Kantor lagi banyak kerjaan, mungkin lain kali.’’ Rayan pergi begitu saja.
‘’Tan, Sana, kami pergi ya,’’ Xena ikut pamitan.
Dimobil, beberapa kali Xena mencuri pandang pada Rayan. Penasaran saja dengan sikap Rayan pada Sana tadi.
Kan yang Sana tau Rayan itu suka bahkan sangat suka pada Sana, tapi kenapa tadi malah memperlakukan Sana dengan kurang baik?
‘’Apa yang mau kamu tanyakan?’’
Xena menelan saliva nya, agak kaget karena suara tiba-tiba Rayan.
Bukannya bertanya, Xena malah menggeleng, tatapannya dialihkan keluar. Pandangannya beralih, saat ponselnya berdering. Rayan sempat melirik dan membaca nama Bryan. Lagi lagi, dia kembali merasa kesal, tidak suka kalau Xena bergaul atau dekat dengan pria lain.
Ah, apa sekarang dia sudah mulai posesif pada Xena? Entahlah ….
‘’Siapa?’’ Rayan sengaja bertanya.
‘’Bryan.’’ Xena langsung menerima panggilan tersebut, berbicara dengan suara yang agak pelan.
‘’Iya, kalo jemput jangan lupa bawa minuman kesukaanku ya Bry.’’ Itu kalimat terakhir Xena sebelum mengakhiri panggilan.
Xena tidak berbicara lama, karena Rayan terus meliriknya dengan tatapan kesal dan itu bikin Xena tidak nyaman.
‘’Nanti, tolong kamu sampaikan pada teman dan rekan kerja ahli gizi, hari ini nggak ada yang pulang cepat, kantor akan mengadakan acara makan malam untuk mengapresiasi kerja keras kalian selama ini.’’
Xena melongo.
Apresiasi?
‘’Makan malam perusahaan?
Sejak kapan perusahaan mereka mengadakan makan malam untuk mengapresiasi kerja keras karyawan sih?
Bukannya biasa cuman dikasih bonus ya? Seingat Xena sih begitu yang sering pak William berlakukan dulu, sebelum posisinya diganti oleh Rayan.
‘’Maaf pak, maksudnya gimana ya, saya kurang ngeh soalnya.’’
Rayan kembali melempar tatapan kesalnya pada Xena yang entah kenapa belakangan ini suka sekali berbicara formal padanya, bahkan saat sedang bersama seperti sekarang pun.
‘’Bilang saja, kalau malam ini perusahaan akan mentraktir mereka.’’ Rayan mengangkat telunjuknya ke atas, disamping Xena lalu berkata. ‘’Ingat, jangan ada yang absen mengingat ini makan malam pertama perusahaan kita.’’
‘’Ya.’’ Xena mengangguk saja.
Bersambung .....